
"Aku tidak memaksa kalian ikut denganku, tapi jika kalian masih ingin membantu aku juga tak bisa memaksa kalian pergi..." Jian Chen menjelaskan pada Lan Qiaoqiao yang menawarkan diri mereka ingin menolongnya.
"Saudara Jian, kami tak bisa membiarkan organisasi kejam seperti mereka melakukan banyak kejahatan lagi, mereka harus diatasi secepatnya!" Jawab Lan Qiaoqiao menggebu-gebu.
Jian Chen pada akhirnya pergi bersama lima gadis kembar itu, sebelum berangkat dia terlebih dulu mengintrogasi pendekar bertopeng yang sebelumnya di tangkap.
Tidak sulit hingga ia membocorkan rahasia tempat markasnya, Jian Chen sedikit mengerutkan dahinya mendengar tempat itu, jaraknya lumayan jauh dari Kota Shui sehingga ia harus menaiki kuda.
Jian Chen tidak menghabisi orang yang di interogasinya karena ia tidak cukup tega melukainya di depan petugas kota. Orang itu akan di penjara berat di sana.
Jian Chen berangkat ketika waktu mulai menjelang petang, hampir sekitar lima jam di perjalanan ia akhirnya tiba di markas yang di maksud.
Markas Organisasi Menara Iblis berdiri di tengah-tengah hutan yang rimbun, mereka membangun benteng kayu di sekelilingnya untuk melindungi markasnya dari hewan buas.
Hutan yang mereka tempati merupakan hutan tanpa ada siluman, setidaknya untuk masuk ke markas tersebut seseorang harus berada di Alam Jiwa Tahap 5 keatas.
"Saudara Jian, apa rencanamu?" Tanya Lan Qiaoqiao berdiri di sampingnya.
"Tidak ada rencana, kita akan langsung menyerang mereka secara terbuka. Mengingat markas ini adalah markas Tetua yang telah aku bunuh, di dalamnya mungkin hanya ada beberapa anggota yang tersisa."
Selepas Jian Chen berkata demikian, ia turun dari kudanya lalu mulai melangkah pelan ke gerbang benteng kayu itu. Kelima saudari Lan mengikutinya kemudian.
***
Di dalam markas, anggota-anggota Menara Iblis sedang berusaha melakukan perpindahan para tahanan.
Selepas Tetuanya terbunuh begitu saja mereka berniat untuk pergi dari markasnya secepatnya lalu pindah ke markas lain untuk memberikan laporan mengenai apa yang terjadi.
Ketika mereka melakukan itu tiba-tiba pintu benteng kayu yang mereka bangun meledak hingga hancur berkeping-keping.
Anggota Menara Iblis menjadi waspada, ketika asap yang di timbulkan ledakan itu menghilang ia menemukan sosok yang mereka takuti berada di depannya.
Jian Chen langsung bergerak cepat menghabisi anggota Menara Iblis tanpa peduli ketakutan mereka yang terpancar, pedang Asura terayun dan membunuh mereka dalam sekali serangan.
Seketika para anggota Menara Iblis dengan ketakutan berlarian ke berbagai arah melihat Jian Chen, sosok yang ditakuti mereka, mulai membantai rekan-rekannya.
Tidak pernah membayangkan di pikiran sedikitpun mereka bisa merasakan situasi yang demikian mengerikan seperti ini.
Kelima gadis kembar tak bisa membiarkan mereka kabur begitu saja, kali ini kelimanya telah mengambil begitu banyak pisau rahasia dari Menara Iblis akibat pertarungan di kota.
Dengan pisau yang sama mereka melemparkannya dengan cepat, mengenai leher dan jantung musuhnya yang membuat lawannya terbunuh seketika.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga markas organisasi itu dipenuhi jasad-jasad dan darah, bau amis memenuhi udara markas organisasi itu.
"Saudara Jian, aku menemukan mereka!" Lan Lulu menemukan sebuah bangunan yang di dalamnya ada para tahanan Menara Iblis.
Para tahanan itu sedang diikat oleh tali yang tersambung dengan tahanan lainnya, mulutnya tersumpal oleh kain agar tidak bisa bersuara. Jian Chen menebak mereka akan di pindahkan ke suatu tempat.
Jian Chen melepaskan mereka satu persatu, para tahanan segera berterima kasih pada Jian Chen tapi tidak untuk para gadis, meski di selamatkan gadis-gadis itu tampak biasa saja dengan tatapan kosong dan hampa.
Jian Chen hanya menghela nafas, tidak perlu penjelasan untuk menyadari apa yang mereka alami selama jadi tahanan.
"Aku di perintahkan oleh walikota untuk membebaskan kalian, Sekarang kalian telah aman, pergi ke arah selatan untuk keluar dari hutan ini..."
Jian Chen telah memastikan jalan selatan yang di maksud tidak ada hewan buasnya, para tahanan itu berterima kasih kembali pada Jian Chen sebelum beramai-ramai meninggalkan markas pembunuh.
Di dalam markas Menara Iblis juga ada emas, senjata, juga beberapa pil sumber daya. Jian Chen membiarkan kelima gadis bersamanya yang mengambilnya.
Jian Chen jelas tidak berniat berhenti di sana, ia pergi ke markas Menara Iblis yang lain. Setiap markas saling berdekatan dengan markas lainnya membuat Jian Chen tidak perlu mencarinya lebih lama apalagi hari sudah malam sehingga cahaya di markas tersebut mudah terlihat.
"Saudara Jian, apakah kita menggunakan cara yang sama lagi?" Tanya Lan Qiaoqiao.
"Aku sebenarnya ingin membiarkan kalian istirahat terlebih dulu tetapi..."
"Kami memiliki stamina serta tenaga dalam yang besar Saudara Jian, kami bahkan tidak berniat beristirahat sampai menghancurkan semua markas mereka!"
Jian Chen tersenyum canggung, ia bisa melihat kemarahan Lan Qiaoqiao pada organisasi Menara Iblis apalagi setelah kelimanya melihat kondisi para gadis tahanan tadi.
Jian Chen mengelus pucuk kepala gadis itu. "Kemarahan boleh menetap di dalam hati tapi tidak di keluarkan oleh ucapan apalagi tindakan..."
Ucapan Jian Chen segera menyadarkan Lan Qiaoqiao yang membuatnya tertunduk malu, gadis itu menyadari dirinya telah terlihat seperti wanita yang haus darah di depan Jian Chen.
Jian Chen menghela nafas panjang. "Kita akan menyelinap diam-diam ke sana sebelum menghabisi mereka dari dalam. Kalian hanya pastikan tidak ada dari mereka yang kabur."
Lan Qiaoqiao dan saudarinya mengangguk mengerti.
Jian Chen tidak menunggu lama dan bergerak ke sana, dengan gerakan tubuhnya yang halus seperti kapas tidak sulit menerobos pertahanan benteng markas tersebut.
Jumlah anggota Menara Iblis jelas lebih banyak dari markas sebelumnya, Jian Chen melihat sekitar ada tiga ratus pendekar di sana termasuk Tetuanya yang mencapai Alam Bumi.
"Aku tidak akan membiarkan mereka hidup..."
Saat Jian Chen masih mengamati sekitar, ia menemukan di salah satu gedung ada para gadis yang di paksa harus menari di depan para pembunuh.
Para gadis menangis namun tidak berani berhenti menari. Mereka takut nyawa mereka akan jadi taruhan kalau berhenti.
Jian Chen memutuskan memulai aksinya di gedung itu, ia tak membiarkan para pembunuh itu mulai melakukan pelecehan pada para gadis tersebut. Ia memulainya dengan menyerap seluruh cahaya di sekelilingnya.
Ruangan gedung itu seketika menjadi gelap gulita, para pembunuh sempat kebingungan dengan situasi yang terjadi, saking gelapnya, penglihatan mereka seolah telah hilang dari matanya.
Di waktu yang sama Jian Chen sudah menyelundup dan masuk ke tengah mereka. Pedang asura terlepas dari sarungnya.
Jian Chen menggunakan Teknik Pedang Rembulan yaitu cerminan tetesan hujan lalu mulai membantai orang-orang di gedung itu dengan cepat.
Teriakan dan jeritan memenuhi kegelapan yang kelam tersebut, para gadis yang menari kebingungan bercampur ketakutan karena mereka tidak mengetahui situasinya, meski begitu mereka terus menari.
Kegelapan perlahan menghilang, saat semuanya sudah terlihat kembali, gadis-gadis yang menari menjerit tertahan saat ruangannya menjadi bersimpah darah.
Beberapa dari mereka langsung jatuh pingsan sementara lainnya mengeluarkan isi perutnya. Tubuh gadis-gadis itu begitu gemetar apalagi melihat Jian Chen yang bersimpah darah.
Jian Chen tidak menghiraukan ketakutan mereka. "Kalian diam disini sampai aku menghabisi semua berandalan ini."
Tanpa menunggu jawaban gadis-gadis itu Jian Chen menghilang dari pandangan mereka.
Jian Chen mulai membunuh semua yang ada di dalam gedung itu terlebih dahulu karena disana terdapat banyak gadis yang di sekap.
Tanpa sadar pedang Asura semakin bersinar setiap Jian Chen mencabut nyawa, aura kematian yang menyelimuti pedangnya mulai menyatu dengan tubuh Jian Chen secara perlahan.