Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 232 — Tradisi Desa


"Apa yang kalian lakukan! Membunuh ular itu tugas kami?!" Salah satu dari belasan orang itu berteriak murka pada rombongan Jian Chen.


Jian Chen mengerutkan dahinya, "Ah, jadi begitu, kalian adalah organisasi kecil yang dibicarakan para warga, bukankah begitu?"


"Hmph! Sebab karenamu kami kehilangan pekerjaan ini, sekarang berikan apa yang kalian miliki dan..." Salah satu dari mereka kemudian melihat dua gadis yang bersama Jian Chen, matanya membulat melihat kecantikan keduanya. "Berlututlah, atau kami akan habisi kalian!"


"Kekuatan kalian hanya berada di Alam Kehidupan, tidak cukup untuk merampok kami apalagi membuat kami menyerah. Kenapa aku harus menurut?"


"Kami memang tidak cukup mengalahkan kalian tetapi jika kami memberitahu pada atasan kami, kalian akan jadi buronan organisasi Kelelawar Malam!"


Jian Chen tertawa kecil lalu maju beberapa langkah, Jian Chen juga memberi instruksi pada Ziyun dan Meily agar berada di belakangnya karena menyadari situasi tidak akan berakhir sederhana.


"Jadi? Apa yang kalian ingin lakukan setelah ini, melaporkan pada atasan kalian?"


"Selama kalian tidak melawan dan menuruti kemauan, kami tidak akan melakukan sesuatu padamu."


"Oh, tapi kenapa kau menatap kedua wanitaku seperti ingin melakukan sesuatu?" Jian Chen tersenyum lebar.


Ziyun dan Meily terkejut tetapi mereka senang mendengarnya, keduanya tidak menyangka Jian Chen sudah menganggap mereka demikian, sesuatu yang mereka harapkan sejak dulu.


"Tidak perlu bernegosiasi lagi, aku akan menggunakan cara pendekar untuk mengatasi kalian?"


Belasan orang berseragam itu terkejut, mereka tidak menyangka Jian Chen akan bertindak seperti ini.


"Kau! Kalau kau membunuh kami maka seluruh organisasiku akan mengejar dan membunuhmu?"


"Tidak," Jian Chen menggeleng pelan. "Aku justru ingin menghancurkan kalian seluruhnya, tidak harus membunuh untuk melenyapkan kalian. Apa kau mengerti metode apa yang membuat orang seperti kalian berhenti menjadi penjahat?"


Belasan orang itu mundur dua langkah dengan wajah pucat, tanpa di jawab pun mereka sudah mengetahuinya.


Jian Chen menoleh ke arah Ziyun dan Meily sesaat, "Kalian tunggu disini, jangan kemana-mana."


Ziyun dan Meily mengangguk, pikiran mereka masih memikirkan perkataan Jian Chen sebelumnya.


Jian Chen langsung menghilang dari pandangan mereka sebelum tiba-tiba muncul di hadapan salah satunya. Jian Chen melepaskan pukulan yang kuat membuatnya orang itu langsung muntah darah dan tak sadarkan diri.


Jian Chen beralih ke yang lain, belasan orang itu segera berpencar ke berbagai arah dan melarikan diri setelah melihat satu rekannya kalah dalam sekali serangan.


Nyatanya meski mereka berpencar Jian Chen tetap bisa mengejar mereka satu persatu, setiap pukulan atau tendangan Jian Chen langsung membuat mereka terluka dan melenyapkan kultivasinya, benar, melenyapkan kultivasi mereka.


Jian Chen tidak berencana membunuh belasan orang itu, persisnya ia memberikan kesempatan mereka hidup namun dengan melumpuhkan kultivasinya.


Sederhana saja, bagi para pendekar, menghilangkan kultivasinya tidak berbeda jauh dengan kematian sekalipun.


Jian Chen kemudian menyisakan salah satunya, ia mencekiknya ke atas membuat ia meronta kesakitan serta sulit bernafas, Jian Chen kemudian mengintrogasi tempat dan markas organisasi yang bernama Kelelawar Malam itu.


Tidak sulit mendapatkan yang di cari, Jian Chen memang tidak berencana membiarkan organisasi seperti mereka terus ada.


Jian Chen yakin yang mendatangkan ular itu hingga ke dekat pedesaan adalah organisasi Kelelawar Malam agar mereka mengambil kesempatan tersebut untuk memeras para warga desa.


Memang mereka tidak melakukan pembunuhan namun aksi tersebut tidak lebih kejam dari pembunuhan itu sendiri. Jian Chen yakin sudah ada banyak desa yang mereka lakukan seperti ini karena cara tersebut bukanlah hal asing bagi organisasi jahat seperti mereka.


Setelah mengetahuinya, Jian Chen tidak langsung pergi ke markas organisasi itu melainkan terlebih dulu melaporkan pada warga desa tentang ular yang berhasil mereka bunuh.


"Aku sudah membunuh ular itu, kini desa akan kembali aman..."


Jian Chen mengeluarkan kepala ular yang sudah di potong sebelumnya di tengah kerumunan membuat para warga di dekatnya terkejut.


"Pendekar ini..." Kepala desa menjadi dilema, ia disisi lain senang karena Jian Chen mengatasi masalah desanya namun ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar Jian Chen.


Jian Chen yang mengerti pikiran Kepala Desa menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku membunuhnya bukan karena uang. Sudah sepatutnya kita menolong sesama yang membutuhkan."


"Kalian berdua disini terlebih dulu, aku ada urusan dengan organisasi sebelumnya..." Jian Chen mengelus kepala Ziyun dan Meily bergantian.


Para warga desa yang melihatnya merasa canggung, mereka tidak perlu mengerti untuk melihat ada ikatan asmara dari ketiganya.


"Berhati-hatilah..." Meily menatap Jian Chen dengan dalam sementara Ziyun mengangguk pelan namun sorot matanya mengatakan hal yang sama.


Jian Chen tersenyum lembut sebelum kemudian melayang terbang ke udara dan melesat ke salah satu arah.


Ziyun dan Meily terkejut melihatnya, mereka baru mengetahui Jian Chen dapat melayang yang dalam artian lain sudah berada di kultivasi ranah alam yang tinggi sementara para warga berekspresi lebih terkejut.


Jian Chen pergi hanya dalam beberapa jam saja sampai langit menjadi gelap sebelum akhirnya ia kembali ke desa tersebut. Kedatangan Jian Chen segera di sambut oleh warga desa.


"Sebuah pesta? Apakah ini perayaan desa kalian?" Jian Chen mengerutkan dahinya ketika para warga desa membuat api unggun besar serta ada beberapa makanan yang dibuat.


"Pendekar, ini hanyalah tradisi kami ketika berhasil menyelesaikan masalah desa, seperti kemarau yang panjang atau dalam kasus sekarang adalah ular yang anda bunuh."


Jian Chen menggaruk kepalanya yang gatal, memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.


Kepala Desa kemudian meminta Jian Chen untuk tinggal sebentar di desa ini karena selain merayakan kematian ular yang menggangu desa mereka selama setengah tahun, mereka melakukan pesta ini untuk menjamu Jian Chen.


Jian Chen sebenarnya hendak menolak namun pandangannya jatuh ke dua orang gadis yang di kenalnya namun sekarang memiliki penampilan berbeda.


Ziyun dan Meily telah memakai gaun khas desa tersebut, atau tepatnya warga desa memaksa keduanya untuk memakai gaun mereka.


Jian Chen menatap keduanya dari atas sampai bawah, sejujurnya wajahnya mereka tetap cantik namun karena penampilan mereka yang terkesan aneh Jian Chen hampir tertawa dibuatnya.


"Saudara Jian..." Meily menunduk malu melihat reaksi Jian Chen, ia berharap Jian Chen tertarik dengan penampilannya namun ternyata jauh dari ekspektasinya.


Disisi lain Ziyun tidak mempermasalahkan reaksi Jian Chen lebih jauh, sebaliknya ia tertawa karena memang penampilan gaun yang dipakainya terlihat aneh.


Para warga ikut tertawa, mereka tidak tersinggung karena seperti itulah adanya. Menurut kepercayaan mereka, siapapun yang memakai gaun tersebut akan baik dalam asmara, hal tersebut lah yang membuat Meily dan Ziyun mengikuti kehendak para warga meski harus berpenampilan aneh.