
Jian Chen yakin pria sepuh itu bukan Dong Xu, ketua Kuil Hitam melainkan salah satu Tetua atau tangan kanannya.
"Tidak kusangka ada yang cukup gila mengusik kediaman Kuil Hitam, apa sekarang organisasi kami sudah di pandang remeh hingga seorang pemuda bisa leluasa mengacaukan markas?" Pria sepuh itu akhirnya membuka suara, nadanya cukup sinis pada Jian Chen.
"Hm, kau jelas bukan pemimpin organisasi ini, dimana ketua kalian?" Jian Chen justru memikirkan hal lain.
Seharusnya Dong Xu akan keluar ketika markasnya diusik namun setelah Jian Chen membunuh beberapa anggota mereka, kemunculan Ketua Kuil Hitam tersebut masih belum terlihat batang hidungnya.
"Hmph! Kau tidak cukup pantas untuk bertemu Ketua kami, aku yang akan mengambil nyawamu..." Pria sepuh itu tiba-tiba melompat dan menyerang Jian Chen dengan serangan tapaknya, Jian Chen menyerang dengan serangan serupa hingga kedua tapak beradu dan menimbulkan gelombang kejut.
Ekspresi pria sepuh itu menjadi tegang saat merasakan kekuatan Jian Chen, ia mengambil jarak beberapa meter dengan lawannya.
Dalam satu kali pertarungan saja, pria sepuh itu sudah menyadari Jian Chen adalah pendekar Alam Langit pikirnya.
"Kemampuanmu tidak buruk, pantas saja kau berani menyerang markas ini." Pria itu tersenyum lebar, menutupi kecemasan di hatinya.
"Kau bukan lawanku, jika aku serius, kau tidak akan bertahan tiga kali serangan dariku..." Jian Chen melirik anggota-anggota Kuil Hitam beberapa saat, ia kemudian menyimpulkan bahwa Dong Xu sedang tidak ada di markasnya.
'Sepertinya hari ini aku hanya bisa menghancurkan markasnya saja...' Jian Chen menghela nafas, sebaiknya setelah ini ia harus mencari tahu kemana pemimpin mereka pergi juga.
Pria sepuh itu bereaksi atas ucapan Jian Chen dan menganggapnya sebagai penghinaan, ia menarik pedangnya. "Aku bukan lawanmu? Akan aku ajarkan namanya putus asa!"
Jian Chen memberi instruksi agar Jian Ya mundur beberapa langkah darinya, melihat pria tua itu berlari ke arahnya dengan niat membunuh, justru membuat Jian Chen tersenyum sinis dan menganggap lawannya mudah terpancing emosi.
Jian Chen membatalkan niatnya untuk menarik pedang asura, melawan pria sepuh itu tidak harus mengeluarkan pusakanya.
Pria sepuh itu mengayunkan pedangnya sementara Jian Chen menghadapinya dengan tangan kosong. Anggota Kuil Hitam melihat ke arah pertarungan Tetua mereka sampai kesulitan berkata-kata, mereka bisa melihat kekuatan Jian Chen yang lebih tinggi dari Tetua tertingginya.
'Sial-! Kekuatannya ternyata sehebat ini!'
Pria sepuh itu mengumpat, ia sudah memiliki firasat kalau Jian Chen bukan pendekar sembarangan namun masih tidak menduga bahwa seseorang yang terlihat begitu muda memiliki kekuatan yang setinggi ini.
Pria sepuh itu mulai menyesal karena telah berurusan dengan Jian Chen.
Pertarungan keduanya tidak berlangsung lama karena dalam beberapa pertukaran jurus saja Jian Chen membuat pria sepuh itu terlempar sebelum memuntahkan darah segar di mulutnya.
Melihat Tetua mereka dikalahkan seperti itu membuat anggota-anggota Kuil Hitam jadi menyadari situasinya, tanpa berpikir panjang mereka langsung berlari ke berbagai arah.
"Kalian akan lari kemana, aku tidak akan membiarkan kalian lolos..."
Jian Chen mencabut pedangnya dan mulai membunuh anggota Kuil Hitam yang mencoba lari, Jian Ya juga ikut membasmi mereka.
Disaat keduanya disibukkan oleh anggotanya, pria sepuh itu menelan beberapa pil penyembuh untuk meredamkan rasa sakit akibat pukulan Jian Chen, ia merasakan tulang rusuknya benar-benar patah.
Pria sepuh itu mulai menghilangkan keberadaan dirinya dan diam-diam terbang, meninggalkan lokasi markasnya, aksi tersebut segera tersadari Jian Chen dengan cepat.
Jian Chen mengeluarkan sebuah cakram di cincin ruangnya yang ia dapatkan saat melawan organisasi di provinsi lain. Cakram itu mempunyai kualitas yang tidak diragukan lagi.
Jian Chen mengaliri cakramnya dengan elemen angin sebelum melemparkan pada pria sepuh itu.
Pria sepuh itu menyadari Jian Chen melemparkan senjata padanya, melihat kecepatan cakram yang bergerak lebih cepat dari terbangnya pria sepuh itu mencoba menangkis gerak arahnya agar berpindah arah.
Jian Chen tentu saja menyadari itu namun satu hal yang diluar perhitungan pria sepuh tersebut, ketika cakram yang dilemparkannya ditangkis, Jian Chen membelokkan arah cakramnya dan kembali ke pria sepuh itu.
Keistimewaan cakram yang Jian Chen lemparkan selain memiliki kualitas bagus juga dapat dikendalikan dari jarak jauh.
Pria sepuh itu tidak menyangka cakram yang ditangkisnya akan berbelok lagi ke arahnya, cakram yang dibalut elemen angin yang tajam itu seketika memotong tubuh pria sepuh itu seperti tahu dan membuatnya menghembuskan nafas terakhir.
Dari matanya yang masih terbuka lebar, pria sepuh itu jelas tidak terima ia mati dalam keadaan tragis seperti ini.
Jian Chen kemudian melanjutkan menghabisi para anggota Kuil Hitam yang tersisa, karena jumlahnya sudah tidak banyak lagi, Jian Chen dan Jian Ya dapat dengan mudah membunuh mereka semua.
Tentu saja meski mereka berlari ke berbagai arah, Jian Chen ataupun Jian Ya dapat dengan mudah mengejarnya apalagi keduanya bisa terbang dengan cepat.
Jian Chen sempat mengintrogasi salah anggota dari mereka yang terakhir, bertanya tentang keberadaan Dong Xu dan anggota lainnya.
Jian Chen mengetahui jumlah organisasi Kuil Hitam memiliki anggota ribuan.
Seharusnya menaklukkan Organisasi Kuil Hitam akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk Jian Chen sekalipun namun karena jumlah anggota di markasnya hanya sekitar dua ratus orang membuat Jian Chen dan Jian Ya bisa lebih cepat melenyapkan organisasi mereka dari waktu seharusnya.
"Ketua Xu dan anggota lainnya sedang melakukan perkumpulan antar organisasi, aku tidak tahu persisnya namun mereka mengatakan untuk merencanakan strategi penyerangan..."
Jian Chen dan Jian Ya saling pandang, penyerangan? Keduanya bereaksi mendengar kata tersebut mengingat klan Jian pernah di serang dua kali.
Dari anggota itu Jian Chen mengetahui bahwa organisasi-organisasi kriminal masih melakukan aliansi. Bahkan aliansinya lebih besar dari sebelumnya hingga mencakup semua organisasi di Provinsi Naga Petir.
"Strategi penyerangan?" Jian Chen mengerutkan dahi. "Apa kau tau tujuan mereka mereka menyerang kota mana?"
"Aku tidak yakin tapi samar-samar aku mendengar mereka akan menyerang Ibukota Provinsi Naga Petir, Kota Qianshan, katanya mereka akan berencana membuat strategi untuk menggulingkan pemerintahan."
Ekspresi Jian Chen jadi berubah, mendadak firasatnya memburuk mendengar hal tersebut. Jian Ya juga tampak memperlihatkan kecemasannya.
"Katakan padaku, kapan kalian akan melakukan penyerangan pada ibukota?!" Jian Chen menarik kerah jubah anggota Kuil Hitam itu dengan keras.
"Itu..."
Anggota terakhir itu mengatakan bahwa seharusnya operasi menggulingkan pemerintahan ibukota akan dilakukan malam ini jika perhitungannya tidak salah.
"Gawat-! Kita harus pergi ke Kota Qianshan!" Jian Chen berdecak kesal.