Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 129 — Rombongan Pedagang


Jian Chen diberi kamar yang cukup besar untuk disinggahi sendiri, tak lama dirinya duduk seorang pelayan wanita datang membawa napan dengan diatasnya ada guci yang berisi teh.


"Kapan kapal berlayar, apakah masih lama?" Jian Chen menyeruput teh tersebut lalu bertanya pada pelayan itu.


"Sebentar lagi Tuan, jangkar sudah dinaikkan beberapa menit lalu, kami harus mempersiapkan semuanya terlebih dahulu sebelum benar-benar pergi." Jawab pelayan gadis itu.


Jian Chen mengangguk pelan lalu memberikan tip pada gadis itu. Tak lama kemudian Jian Chen merasakan kapal mulai berlayar, setelah satu jam meminum teh di ruangannya ia beranjak keluar untuk melihat suasana laut.


Di kapal tersebut terdapat tiga puluh penumpang, jumlah yang sedikit untuk kapal sebesar ini yang bisa menampung ratusan orang.


Di atas kapal Jian Chen melihat banyak penumpang berdiri di sana, ia baru mengetahui kecuali dirinya penumpang yang lain adalah pedagang. Jian Chen menaikkan alisnya ketika melihat penampilan pedagang-pedagang itu yang terlihat lusuh dan wajah mereka murung bercampur sedih.


Jian Chen tahu bahwa mereka kurang punya uang sehingga tidak bisa menyewa kamar khusus seperti dirinya.


Mereka yang membayar hanya untuk menumpang kapal saja biasanya akan istirahat di geledak kapal, ketika malam hari mungkin mereka akan tidur didalam namun itu satu ruangan dan tidak nyaman untuk disinggahi.


Jian Chen melewati mereka lalu pergi ke anjungan kapal sembari merasakan angin laut yang berhembus sejuk, rambut hitamnya meliuk bergerak-gerak di sekitar wajahnya.


"Ah, sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi ini..." Gumam Jian Chen memejamkan matanya, menikmati setiap terpaan angin yang menabrak ke tubuhnya.


Memang sejak terakhir ia hidup kembali, Jian Chen tidak pernah ke laut lagi padahal di kehidupan pertama ia paling senang menikmati suasana ketenangan ini. Jian Chen suka berpergian ke berbagai tempat dan laut adalah hal yang paling ia sukai.


Ketenangan Jian Chen tidak bertahan lama saat tiba-tiba ada anak kecil menangis dengan suara keras yang memecahkan suasana kapal yang damai.


Ibu dari anak kecil itu berusaha menenangkannya kembali namun anak kecil itu tetap menangis, membuat ayah dan ibunya merasa tidak enak karena semua penumpang memperhatikan mereka.


"Suamiku, apakah dikantong dagangan kita tidak ada makanan sedikitpun. Anak kita sudah menahan lapar semenjak kemarin malam?"


Ayah dari anak itu menghela nafas, "Ada, hanya saja cuma sepotong roti tapi itu untuk 2 hari kedepan kita di kapal, berikan saja padanya kita bisa cari cara untuk makan nanti."


Ibu itu langsung memberikan roti yang ukurannya tak seberapa, anaknya hanya berhenti menangis sesaat sebelum kemudian merengek dan meminta lagi karena roti tersebut tidak mengenyangkan perutnya.


Kedua orang tua itu hanya bisa menenangkan anaknya kembali bahwa sebentar lagi kapal mereka akan sampai dan dia bisa makan disana namun meski begitu anaknya masih menangis.


Jian Chen menyaksikannya dari jauh menjadi iba, ia kemudian menghampiri keluarga tersebut.


"Permisi, apakah kalian membutuhkan sesuatu?" tanya Jian Chen dengan senyuman ramah.


Pasangan ibu dan ayah itu menatap Jian Chen sesaat, melihat dari bawah ke atas tubuh sang pemuda sebelum memandang wajahnya.


"Tidak ada, maap karena anak kami mengganggu perjalananmu..." Ucap ayah itu tanpa ingin berinteraksi dengan Jian Chen lebih jauh.


"Aku dengar anakmu kelaparan dan kebetulan aku juga punya dua roti ditanganku, apakah kalian menginginkannya?" Jian Chen kemudian menyodorkan rotinya pada anak mereka.


Keduanya ingin menolak tetapi anak kecil itu sudah langsung menyerobot dan mengambil 2 roti ditangan Jian Chen. Ayahnya menghela nafas ketika putera kesayangannya memang membutuhkan makanan. "Terimakasih pendekar..."


Alasan orang itu waspada pada Jian Chen karena dia melihat anak muda di depannya membawa pedang yang tersarung di pinggangnya.


"Kulihat kalian adalah pedagang bukan, kalian ingin berdagang di provinsi lain?" Tanya Jian Chen kemudian, mencoba lebih akrab dengan orang tua tersebut.


Melihat Jian Chen telah berbuat baik padanya akhirnya mereka sedikit terbuka dan mengobrol dengan Jian Chen. Kedua suami istri itu menceritakan bahwa sebenarnya mereka bukan berasal dari Provinsi Naga Petir melainkan pribumi provinsi yang di tujunya.


Bisa dibilang mereka sekarang tengah kembali ke kampung halaman mereka setelah mengadu nasib di Provinsi Naga Petir.


Masalahnya mereka merantau ke negeri orang tidak mendapatkan hasil yang memuaskan dan justru sebaliknya mereka mendapatkan kerugian.


"Kupikir setelah aku mencoba menjadi pedagang di kota provinsi lain aku bisa berjaya untuk menghidupi keluargaku lebih baik lagi, namun alih-alih demikian justru semakin memburuk. Dagangan kami tidak laku dan uang simpanan kami menipis, akhirnya kami terpaksa pulang."


Sebenarnya bukan mereka saja yang bernasib demikian tetapi rombongan pedagang di kapal ini juga merasakan hal yang sama hanya saja nasib keluarga ini adalah yang paling buruk hingga makan sehari-hari pun tak bisa terpenuhi.


Meski mereka kembali pun sebenarnya tidak menjamin apa-apa, mereka disana akan tetap miskin dan mungkin akan seperti itu sampai mereka mendapat pekerjaan atau dagangan mereka laris.


Jian Chen pun merasa iba mendengarnya sehingga ia langsung mengeluarkan uang lalu diberikan pada keluarga kecil itu.


Ketika semua melihat Jian Chen dengan mudah memberikan koin emas pada orang yang dikenalnya, pedagang-pedagang di geledak kapal langsung menghampiri Jian Chen dan berharap rasa kasihan yang sama.


Mereka yang ada di kapal sekarang semuanya adalah pedagang yang tidak berbeda jauh nasibnya dengan orang tua yang di tolong Jian Chen.


Dalam waktu seketika Jian Chen dikerumuni oleh pedagang-pedagang itu, mereka mengemis dan meminta bantuan padanya.


"Pendekar mohon bantuan darimu, keluargaku sudah tidak punya uang lagi setelah membayar kapal ini. Kumohon Tuan memberi hati pada kami?"


"Tuan Pendekar, sebentar lagi istriku akan melahirkan sementara aku tidak punya biaya untuk persalinan, kumohon bantu keluargaku!"


Jian Chen hampir kewalahan bahkan terdorong oleh para pedangan itu, mereka sepertinya sudah tidak memiliki harta lagi ketika membayar kapal besar ini yang kemungkinan harganya tidak murah.


Jian Chen bahkan harus dibantu oleh pengurus-pengurus kapal untuk menenangkan masa yang sudah tak terkendali. Pengurus-pengurus kapal yang membantu Jian Chen juga kurang lebih berharap sama, semoga ia dibayar Jian Chen dengan koin emas sesudah membantunya.


Ditengah kekacauan tersebut tanpa mereka sadari ada sebuah kapal besar dari jauh yang menghampiri kapalnya, kapal itu seperti sengaja ingin mendekatkan dengan kapal para penumpang.


"Celaka! Kenapa ada bajak laut di jam segini?" Pengurus kapal berwajah pucat saat mengenali kapal tersebut.


Pemilik kapal kemudian keluar dari kapalnya setelah mendengar kabar tersebut. Ia melihat kapal bajak laut tersebut lalu menghela nafas panjang.


"Tenang semuanya, selama mereka di beri kompensasi yang memuaskan mereka bisa membiarkan kita pergi..." Pemilik Kapal menenangkan penumpangnya yang mulai panik.


Kekacauan akibat koin emas dari Jian Chen segera terhenti ketika melihat kapal bajak laut tersebut, meski pemilik kapal telah menangkannya tidak membuat suasana jadi lebih baik, mereka justru terlihat ketakutan.


Jian Chen melihat kapal bajak laut itu yang mempunyai layar berwarna hitam serta gambar tengkorak ditengahnya, wajahnya berubah saat mengenali kapal tersebut.


Jian Chen tahu bahwa situasinya tidak sesederhana yang disebutkan Pemilik Kapal.