
"Kalian sepertinya sangat mengenal Kota Anshan?" Jian Chen tersenyum canggung.
Sejak tadi mereka berjalan-jalan, Meily dan Ziyun memimpin langkahnya dari satu tempat ke tempat lainnya. Dimulai dari taman, monumen kota hingga yang sekarang mereka sedang menuju ke sebuah restoran.
Sepertinya keduanya sudah menjadwalkan jalan-jalan ini.
"Kami pernah ke kota Anshan beberapa kali saat berada di Akademi jadi sedikit mengetahui kelebihan yang terpendam di kota ini." Ujar Ziyun menjelaskan.
"Benarkah, apa kau mengajakku untuk mencoba makanan menu baru?" Jian Chen mengelus pucuk Ziyun yang membuatnya tersipu malu dan sedikit salah tingkah.
Ziyun memang mengajak Meily dan Jian Chen ke sebuah restoran yang paling terkenal di kota Anshan. Ada satu masakan dari restoran itu yang ingin ia tunjukkan pada Jian Chen.
Ziyun memang tidak memiliki selera makan besar seperti Meily tetapi gadis itu paling menyukai mencoba masakan baru di berbagai restoran.
Ketika ketiganya sampai, Jian Chen mendapati restoran yang Ziyun tunjukkan merupakan restoran mewah dan mahal, memiliki lantai 5 dimana yang paling atas adalah tempat VIP.
Karena tidak ingin mengecewakan keduanya Jian Chen membawa Ziyun dan Meily ke lantai lima yang paling mahal.
Lantai lima hanya berisi beberapa meja saja meski memiliki ruangan yang luas, di depan para meja tersebut ada sebuah panggung untuk diisi para penari serta pemain musik.
Rombongan Jian Chen duduk di meja dekat panggung apalagi melihat Meily yang sepertinya tertarik dengan pertunjukkan di atasnya.
"Ah, apa kalian sepasang kekasih, kami punya diskon untuk mereka yang sedang menjalin asmara..." Pelayan wanita menghampiri meja Jian Chen sambil tersenyum penuh makna.
Jian Chen batuk pelan sementara Meily dan Ziyun tersipu mendengarnya.
Jian Chen pura-pura tidak mendengar ucapan pelayan itu, ia mulai memesan makanannya yang ingin di coba sesuai rekomendasi Ziyun.
"Baik, tunggu sebentar kami akan kembali beberapa saat lagi." Pelayan itu memundurkan diri setelah mencatat pesanannya.
Saat menunggu makanan, dari anak tangga, ada rombongan lain yang naik ke lantai lima juga. Rombongan itu berisi tujuh orang dengan seorang pria tua berjenggot yang memimpin rombongannya.
Pria tua itu melirik meja Jian Chen, wajahnya seketika berekspresi tidak senang namun ketika pandangannya melirik Ziyun dan Meily, ekspresinya berubah kembali diikuti seringai lebar.
Rombongan itu memilih di salah satu meja namun yang duduk hanyalah pria tua itu saja, menunjukkan statusnya yang tinggi sementara enam orang yang tersisa berdiri di sampingnya.
Pria tua itu memiliki kekuatan tinggi yaitu pendekar yang berada di ranah Alam Langit.
Dia kemudian berbisik pada salah satu pengawal di belakangnya, tak lama kemudian pengawal yang dibisikan berjalan ke arah meja Jian Chen.
Tanpa sepatah katapun, pengawal itu tiba-tiba menaruh kantong kulit pada meja Jian Chen, suara benturan koin emas terdengar ketika berbenturan dengan meja.
"Apa yang kau maksud? Mentraktirku makan?" Jian Chen tersenyum lebar.
Ziyun dan Meily bereaksi serupa, mereka Kemudian menoleh ke pengawal itu yang memiliki tampang sedikit seram.
"Tuan kami menyukai dua wanita yang bersamamu, selagi masih memintanya dengan baik-baik kau segera terima uang ini!"
"Apa yang kau katakan tadi!?" Jian Chen berkata dengan tajam.
Pengawal itu meneguk ludah serta tidak bisa menggerakkan tubuhnya ketika di tatap Jian Chen seperti itu, instingnya mengatakan Jian Chen adalah sosok yang sungguh sangat berbahaya.
Melihat pengawalnya terdiam begitu saja, pria tua memberi instruksi pada pengawal tersisa untuk membantu pengawal pertama.
Enam pengawal tersisa memasang wajah seseram mungkin namun di pandangan Jian Chen mereka tidak lebih dari serangga. Para pengawal itu hanya berada di Alam Bumi, membunuhnya tidaklah sulit bagi Jian Chen.
"Tuan kami adalah pemimpin Organisasi Bunga Darah, dia sedang berbaik hati jadi jika kau cerdas maka turuti apa yang dia mau..." Ucap salah satu pengawal itu dengan senyuman penuh mengejek.
Jian Chen melirik pria tua yang di sebut sebagai pemimpin organisasi itu sebelum melirik ke yang lain, Jian Chen seolah tidak peduli dengan statusnya.
Berbeda dengan Jian Chen yang acuh tak acuh, Meily dan Ziyun justru bereaksi berbeda setelah mendengarnya. Keduanya mengetahui Organisasi Bunga Darah adalah organisasi pembunuh berbahaya yang terkenal di Provinsi Naga Api.
Organisasi Bunga Darah adalah target yang ingin dimusnahkan oleh pemerintahan Kekaisaran sejak lama terutama pemimpinnya namun melakukannya bukanlah hal mudah terutama markas mereka yang cukup tersembunyi.
Organisasi Bunga Darah biasanya menyerang secara sembunyi-sembunyi dan tidak membicarakan identitasnya namun pengawal itu justru berkebalikan, ia mengancam Jian Chen dengan status pemimpin mereka.
Jian Chen tentu saja mengenal kelompok mereka tetapi di depan kekuatannya yang sekarang mereka bukanlah ancaman baginya.
"Jadi kenapa kalau kalian dari Organisasi Bunga Darah? Apa aku harus takut saat mendengarnya..." Jian Chen tersenyum lebih dingin. "Kalau begitu bukankah seharusnya kalian di tangkap disini."
Pernyataan Jian Chen membuat pria tua itu terkejut, biasanya orang atau pendekar akan takut sesudah mendengar namanya tetapi Jian Chen berbeda.
"Kau beraninya..."
Enam pengawal yang ada di depan Jian Chen tidak segan-segan menarik senjatanya, sebagai organisasi pembunuh mereka terbiasa untuk mengambil nyawa orang tak bersalah.
Jian Chen tersenyum sinis, sebelum para pengawal itu bersiap Jian Chen bangkit dari kursinya lalu melakukan tendangan kuat pada mereka.
Satu tendangan membuat lawannya terlempar dan tak sadarkan diri, Jian Chen kembali mengayunkan teknik tendangannya yang sulit di lihat dan tahan lawannya, dalam beberapa detik saja, empat pengawal di dekatnya sudah terbang dan jatuh pingsan.
Pria tua itu terkejut namun sebelum ia melakukan sesuatu Jian Chen sudah menghilang dari pandangannya dan muncul di depannya dengan telapak tangan sudah menempel di leher.
Jian Chen langsung mencekik pria tua itu dan mengangkatnya ke atas, membuat pemimpin organisasi itu meronta kesakitan dan sulit bernafas.
"Kau menginginkan kedua gadisku? Sungguh lucu! Seharusnya kau beristirahat untuk sisa hidupmu bukan alih-alih menginginkan gadis lain?" Jian Chen menggeleng pelan.
Tanpa basa-basi lagi Jian Chen kemudian melemparkan pria sepuh itu ke jendela restoran.
Sebelum melompat ia mengatakan pada Ziyun dan Meily agar tetap di sini dan tidak kemana-mana.
Jian Chen kemudian mendarat di depan pria sepuh itu yang kini masih terbatuk-batuk akibat cekikan Jian Chen yang kuat dan begitu tiba-tiba.
Pria tua itu mengumpat berulang kali, ia tidak menyangka Jian Chen mempunyai kekuatan sehebat ini padahal terlihat begitu muda.