
Salah satu ciri seseorang berada di Alam Langit adalah orang tersebut bisa melayang di udara, ini karena mereka yang menembus Alam Langit bisa dibilang telah terlepas dari hukum aturan bumi.
Dengan tenaga dalam yang cukup maka Niu Qisha bisa membuat tubuhnya terbang di udara, Niu Qisha kini memandang tiga lawannya yang menatapnya dengan sedikit ketegangan.
Hal itu cukup diwajari karena pendekar Alam Langit merupakan eksitensi puncak didunia persilatan di Kekaisaran Naga.
Di Provinsi Naga Petir sekalipun pendekar Alam Langit bisa dihitung dengan jari, wajar saja Hong Gao, Yue Xia dan Gu Bu terkejut bukan main.
Niu Qisha tidak menunggu ketiganya dan langsung menyerangnya dengan teknik Pedang Rembulan, cerminan tetesan hujan membuat tubuhnya terbagi menjadi tiga.
Hong Gao tidak tahu mana dari ketiganya yang asli sehingga ia menyambut salah satu serangan itu namun ketika melihat dua rekannya menyambut tubuh Niu Qisha yang serupa, tidak ada dari mereka yang merupakan sebuah ilusi.
“Ini… bagaimana bisa?” Hong Gao terbata-bata.
“Kau hanya belum mengetahui kekuatan pedang klanku yang sesungguhnya, mari kutunjukan kenapa klanku sangat terkenal…” Niu Qisha tertawa, kini situasinya berbalik dan Niu Qisha mengungguli pertarungan.
Niu Qisha mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lebih banyak lagi, setelah memberikan jeda pada mereka dan tiga tubuhnya bersatu kembali dia menggunakan teknik rembulan lainnya.
Goresan demi goresan mulai terukir di tubuh lawannya, Hong Gao, Yue Xia, dan Gu Bu semakin kelabakan menghadapi serangan Niu Qisha yang bertubi-tubi itu. Kini ketiganya mulai menyadari bahwa mereka bertiga bekerjasama sekalipun tidak akan mengalahkan seseorang yang ada di Alam Langit.
“Kita harus pergi, kita tidak bisa mengalahkan dia sekarang…” Hong Gao mengingatkan pada Yue Xia dan Gu Bu.
“Apa maksudmu, kau mengatakan kita harus melarikan diri begitu saja lalu bagaimana dengan pasukanku.” Gu Bu tampak keberatan.
“Saudara Gu, Mereka bisa digantikan dengan yang lain tetapi sekarang kita harus pergi, menyerangnya sekarang pun tak akan membuatnya terluka justru akan berdampak sebaliknya.” Hong Gao menunjuk Niu Qisha.
Gu Bu ingin mengatakan sesatu lagi tetapi tiba-tiba Yue Xia langsung berbalik dan pergi begitu saja, Gu Bu hampir menjerit melihatnya, tak membutuhkan waktu lama ia menyusul bersamaan dengan Hong Gao.
Niu Qisha melihat itu hanya menggelengkan kepala pelan, para pemimpin organisasi itu selalu terbiasa melawan seseorang yang berada di bawah kultivasinya sehingga ketika melawan seseorang yang lebih kuat darinya mereka tidak lebih dari seorang pengecut yang melarikan diri ketika bertarung.
Padahal kalau mereka bertarung serius melawan dirinya sejak awal mungkin Niu Qisha akan kerepotan menghadapinya.
Niu Qisha tidak mengejarnya karena sejak awal dia tidak berniat membunuh mereka, tujuannya disini tidak lebih dari melindungi klan Jian.
Niu Qisha menilai dengan peperangan ini setidaknya kekuatan aliansi organisasi itu berkurang sebesar dua puluh persen dan selama itu juga ia yakin organisasi-organisasi itu tidak akan bekerja selama beberapa waktu ke depan.
“Hm, Jian Chen itu… Kira-kira apa yang dia lakukan dengan penyerangan terhadap klannya ini…” Niu Qisha mendadak teringat tentang sosok Jian Chen yang berdarah dingin.
Dia menebak anak muda tersebut pasti melakukan sesuatu yang lebih kejam di banding ketika di klan Niu, Niu Qisha meyakini Jian Chen pasti sudah terlibat dalam peperangan ini.
***
“Aku menyerah, berhentilah, jangan bunuh aku…”
“Kami salah, mohon maafkan kami.”
Pasukan organisasi yang ada di dekat tembok klan Jian kini sudah tidak punya semangat lagi untuk bertarung, kebanyakan dari mereka sudah berlutut dan mengangkat kedua tangannya menandakan penyerahan.
Pasukan organisasi tentu sangat ketakutan melihat rekan-rekannya telah terbantai sebagian besarnya, jumlah lima ribu pasukan itu kini hanya tersisa 500 orang saja karena pihak klan Jian seperti tidak pernah mengampuni mereka walau sudah menyerah.
Masalahnya ini bukan karena soal penyerangan pada klan Jian saja tetapi masalah pihak pemerintah provinsi untuk memburu organisasi-organisasi jahat ini. Sudah tak terbilang banyak kasus yang masuk lewat klan Chu akibat kejahatan organisasi tersebut.
Kasus klan Jian adalah tanda yang nyata bahwa organisasi-organisasi mereka tak bisa di diamkan lebih lama lagi, boleh jadi satu sampai lima tahun ke depan, organisasi aliansi ini bisa menjadi ancaman bagi keselamatan yang lain.
Semua pandangan tertuju pada panglima di rombongan klan Chu yang berada di Alam Bumi, mereka menunggu pendapatnya apakah pasukan organisasi ini harus di eksekusi atau dibiarkan hidup di penjara.
“Ketua klan Chu memerintahkan kita untuk menghabisi semuanya tetapi jika kita melakukan hal serupa itu artinya sikap kita tidak beda jauh dengan mereka…”
Pendekar yang berpangkat panglima itu bisa memutuskan sesuatu yang berbeda dengan atasannya ketika situasi di lapangan sangat berbeda.
Pada akhirnya setelah berpikir lama, Panglima klan Chu itu memilih membiarkan pasukan yang tersisa hidup dengan syarat dantian mereka di hancurkan.
Hal itu justru di tentang keras oleh pasukan organisasi karena menghilangkan ilmu silat mereka sama saja dengan mati bahkan lebih buruk dari mati itu sendiri.
Mereka yang menentang kebijakan ini akan dieksekusi sedangkan yang menerima bisa dibiarkan hidup, hanya saja yang dibiarkan hidup tidak punya semangat lagi untuk menjalani kehidupannya nanti.
Meski terlihat kejam klan Chu tersebut namun kenyataannya tidak demikian, pasukan organisasi itu telah banyak membakar desa-desa kecil beberapa tahun ini termasuk membunuh dan menculik para warganya.
Klan Chu yang selaku pemimpin Provinsi dibuat pusing oleh tingkah mereka, jadi wajar saja rombongan klan Chu ini terlihat dingin pada organisasi-organisasi tersebut.
“Saudara-saudari sekalian, terimakasih atas jasa kalian menyelamatkan klanku…” Jian Fengxa, selaku pemimpin klan Jian mengucapkan rasa terimakasihnya setelah peperangan ini dirasa sudah berakhir.
Jian Fengxa mengalami beberapa luka namun tidak terlalu parah, dia langsung naik ke atas tembok untuk mengumumkan kemenangan peperangan tersebut.
Tak lama kemudian sorakan demi sorakan berseru saling sahut menyahut, menggemakan suara kemenangan.
Jian Fengxa menjanjikan kompensasi pada pendekar yang berjuang setelah ini, sumber daya di tambah uang siap diberikan pada mereka.
Hal tersebut seperti angin segar bagi yang mendengar, setidaknya para pendekaar tidak kembali dalam keadaan tangan kosong setelah perjuangan berat malam ini.
***
“Chen’er, kau langsung pergi sekarang, seenggaknya kau bisa istirahat sebentar disini…” Jian Ya menahan Jian Chen yang hendak pergi setelah peperangan ini dirasa usai.
Setelah membabat habis pasukan organisasi di dekat gua itu, Jian Chen tiba-tiba mengatakan akan pergi malam ini.
Jian Ya tentu saja mencegahnya karena ia bisa melihat wajah lelah Jian Chen, Jian Ya masih tidak melupakan pembataian yang dilakukan pemuda di depannya terhadap pasukan organisasi yang tersisa.
Dengan elemen cahayanya, Jian Chen bagai dewa perang yang membunuh siapa saja di dekatnya. Para pendekar klan Jian bahkan meneguk ludah menyaksikan itu apalagi melihat bagaimana kejamnya Jian Chen pada musuh-musuhnya.
Jian Chen langsung memisahkan diri setelah dirasa pasukan organisasi habis, Jian Ya lekas menyusulnya setelah itu.
“Aku hanya pergi ke asosiasi dan tinggal disana selama beberapa hari kedepan, jika kondisi klan Jian mulai membaik semula aku akan keluar dan menemui keluargaku…” Jian Chen menjelaskan kesalahpahaman Jian Ya yang berpikir ia akan meninggalkan klan.
“Oh, maapkan aku…” wajah Jian Ya memerah, ia sempat menyesali sikap perhatiannya yang berlebihan.
Jian Chen kembali memakai topengnya sebelum menghilang dari pandangan Jian Ya, Jian Chen berpikir untuk menunggu Miou Lin di asosiasi, ada hal yang harus dia bicarakan.