Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 73 — Pembersihan


Niu Zuan terus berlari bersama Liu Yanxi dan Liu Kai secepat yang ia bisa dan berharap ayahnya tidak mengejarnya.


Walau bisa selamat dari serangan Niu Qisha, Niu Zuan tidak merasa senang terutama karena rencana kudeta ini berakhir gagal. Dia bisa menyaksikan ketika dirinya melarikan diri ke gerbang luar, pasukan bertopeng yang merupakan pasukanya satu persatu dihabisi.


Rencana kudeta selama dua tahun dipersiapkannya berakhir dengan sesuatu yang tak diduga. Bukan hanya tidak menjadi Ketua klan Niu, dia juga kehilangan posisi sebagai Tetua Tertinggi di klannya.


“Jika aku tidak menjadi Pemimpin klan Niu maka tidak ada klan Niu di provinsi ini…”


Kebencian Niu Zuan sudah ada di ubun-ubunnya, dia sudah tak punya pendukung lagi di klannya sekarang dan tidak mungkin menduduki sebagai Ketua klan Niu jika rakyatnya saja menganggapnya musuh.


Niu Zuan mengganti ambisinya bukan menjadi pemimpin klan melainkan menghancurkan klan Niu secara keselurahan sampai rakyat-rakyatnya sekaligus.


Kepergian Niu Zuan tidak ada yang menghentikannya terutama karena kekuatannya sudah di Alam Bumi, pendekar-pendekar klan Niu sadar diri bahwa kekuatan mereka tak cukup untuk menghalangi Niu Zuan apalagi membunuhnya.


Kepergiannya juga membawa dampak bagi pasukan bertopeng yang ada, mereka ingin ikut melarikan diri tetapi pendekar klan Niu tak membiarkannya. Menyaksikan lawannya berniat membunuh, pasukan bertopeng melawan sekuat tenaga namun karena jumlah mereka yang lebih sedikit membuat kondisinya tak diuntungkan.


Satu persatu pasukan bertopeng gugur, perlawanan yang mereka lakukan terasa sia-sia saat pendekar klan Niu terus berdatangan. Mereka juga sudah kelelahan jadi tak bisa menggunakan seluruh kekuatannya.


Beberapa pasukan bertopeng menjatuhkan senjatanya dan menyerah, pendekar klan Niu yang sudah terlalu marah tidak peduli dan seruannya, mereka tetap membunuh pasukan bertopeng yang ada.


Pendekar klan Niu jelas membenci penyerangan ini apalagi mendengar penghianatan Niu Zuan, tidak ada satupun dari mereka yang senang atas penghianatan pemimpin yang dipercayainya.


Karena mereka tidak bisa melampiaskan kemarahan tersebut pada Niu Zuan, pasukan bertopeng yang merupakan pasukannya menjadi pelampiasan.


“Aku menyerah! Aku tak akan melawan lagi!”


“Berhenti, kami sudah kalah sekarang!”


Teriakan-teriakan terdengar dari pasukan bertopeng, melihat sebagian rekannya banyak yang terbunuh, membuat mereka sadar tidak ada jalan keluar untuk hidup selain dengan menyerah.


“Apa kalian pikir setelah menyerah kami akan membiarkanmu hidup. Kau telah membunuh banyak pasukan kami, ini pelajaran agar kalian tidak menyinggung klan-klan besar.”


Pendekar klan Niu tak peduli mereka memohon sampai air mata keluar sekalipun. Malam ini mereka bertekad untuk membunuh semua pasukan Niu Zuan tanpa pengecualian sedikitpun.


Pembantaian terjadi dimana-mana dan hampir di semua kawasan pemerintahan klan. Pasukan bertopeng tak bisa berbuat apa-apa ketika penyerahan ternyata tidak cukup melindungi hidupnya, mereka mencoba melakukan perlawanan terakhirnya.


“Tuan Muda Jian, kondisi peperangan ini sudah mulai memihak pada kubu kita,” Miou Lin melihat sitasinya dari atas atap. “Sebaiknya anda beristirahat dulu! Nanti pengawalku akan menjagamu disi~…”


Miou Lin baru ingin menyelesaikan ucapannya saat tiba-tiba Jian Chen sudah berlari dan menarik pedangnya.


“Tuan Muda Jian, anda mau ke ma~”


Miou Lin lagi-lagi tak bisa melanjutkan lisannya karena Jian Chen secara mendadak membunuh salah satu pasukan bertopeng yang ada, wanita itu hampir tak berkedip ketika Jian Chen memenggal leher musuhnya.


Membunuh di umur remaja saja sudah membuat mereka terkejut apalagi Jian Chen membunuhnya seperti tidak ada beban sekalipun.


Mereka yang sudah terbiasa membunuh saja selalu ada keraguan untuk membunuh, melihat Jian Chen bereaksi tanpa keraguan sedikitpun membuat mereka berpikir pada satu kesimpulan. Jian Chen merupakan pembunuh darah dingin.


Jian Chen mengibaskan darah di pedangnya lalu menoleh ke arah Miou Lin. “Kak Miou aku akan membantu pembersihan ini, mereka tak bisa dibiarkan hidup…”


Awalnya Jian Chen masih mengasihani pasukan Niu Zuan karena mereka hanya bertindak mengikuti perintah atasannya, namun setelah menyadari pasukan-pasukan bertopeng ini memiliki kemampuan membunuh yang tinggi membuat ia sadar bahwa Niu Zuan telah bekerja sama dengan salah satu organisasi pembunuh.


Kebencian Jian Chen pada organiasi pembunuh yang seperti itu sangat dalam, faktor utamanya adalah karena dikehidupan pertama ia dikepung oleh sebuah organiasi yang membuatnya terluka dan berakhir kehilangan nyawa.


Jian Chen tidak menunggu jawaban Miou Lin, ia langsung berlari ke arah pasukan bertopeng yang ada. Dengan meminum ramuan pemulih tenaga dalam sebelumnya, ada 30 lingkaran tenaga dalam yang terisi di tubuhnya.


Miou Lin menyaksikan punggung Jian Chen mulai menghilang, ia menggigit bibirnya, bingung harus bertindak seperti apa.


“Kita ikuti Tuan Muda Jian, kita tak bisa membiarkannya berjalan sendirian!”


Meski Miou Lin sedikit takut terhadap kekejaman Jian Chen ia tetap bersikap objektif, bagaimanapun keselamatan Jian Chen sekarang sangat penting.


Miou Fan sebelumnya memang telah memerintahkan Miou Lin untuk melindungi Jian Chen, andai dia tidak bertemu dengannya di klan Niu, Miou Lin sudah berniat untuk menyewa seorang pendekar untuk menjaga Jian Chen dibalik bayangan.


Bagi Asosiasi, Jian Chen bisa dibilang merupakan orang terpenting setara dengan dirinya dan para Tetua klan Miou.


Ketika Miou Lin ikut mengejar Jian Chen, dia menemukan remaja itu sudah membunuh 10 orang di jejak langkahnya, setiap ada musuh dihadapan Jian Chen mereka akan terbunuh dalam sekali tebasan.


Miou Lin meneguk ludah sambil menahan nafas tetapi ia tetap mengejar Jian Chen dari belakang, tidak membutuhkan waktu lama hingga Jian Chen bisa terkejar.


Jian Chen tersenyum tipis saat Miou Lin dan rombongannya sudah ada di sampingnya, ia meminum botol lagi untuk memulihkan tenaga dalam yang telah hilang.


Beberapa detik kemudian pedang Jian Chen yang redup bercahaya emas kembali, kecepatan larinya meningkat drastis, setelah merasa dirinya dilindungi, Jian Chen akan memfokuskan untuk menyerang.


Rombongan Miou Lin bernafas dingin dari waktu ke waktu ketika melihat kekejaman Jian Chen dari dekat, mereka tak punya kesempatan untuk membantu karena Jian Chen selalu membunuh lawannya dalam sekali tebasan.


Belum lagi tebasan Jian Chen selalu terarah pada leher lawannya, tidak bisa dipungkiri dijejak langkahnya ada banyak kepala yang menggelinding.


‘Tuan Muda Jian ini, apakah benar usianya masih 14 tahun…’


Miou Lin meneguk ludah sekaligus berkeringat dingin melihat reaksi Jian Chen yang membunuh seolah hal tersebut bukan masalah besar.


Sesekali ketika memandang mata emasnya ia bisa melihat ada kegelapan di dalam hati Jian Chen, kegelapan yang melambangkan begitu besarnya kebencian di hatinya.