Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 230 — Perjalanan Bersama


Jian Chen memijat kepalanya yang terasa sakit, ia kini mengetahui sebab kondisi Ziyun dan Meily berakhir demikian.


Setelah mengintrogasi orang yang mengejar keduanya, Jian Chen dapat memahami mereka diincar oleh sebuah klan, hal ini berkaitan dengan pedang pusaka yang dimiliki Ziyun.


Pedang Dewa Es yang dulu Jian Chen berikan nyatanya telah disadari oleh sebagian kecil pendekar-pendekar di Provinsi Naga Api.


Akibatnya banyak yang mengincar Ziyun sebab pedang tersebut hingga ia berakhir di kejar sampai sini.


Sebenarnya Ziyun akan aman jika berada di area akademi karena selain mereka jenius yang langka di sana, Akademi juga merupakan kawasan pemerintahan Kekaisaran yang akan di lindungi pemerintah secara langsung.


Ziyun dan Meily bisa di kejar karena mereka di jebak oleh delapan orang tadi, selama dalam pengejaran itu keduanya bisa dibilang kesulitan untuk kembali ke akademi karena beberapa anggota klan tersebut berjaga di dekat Akademi agar Ziyun tidak dapat kembali.


Jian Chen mengepalkan tangannya keras, ia tidak menyangka Ziyun dan Meily dapat mengalami kondisi menyedihkan seperti ini.


Jian Chen kembali ke penginapan setelah membunuh delapan orang sebelumnya, ia masuk melewati jendela dan tiba di kamarnya. Jian Chen langsung berganti pakaian yang sebelumnya basah akibat guyuran hujan.


Tidak lama kemudian ketukan pintu terdengar, Jian Chen membukanya dan terlihat Ziyun datang di balik pintu tersebut.


Ziyun sudah membersihkan dirinya serta berganti pakaian, kini gadis itu terlihat lebih manis dengan gaunnya yang berwarna ungu gelap.


Ziyun maupun Meily sekarang telah berusia 20-an, kecantikan mereka sudah terlukiskan sempurna di usianya yang sudah dewasa muda.


"Saudara Jian..." Ziyun sedikit malu karena Jian Chen terus menatap wajahnya.


Jian Chen tersadar lalu batuk pelan, Ziyun selain telah segar kembali wajah gadis itu juga berias membuatnya terlihat jadi gadis yang manis.


"Apa kau sudah beristirahat?" Jian Chen bertanya dengan canggung.


Ziyun mengangguk pelan, ia kemudian mengutarakan niatnya kesini yaitu ingin membicarakan sesuatu yang penting padanya. Jian Chen kemudian mempersilahkannya masuk ke ruangannya.


"Saudara Jian, sebenarnya alasanku disini..." Ziyun kemudian menceritakan tentang masalah yang dialaminya selama ini yang sebenarnya Jian Chen sudah mengetahui dari kelompok itu.


Jian Chen tersenyum canggung lalu mengeluarkan sesuatu dari tangannya yang berupa lencana dari kelompok sebelumnya, Ziyun begitu terkejut karena ia mengenal baik lencana itu setelah pernah bertukar serangan dengan kelompok mereka.


"Saudara Jian, ini... Bagaimana anda mendapatkannya?"


"Kelompok yang mengincarmu sebelumnya sudah ada di dekat penginapan dan hendak kesini, aku melakukan sesuatu pada mereka..."


Jian Chen tidak perlu penjelasan lebih jauh karena Ziyun pasti mengetahui apa yang dilakukannya pada kelompok itu.


"Maaf harus membuatmu seperti ini gara-gara pusaka yang aku berikan..." Jian Chen sedikit bersalah karena gara-gara dialah Ziyun jadi di kejar oleh orang-orang jahat tersebut.


"Saudara Jian, ini bukan karenamu! Akulah yang tidak hati-hati dalam memakainya."


Jian Chen tersenyum hangat mendengarnya, ia bisa melihat wajah kekhawatiran gadis itu sedikit menghilang.


"Satu-satunya tempat yang membuat kalian aman adalah ke Akademi kembali, aku akan menemani kalian ke sana karena dari awal aku akan ke akademi untuk bertemu kalian berdua." Jian Chen berkata demikian agar Ziyun tidak bisa menolak.


"Tapi Saudara Jian, kalau anda bersama kami anda juga akan diincar oleh orang-orang yang mengejarku?"


"Itu sebabnya aku harus bersamamu, agar kalian tetap aman." Jian Chen mengelus rambut Ziyun dengan lembut membuat gadis itu merasakan kenyamanan.


"Terimakasih, aku selalu berhutang budi padamu, andai Saudara Jian meminta bantuanku di masa depan, aku akan berusaha melakukannya walau dengan nyawa sekalipun."


Ziyun tidak membantah, setelah mengalami situasi yang berat selama dua minggu terakhir ini dia membutuhkan waktu istirahat yang panjang.


Ziyun kembali ke kamarnya setelahnya dan menyisakan Jian Chen seorang diri. Jian Chen menoleh ke arah jendela dimana hujan deras masih mengguyur malam itu.


Pemuda itu menghela nafas panjang, kenyataan lagi-lagi membentur dirinya dengan keras. Walaupun saat ini akan sulit menemukan sesuatu yang membunuh Jian Chen tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi orang terdekatnya.


Ziyun, Meily serta Yue Lian adalah contohnya, andai kedatangannya tidak tepat waktu di dekat mereka maka takdir akan berkata lain saat ini.


Masalahnya kekuatan seorang diri juga mempunyai batasnya, tidak semua yang kita lindungi akan selalu berjalan monoton.


Jian Chen akhirnya memilih tidur malam itu, hujan deras di sertai angin yang kencang membuat tubuhnya meminta untuk di istirahatkan.


***


Meily membutuhkan waku yang lama hingga tersadar kembali, setidaknya ia beristirahat sampai delapan belas jam karena kondisi tubuhnya yang benar-benar kelelahan.


Ziyun juga tidak jauh berbeda meski ia lebih dulu terbangun, hal pertama yang mereka temui ketika tersadar adalah mencari keberadaan Jian Chen.


"Syukurlah kalau kalian sudah baikan..." Jian Chen tersenyum hangat sambil mengelus rambut Meily dan Ziyun secara bergantian. "Apa kalian sudah sarapan?"


Meily mengigit bibirnya sementara Ziyun hanya tersenyum tipis, keduanya sekarang sudah tidak memiliki uang yang cukup lagi bahkan hanya sekedar sarapan.


Jian Chen tentu mengerti hal tersebut lalu mengajak mereka ke lantai pertama, di sana sudah ada banyak hidangan yang telah di sediakan oleh para pelayan untuknya.


Meski awalnya menolak karena merasa tidak enak hati tetapi Jian Chen sedikit membujuknya membuat mereka tak bisa lagi membantah.


Di penginapan tersebut hanya ada mereka bertiga karena Jian Chen telah menyewa seluruh penginapan itu sehingga tidak ada pelanggan yang lain.


"Makanlah yang banyak, ini akan membuat kalian dapat pulih secepatnya..."


Jian Chen tertawa kecil melihat Meily menahan nafsu makannya karena tidak ingin terlihat rakus di depan Jian Chen.


Wajah gadis itu seketika memerah karena Jian Chen membaca pikirannya seperti buku, terlepas tubuh Meily yang ramping dan langsing Jian Chen mengetahui nafsu makan gadis itu sangat banyak.


Jian Chen juga ikut makan bersama mereka agar keduanya tidak merasa canggung.


Sesudah makan Jian Chen kemudian mengeluarkan sebuah cincin ruang jenis ametis yang ia dapatkan dari menelusuri makam kuno waktu lalu dan memberikannya pada keduanya.


"Saudara Jian ini..." Ziyun dan Meily sampai sulit berkata-kata melihat cincin ruang berjenis langka tersebut.


Cincin ruang ametis hanya dimiliki segelintir orang di Kekaisaran Naga, dan salah satunya adalah Yang Mulia Kaisar jadi wajar saja keduanya bereaksi demikian.


Jian Chen selain memberikan cincin itu ia juga telah memasukan puluhan ribu koin emas di dalamnya, Jian Chen pastikan kedua gadis itu tidak akan mengalami kekurangan uang kembali bahkan untuk tiga tahun ke depan.


"Saudara Jian, aku sulit merangkai kata-kata lagi setelah semua yang anda berikan buat kami..." Meily memeluk Jian Chen, ia sudah tak peduli lagi rasa malunya melihat kebaikan Jian Chen yang terus menerus padanya.


"Tidak perlu sungkan, kuharap kalian menjalani hidup yang lebih baik lagi." Jian Chen mengelus pucuk kepala Meily yang kini berada di dekapan dadanya.


Meily mengangguk pelan sementara Ziyun yang berdiri di dekatnya melakukan hal yang sama.


Jian Chen kemudian menjelaskan perjalanan mereka bersama yang akan berangkat esok hari, Jian Chen harus memastikan keduanya dalam kondisi prima sebelum memulai perjalanan.