
Jian Chen dan Lily tiba di kota tujuan keesokan harinya, ia pikir kota yang dituju para pedagang tersebut adalah sebuah kota kecil namun dugaannya salah ketika ia melihat dinding pembatas kota yang sangat tinggi
Setelah bertanya Jian Chen mengetahui bahwa kota di depannya bernama Kota Yanghai.
Kereta rombongan Jian Chen memasuki pembatas kota, terdapat beberapa petugas di sana yang berjaga dan memeriksa setiap orang yang ingin masuk ke dalam.
"Dua koin perak untuk satu kereta, sekarang mana bayarannya?"
"Hah? Kenapa tiba-tiba harganya naik, bukankah jumlahnya hanya satu perak minggu kemarin." Pemimpin rombongan pedagang tampak keberatan.
"Minggu kemarin ya minggu kemarin, sekarang ya sekarang, semua bisa berubah dengan waktu." Petugas itu mengangkat bahunya dengan santai.
"Ugh, semakin mahal saja kebutuhan hidup di wilayah ini..." Gerutu pemimpin rombongan pedagang itu sambil membayar sepuluh koin perak.
Menyadari tujuannya telah sampai, Jian Chen dan Lily turun dari kereta dan berterimakasih pada rombongan pedagang itu.
Jian Chen tidak lupa memberikan kantong kulit yang lumayan besar sebagai bayaran para rombongan pedagang itu. Saat pemimpinnya melihat isinya di dalamnya seketika ia terdiam dengan mata yang melebar.
Jian Chen juga memberikan beberapa kantong kulit pada para orang tua itu masing-masing, reaksinya tidak berbeda jauh dengan pemimpin rombongannya.
"Pendekar ini..."
"Jangan menolak, aku memberikan itu secara sukarela pada kalian."
Para pedagang itu tampak saling pandang, uang yang diberikan Jian Chen cukup besar sampai bisa menafkahi mereka sepanjang hidup.
Para pedagang itu tidak menyangka Jian Chen bakal sekaya ini, mereka buru-buru berterimakasih pada Jian Chen bahkan beberapa diantaranya sampai menangis.
Jian Chen tersenyum hangat. "Kuharap dengan uang itu hidup kalian bisa menjadi lebih baik, kalau begitu sampai jumpa nanti..."
Jian Chen dan Lily kemudian berpamitan pergi, para pedagang tersebut bahkan tidak melepaskan pandangannya walau bayangan Jian Chen sudah menghilang.
Setelah diberi uang yang sangat besar tersebut, mereka memilih untuk pulang dan kembali ke keluarga mereka. Tidak ada yang berniat untuk melanjutkan berdagang.
"Oh, Tuan muda Jian ini ternyata memang dermawan ya..." Lily tertawa kecil sesudah langkahnya cukup jauh dari rombongan pedagang tersebut. Gadis itu berjalan di samping Jian Chen.
"Mereka lebih membutuhkan uang sementara aku tidak, bukankah itu jawaban yang tepat."
Lily mengangguk pelan. "Ngomong-ngomong, sepertinya mereka tidak menyadari ada para perampok gurun yang sempat menyerang mereka. Kalau para pedagang itu mengetahui kekuatan kita mungkin mereka akan..."
"Lebih baik mereka memang tidak mengetahuinya, semakin sedikit yang mereka tahu semakin baik." Jian Chen memotong ucapan gadis itu.
Sesudah membunuh semua para perampok gurun dalam hitungan detik, Jian Chen dan Lily tidak berhenti sampai di sana, keduanya langsung mencari markas perampok tersebut yang ternyata berada tak jauh dari lokasi rombongan pedagang bermalam.
Jian Chen pastikan menghabisi semua para perampok itu tanpa tersisa sedikitpun agar para pedagang yang lain tidak ada yang menjadi korban saat melakukan perjalanan.
"Aku tidak menyangka mereka juga akan membuka cabang disini..." Jian Chen tersenyum antusias saat melihat ada toko asosiasi di Kota Yanghai.
Jian Chen berdecak kagum melihat bagaimana kota itu bisa berdiri di tengah-tengah padang pasir, awalnya pemuda itu sempat berpikir bahwa Kota Yanghai merupakan kota yang kumuh namun sepertinya dugaannya salah.
Jian Chen terlebih dulu menuju toko asosiasi tersebut, ia berencana menggali informasi mengenai dua hal, pertama tentang istana gurun yang diceritakan orang-orang dan kedua terkait organisasi Shio Pemburu.
Beberapa orang-orang di kota sempat melirik ke arah Lily bahkan tidak berlebihan menjadi pusat perhatian. Jian Chen menghela nafas, ia tidak menduga wajah yang cantik bisa menyebabkan beberapa hal yang merepotkan.
Dengan statusnya di asosiasi tidak sulit bagi Jian Chen menjadi orang penting di toko tersebut, manajernya yang bernama Manajer He langsung tertunduk hormat padanya.
Manajer He adalah seorang pria empat puluh tahunan, dia juga adalah yang mengurusi asosiasi di kota ini.
"Kurasa toko disini cukup ramai, aku tidak menduga akan banyak pendekar yang berdiam dan membeli sumber daya kita..." Jian Chen dan Manajer He duduk di salah satu ruangan yang telah disediakan, Sementara Lily sedang makan anggur dengan santai tak jauh dari keduanya duduk.
"Sebenernya keadaannya tidak demikian Tuan muda namun belakangan ini situasi Provinsi Naga Pasir telah berubah semenjak ada istana yang tiba-tiba muncul di tengah gurun, hal itu membuat banyak pendekar luar jadi berdatangan ke sini..."
Jian Chen mengetukkan jarinya dimeja berulang-ulang, "Istana gurun ini... Apakah benar-benar luar biasa sampai terkenal hingga keluar kekaisaran?"
Manajer He batuk pelan. "Tuan muda, sebenarnya tidak mengherankan jika istana gurun itu sampai terkenal, dari yang ketahui, Istana megah itu terbuat dari emas yang bersinar."
Jian Chen sedikit terkejut, ia belum mengetahui informasi penting ini dari Luo Bai tapi disisi lain ia jadi memahami situasinya.
Manajer He menambahkan bahwa istana gurun itu berada di sebelah barat gurun tepat di dekat ibukota provinsi, banyak turis yang berdatangan ke sana dari macam-macam daerah.
"Kalau tuan muda ingin ke sana sebaiknya harus hati-hati karena ada banyak pasir hisap, sebaiknya Tuan muda menggunakan petunjuk yang sudah tertera pada tempat tersebut."
Jian Chen mengangguk pelan, meski ia ragu akan ke istana itu.
Jian Chen kemudian menanyakan tentang organisasi Shio Pemburu, Manajer He nyatanya kurang mengetahui informasi mengenai hal tersebut, mungkin di kota ini tidak ada informasi mengenai mereka.
"Jadi apa yang kita lakukan selanjutnya, ke istana gurun itu atau ke kota lain?" Tanya Lily kemudian, melahap anggur yang di lemparnya ke mulut.
Jian Chen sudah diberi peta kecil mengenai seluruh daratan provinsi Naga Pasir oleh manajer He dengan sangat akurat dan lengkap, bahkan ada tanda arah mata angin yang tertera.
Hal itu bisa membuat Jian Chen tidak mungkin untuk tersesat di gurun andai terbang sekalipun.
"Besok kita akan pergi dari sini, hari sudah sore, aku tidak mau jarak pandangku berkurang saat terbang nanti."
Manajer He menyiapkan beberapa kamar untuk tempat tidur keduanya, biarpun malam nyatanya Lily dan Jian Chen tidak menggunakannya malam tersebut untuk tidur.
Jian Chen masih berusaha melatih teknik yang bisa mengumpulkan tenaga dalam Yin, belakang ini ia telah mengalami kemajuan pesat mengenai teknik tersebut.
Seperti sekarang, Jian Chen bisa menyerap lima lingkaran tenaga dalam Yin dalam waktu satu jam, biarpun lima menit langsung menghilang tetapi itu kemajuan yang cepat.
Jian Chen sedang berlatih di kamarnya saat tiba-tiba suara lonceng kota terdengar begitu nyaring hingga ke seluruh penjuru kota. Suara lonceng yang dibunyikan berulang-ulang menunjukkan tanda ada bahaya pada kota tersebut.
Tak lama bunyi lonceng berbunyi, Manajer He datang dan mengetuk pintu kamar Jian Chen dengan nafas memburu, ia menjelaskan bahwa ada serangan prajurit yang menyerang kota.