Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 40 — Tempat Berteduh


Jian Chen meninggalkan faksi Bunga Malam setelah memastikan kelompok bertopeng itu tidak balik lagi.


Dia tidak bisa disana terlalu lama apalagi saat anggota-anggota Yun Mei perlahan telah terbangun. Jian Chen juga sebenarnya sedang merahasiakan kekuatannya agar tidak terlalu mencolok dari orang lain.


Yun Mei sendiri memahami perasaan Jian Chen jadi dia tidak bertanya lebih jauh tentang identitas pemuda yang menolongnya, apalagi Jian Chen selalu mengalihkan pembicaraan ketika dirinya bertanya perihal nama.


“Jika anda membutuhkan sesuatu dimasa depan datanglah ke faksi kami, aku akan menyambutmu dengan senang hati…” Yun Mei kemudian memberikan plat nama khusus pada Jian Chen. “Dengan plat ini kau bisa bertemu denganku dan dianggap tamu penting faksi kami.”


Jian Chen menerima lencana itu, mengangguk, berterimakasih atas tawaran dari Yun Mei. Meski Jian Chen sendiri tidak yakin akan pergi ke faksi Bunga Malam atau bahkan bertamu kesana.


Selepas demikian Jian Chen berpamitan pergi, Yun Mei dan 2 perempuan lainnya mengamati pemuda itu dari jauh sebelum bayangannya hilang.


“Ketua Yun sepertinya dia bukan orang biasa?” salah satu bawahannya berbisik, bertanya pada Yun Mei dengan pelan.


Yun Mei menghela nafas panjang. “Aku juga merasa demikian, kemampuan bertarungnya sangat tinggi belum lagi aku merasakan kekuatan besar terpencar dari dalam tubuhnya…”


“Apa Ketua bisa melihat tingkat kultivasinya?” Tanya bawahan itu heran, dia sudah mencoba beberapa kali untuk melihat kekuatan Jian Chen namun dirinya tak dapat meraba tingkat kultivasi pemuda itu.


“Tidak, kultivasi orang itu memang tak bisa diterawang bahkan oleh pandangan dari teknik klanku sekalipun. Aku hanya bisa merasakan aura kekuatannya saja yang tak biasa.”


“Lalu bagaimana dengan kasus teknik pedang sebelumnya, bukankah itu seperti teknik pedang Klan Niu?”


Yun Mei menghela nafas lagi, ia juga sebenarnya penasaran dengan masalah itu.


Setahunya, di Akademi Qianshan hanya ada satu gadis yang berasal dari klan Niu yaitu Niu Meily sendiri, dan dia juga wanita satu-satunya yang bisa menggunakan teknik klannya di akademi ini.


‘Apa mungkin pemuda itu memang dari klan Niu?’ batin Yun Mei dalam hati namun pikiran itu segera ditepis olehnya mengingat dia tahu peraturan khusus dari klan tersebut.


Untuk menjaga teknik pedangnya tidak dicuri oleh orang lain, Klan Niu membatasi interaksinya dengan dunia luar. Salah satu hasil dari kebijakannya yaitu klan Niu hanya berkontribusi 1 murid Akademi per 5 tahunnya dan murid itu sekarang adalah Niu Meily.


Jika bukan untuk perkembangan serta pengalaman anaknya dimasa depan, Ketua Klan Niu itu mungkin tidak akan sudi mengirim anaknya belajar di akademi.


“Entahlah, aku tidak bisa memastikan teknik itu memang berasal dari klan Niu atau bukan, yang pasti karena teknik pedangnya, membuat kita selamat dari kobaran api tersebut.”


Dua bawahannya mengangguk setuju, andai saja Jian Chen tidak mengayunkan pedangnya tadi mungkin mereka bertiga sudah mati terpanggang.


“Kita rahasiakan pertemuan ini dari yang lain dan jangan ceritakan apapun tentang teknik pedangnya terlepas ia berasal dari Klan Niu atau bukan. Sebagai ucapan terimakasihnya kita harus tutup mulut tentang bertemu pemuda tadi…”


Tentu Yun Mei menyadari kalau Jian Chen tidak ingin dirinya dikenal, jika pemuda itu berharap demikian maka Yun Mei dan 2 bawahannya akan menjaga rahasia ini.


“Tenang Ketua, dibanding dengan dia yang menyelamatkan hidup kami menjaga rahasianya adalah perihal mudah.”


Yun Mei mengangguk puas, dia kemudian melihat anggota-anggotanya mulai sadarkan diri dari racun tidur tersebut.


Selepas ini Yun Mei berencana untuk menyudahi pemburuan lalu keluar dari arena kompetisi, menurutnya jika dilanjutkan akan berbahaya bagi anggotanya mengingat faksinya kini diincar oleh faksi Naga Emas.


Lagian dengan permata yang dikumpulkannya, mereka merasa cukup dengan hasil 5 hari kompetisi ini berlangsung.


Selepas pertemuan dengan faksi Bunga Malam, Jian Chen tidak melanjutkan berkultivasi melainkan memburu siluman yang hendak menyerangnya.


Ternyata semakin dekat dirinya dengan bukit di tengah Hutan Sunyi maka semakin banyak dan kuat siluman yang menyerangnya. Siluman-siluman yang ia temui juga memiliki umur sekitar 30 tahunan ke atas.


Jian Chen bergerak bukan tanpa arah melainkan sedang menuju dimana faksinya berada. Saat tadi bersama faksi Bunga Malam, Jian Chen juga tak lupa menanyakan tentang keberadaan faksinya.


Beberapa jam berlalu membasmi para siluman sambil bergerak maju, Jian Chen sudah menghisap 50 permata kedalam Cincin Ruangnya.


Sebenarnya tanpa harus memburu lagi Jian Chen yakin bisa memenangkan kompetisi ini. Jian Chen memburu kembali hanya ingin memperbesar hadiah yang akan didapat untuk faksinya nanti.


Waktu matahari terbit ternyata tak pernah dia temui karena langit diatas sana terlihat gelap dan mendung.


“Hm… kupikir ini masih malam ternyata hujan akan tiba.” Jian Chen mempercepat langkahnya untuk mencari tempat berteduh sebelum hujan turun.


Sebuah gua yang besar dikaki bukit ditemukan Jian Chen secara tidak disengaja, Jian Chen memutuskan untuk berteduh disana.


Langkah kaki Jian Chen terhenti didekat mulut gua yang begitu besar, saat melihat kedalam ia merasakan kegelapan yang pekat seperti gua tersebut tidak memiliki ujung.


Hawa disekitar Jian Chen juga jadi lebih dingin saat masuk, karena itu ia mulai mengambil ranting-ranting pohon didekat gua untuk membuat api unggun agar dirinya tetap terasa hangat.


Tidak lama jutaan tetes air perlahan turun, hujan pagi itu sangat deras karena disertai angin kencang, membuat pohon-pohon disekitarnya terlihat lebih miring.


“Kurasa hujannya akan sangat lama…” Melihat langit yang gelap Jian Chen memilih untuk menunda perjalanan ke faksinya untuk sementara waktu.


Dia duduk disalah satu batu dekat api unggun dan memamfaatkan waktunya untuk berkultivasi. Gua yang awalnya sangat gelap itu terlihat bercahaya saat Jian Chen sedang berkultivasi.


Siang hari berlalu, hujan diluar masih belum ada tanda-tanda akan berhenti, dibanding reda justru semakin lebat.


Mata Jian Chen perlahan terbuka dan senyuman lebar terukir dari wajahnya setelah berkultivasi 5 jam penuh. Tiga dari 8 meridiannya telah terpenuhi setelah menyerap cahaya selama beberapa waktu ini.


Menurut Jian Chen dengan hanya 3 meridiannya saja ia bisa menandingi kekuatan dari alam Jiwa Tahap 6 atau 7, belum lagi jumlah tenaga dalamnya sudah meningkat pesat yaitu berkisar 140 lingkaran.


Dewa Cahaya Perak hanya butuh 200 lingkaran tenaga dalam sebagai syaratnya, jika diperkirakan tinggal 6 bulanan lagi hingga ia bisa mencapai alam tersebut.


Jian Chen menyudahi kultivasinya, melihat hujan masih mengguyur yang membuatnya tak bisa kemana-mana ia berpikir untuk menyusuri gua ini apalagi ketika melihat ke kedalaman gua yang gelap.


Sebenarnya Jian Chen sedikit aneh dengan kondisi gua yang ia singgahi karena meski ada api unggun didekatnya gua tersebut masih terasa dingin.


Jian Chen mengambil salah satu ranting di api unggun tersebut lalu membawanya sebagai obor, Jian Chen ingin masuk kedalam gua ini lebih jauh.


Tenaga dalam sudah Jian Chen alirkan keseluruh tubuhnya agar rasa dingin gua ini berkurang, namun ketika beberapa langkah bergerak masuk gua itu ternyata jadi lebih dingin dari yang dikira.


Jian Chen meneguk ludah. “Sepertinya gua ini bukan gua biasa…” walau hanya sekilas Jian Chen merasakan ada aura yang ganjil pada gua tersebut.