
Sesuai yang direncanakan, Jian Chen beserta Ziyun dan Meily melakukan perjalanan keesokan harinya. Untungnya hujan mereda ketika pagi meski awan di atas sana masih membekas mendung.
Karena situasinya, Jian Chen tidak bisa menempuh perjalanan dengan terbang, ia menggunakan jalur darat yang tanahnya masih terlihat becek akibat hujan semalam.
Di hari pertama mereka harus bermalam di alam terbuka, Jian Chen membuat api unggun sebagai penerangan dan penghangat.
Jian Chen memburu ayam hutan terlebih dulu sebelum mengolahnya dan memasaknya. Di cincin ruang Jian Chen selalu membawa bumbu sehingga meski di alam bebas ia dapat masak layaknya dapur di rumah.
"Saudara Jian, seperti biasa masakan anda selalu enak?" Ziyun mengomentari daging ayam Jian Chen yang sudah di masak.
Meski memujinya namun Ziyun merasa tidak senang dengan bakat Jian Chen yang jago memasak, entah kenapa sebagai seorang gadis yang menyukainya ia merasa dikalahkan oleh Jian Chen.
Jian Chen mengangguk pelan, ada lima ayam hutan yang di masaknya, satu untuk Jian Chen dan Ziyun sementara tiga sisanya di habiskan oleh Meily.
Meski gadis itu sedikit malu saat makan tiga ayam tersebut namun Jian Chen menenangkan agar Meily tidak perlu malu.
Jian Chen memilih berjaga di malam itu dan membiarkan keduanya tidur terlelap, saat pagi hari tiba ketiganya melanjutkan perjalanan kembali namun ada yang menghambat perjalanannya yaitu cuaca yang masih tidak mendukung.
Jian Chen mengerutkan dahinya, sepertinya bulan ini provinsi Kekaisaran sedang masuk waktu penghujan, terlihat dari awan di langit sana yang masih mendung terus.
"Hm, kita harus cepat-cepat mencari tempat berteduh, hujan akan tiba tak lama lagi."
Dengan menelusuri hutan, Jian Chen, Ziyun dan Meily melanjutkan langkahnya dengan berlari melewati dahan-dahan pohon. Tidak berangsur lama hingga buliran air kecil mulai berjatuhan.
Jian Chen berpikir mereka akan basah kuyup kembali namun kebetulan tidak lama hujan turun ketiganya menemukan sebuah desa.
"Kita akan berteduh di sana..."
Tidak menunggu lama lagi ketiganya langsung ke desa tersebut. Kebetulan ada sebuah tempat makan kecil, selain bisa berteduh, rombongan Jian Chen juga dapat mengenyangkan perut.
"Sudah lama sekali sejak lima bulan terakhir ini ada pengunjung dari luar desa..." Seorang wanita paruh baya tersenyum lembut ke arah Jian Chen dan dua gadis yang bersamanya.
"Bibi, kami pesan makanan yang hangat 3 porsi?" Jian Chen duduk di salah satu meja, Ziyun dan Meily mengikuti.
Wanita paruh baya itu mengangguk, tidak membutuhkan waktu lama ia membawa sebuah tiga makanan yang berkuah.
"Oh, ini ramen?!" Ziyun yang pertama kali mengenalnya.
"Nona cantik, kau mengenalinya?" Perempuan paruh baya itu tertawa kecil. "Ini masakan khas desa kami, kau mungkin akan menyukainya?"
Ziyun tersenyum canggung, sepertinya ia salah mengartikan bahwa ramen adalah makanan khas klan Niu, buktinya ada ramen lain dari desa kecil seperti ini.
"Apa kalian bertiga seorang pendekar?" Tidak berangsur lama perempuan paruh baya itu tiba-tiba terkejut ketika melihat cincin ruang tersemat di jari tiga anak muda di depannya.
Sumpit Meily terhenti, "Benar Bibi, apakah ada sesuatu?"
Ekspresi perempuan paruh baya itu berubah, jika sebelumnya ia tampak biasa saja kini sorot matanya dipenuhi harapan yang besar, Jian Chen juga menyadari ekspresi perempuan itu yang berbeda.
"Tuan dan Nona pendekar, desa kami membutuhkan kalian..." Perempuan paruh baya itu tiba-tiba langsung berlutut.
Ketiganya terkejut dengan aksi tersebut, mereka tidak mengerti alasan perempuan paruh baya itu langsung bertindak demikian.
"Bibi, apakah ada masalah besar di desa ini?" Meily menghentikan makannya dan langsung menghampiri perempuan itu.
Perempuan paruh itu kemudian menjelaskan situasi desa yang amat mencekam belakang ini di sebabkan adanya seekor ular besar yang tiba-tiba muncul di sekitar hutan.
Ular besar tersebut beberapa kali menyerang para warga bahkan sampai jatuh korban, ia juga memakan ternak dan menghancurkan pertanian warga.
"Bibi, kenapa tidak melaporkan ini pada pemerintah atau ke serikat petualang, mungkin mereka bisa membantu?" Tanya Meily heran.
"Kepala desa sudah melakukannya namun entah kenapa tidak ada respon dari mereka atau surat tersebut memang tidak pernah sampai ke tujuannya." Perempuan paruh baya itu menggeleng pelan.
Berpikir masalahnya selesai ternyata ada masalah lain selain ular besar tersebut. Tepat ular besar itu muncul ada sebuah organisasi kecil yang menawarkan akan membantu desanya.
Organisasi kecil itu meminta sejumlah uang, awalnya Kepala desa tidak masalah dengan hal tersebut karena memang hal yang lumrah bagi mereka meminta bayaran.
Tapi semua berubah ketika organisasi kecil itu meminta uang yang lebih banyak lagi beralasan bahwa ular tersebut sangat sulit di hadapi.
Hal ini terus dilakukan oleh mereka namun faktanya ular tersebut masih hidup sekarang dan belum mereka bunuh.
'Jelas-jelas mereka hanya memeras warga desa...' Jian Chen menggelengkan kepalanya pelan setelah mendengar cerita itu.
Jian Chen yakin hanya soal waktu organisasi kecil itu meminta uang yang lebih banyak lagi.
"Bibi tenang saja, kami akan membantu desa ini mengusir ular itu..." Meily menoleh ke arah Jian Chen yang langsung diangguki pelan.
Perempuan paruh baya itu sangat senang mendengarnya, bagi warga desa seperti mereka yang awam dengan dunia persilatan, sosok pendekar selalu di yakini sebagai seseorang yang memiliki kekuatan dewa.
Jian Chen kemudian memintanya untuk menceritakan informasi detail tentang ular tersebut, usai mendengar dari ceritanya, Jian Chen yakin ular besar itu adalah seekor siluman.
Jian Chen kemudian pergi setelah hujan reda bersama Ziyun dan Meily, bagi Jian Chen sebaiknya masalah besar seperti ini harus segera diselesaikan.
Dikatakan ular itu berasal di dekat hutan yang ada di dekat gunung tak jauh desa kecil itu berada, setelah mencari beberapa waktu Jian Chen akhirnya menemukan sarangnya.
Tanpa harus di pancing, ular tersebut langsung keluar dari sarangnya setelah mencium kedatangan rombongan Jian Chen, terlihat ular berwarna putih memiliki ukuran besar dan panjang belasan meter.
Jian Chen mengerutkan dahinya, setidaknya ular yang ada di depan matanya termasuk siluman ratusan tahun. Seseorang bisa membunuhnya jika mereka berada di ranah Alam Kehidupan puncak.
Ular itu berdesis marah melihat kedatangan rombongan Jian Chen.
Meily dan Ziyun langsung mengeluarkan senjata mereka masing-masing termasuk Jian Chen setelahnya, keduanya sudah bersiap menyerang ular itu.
Jian Chen yang pertama kali bergerak saat tiba-tiba muncul di depan kepala ular tersebut dan menendangnya dengan kuat, membuat ular perak itu terpental belasan meter.
Jian Chen langsung menyerang kembali sementara Ziyun dan Meily mengikutinya dari belakang.
Tidak sulit menghadapi ular itu dengan kemampuan ketiganya, tidak berangsur lama mereka berhasil membuat ular itu dipenuhi dengan goresan penuh luka.
Ziyun mengakhiri nyawa ular itu dengan pusakanya yang di balut elemen es, membuatnya mati membeku.
Jian Chen kemudian mengambil sesuatu dari ular itu sebagai bukti bahwa ia telah membunuh ularnya. Jian Chen juga mengambil permata silumannya lalu di berikan pada Ziyun.
Di saat keduanya masih di sana, ada belasan orang berseragam yang menghampiri mereka. Belasan orang itu terkejut ketika ular besar itu sudah terbunuh dan tergeletak di tanah.