
Xiao Yan menghindari serangan pedang Jian Chen beberapa saat sebelum mulai menyerang balik, permainan goloknya sangat cepat dan memiliki variasi gerakan yang sulit ditebak.
Menghadapi serangan demikian Jian Chen tetap tenang, ia menangkis beberapa serangan golok lawannya dan sebagian lainnya di tahan oleh pedang asura.
Menyaksikan Jian Chen berhasil mengimbangi kecepatan golok Xiao Yan, kembarannya yaitu Xiao Yun merasa terkejut melihat hal tersebut dari jauh.
"Dia bisa mengimbangi kecepatan golok Kakak menunjukkan kekuatannya berada di Alam Langit tahap puncak bahkan bisa jadi lebih..." Xiao Yun menoleh pada Yang Tian yang berdiri di sampingnya, "Apa kau yakin di kekaisaran ini tidak ada pendekar Alam Raja seperti kita?"
"Sejauh yang kutahu dan secara umum memang demikian, jagoan nomor 1 Kekaisaran Naga saja hanya berada di Alam Langit tahap puncak..." Yang Tian menjawab.
Biarpun Yang Tian masih terlihat tenang ia juga sedikit bereaksi melihat pertarungan Jian Chen. Satu-satunya jawaban yang ia pikirkan ketika Jian Chen dapat mengimbangi kecepatan Xiao Yan adalah karena pendekar misterius itu memiliki pengalaman bertarung yang luas.
Berbeda dengan reaksi Yang Tian dan Xiao Yun, Xiao Yan justru semakin berantusias ketika Jian Chen dapat dengan mudah mengimbangi kecepatan goloknya.
"Benar-benar menarik, sudah lama sekali aku tidak bertarung dengan seseorang yang mengimbangi kecepatan golokku ini, kau adalah orang kesebelas yang berhasil mengimbangi gerakan teknikku..." Xiao Yan tertawa antusias sebelum menaikan ritme kecepatan goloknya.
Jian Chen mengerutkan dahi ketika golok Xiao Yan mulai sulit di hindari, terpaksa semua serangan pria itu ia tahan dengan pedangnya.
Bukan hanya cepat tetapi ayunan golok Xiao Yan juga kuat, jika itu orang lain mungkin tangan mereka akan gemetar ketika menahan serangan goloknya terus menerus.
"Bukan hanya refleksmu kuat tetapi kau juga memiliki pusaka yang bagus, harus kuakui kau memang cukup mengesankan..." Xiao Yan bisa melihat pedang Jian Chen tidak mengalami kerusakan setelah goloknya beradu berulang kali.
Jian Chen menyipitkan matanya, meski teknik golok Xiao Yan sangat tinggi namun ia merasakan ada kekurangan dari teknik tersebut.
Dugaan Jian Chen memang tidak salah, teknik Xiao Yan memang harus digunakan oleh dua orang secara bersamaan. Ketika teknik itu dilakukan oleh ia dan adiknya maka teknik golok Xiao Yan akan terlihat sangat sempurna.
"Kau bisa berpikir dalam kondisi seperti ini, kupuji keberanianmu..." Xiao Yan tersenyum sinis lalu menaikan kecepatan goloknya dengan serius.
Kecepatan golok Xiao Yan semakin sulit diikuti oleh mata Jian Chen sehingga Jian Chen memilih menyerangnya balik.
Senyuman Xiao Yan memudar ketika serangan Jian Chen berhasil membuatnya di posisi bertahan bahkan sedikit demi sedikit Jian Chen mulai memojokkannya.
Jian Chen terus memainkan pedangnya lebih cepat lagi membuat Xiao Yan jadi kewalahan, tidak membutuhkan waktu lama hingga ia berhasil menorehkan luka pada pipi pria kembar itu.
"Hanya segini kemampuanmu, harus kuakui kau terlalu mengecewakan..." Jian Chen berkata dengan nada mengejek.
Xiao Yan mengumpat dan emosinya memuncak, ia memainkan goloknya lebih cepat lagi tetapi serangan pedang Jian Chen membuat teknik goloknya jadi tak berkutik.
Keduanya terus beradu jurus sampai Jian Chen melukai dada Xiao Yan dengan cukup besar.
Xiao Yan segera mengambil jarak sebelum serangan pedang Jian Chen melukainya terlalu dalam, pria kembar itu kini menyadari kekuatan Jian Chen yang berada di ranah Alam Raja.
Xiao Yan berkata lemas sambil memegang dadanya yang terluka, ia buru-buru menghentikan pendarahannya dengan tenaga dalam.
Jian Chen mendengus, tidak menjawabnya. Jian Chen langsung mengikis jarak antar keduanya sambil mengayunkan pedang, ia berniat menyerang Xiao Yan lebih jauh namun sebuah gelombang energi tiba-tiba melesat ke arahnya dengan cepat.
Jian Chen menahan gelombang energi itu dengan pedang asura namun tubuhnya tetap terpental beberapa meter, bukan hanya sekali tetapi gelombang energi itu menyerangnya berkali-kali hingga Jian Chen terpukul mundur cukup jauh dengan Xiao Yan.
Jian Chen pastikan tetap tenang meski telah menahan gelombang energi tersebut, bisa dibilang ia amat percaya diri dengan kekuatan pedang asura. Saat itulah Jian Chen melihat pelaku yang melepaskan gelombang energi itu yaitu dua Alam Raja yang terakhir.
***
Xiao Yun dan Yang Tian terkejut ketika melihat kekuatan Jian Chen yang berhasil memojokkan Xiao Yan dan mereka dikejutkan kedua kalinya dengan Jian Chen yang berhasil menahan gelombang energi mereka dengan begitu mudah.
Yang Tian tidak lagi meremehkan kekuatan Jian Chen bahkan ia menganggap Jian Chen adalah ancaman yang berbahaya baginya.
Sebab itu keduanya langsung turun tangan untuk menghadapi Jian Chen, menurutnya Jian Chen tak bisa dibiarkan hidup atau Kekaisaran Qilin akan kesulitan saat berperang nanti.
Tentu saja Yang Tian juga terkejut dengan kekuatan Jian Chen bisa ada di Kekaisaran Naga sementara ia yakin pemuda itu tidak pernah terdengar oleh dunia persilatan disini.
"Kakak, kau tidak apa-apa?" Xiao Yun terlebih dulu memeriksa kondisi saudaranya.
"Aku baik-baik saja, meski ini luka dalam tetapi tidak sampai membahayakan nyawaku..." Xiao Yan kemudian menelan sebuah pil penyembuh agar lukanya lebih cepat pulih sementara Xiao Yun membantunya dengan mengalirkan tenaga dalam pada kakaknya.
Jian Chen mengerutkan dahinya saat melihat Xiao Yun dan Xiao Yan yang memiliki wajah yang sama, sesaat ia teringat dengan lima gadis kembarnya yang memiliki wajah seiras, yang membedakan adalah dua orang kembar di depannya sudah berumur cukup tua.
"Kupikir kalian tidak akan pernah muncul sampai aku membunuh salah satu diantara kalian?" Jian Chen menepuk pundaknya dengan pedang asura. "Karena kalian sudah datang jadi aku tidak harus menahan kekuatanku lagi..."
Jian Chen tiba-tiba melepaskan gelombang cahaya pada ketiga musuhnya. Gelombang itu begitu cepat, dalam satu kedipan mata ia sudah berada di dekat lawannya.
Yang Tian yang diposisi paling depan terkejut dan langsung buru-buru mengangkat tongkat pusakanya untuk menahan gelombang cahaya Jian Chen.
Nyatanya Jian Chen tidak berhenti sampai di sana, ia kembali melepaskan gelombang cahaya berulang kali sambil bergerak ke arah mereka.
Yang Tian mengumpat, ia mengalirkan tenaga dalam pada tongkatnya untuk menahan gelombang pedang itu, ekspresi Yang Tian memburuk saat serangan Jian Chen berhasil membuat pusaka kesayangannya mengalami retakan halus.
Belum sempat ia mengambil nafas Jian Chen sudah berada di dekatnya sambil mengayunkan pedang, Yang Tian merapatkan gigi, ia menggunakan tongkatnya untuk menahan ayunan pedang Jian Chen.
Keduanya beradu jurus beberapa saat dengan Jian Chen yang mengungguli tetapi tidak berangsur lama karena Xiao Yan telah berhasil menyembuhkan lukanya dengan cepat sehingga saudara kembar itu langsung ikut dalam pertarungan.
Jian Chen menahan nafasnya saat menghadapi ketiga pendekar Alam Raja sekaligus, ia mengalirkan tenaga dalam pada pedang asura yang membuat pedang tersebut bercahaya keemasan.