Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 182 — Jalan Buntu


Beberapa hari berlalu semenjak Jian Chen berpisah dengan gadis kembarnya, ia akhirnya sudah sampai di Provinsi Naga Bumi.


Dengan terbang, Jian Chen dapat mempersingkat waktu perjalannya dengan lebih cepat dan juga tanpa hambatan apapun.


"Bukankah terlalu cepat untuk waktu malam..." Jian Chen melihat langit sudah gelap ketika awan hitam mulai terkumpul. Tak lama kemudian tetesan air mulai berjatuhan.


Jian Chen kini sedang terbang di atas kawasan hutan sehingga tidak ada bangunan di bawahnya yang bisa digunakan untuk berteduh, pakaian Jian Chen seketika mulai basah kuyup.


Melihat hujan semakin deras disertai angin kencang dan petir yang menyambar, belum lagi jarak pandangnya semakin terbatas Jian Chen akhirnya memilih untuk mendarat.


Ada sebuah gua kecil yang kebetulan terlintas oleh pandangan Jian Chen, akhirnya ia memilih untuk berteduh di tempat itu terlebih dahulu.


Ketika Jian Chen mendarat, gua itu ternyata sudah di tempati oleh mahluk lain yaitu seekor beruang. Jian Chen tersenyum canggung, "Aku akan berteduh disini sebentar, kuharap kau memperbolehkan aku..."


Beruang itu menatap Jian Chen dengan buas, ia hendak menyerang namun ketika pemuda itu mengeluarkan sedikit aura kematian di tubuhnya, beruang itu menjadi urung bahkan sedikit ketakutan.


Jian Chen tertawa kecil, pandangannya jatuh pada seekor beruang kecil tak jauh beruang besar itu berada. Terdapat 3 beruang di sana, Jian Chen memahami bahwa mereka adalah anak dari beruang besar.


"Tenang saja, aku tidak akan membahayakanmu..." Jian Chen menangkan ibu beruang yang ketakutan menatapnya.


Hujan deras terus menguyur hutan dengan angin kencang yang bertiup dingin, Jian Chen berinisiatif mengambil ranting-ranting pohon yang ada di mulut gua lalu membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh.


Jian Chen juga membuka pakaiannya sehingga bertelanjang dada lalu menggantungnya di dekat api unggun agar lebih cepat kering.


Melihat hujan yang masih lama, ia mengeluarkan daging mentah di cincin penyimpanannya untuk di masak. Jian Chen memang sengaja membeli daging mentahan seperti ini karena lebih suka memasak dengan caranya sendiri.


Daging yang di keluarkan Jian Chen justru membuat beruang itu meneteskan air ludah, Jian Chen tertawa kecil lalu melemparkan potongan daging padanya. "Kau menginginkannya, ambillah..."


Ibu beruang itu mengendus pelan daging itu sebelum akhirnya mulai mencoba memakannya, daging yang sama langsung diberikan pada anak-anak juga.


Jian Chen menggelengkan kepala pelan, ia mulai mengolah dagingnya dengan melumuri permukaannya dengan bumbu sebelum di panggang di atas api unggun.


Aroma harum segera tercium di gua, beruang yang sebelumnya sudah makan kini ingin meminta lagi.


"Kalau ini adalah punyaku..." Jian Chen mengeluarkan daging mentah lainnya lalu melemparkan pada beruang itu, kali ini lebih besar dan banyak.


Jian Chen menyantap daging panggang setelah warna dagingnya berubah kecokelatan, bersamaan dengan itu beruang di dekatnya memakan daging mentahnya hingga ia dan ketiga anaknya kekenyangan.


Memakan daging disertai hujan seperti ini membuat Jian Chen teringat kehidupan pertamanya, sering kali ia makan sendiri di belantara hutan untuk bertahan hidup, berbanding terbalik dengan kehidupannya yang sekarang.


Beruang dan tiga anaknya tertidur setelah kekenyangan, mereka juga tidak lagi menganggap Jian Chen sebagai ancaman setelah di beri daging.


Sambil menunggu hujan reda, Jian Chen bersila dan mengumpulkan tenaga dalam yang sudah terkuras akibat terbang beberapa jam sebelumnya.


Berbeda dengan terbang saat berada di kultivasi Alam Langit, elemen angin harus membuat Jian Chen lebih banyak mengeluarkan tenaga dalam.


Tentu saja Jian Chen tidak akan membiarkan tenaga dalamnya tidak tersisa begitu saja, ia selalu menyimpan sedikit tenaga dalamnya takut jika ada situasi darurat.


Beberapa jam berlalu akhirnya hujan mereda, awan yang sebelumnya mendung kini berganti dengan langit yang cerah dan berbintang.


Jian Chen melanjutkan perjalanannya kembali, sesudah di Provinsi Naga Bumi, ia tidak lama lagi ke tempat gurunya berada.


***


Jian Chen kembali mendarat ketika jumlah tenaga dalamnya hampir dari seperempatnya tersisa. Di sisi yang sama ada kota kecil tak jauh dirinya turun.


Kota yang Jian Chen datangi merupakan kota yang ia kenal, tentu saja karena di kehidupan pertama sebelumnya kota ini yang sering Jian Chen dan gurunya datangi.


Letak kediaman gurunya berada di hutan tak jauh dari kota kecil tersebut, jika berjalan kaki mungkin membutuhkan waktu beberapa jam dari sini.


Tidak ada yang berbeda dari kota itu kecuali sekarang ada sebuah Toko asosiasi klan Miou.


Jian Chen sedikit terkejut melihatnya, tidak menyangka asosiasi membuka cabang juga disini, disisi yang sama ia juga senang karena dengan begitu Jian Chen dapat mengirim surat pada Miou Lin.


Dengan mendatangai asosiasi itu, Jian Chen menulis surat untuk di kirimkan pada Miou Lin. Jian Chen sedikit bernafas lega ketika asosiasi itu mempunyai apa yang diinginkannya.


Setidaknya butuh tiga hari hingga surat bisa terbalas, Jian Chen beristirahat di sana sebentar sebelum pergi ke tempat gurunya. Jian Chen terkesan buru-buru karena ia sudah tidak sabar ingin bertemu gurunya kembali.


***


"Tidak mungkin!"


Lutut Jian Chen terasa lemas ketika tidak ada gubuk di depan matanya, ia sudah berdiri di tempat dimana gurunya seharusnya tinggal.


Di dekat air terjun yang tinggi dengan air yang jatuh begitu curam, Jian Chen tidak mungkin melupakan letak di mana lokasi ia dan gurunya bertemu.


Seharusnya ada sebuah gubuk di samping air terjun itu namun sekarang hanya terlihat rerumputan yang tumbuh dengan lebat di sana.


"Apa mungkin aku datang terlalu awal..." Jian Chen berpikir keras lalu menggelengkan kepala pelan. "Tidak mungkin, seharusnya kediaman guru sudah ada disini sejak sepuluh tahun yang lalu."


Untuk memastikan ia tidak salah tempat , Jian Chen terbang cukup tinggi namun tidak ada air terjun di hutan itu selain yang gurunya tempati.


Di hutan itu juga tidak ada gubuk atau bangunan sejenisnya, Jian Chen cukup yakin bahwa tempat air terjun itu adalah tempat dimana ia berlatih bersama gurunya. Lagian ia di sana selama tujuh tahun pasti mengenal baik tempat tersebut.


Jian Chen berpikir keras di sebuah batu besar, tidak mungkin perjalan panjangnya sia-sia begitu saja.


Satu-satunya kemungkinan adalah Jian Chen datang lebih awal dari takdir yang seharusnya, karena di kehidupan pertama ia bertemu gurunya di usia 18 tahun.


Lelah berpikir dan tidak mendapat solusi setelah beberapa jam termangu, Jian Chen memilih ke kota sebelumnya sambil memikirkan ulang tentang situasinya kedepannya.