Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 165 — Menghadang Perjalanan


Jian Chen tidak tahu harus seperti apa menjawabnya, ia juga turut berduka dengan pengalaman mereka yang menyedihkan, bagi Jian Chen masa lalu mereka hampir sama dengan kisahnya di kehidupan pertama.


Yang membedakan, lima Saudara Lan ini masih memiliki saudara satu sama lain berbeda dengan Jian Chen yang hidup dalam kesendirian sesudah tempat tinggalnya di hancurkan.


"Ah, maaf kenapa aku bercerita seperti ini..." Lan Xiaxia menyeka air matanya yang keluar.


"Tidak apa, jika itu membuatmu lega aku bisa mendengar lebih banyak ceritamu."


"Terimakasih, kau membuatku jadi lebih baik..." Lan Xiaxia tersenyum, ia bangkit dari duduknya sebelum pergi ke tempat api unggun kembali.


Malam sudah semakin larut usai Lan Xiaxia bercerita, Jian Chen kembali menutup matanya tapi kali ini ia tidak berlatih melainkan masuk ke Alam Dantian. Sudah dua hari berlalu semenjak di makam kuno itu, Lily tidak ada tanda-tanda untuk terbangun.


Jian Chen hanya melihat gadis itu berbaring nyenyak di kelopak bunga yang menyelimutinya. Saat seperti itu Jian Chen bisa memandang wajah manis Lily lebih lama.


Gadis itu terlihat begitu damai dalam tidurnya, wajahnya selalu mengejek dan berkata-kata kasar seolah telah sirna.


Bagi Jian Chen yang sebagai seorang pria, wajah Lily saat tidur benar-benar memancarkan kecantikan layaknya seorang Dewi.


Pemuda itu begitu terbius wajah manis Lily, di mulai rambut hitam Lily yang terurai indah, kulitnya yang seputih salju serta bibir merahnya yang kecil dan menggoda. Siapapun yang ada di posisi Jian Chen sulit untuk tidak terpesona oleh paras gadis itu.


Jian Chen buru-buru memalingkan wajah takut Lily menyadari dalam tidurnya, ia bisa membayangkan bagaimana marahnya gadis emosional itu jika ketahuan dirinya telah menatapnya begitu lama.


Pandangan Jian Chen kemudian beralih ke kristal hijau yang melayang tak jauh Lily berada. Kristal hijau itu terus menyala dan berputar di tempat berdirinya.


Jian Chen hanya bisa tersenyum tipis, setelah mendengar cerita Lan Xiaxia barusan entah kenapa ia ingin bertemu orang tua aslinya. Apalagi kristal di depannya adalah pemberian dari orang tua Jian Chen.


Walaupun tidak mengutarakannya langsung, dalam hati terkecilnya Jian Chen ingin mengetahui siapa orang tuanya sebenarnya namun Jian Chen maupun Lily sama-sama tidak mengetahui identitas maupun keberadaannya.


"Mungkin suatu waktu akan mencari tahu tentang mereka..." Jian Chen tidak memikirkan itu lebih jauh, ia kembali ke alam sadarnya lalu berlatih lagi sampai pagi.


Usai sarapan rombongan Jian Chen melanjutkan perjalanannya namun baru beberapa menit mereka melangkah, sesuatu membuat mereka berhenti.


Jian Chen mencium bau amis yang menyengat memenuhi udara. "Ini tidak salah lagi, bau darah!"


Jian Chen turun dari kudanya lalu mencari sumber bau tersebut, ia menyibakkan sebuah semak belukar yang rimbun, matanya segera melebar ketika melihat di baliknya.


"Benar-benar bukan manusia!" Jian Chen merapatkan giginya ketika melihat ada beberapa jasad di balik semak tersebut.


Jasad itu sudah dikuliti sampai sulit untuk dikenali, tubuh mereka di potong-potong hingga jari tangan pun terpisah di mana-mana.


Dari darah serta suhu tubuhnya, Jian Chen menebak mereka terbunuh tidak terlalu lama, tentu saja pembunuhnya bangsa mereka sendiri alias manusia. Melihat aksi sadis tersebut Jian Chen memiliki gambaran orang seperti apa yang membunuh mereka yaitu orang-orang yang memiliki tipe penikmat dalam pembunuhan.


Mereka membunuh tidak untuk merampok melainkan untuk memuaskan nafsu pembunuh semata.


Kelima gadis kembar tampak terkejut ketika melihat apa yang Jian Chen pandangi, perut mereka terasa mual serta pandangan mereka menjadi buram.


"Aku akan mengubur mereka terlebih dahulu, kalian bisa tetap tinggal di kuda jika tidak sanggup." Titah Jian Chen.


Lan Qiaoqiao dan saudarinya mengangguk, mereka tidak bisa bertahan lama memandang jasad tersebut belum lagi bau amis yang menyengat.


"Saudara Jian, anda tampak kotor..."


Lan Qiaoqiao menghampiri Jian Chen lalu mulai mengelap tubuh pemuda itu dengan sapu tangannya.


"Terimakasih..." Jian Chen tersenyum hangat membuat pipi Lan Qiaoqiao merona sementara keempat saudarinya hanya menggelengkan kepala pelan menyaksikan hal tersebut.


Jian Chen kembali melanjutkan perjalanan menyusuri setapak tengah hutan, ia sedikit bernafas lega ketika tidak ada hewan atau siluman yang menghalangi perjalanannya.


Kudanya berlari dengan kecepatan normal sampai tiba-tiba dari arah depan ada beberapa orang bertopeng muncul membuat kudanya terkejut hingga Jian Chen hampir jatuh dari pelananya.


"Siapa kalian?!" Lan Qiaoqiao menyipitkan matanya tajam.


"Kami?" Orang-orang bertopeng itu tertawa keras. "Nona, kami sebenarnya tidak ingin menghadang kalian namun melihat paras kalian yang cantik-cantik, sulitnya rasanya kami mengabaikannya."


Jian Chen, Lan Qiaoqiao dan saudarinya langsung turun dari kuda melihat niat mereka tidak baik.


"Sebaiknya kalian menurut selagi kami masih berbicara baik-baik, jangan sampai kami melakukan kekerasan yang membuat kulit mulus kalian jadi lecet." Pria bertopeng paling depan berseru dengan senyuman genit.


"Apa kalian pikir aku akan diam saja, Hah!" Lan Qiaoqiao menatap mereka dingin.


Jian Chen menemukan kultivasi mereka hanya berada di Alam Kehidupan tahap 1 sedangkan yang terkuat dari mereka hanya Alam Kehidupan tahap 3.


"Nona apakah anda tidak tabu siapa kami?" Pria topeng yang memiliki badan kekar serta yang paling kuat berjalan maju. "Sebuah kehormatan bertemu Organisasi Menara Iblis."


Wajah kelima gadis kembar itu seketika terkejut kecuali Jian Chen.


Jian Chen mengerutkan dahi, ia memang mengenalnya di kehidupan pertama namun organisasi yang dikatakan sudah musnah saat sepuluh tahun ke depan.


Organisasi Menara Iblis merupakan salah satu kelompok besar untuk para pembunuh bersarang. Di katakan saking besarnya jumlah anggotanya, mereka mempunyai banyak markas di segala titik daerah.


Organisasi Menara Iblis bukan organisasi para perampok yang selalu memerlukan uang sebagai kepentingannya. Mereka hanya sekolompok orang yang maniak akan pembunuhan, penyiksaan, serta memperkosa wanita-wanita cantik.


Jian Chen tidak memerlukan penjelasan dalang dari jasad sebelumnya, orang-orang bertopeng ini jelas mengincar semua orang yang masuk ke hutan ini.


"Jadi kalianlah yang melakukan pembunuhan di jalan sebelumnya?" Jian Chen menatap mereka dingin lalu mengeluarkan Pedang Asura di tangannya.


"Oh, kau sudah melihatnya? Memang aku yang melakukan itu dan kuharap kalian mulai memohon sekarang sebelum aku melakukan hal serupa pa-..."


Jian Chen menghilang dari pandangan lalu muncul di depan pria bertopeng yang berbicara itu. Ia menarik pedangnya lalu memotong leher pria itu dengan cepat, membuat kepalanya seketika terlepas dan menggelinding di tanah.


Anggota Menara Iblis menjerit dan ketakutan namun sebelum mereka bereaksi atas situasinya Jian Chen melepaskan hawa dingin yang menusuk tulang.


Anggota Menara Iblis seketika tidak bisa bergerak, entah karena teknik es Jian Chen atau karena ketakutan yang mendalam membuat lutut mereka terasa lemas.


Jian Chen tidak berbicara lagi, dengan menggunakan Pedang Asura yang tajam, ia memotong leher mereka satu persatu hingga kepala mereka berjatuhan ke tanah.


Usai membunuh tersebut Jian Chen merasakan sensasi panas pada tubuhnya yang membuatnya terasa nyaman sekaligus bergairah, senyuman terukir jelas di wajah Jian Chen seolah dirinya menikmati pembunuhan tersebut.