
"Jadi, apakah Bibi tahu dimana ini?"
Jian Chen berusaha mengalihkan topik dari pembicaraan sebelumnya. Lagian ia dari tadi bertanya hal yang sama tetapi tidak ada ada jawaban yang benar sementara ia sudah menjawab semua pertanyaan perempuan itu.
"Sulit menjelaskannya tetapi ini bukan alam kematian seperti yang kamu bayangkan, jangan khawatir Chen'er, kau masih hidup."
Lagi-lagi perempuan itu membunyikan serulingnya sambil memejamkan mata, kali ini nadanya sedikit berbeda dari sebelumnya, sedih dan menyayat hati. Jian Chen terbius oleh alunan nadanya, harus ia akui, perempuan itu mempunyai kemampuan yang tinggi dalam bermain seruling.
Jian Chen duduk di sembarang tempat, melihat perempuan itu tidak mau menjawab pertanyaannya membuat ia bingung harus bagaimana.
Suara seruling tak lama kemudian kembali berhenti, Jian Chen menoleh pada perempuan itu dan menemukan ia memandangnya.
Kedua mata emas itu saling bertatapan sesaat sebelum Jian Chen memalingkan wajahnya karena merasa sedikit canggung.
Perempuan itu tersenyum tanpa Jian Chen sadari, menatap paras sang pemuda yang terlihat mirip dengan seseorang yang di kenal perempuan itu.
"Berapa umurmu, Chen'er?"
"Enam belas tahun..." Jawab Jian Chen singkat tanpa menoleh, pandangannya tertuju ke atas langit yang biru.
"Termasuk jika ditambahkan dengan kehidupan keduamu?"
Mata Jian Chen melebar, ia menoleh ke arah perempuan itu dan menemukan ia tersenyum penuh makna padanya. Jian Chen tidak menduga perempuan itu mengetahui rahasia terbesarnya selain Lily.
"Tidak perlu terkejut, aku mengetahui semua hal tentangmu, termasuk tanda lahir di bagian pantatmu!"
Kali ini Jian Chen melompat kaget, ia buru-buru bangkit dari duduknya dan menjaga jarak dari perempuan itu sambil menutup bagian pantatnya dengan tangan.
Perempuan itu tertawa kecil, menggelengkan kepala pelan.
"Aku yang membawamu ke tempat ini agar kita bisa bertemu, ada hal yang aku ingin berikan padamu..." Perempuan itu kemudian mengeluarkan sesuatu di atas telapak tangannya berupa tujuh apel yang memiliki berbagai warna dan bentuk unik.
"Apa kau suka apel, Chen'er?"
Jian Chen mengangguk, tentu karena ia menyukai makanan yang mempunyai rasa manis.
"Kalau begitu kau bisa memakannya dengan senang hati..." Perempuan itu mengangguk pelan. "Tujuh apel ini bukanlah buah biasa, mempunyai kegunaan dan fungsinya masing-masing. Pertama yang ingin aku beri adalah Buah Keindahan..."
Salah satu apel dari ketujuh apel itu melayang ke arah Jian Chen yang segera di tangkap oleh pemuda itu.
"Siapapun yang memakan Buah Keindahan, seseorang akan memancarkan daya tarik di tubuhnya, wajah mereka akan terlihat lebih bercahaya dan juga tampak lebih rupawan..."
Perempuan itu menjelaskan Buah Keindahan memiliki fungsi pada sandaran yang terlihat oleh mata, seperti memancarkan aura karismatik, kewibawaan, serta ketenangan bagi mereka yang melihatnya.
Perempuan itu kemudian menyuruh Jian Chen untuk memakannya, tentu Jian Chen ragu karena bisa jadi perempuan didepannya berniat jahat padanya atau ada racun di apel itu.
"Aku tidak akan mencelakaimu, kalaupun aku berniat demikian sudah dari tadi aku melakukannya, Chen'er. Percayalah padaku..."
Jian Chen sebenarnya selalu waspada pada siapapun termasuk orang asing, namun berbeda dengan perempuan di depannya ia merasa dekat dan harus menurut, perempuan itu memancarkan sesuatu seperti Jian Ran padanya.
Jian Chen memakan apel itu, seperti apel biasa namun memiliki warna hitam pekat, rasanya sedikit manis, Jian Chen berpikir rasanya akan berbeda seperti apel pada umumnya.
Setelah menelannya sampai habis, ia tidak merasakan kekenyangan ataupun kelaparan, seperti apel itu tidak pernah masuk ke dalam perutnya.
Perempuan itu mengangguk pelan lalu memberikan buah kedua yang di sebut sebagai Buah Keberanian.
Buah Keberanian, sepertinya namanya akan menjadikan seseorang menjadi lebih pemberani, tidak pengecut apalagi penakut. Tentu tidak sampai keberanian itu jadi arogansi atau yang lebih dari itu.
Buah Kebenaran dapat membuat pemakannya jadi melihat sisi kebenaran yang sering kali tersingkap. Buah itu sering kali berguna saat sedang memiliki banyak masalah.
Buah keempat dinamakan Buah Kejujuran, di dunia ini, seseorang tidak lepas yang namanya berbohong, meski berbohong sering kali diartikan perbuatan yang salah namun di kondisi tertentu kebohongan juga di perlukan dan dianggap suatu perbuatan yang tepat.
Buah Kejujuran akan membuat Jian Chen dapat melihat segi kebohongan orang lain.
Buah kelima dinamai Buah Kebijaksanaan. Hidup adalah rentetan dari pilihan masa lalu yang kita ambil hingga terciptanya masa kini. Buah Kebijaksanaan dapat membuat seseorang lebih bijaksana dalam mengambil keputusan hidupnya.
Buah Kebijaksanaan tidak membuat seseorang akan selalu benar, andai orang jahat memakannya ia akan menjadi penjahat besar yang membentuk sebuah kelompok bahkan negara.
Buah keenam dinamai Buah Kecerdasan, buah yang manjur bagi mereka yang punya masalah dalam kemampuan intelektualnya.
Buah kecerdasan dapat meningkatkan kinerja otak seseorang, seperti bisa cepat dalam belajar, mengingat hafalan, atau berpikir dengan jenius.
"Dan terkahir Chen'er, buah ini dinamai Buah Kehidupan..." Perempuan itu langsung memberikannya pada Jian Chen.
Jian Chen menggaruk kepala, ia menunggu sesuatu yaitu penjelasan perempuan itu namun ia tidak menjelaskan seperti buah-buahan yang sebelumnya.
"Makanlah..." Ucap perempuan itu.
Jian Chen memakan buah yang terakhir, tidak jauh berbeda, rasanya masih sama, hanya sedikit manis.
Setelah memakan tujuh buah apel dalam waktu yang relatif pendek, tubuh Jian Chen tidak mengalami kekenyangan sedikitpun. Disisi lain ia merasa tubuhnya agak berbeda namun masih tidak mengerti apa yang berbeda itu.
Jian Chen tidak terlalu yakin apakah ucapan wanita di depannya benar mengenai buah di makannya atau hanya sekedar cerita belaka.
"Kenapa Bibi memberikan aku buah seperti ini, bukankah dari namanya saja sudah sangat berharga?" Jian Chen bertanya dengan penasaran.
"Bagi orang lain mungkin demikian tetapi tidak bagiku, aku tidak membutuhkan buah itu..." Perempuan itu kemudian menatap ke atas langit sebelum tersenyum sesaat lalu menoleh ke arah Jian Chen lagi. "Tidak ada banyak waktu lagi, bukankah kau ingin kembali?"
"Tentu Bibi tapi bagaimana denganmu?"
"Tidak usah memikirkanku, aku akan baik-baik saja. Saranku berhati-hatilah hidup di dunia persilatan, nyawamu adalah hal terpenting bagi hidupmu..."
Jian Chen mengangguk, kemudian ia teringat belum mengetahui nama perempuan itu. "Bibi, siapa namamu?"
"Kupikir kau tidak akan bertanya demikian?" Perempuan itu tertawa kecil. "Kau akan mengetahui namaku dengan sendirinya, cepat atau lambat."
Kemudian perempuan itu mengibaskan tangannya membuat tubuh Jian Chen secara perlahan menjadi butiran cahaya sebelum akhirnya menghilang.
Usai Jian Chen pergi, senyuman perempuan itu perlahan menipis sebelum akhirnya menghilang diikuti matanya yang berkaca-kaca, Ia menatap kepergian Jian Chen walaupun tubuh fisiknya itu sudah tidak ada.
Di balik pohon sebelumnya kemudian muncul seorang pemuda berusia 30 tahunan, pemuda itu sejak tadi menonton perempuan itu dan Jian Chen.
Melihat pemuda itu muncul Sang perempuan berlari ke arahnya sebelum jatuh kedalam pelukannya. "Dia lebih mirip sepertimu di banding diriku ketika sudah tumbuh dewasa, aku hanya bersyukur Chen'er mewarisi mata emasku..."
Pemuda itu tersenyum, mengelus rambut sang perempuan. "Dia akan jadi anak yang cerdas, seperti dirimu yang mewarisinya..."
Perempuan itu menatap mata sang pemuda dengan tatapan dalam sebelum mengangguk pelan.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, dia kemungkinan sudah datang..."
Pemuda itu kemudian menjentikkan jarinya, tubuhnya maupun perempuan itu perlahan menjadi butiran cahaya juga sebelum meninggal tempat tersebut.