Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 38 — Kelompok Bertopeng


Jian Chen akhirnya membunuh gorila terakhir setelah bertarung setengah jam lamanya, nafas Jian Chen terputus-putus, tubuhnya dibanjiri keringat deras.


Tenaga dalam Jian Chen hampir tak tersisa ketika gorila yang terakhir terbunuh, melawan kelompok gorila dengan usia 50 tahun ke atas bukanlah hal yang mudah di tingkat kultivasinya sekarang.


“Kupikir aku akan mati…” Jian Chen jatuh terduduk didekat salah satu pohon. “Gorila ini benar-benar keras kepala, bukannya lari ketika sebagian kelompoknya terbunuh, mereka malah semakin buas mengejarku…”


Jian Chen menggunakan pedang taring putih dan melakukan teknik pedang tertingginya untuk melawan gorila-gorila itu.


Teknik Pedang Rembulan adalah teknik yang bisa digunakan diberbagai situasi, salah satunya ketika dikepung musuh.


Pertarungan dirinya dengan gorila putih mengakibat kerusakan besar pada sekitarnya, pohon-pohon ada yang tumbang dan terpotong, tanah yang dipijak pun sudah tak rata lagi.


Hal pertama yang dilakukan Jian Chen adalah mengumpulkan tenaga dalamnya kembali, membutuhkan waktu beberapa jam hingga penuh seutuhnya, saat Jian Chen membuka mata, langit sudah menjadi gelap.


Jian Chen bangkit dari posisinya lalu mulai mengumpulkan permata-permata dari semua gorila putih yang dibunuhnya.


Walaupun jumlahnya hanya 21 gorila termasuk pemimpinnya, umur semua gorila itu lebih dari 50 tahun sehingga poin yang didapatkan lebih dari seribu poin.


Belum itu juga dijumlahkan dengan tikus tanah yang telah diburunya beberapa waktu lalu.


Menurut perkiraan Jian Chen, dengan menjumlah semua permata yang dikumpulkannya sekarang dia sudah dipastikan memenangkan kompetisi ini.


Mengingat malam akan tiba, Jian Chen memotong salah satu pohon yang tumbang untuk dijadikan api unggun.


Jian Chen berdiam dikelilingi pohon yang besar serta tinggi, meski begitu ia yakin tidak akan ada lagi siluman yang muncul disekitarnya karena sebelumnya kawasan ini adalah milik gorila putih tadi.


Alasan Jian Chen dianggap musuh oleh gorila itu yang tak lain karena dirinya telah menyusup kawasannya.


Jian Chen membuat api unggun dan memburu hewan-hewan kecil di dekatnya seperti ayam hutan dan kelinci untuk dijadikan makanan.


Setelah perutnya sudah kenyang Jian Chen melanjutkan berkultivasi. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang berlatih memperbanyak kapasitas tenaga dalam, kali ini Jian Chen ingin meningkat meridiannya.


Perlahan tapi pasti, butiran-butiran cahaya tercipta disekeliling tubuh Jian Chen dan mengambang di udara. Butiran itu perlahan bergerak lalu masuk ke tubuhmya.


Perasaan hangat dari menyerap cahaya membuat tubuhnya menjadi rileks serta pikirannya menjadi jernih.


Jian Chen duduk bersila ditemani api unggun yang bergemeletuk untuk mengisi kekosongan. Tidak sampai dua jam bermeditasi, matanya harus terbuka ketika mendengar sesuatu.


‘Hm…Kenapa malam-malam seperti ini ada yang bertarung?”


Jian Chen memadamkan api unggunnya sebelum bergerak ke sumber suara tersebut, kegelapan malam tidak menjadi halangan saat ia melompati dahan-dahan pohon.


Ketika sampai, Jian Chen mendapati ada pertarungan dari dua kelompok, mungkin tepatnya pertarungan berat sebelah karena salah satu kelompok hanya tersisa 3 orang lagi sedang lawannya masih berjumlah puluhan.


Kelompok 3 orang itu jelas mengalami kekalahan karena teman-temannya sudah tergelatak dibelakangnya. Tiga orang itu semuanya adalah perempuan dan mereka juga terlihat kelelahan.


Berbanding terbalik dengan 3 orang perempuan itu, lawannya justru terlihat masih prima.


“Aku menyerah! Kumohon jangan bunuh kami, aku dan faksiku berjanji tidak akan memberitahukan semua ini pada yang lain…” Salah satu perempuan mengangkat tangannya, ia adalah pemimpin faksi dari kelompok tersebut.


“Itu lebih baik aku membunuh kalian semua! Kalian telah mengetahui identitas kami lebih dalam…”


“Aku tidak akan memberitahukan ini, sumpah! Kalian boleh mengambil apa yang kami punya, bukankah kalian ingin permata yang kita kumpulkan. Aku akan menyerahkan semuanya…”


Pemimpin kelompok bertopeng tertawa diikuti bawahannya, “Kami bisa melakukan itu setelah kalian bertiga tiada, mungkin aku akan memaapkan anggotamu yang lain tetapi kalian bertiga harus mati disini.”


Ketiga perempuan itu meneguk ludah, mereka juga tak bisa melawan balik ketika menyaksikan jumlah lawan serta kekuatannya, belum lagi mereka sudah kelelahan.


Pemimpin kelompok bertopeng mengayunkan pedangnya untuk menghabisi salah satu perempuan tersebut.


Pemimpin perempuan itu memejamkan matanya, tak berani melihat ayunan golok yang mengarah ke lehernya. Saat dirasa ia akan mati, rasa sakit dari tebasan senjata itu tidak pernah terjadi.


Mata perempuan itu terbuka, ia melihat seorang pemuda yang menahan serangan golok itu dengan kedua jarinya.


Bukan hanya ketiga perempuan itu yang terkejut, kelompok bertopeng pun sama terkejutnya.


Keberadaan Jian Chen tidak pernah mereka rasakan, bagi mereka yang melihatnya, Jian Chen seperti muncul dari ketiadaan tanpa menimbulkan bunyi ataupun hembusan angin.


Pemimpin bertopeng ingin menarik goloknya dari jari Jian Chen namun setelah menggunakan tenaganya, golok itu tidak terlepas bahkan seperti menempel kuat.


Jian Chen tidak tinggal diam, dia melepaskan tendangan kuat pada pemimpin bertopeng itu yang membuatnya langsung terlempar beberapa meter mengenai bawahan dibelakangnya.


“Kalian sungguh tidak punya rasa malu, lawan kalian sudah selemah ini dan kalian masih ingin menyerangnya…” Jian Chen berdecak pelan diikuti gelengan kepala.


Pemimpin bertopeng terlalu marah untuk mendengar perkataan Jian Chen, tendangan yang mengenainya sangat keras hingga membuatnya tersungkur dan tak dapat berdiri.


Hal yang membuatnya sangat kesal adalah Jian Chen terlihat lebih muda darinya, harga dirinya terasa jatuh saat disakiti oleh orang yang berada dibawah umurnya.


Dengan penuh kebencian pada Jian Chen, pemimpin bertopeng memberi intuksi pada bawahannya untuk menyerang.


“Serang dia bersamaan!”


Jian Chen menghela nafas panjang ketika beberapa orang berlari kearahnya, dia ikut bergerak maju dan menyambut orang-orang bertopeng itu. Jian Chen menggunakan ilmu tendangannya untuk melawan mereka semua.


Meski terlihat dikepung dari berbagai arah, Jian Chen tetap bisa menyamai pertarungannya bahkan dirinya lebih mendominasi pertarungan tersebut.


Belasan orang bertopeng sudah menggunakan senjata mereka tetapi tidak ada yang mengenai tubuh Jian Chen sedikitpun, belum lagi ayunan kaki Jian Chen sulit mereka hindari. Walau sudah menggunakan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya, serangan Jian Chen tetap terasa cepat oleh pandangan mereka.


Jian Chen kemudian mengalirkan tenaga dalam pada kakinya yang seketika ayunan tendangannya jadi lebih cepat dan kuat.


Pemimpin kelompok bertopeng terlambat menyadari kalau bawahannya bukanlah lawan dari Jian Chen saat tiba-tiba Jian Chen meningkatkan kekuatan jurusnya dengan signifikan.


Dalam kurun waktu beberapa detik saja, Jian Chen sudah melumpuhkan belasan orang bertopeng itu dengan mudah.


Beberapa bawahannya tidak dalam kondisi yang baik, rata-rata semuanya memuntahkan darah segar dari mulutnya. Jian Chen sebenarnya menahan kekuatan tendangannya agar tidak membunuh orang-orang bertopeng itu.


Yang tersisa dari kelompok bertopeng hanya menyisakan beberapa orang saja termasuk pemimpinnya.


Jian Chen tersenyum lebar yang cukup membuat orang-orang bertopeng mundur beberapa langkah, mereka jadi ketakutan menyaksikan kekuatan Jian Chen yang menurutnya sangat tinggi.