Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 79 — Perjalanan Pulang


“Kau sudah semakin tinggi saja Chen’er?” Jian Ya, Ketua klan Jian tersenyum lembut saat melihat Jian Chen.


“Salam hormat Ketua…” Jian Chen memberi hormat pada gadis itu.


Saat Jian Chen berada di akademi, ternyata sudah banyak Tetua klan Jian yang sudah ada disana. Mereka datang kesini menggunakan siluman elang emas, berniat menjemput anak-anak di akademi untuk pulang.


Bukan hanya klan Jian saja, banyak klan lain yang bertindak demikian. Bisa dibilang penjemputan ini adalah tradisi di akademi setiap tahunnya.


Perlahan murid-murid akademi mulai menaiki siluman elang tersebut, setiap elang ditunggangi oleh satu Tetua. Jian Chen ternyata ikut bersama elang Jian Ya setelah ketua klannya itu yang meminta.


“Para Tetua, kalian bisa pergi duluan, aku ada sedikit urusan di Kota Qianshan…” Ucap Jian Ya.


“Ketua Ya, kami akan menunggumu kembali.”


Jian Ya menggeleng dan mengatakan bahwa urusannya akan membutuhkan waktu lama, Jian Ya tidak mau murid-murid akademi menunggunya selama itu.


Para Tetua tak bisa menolak permintaan Ketua klannya sehingga mereka langsung pergi. Kini yang tersisa hanya Jian Chen dan Jian Ya.


“Chen’er, maap membuatmu harus menunggu beberapa saat…” Jian Ya sedikit merasa bersalah karena Jian Chen harus pulang bersama dirinya sehingga menunda keberangkatan.


“Ketua tidak perlu meminta maap, aku juga tidak keberatan.”


Jian Ya tersenyum. “Chen’er, sebenarnya aku punya urusan dengan salah satu Tetua klan Miou disini, dia ingin menemuiku di Akademi saat siang nanti.”


‘Tetua klan Miou?’ Dahi Jian Chen mengerut, dia langsung teringat pada seseorang yang terlintas dipikirannya. Jian Chen tidak munduga bahwa Jian Ya mempunyai hubungan dengan klan Miou.


Dua jam kemudian ternyata pikiran Jian Chen tidak meleset, Jian Ya memang bertemu dengan Miou Lin.


Miou Lin ke akademi untuk menjemput Miou Yue, mereka berdua menghampiri kediaman murid klan Jian setelahnya.


“Ketua Ya, lama tidak bertemu.” Miou Lin tersenyum hangat sambil menjabat tangan Jian Ya, dia juga menatap Jian Chen sekilas.


“Nona Lin, anda semakin cantik saja ketika terakhir bertemu, aku hampir tak mengenalmu dalam beberapa saat...”


“Hm? Apakah itu pujian?”


Jian Ya tertawa kecil. “Tentu saja, kau memang semakin cantik, Lin.”


Sementara keduanya berbasa-basi atau mengobrol, Miou Yue menghampiri Jian Chen yang kini tengah mengusap bulu elang emas. Kedatangan Miou Yue disambut ramah oleh Jian Chen.


Dari terkahir bertemu, Miou Yue sudah bertambah kuat, kini dia sekarang di alam Jiwa Tahap 3 dan sebentar lagi menaiki alam selanjutnya. Dengan kultivasinya Jian Chen menebak kalau Miou Yue sudah mendekati 10 murid terjenius di akademi.


Miou Yue banyak menjelaskan tentang faksi Dua Pedang padanya, ternyata selama Jian Chen tidak ada, Faksi Dua Pedang telah menaiki posisi ke 8 sebagai faksi terkuat.


Ini disebabkan dua hal, pertama karena anggota faksi Dua Pedang yang semakin banyak sedangkan satunya karena kultivasi Miou Yue yang meningkat.


“Aku turut senang faksi kita telah menjadi kuat.” Jian Chen mengangguk mendengar penjelasan tersebut.


“Ini semua karenamu, jika waktu kompetisi bulan lalu kau tidak memenangkannya mungkin faksi Dua Pedang masih tetap diposisi terbawah.”


Jian Chen bisa melihat kalau Miou Yue memang sangat menghormati dirinya, Jian Chen sendiri mengangap hal itu hanyalah bantuan kecil untuk faksi Dua Pedang.


Miou Lin dan Jian Ya tak lama mengakhiri obrolan, sepertinya mereka tengah membicarakan yang serius dan menurut Jian Chen itu berhubungan dengan Asosiasi.


Keduanya berpamitan dengan Miou Lin memberi kantong kulit pada Jian Ya. Miou Lin sempat memandang Jian Chen dan memberikan hormatnya sebelum berbalik dan mengajak Miou Yue pergi.


‘Hm… apa Chen’er punya hubungan dengan Nona Lin?’ Jian Ya melihat aksi tersebut dan bertanya-tanya.


Jian Chen kemudian menaiki elang emas diikuti oleh Jian Ya setelahnya, dengan sekali intruksi elang itu langsung terbang ke atas langit.


Keduanya menemukan sebuah asap yang mengepul di atas langit. Jian Chen melihat ke bawah dan menemukan ada api besar.


“Sepertinya ada kebakaran di suatu desa, Chen’er berpeganglah kita akan kesana!”


Jian Ya mengarahkan elang pada kepulan asap itu, ternyata ketika jaraknya hampir dekat kebarakan itu tidak sesederhana yang dilihat.


Bukan hanya satu melainkan hampir setiap rumah terbakar di desa tersebut. Jian Ya tanpa pikir panjang berdiri di atas elangnya, dari kedua tangan sudah di aliri tenaga dalam.


“Elemental Air ~ Naga Penguasa Air!”


Jian Ya mengulurkan tangannya ke atas, dari ketiadaan muncul tetesan air yang perlahan kian membesar hingga menjadi bola air raksasa. Tak sampai disana gumpalan air itu tiba-tiba membentuk sesuatu, mata Jian Chen melebar mengatahui bahwa itu adalah Naga yang terbuat dari air.


Jian Ya mengayunkan tangannya, seketika naga itu bergerak menuju kepulan asap tadi. Saat didekat desa, naga kemudian menyemburkan air yang besar membuat desa terguyur seperti hujan.


Dalam waktu relatif singkat, desa yang kebakaran itu perlahan padam. Naga air yang sebelumnya menghilang bersamaan dengan Jian Ya menurunkan tangannya.


“Chen’er, kita akan ke desa itu. Mereka sepertinya terkena musibah atau bencana sesuatu.”


Jian Chen mengangguk, Jian Ya kemudian mengarahkan elangnya dan mendarat di tengah desa tersebut. Jian Ya dan Jian Chen turun bersamaan untuk melihat situasi.


Di desa ternyata tidak ada seorangpun, seperti desa kosong yang tak berpenghuni dimana rumah-rumahnya hangus. Jian Chen merasa keheranan, dia yakin kebakaran hebat tadi bukan terjadi secara alami melainkan oleh ulah manusia.


Jian Ya mengikatkan tali elangnya sebelum pergi untuk memeriksa keadaan desa itu sementara Jian Chen ikut di belakang gadis tersebut.


“Kurasa desa ini habis diserang, para penduduk mungkin tengah kabur atau bersembunyi sekarang.” Jian Chen berpendapat.


Jian Ya mengangkat salah satu alisnya, tidak menyangka dugaannya sama dengan dugaan Jian Chen. “Chen’er, apa mungkin mereka di serang oleh siluman?”


“Kurasa tidak Ketua, hanya sedikit siluman yang bisa menyemburkan api, mereka juga tidak mungkin membakar sesuatu tanpa ada sebabnya. Ada kemungkinan desa ini di serang oleh manusia.”


Jian Ya ingin mengatakan sesuatu lagi saat tiba-tiba ia melihat ada seorang pemuda yang menghampiri keduanya dengan terburu-buru dan air mata menetes.


“Nona Muda, apakah anda seorang pendekar?”


Jian Ya dan Jian Chen saling pandang sebentar sebelum akhirnya mengangguk.


“Nona Muda, tolong selamatkan istri dan anakku. Kumohon, mereka telah diculik oleh para perampok!” Pria itu bersujud didekat Jian Ya sambil memohon dengan tangisan.


“Paman, tenanglah, tolong ceritakan apa yang terjadi pada desa ini.”


Pemuda itu kemudian menjelaskan bahwa desanya di serang oleh para perampok saat dirinya sedang mencari kayu bakar. Para penduduk tidak berani melawan apalagi melihat senjata tajam yang di pegang perampok tersebut.


Bukan hanya mengambil harta benda, para perampok juga membawa seluruh penduduknya untuk dijadikan tawanan. Untuk menutup jejak kejahatan perampok tersebut mereka membakar desa ini.


Jian Ya terdiam beberapa saat sebelum melirik Jian Chen. “Chen’er, kau bisa tinggal disini, aku akan membebaskan penduduk desa.”


“Ketua aku bisa membantumu.”


“Chen’er, apa yang kulakukan mungkin sangat berbeda ketika latihan di akademi. Dunia persilatan yang asli jauh lebih kejam dari kenyataannya.”


Alasan Jian Ya memberi peringatan tersebut karena berpikir Jian Chen masihlah polos mengenai jalan hidup menjadi seorang pendekar. Dia percaya Jian Chen mempunyai kekuatan untuk melindungi dirinya hanya saja pengalamannya tentang dunia masih nol.


Jian Chen tersenyum canggung. “Ketua, percayalah padaku, aku bisa membantu. Aku ingin menolong penduduk desa ini.”


Jian Ya sebenarnya ingin menolak tetapi melihat ekpresi Jian Chen yang percaya diri membuatnya urung, pada akhirnya Jian Ya mengangguk asal tetap di belakangnya.