Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 118 — Permintaan Tuan Puteri


Jian Chen kini memilih maju terlebih dahulu menggunakan pedang esnya, tidak membiarkan mereka bersiasat apapun apalagi berencana akan kabur.


Dengan teknik pedangnya yang gesit Jian Chen langsung menekan sebelas orang itu, menghujani tubuh mereka dengan tebasan-tebasan pedang.


Tidak membutuhkan waktu lama hingga satu dari mereka ada yang gugur di pedang Jian Chen, pedang es itu begitu tajam tak kalah jauh dengan pedang pada umumnya.


Meski satu orang lagi telah tewas nyatanya 10 orang tersisa tidak kabur melainkan terus menyerang Jian Chen. Sepuluh orang itu sebenarnya ingin melarikan diri karena tidak percaya diri memenangkan pertarungan apalagi membunuh lawannya.


Mereka takut ketika kabur Jian Chen justru membunuhnya terlebih dahulu sedangkan terus melawannya bukan pilihan yang tepat, hanya soal waktu mereka akan terbunuh juga.


Sepuluh orang itu sepakat Jian Chen terlalu kuat untuk dihadapi apalagi tubuhnya yang terus mengeluarkan hawa dingin membuat mereka tidak betah didekatnya lama-lama.


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam lebih banyak pada pedang esnya lalu mengubah teknik pedangnya menggunakan teknik pedang rembulan.


“Teknik Pedang Bulan Separuh ~ Cerminan Tetesan Hujan!”


Tubuh Jian Chen membelah diri menjadi lima, setiap satu cerminan dirinya menghadapi 2 musuhnya.


Teknik ini merupakan teknik yang sama dengan sebelumnya hanya saja Jian Chen meningkatkan kekuatan tekniknya jadi lebih kuat.


Jika dulu Jian Chen bisa membelah dirinya menjadi tiga kini jumlahnya telah bertambah dua, Ini disebabkan karena Jian Chen sudah memahami teknik pedang rembulan lebih dalam dan juga karena kekuatan kultivasi Jian Chen yang sudah meningkat.


Teknik pedang rembulan memang teknik pedang yang bisa menyesuaikan kekuatan penggunanya. Contohnya cerminan tetesan hujan, jika kultivasi Jian Chen lebih kuat dari sekarang ia bisa memecah tubuhnya lebih banyak lagi bahkan sampai belasan.


Tidak membutuhkan waktu lama setengah dari jumlah musuhnya terbunuh akibat teknik tersebut, kini yang tersisa tinggal lima orang lagi.


Jian Chen hendak mengayunkan pedang kesekian kalinya namun tiba-tiba pedang esnya pecah berkeping-keping.


“Eh?” Jian Chen menatap tangannya yang kini tidak memegang pedang, ia sempat kebingungan sebelum mengerti situasinya. “Sepertinya pedang es ini tidak bisa menahan jumlah tenaga dalam sebanyak itu dari teknik pedang rembulan…”


Jian Chen tentu sadar karena telah meningkatkan kekuatan teknik itu ke tahap tertentu sehingga diluar kekuatan pedangnya. Ia menghela nafas sebelum menciptakan pedang es lagi.


Lima orang yang tersisa meneguk ludah, mereka ingin berlutut menyerah tetapi menyaksikan Jian Chen yang tersenyum lebar saat membunuh rekan-rekannya membuat mereka mengurungkan niatnya.


Jian Chen tersenyum dingin melihat keputusasaan lawannya, ia tak menunggu mereka dan langsung menyerang kembali.


Kelima orang itu hanya bertahan sekuat tenaga dari serangan Jian Chen, berharap Jian Chen mengasihaninya atau ada keajaiban yang muncul namun itu tidak terjadi.


Empat orang lainnya terbunuh tak lama kemudian dan kini menyisakan satu orang lagi yaitu Ketua dari 12 Taring Pembunuh.


Jian Chen tidak langsung menghabisinya melainkan menginterogasinya terlebih dahulu, pedang es diletakan di leher pria itu.


“Apakah jika aku memberitahumu ini kau akan membebaskanku?” tanya Ketua itu.


Jian Chen mengelus dagunya, “Tergantung, jika kau berkata jujur dan membeberkan semua informasi yang kau ketahui mungkin aku akan mempertimbangkannya…”


Ketua itu mengangguk cepat, ia siap menjawab pertanyaan Jian Chen.


“Dimulai dari dirimu, kau berasal dari mana?”


“Aku…” Pria itu langsung ragu tetapi melihat Jian Chen menggerakan pedang es dilehernya membuat ia ketakutan dan buka suara. “Kami berasal dari klan Liu, kelompok 12 Taring Pembunuh yang ditugaskan untuk membunuh seseorang.”


Jian Chen melanjutkan interogasinya. “Jika kalian gagal dalam rencana pembunuhan pada murid-murid akademi, apakah klan Liu tidak akan memulai peperangan dengan klan Chu?”


Ketua itu terkejut, ia tidak mengerti bagaimana Jian Chen mengetahui rencana klannya ke depan. Memang beberapa bulan ini klan Liu sedang mengumpulkan kekuatan secara diam-diam untuk memulai peperangan.


Menyadari Jian Chen mengetahui banyak hal dari klannya, Ketua itu menganggap Jian Chen sedang menguji kejujurannya daripada mengorek informasi.


“Sebenarnya pembunuhan ini adalah salah satu misi dari sekian banyak misi untuk menjatuhkan klan Chu, meski tanpa sebab pun kami bakal menyerang klan Chu.”


“Kenapa demikian, kalian tidak takut klan lain yang menyerang klan kalian?”


“Klan Liu kini telah bersekutu dengan empat klan besar lainnya untuk menyerang klan Chu, andai klan Niu dulu tidak mengalami kegagalan kudeta mungkin sudah 5 klan yang berada di pihak klan Liu. Dengan kekuatan seperti itu tidak ada yang berani melawan klan kami...”


Ketua itu menambahkan bahwa klan Liu juga bekerjasama dengan organisasi-organisasi tertentu untuk memastikan rencana ini berhasil.


Jian Chen memijat kepalanya yang terasa sakit, tidak menyangka situasi di ibu kota sudah separah ini. Andai dirinya menggagalkan pembunuhan ini ternyata tidak banyak merubah situasi.


“Gejolak di ibu kota sudah berada di titik ujungnya, hanya soal waktu peperangan yang lebih besar bakal terjadi…” Jian Chen menghela nafas panjang, satu hal yang disesalinya dia tidak cukup kuat untuk menghentikan itu semua, satu-satunya jalan adalah memang bertemu gurunya secepat yang ia bisa.


Pada akhirnya Jian Chen tetap membunuh Ketua itu, pria paruh baya itu bahkan tidak sadar nyawanya tercabut ketika kepalanya tiba-tiba terpenggal.


“Tidak ada hukuman yang tepat bagi pembunuh selain dibunuh, kau telah menghilangkan banyak nyawa tak berdosa di tanganmu…” Jian Chen menatap jasad tanpa kepala itu dengan dingin.


Jian Chen melihat 12 jasad yang dibunuhnya tergeletak dimana-mana, ia hendak menguburkan mereka tetapi Lily dari dalam tiba-tiba berteriak.


“Hei, sebelum kau menguburkannya serap dulu kultivasi mereka untukku!” katanya dengan suara lantang.


“Apa maksudmu?”


“Jangan pura-pura lupa atau bodoh, aku sudah memberitahukan padamu cara bagaimana aku bertambah kuat. Aku tak bisa berada di awal kultivasi seperti ini terus, aku ingin kuat!”


Lily pernah menjelaskan pada Jian Chen cara kultivasinya agar naik yaitu dengan menyerap kultivasi orang lain yang sudah mati.


Di dunia persilatan, meski seorang pendekar kehilangan nyawa, kultivasi pada tubuhnya tetap ada sampai bertahun-tahun sebelum akhirnya menghilang. Tergantung tingginya kultivasi, semakin tinggi maka semakin lama kultivasi itu menghilang dari tubuh seorang pendekar.


Jian Chen sedikit berat menerima permintaan perempuan itu, meski sudah mengenal gadis tersebut kenyataannya Lily masihlah baru di kehidupan Jian Chen.


Lily berdecak berulang kali sambil menggelengkan kepala, ia mengerti kemana pikiran Jian Chen sekarang.


“Aku sudah berapa kali mengatakan ini, haruskah aku mengulangnya sepuluh kali, seratus kali, seribu kali atau sejuta kali agar kau percaya bahwa aku tidak mempunyai niatan jahat padamu!” Lily berdecak kesal. “Aku ini Tuan Puteri, kalaupun aku berniat mencelakaimu maka aku akan menggunakan cara terhormat dibanding menusuk dari belakang.”


“Bisa saja kau mencelakaiku ketika kultivasimu berada di atasku?” Jian Chen tidak menutupi kewaspadaanya.


“Hei, bodoh! Aku saja sekarang berada di genggaman tangamu, andai kau menggunakan rantai di kristal itu aku tidak berdaya dan kau bisa menyegelku kembali!”


Jian Chen terdiam, sulit menghilang keraguan dihatinya.


“Argh! Terserah kau sajalah, mau menyerapnya atau tidak aku sudah tidak peduli, persetan dengan itu!” Lily berujar frustasi, lama-lama gadis bergaun merah itu semakin kesal berbicara dengan pemuda tersebut.


Lily melipat tangannya didada lalu membuang wajah, gadis itu benar-benar marah pada Jian Chen dan tak mau berbicara lagi padanya.