Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 41 — Gerbang Es


Ranting pohon yang dibawa Jian Chen sebagai penerangan tidak berguna ketika semakin lama ia melangkah kedalam gua tersebut.


Udara didalam jauh lebih dingin dan setahunya suhu dingin seperti ini biasanya terjadi di dataran es yang pernah Jian Chen kunjungi dikehidupan sebelumnya.


Merasa api diranting tak lama lagi akan padam Jian Chen terpaksa menggunakan kemampuan elemennya yaitu elemen cahaya.


Sudah dua tahun lebih semenjak Jian Chen mengulang kehidupannya dan selama itu juga ia tak menggunakan kekuatan elemen cahayanya. Bisa dibilang ini pertama kali Jian Chen menggunakannya dikehidupan kedua ini.


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada telapak tangannya lalu mengubahnya menjadi sebuah energi, energi itu terkumpul ditangan Jian Chen dan secara perlahan ada bulatan cahaya yang tercipta lalu terkumpul ditelapak tangannya.


Bulatan-bulatan tak lama berubah menjadi bola cahaya yang lebih besar, Jian Chen menciptakan bola cahaya ditangannya dan bola itu cukup menyinari sekitarnya.


Bukan hanya satu tapi menciptakan 3 bola cahaya lainnya yang mengambang disekitar tubuhnya. Bola cahaya itu berwarna keemasan seperti sebuah matahari kecil.


Setengah kilometer berlalu memasuki gua, dugaan Jian Chen ternyata benar bahwa suhu dingin ini diakibatkan karena adanya hembusan es. Jawaban itu semakin terbukti ketika melihat stalagtit dan stalagmit yang terbentuk dari es.


“Gua ini bukan gua sembarangan? Kenapa ada gua es di tengah Hutan Sunyi seperti ini…”


Tenaga dalam yang dialirkan Jian Chen pada seluruh tubuhnya jadi tidak berguna karena suhunya sekarang sudah dibawah nol derajat.


Jian Chen menciptakan lebih banyak bola cahaya untuk menghangatkan tubuhnya, untungnya hal ini bekerja lebih efektip.


Dengan suhu dingin yang ekstrim seperti ini Jian Chen yakin tidak ada pendekar yang mampu ke gua ini bahkan mereka yang sudah diranah tinggi sekalipun. Jika bukan karena elemen cahayanya Jian Chen juga tidak akan kuat dan mungkin ia akan mati kedinginan.


Jian Chen akhirnya tiba diujung gua tersebut, matanya sedikit melebar karena dihadapannya ia bertemu dengan sebuah gerbang besar yang semuanya terbuat dari es.


Keberadaan gerbang es ini menunjukkan ada orang yang pernah membuatnya sekaligus ada ruangan didalam gerbang es itu.


Jian Chen mendorong gerbang tersebut dengan tenaganya namun hasilnya gagal karena gerbang itu seperti menyatu akibat pembekuan. Jian Chen kemudian mengalirkan tenaga dalam pada kepalan tangannya, berniat menghancurkan gerbang tersebut.


Kepalan tangan Jian Chen saat diayunkan menggunakan elemen cahaya juga, sehingga tinjunya terlihat berwarna keemasan. Ketika tinju cahaya Jian Chen mengenai kerasnya gerbang seketika timbul daya ledak yang hebat.


Tinju cahaya Jian Chen memang dapat menimbulkan ledakan jika terkena serangannya namun ledakan itu tidak berbahaya baginya.


Jian Chen berpikir dengan serangan seperti itu sudah cukup membuat gerbangnya berlubang atau setidaknya rusak namun kenyataan itu terasa jauh melihat gerbang es yang ternyata baik-baik saja.


Gerbang es hanya menciptakan retakan kecil akibat pukulan Jian Chen.


Jian Chen menyipitkan matanya, setidaknya jika kekuatan tinjunya tidak berpengaruh, daya ledak dari pukulan cahaya cukup membuat esnya sedikit meleleh.


Jian Chen kali ini mengalirkan tenaga dalamnya lebih banyak dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada gerbang es itu.


Pukulan cahaya Jian Chen jauh lebih kuat dan daya ledaknya lebih keras dari sebelumnya sehingga gua itu jadi bergetar karena dentuman yang dihasilkan.


Setelah melepaskan pukulan hampir 20 kali, gerbang es masih terlihat kokoh dan yang berbeda cuma ada retakan kecil darinya. Ternyata tinju beruntun Jian Chen hanya berdampak kecil pada gerbang tersebut.


Menurut Jian Chen gerbang es ini sudah ada semenjak 500 tahun yang lalu dan hal inilah yang membuat es itu begitu sangat keras.


“Kemampuanku sekarang terlalu kecil jika dibandingkan kehidupanku yang lalu, mungkin aku yang dulu bisa menghancurkan es ini dengan mudah…”


Perkiraan Jian Chen ia bisa menghancurkan gerbang es ini ketika sudah diranah alam Dewa Cahaya Emas, mungkin saat itu ia bisa melihat apa isi dari gerbang es ini.


Setidaknya ia sudah menemukan sesuatu dari Hutan Sunyi tersebut, tinggal ia memperkuat dirinya lalu kembali nanti.


Jian Chen balik lagi ke mulut gua sebelumnya, ia menemukan hujan sudah reda dengan langit yang cerah. Jian Chen kemudian melanjutkan perjalananya untuk menemui faksinya berada.


***


Ditengah-tengah bukit saat dimana Jian Chen tengah mencari faksi Dua Pedang, kelompok bertopeng telah berkumpul kembali diperkemahannya dan kali ini jumlahnya jauh lebih banyak dari sebelumnya.


Kelompok bertopeng yang bertemu Jian Chen sebelumnya tidak dalam kondisi yang baik saat kembali, beberapa dari mereka ada yang terluka dan bahkan sampai pingsan.


Pemimpin bertopeng sebelumnya bahkan lebih parah dari bawahannya, hal ini disebabkan karena pemimpin bertopeng telah gagal menjalankan misinya sehingga ia diberi hukuman oleh pemimpin aslinya yaitu Liu Zhan.


Seperti perkataan Yun Mei sebelumnya kelompok bertopeng itu adalah faksi Naga Emas yang menyamar.


Liu Zhan adalah pemimpin faksi Naga Emas sementara dikompetisi ini, dan dia juga merupakan dalang dari dari aksi kelompok bertopeng itu.


Sebagai hasil dari kegagalan tersebut Liu Zhan memberikan hukuman keras sebagai hadiah kegagalan misi mereka yang seharusnya membunuh pemimpin Faksi Bunga Malam.


“Dasar tidak berguna, bukankah aku telah mengirim banyak pasukan untuk misi ini lalu kenapa kalian malah gagal!?” Liu Zhan merapatkan giginya, membuat bawahan itu semakin menunduk dan ketakutan.


“Kenapa tidak menjawab, hah-! tidak bisa mendengar? Jika kalian masih berdiam diri seperti ini aku tidak segan-segan memotong telinga kalian satu persatu!”


Mereka yang berlutut semakin gemetar sampai salah satu mereka akhirnya membuka suara.


“K-Ketua, kami memang telah berhasil meracuni anggota faksi Bunga Malam dan menyudutkan pemimpinnya. Namun ketika kami hendak membunuhnya ada seorang pemuda yang muncul…”


Orang itu menjawabnya terbata-bata tetapi tetap menjelaskannya sampai akhir. Liu Zhan mendengar itu mengerutkan alisnya karena ternyata pasukannya dikalahkan oleh satu orang.


“Dia mempunyai keahlian yang tinggi dalam ilmu tendangan, menangkap anak panah serta melemparkannya balik dengan tepat sasaran…” Liu Zhan mengelus dagunya, ia tidak menyangka ada murid akademi yang memiliki keahlian tinggi seperti ini.


Setahunya andai itu Liu Yanyi, murid nomor 1 akademi sekalipun tak bisa melakukan hal demikian.


“Yang mengejutkan dari semua serangannya adalah dia bisa menghalau teknik elemen api kami semua dalam satu ayunan pedang. Kami juga cukup yakin kalau teknik itu adalah teknik pedang klan Niu…”


“Klan Niu? Maksudmu teknik Pedang Rembulan?” tanya Liu Zhan terkejut.