
Lan Qiaoqiao membuka matanya saat waktu masih dini hari, beberapa saat kemudian ia baru menyadari sedang bersandar pada pundak Jian Chen, wajah pemuda itu adalah pemandangan pertama ia terbangun.
Seketika pipi Lan Qiaoqiao memerah, ia buru-buru mengangkat kepalanya, memperbaiki rambut juga wajahnya takut ia terlihat buruk di mata Jian Chen
'Kenapa aku harus bereaksi seperti ini..." Batin Lan Qiaoqiao.
Ia sudah terbiasa dekat dengan seorang lelaki tetapi Jian Chen terasa berbeda, Ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat ketika berada di dekatnya.
Gadis berambut perak itu diam-diam melirik Jian Chen yang saat ini sedang terpejam matanya.
Jian Chen tidak tertidur melainkan sedang berlatih menyerap permata siluman, terlihat di kedua tangannya dia menggenggam semacam batu merah.
"Sudah bangun?"
Jian Chen membuka matanya melihat Lan Qiaoqiao kini menatapnya tanpa berkedip. Wanita itu terbius dengan mata emas Jian Chen yang bersinar ketika hari masih gelap.
"Ah iya, maksudku selamat pagi Saudara Jian..." Lan Qiaoqiao berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya.
Lan Qiaoqiao bangkit dan mengatakan ingin mencari buah untuk sarapan pagi sebelum saudari-saudarinya terbangun. Jian Chen memilih ikut bersamanya.
"Apa kau selalu seperti ini, mencari makanan untuk adik-adikmu?"
"Tidak juga Saudara Jian, kami biasanya selalu membagi tugas ketika berada di alam terbuka seperti ini namun sekarang aku tidak tega membangunkan adik-adikku, mereka tampak kelelahan."
Walaupun hubungan Lan Qiaoqiao dengan empat saudarinya adalah hubungan antar sepupu namun ia telah menganggap mereka sebagai adik kandungannya, begitu juga dengan Lan Yueyue, Xiaxia, Lulu, dan Lingling menganggap Qiaoqiao sebagai kakak mereka.
Lan Qiaoqiao dari kecil sudah di perintahkan oleh Ibunya untuk menjaga saudari-saudarinya itu, hal tersebut membuat ia bertanggung jawab pada keselamatan dan kebutuhan mereka.
Hal yang sama membuat kepribadiannya lebih dewasa dari pada saudara sepupunya meskipun mereka lahir di hari yang sama.
"Oh ya Saudara Jian, tentang kemarin itu, bagaimana keadaan di makam kuno? Apa pangeran itu membiarkan anda pergi?" Lan Qiaoqiao sebenarnya ingin bertanya tentang kekuatan kegelapan di tubuh Jian Chen namun ia berusaha untuk tidak menyinggungnya apalagi melihat Jian Chen tidak membicarakan itu terlebih dulu.
"Oh mereka..." Jian Chen menggaruk kepala sebelum menjelaskan apa yang terjadi, ia tidak menjelaskan di rasuki Lily namun mengatakan dirinya telah memberikan pelajaran pada pangeran itu.
"Saudara Jian, apa anda tau jika menyakiti seseorang berstatus tinggi seperti itu anda akan mendapatkan masalah besar?"
Jian Chen mengangguk, tentu saja ia menyadarinya. Tak lama lagi dirinya akan menjadi buronan di provinsi ini namun Jian Chen tidak ambil pusing karena dia disini tidak akan lama.
Keduanya kemudian menemukan pohon apel, Jian Chen mengambil semua buahnya lalu di memasukan ke dalam cincin ruang.
Saat pulang ke api unggun Jian Chen juga memburu ayam hutan yang sempat terlihat. Empat saudara Lan masih tertidur, Jian Chen terlebih dulu memanggang ayam tersebut.
Tak lama kemudian aroma masakan tercium, membangunkan keempat gadis yang tertidur. Mereka mendesah pelan ketika bangkit dari tempat mereka tertidur.
"Waw, bagaimana bisa seharum ini, apa anda melakukan sesuatu pada ayam itu?" Tanya Lan Qiaoqiao takjub, pandangannya jatuh ke ayam hutan yang sedang di panggang oleh Jian Chen, aromanya yang menggiurkan membuat ia menjilat bibir sekaligus meneguk ludah.
Jian Chen mengangguk dan menjelaskan ayam yang sebelumnya di panggang di oleskan bumbu dan rempah-rempah terlebih dulu.
"Wow, anda ternyata bisa memasak!" Lan Qiaoqiao terkejut.
Jian Chen hanya tersenyum tipis lalu membalikkan ayam panggang di perapian.
Jian Chen tertawa kecil mendengar gumaman Lan Qiaoqiao, sebenarnya percaya atau tidak ia bisa memasak karena di ajarkan gurunya.
Guru Jian Chen memang pandai memasak, saking ahlinya Jian Chen bahkan menganggap gurunya lebih cocok jadi seorang koki ternama di banding masuk ke dunia persilatan.
Jian Chen belajar setiap harinya ketika hendak waktu makan ketika sedang berlatih bersama gurunya. Setiap harinya ia akan mempelajari menu baru. Di kepalanya mungkin sudah ratusan menu yang Jian Chen hapal sekarang.
Tidak lama kemudian Jian Chen mengangkat ayam tersebut yang sudah berwarna kecokelatan namun pandangannya bukan ke sana melainkan pada kelima gadis kembar itu, mata mereka tidak bisa lepas dari ayam yang Jian Chen pegang.
Jian Chen tertawa kecil, karena ayam yang didapatkannya barusan hanya lima saja ia memberikannya pada kelima gadis itu. Jian Chen memilih memakan apel yang di petik barusan.
"Saudara Jian, anda yang memasak ini bagaimana anda tidak memakannya?"
Lan Qiaoqiao tentu saja senang Jian Chen memberikannya tetapi tidak sampai pemuda itu tidak ikut menyantapnya, terlebih lagi saat ini, bisa dibilang status Jian Chen adalah Majikan dari mereka.
"Tidak apa, dari awal aku memasak ini untuk kalian..."
"Kami tidak bisa menerimanya," Lan Qiaoqiao mengambil bagian paha ayam lalu disodorkan pada Jian Chen, "Ayo buka mulut Saudara Jian, Aa..."
Entah sadar atau tidak, tindakan Lan Qiaoqiao tersebut membuat saudari-saudarinya terkejut tak terkira.
Saling menyuapi adalah hal tabu apalagi jika itu dilakukan berlawanan jenis kecuali mereka memang mempunyai hubungan dekat atau sepasang kekasih.
Jian Chen ingin menolak tetapi melihat gadis berambut perak itu ikut membuka mulutnya ia tak bisa berbuat apa-apa dan langsung mengigit ayam paha tersebut.
Tanpa sadar saat menyuapi tersebut wajah Lan Qiaoqiao sudah berdekatan, ketika kedua pandangan bertemu, Lan Qiaoqiao tersadar akan tindakannya, wajahnya seketika tersipu.
"Maaf, aku tadi... Cuma... aku..." Lan Qiaoqiao terbata-bata, ia menjadi salah tingkah karena kebodohannya.
Jian Chen tersenyum canggung, ia mengambil paha ayam di tangan Qiaoqiao lalu mulai menyantapnya.
Aksi makam Jian Chen yang tak lain untuk menutupi rasa canggungnya, apalagi ketika melihat kembaran lainnya yang menontonnya tanpa berkedip.
Karena suasana jadi terasa berbeda, Jian Chen memilih pergi untuk membersihkan tubuhnya di sungai tak jauh mereka membuat api unggun.
Kepergian Jian Chen membuat Lan Qiaoqiao bernafas lega namun disisi lain ia tidak lepas dari pandangan empat saudarinya.
"Kak Qiao, jangan bilang anda menyukai Jian Chen?" Lan Lulu adalah yang pertama kali bertanya.
"Aku tidak menyukainya, siapa yang mengatakan Kakak menyukai dia?" Lan Qiaoqiao berusaha menyangkal.
"Tapi ini baru pertama kali Kakak yang biasanya selalu anggun dalam segala situasi jadi seperti ini." Lan Lingling menyipitkan matanya. "Apa Kakak mempunyai perasaan pada Saudara Jian?"
Lan Qiaoqiao semakin salah tingkah. "Kakak tidak mempunyai perasaan apa-apa, Kakak hanya menghormati Jian Chen, itu saja!"
Seharusnya setelah mendengar ucapan sepupu tertuanya itu mereka akan langsung mempercayai ucapannya namun kali ini berbeda, apalagi melihat wajah Lan Qiaoqiao yang masih memerah.
Kalau memang Kakaknya itu benar menyukai Jian Chen maka mereka tidak bisa berbuat apapun. Lagian secara kasar mereka adalah milik Jian Chen sekarang, andai ia meminta di layani sebagai seorang pria, kelima gadis itu tak bisa menolak atau membantahnya.