
"Setidaknya ini cukup untuk beberapa hari kedepan... "
Selain mengeluarkan permata siluman di serigala yang paling besar, Jian Chen juga mengambil permata yang ada di serigala ukuran normal, walaupun tidak seberapa umurnya tetapi itu cukup berguna untuk menaikan tenaga dalamnya beberapa lingkaran saja.
Di samping yang lain, Ziyun dan Meily tak bisa berkata apa-apa ketika Jian Chen berhasil membunuh serigala petir itu dengan demikian mudahnya. Apalagi setiap serangan Jian Chen sangat kuat dan mempunyai kerusakan besar, hal ini membuat keduanya menyadari bahwa ketika duel pedang sebelumnya Jian Chen benar-benar sedang menahan kekuatan aslinya.
Jian Chen mengembalikan pedang Dewa Es pada Ziyun, karena situasi tempat air terjun sudah kacau ketiganya kemudian pergi dari hutan.
Langit sudah mulai sedikit terang ketika mereka sampai di kota, setelah menuntun Ziyun ke tempat peristirahatan Jian Chen berpisah pada kedua gadis cantik itu.
***
Hari ini Jian Chen awalnya berniat untuk bertemu Miou Lin di ibukota namun setelah diberi kabar wanita itu sedang berada di turnamen, Jian Chen tak punya pilihan selain kesana.
Urusan Miou Lin ke turnamen bukanlah sebagai perwakilan dari Asosiasi melainkan klannya, karena hari ini turnamen tersebut sedang final setidaknya klan yang tengah naik daun tersebut menghadiri acara besar tahun itu sebagai formalitas.
Miou Lin duduk di kursi paling depan bersama para tamu penting klan-klan besar seperti Ketua klan Niu, Niu Zen, Ketua klan Ye dan 6 Ketua klan lainnya.
Jian Chen tersenyum tipis ketika melihat kursi kosong yang seharusnya diduduki oleh perwakilan klan Liu, sepertinya setelah kelompok pembunuhnya telah gagal melakukan misi mereka sudah tidak berminat lagi melihat turnamen Ini apalagi mengingat ada seseorang yang membaca rencana klannya.
Jian Chen duduk disalah satu podium penonton, berbeda dengan hari babak penyisihan, para penonton hari ini terkesan lebih banyak bahkan terasa sesak. Mereka mempunyai tujuan yang sama untuk melihat siapa pemenang turnamen di tahun ini, tinggal 4 peserta lagi dan sekarang adalah hari dimana juara akan diumumkan.
Mendengar dari para penonton, Jian Chen menemukan nama Meily, Ziyun, dan Liu Yanyi adalah yang paling disebut sebagai jagoan terhebat yang akan jadi juara.
Jian Chen cukup yakin Ziyun sekarang pasti memundurkan diri mengingat tubuhnya yang belum prima, hari ini seharusnya dia melawan Liu Yanyi tetapi batal sehingga pemuda klan Liu itu bisa langsung lolos ke final.
Benar saja, tak lama berselang ketika penonton sudah penuh, turnamen akhirnya dimulai. Wasit dari atas panggung memberitahukan terlebih dahulu tentang peserta Ziyun yang memundurkan diri, kekecewaan terlihat dari sebagian penonton yang mendukungnya.
Kini yang tersisa hanya dua pertandingan. Meily menaiki panggung setelah wasit memanggilnya, peserta yang di lawannya adalah seorang pria berusia 19 tahun yang memakai senjata tombak.
Wasit terlebih dahulu mengingat peraturan pada keduanya, meski hal itu diulang-ulang setiap pertandingan. Setelah keduanya mengerti wasit mempersilahkan mereka untuk bertarung.
Pria yang di lawan Meily adalah jenius peringkat 6 di Akademi, di bawah peringkat Meily. Dia tidak berkecil hati dengan fakta tersebut karena alasan ia mengikuti turnamen ini adalah agar dirinya lebih banyak mendapatkan pengalaman.
Yang pertama kali menyerang adalah pria itu, ia bergerak cepat mendekati Meily sebelum menggunakan jurus tombaknya.
Jain Chen bisa melihat kegesitan pria itu dalam memainkan tombaknya yang begitu sulit untuk diikuti mata tetapi Meily membuktikan kemampuannya dengan cara menghindar.
"Tombak Naga Awan!"
Melihat jurusnya mudah dihindari ia mengubah pola serangannya menjadi tusukan cepat, sayangnya Meily tetap tenang menghindari itu dengan mudah, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi kesulitan apapun.
"Ah, Nona Bunga Lotus klan Niu itu masih menahan kekuatannya, padahal aku sudah tidak sabar ingin melihat kemampuan teknik pedang rembulan yang melagenda itu."
"Benar, aku jadi tidak sabar saat dia melawan Liu Yanyi, peringkat no satu akademi, ini pasti akan jadi pertarungan yang seru."
Penonton-penonton yang ada di dekat Jian Chen berbisik-bisik membahas pertandingan final usai pertarungan ini akan berakhir. Sepertinya para penonton itu sudah menunggu pertarungan Meily dan Liu Yanyi yang pasti bakal terjadi.
Pertarungan Meily dan pria bertombak tak berangsur lama, ketika Meily balas menyerang dengan tangan kosong pria bertombak itu tak bisa mengikuti gerakan serangannya sehingga dalam beberapa jurus saja ia langsung tersudut sebelum akhirnya menyerah.
Meily selain mempunyai keahlian pedang yang sangat tinggi, ilmu tangan kosongnya juga tak kalah tersohor apalagi ilmu tendangan klan Niu yang membuatnya bisa bergerak cepat.
Wasit segera mengumumkan kemenangan Meily, kini dirinya lolos ke final dan harus melawan Liu Yanyi.
Pertarungan yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, beberapa penonton langsung bersorak ketika keduanya menaiki panggung.
Liu Yanyi melambaikan tangannya kepada penonton yang bersorak menyebut namanya. Terlihat sekali ia begitu percaya diri dengan senyuman hangatnya walau disaat menatap Meily senyuman itu memudar.
Ingatan segar memenuhi pikirannya ketika di restoran dua hari lalu, apalagi ketika mengingat seseorang yang bersama Meily di restoran tersebut.
Selain kalah ia juga mendapatkan rasa malu tak terbilang, Liu Yanyi tersadar dengan benjolan besar di keningnya akibat sentilan kuat Jian Chen. Jika bukan karena tenaga dalam serta obat olesnya mungkin ia tak mungkin berdiri di panggung ini dengan benjolan sebesar itu.
Meily menarik pedangnya di awal pertandingan karena lawannya saat ini memang kuat. Liu Yanyi tak kalah sama, ia mengeluarkan dua pedang yang merupakan pusaka tinggi.
"Disini kau tidak dilingdungi pria itu, aku tidak mau menyakiti gadis cantik sepertimu jadi menyerahlah sebelum pertandingan di mulai..." Liu Yanyi berujar dingin kepada Meily.
Meily tidak menjawab, ketika wasit memulai pertandingan ia langsung bergerak menyerang dengan mengayunkan pedangnya.
Permainan pedang klan Niu yang selalu disegani oleh orang lain tidak membuat Liu Yanyi takut, setidaknya itulah yang dia pikirkan selama ini sampai di turnamen sekarang dia dikejutkan dengan perubahan pola serangan Meily yang berubah.
Meily menggunakan ilmu pedang yang dipadukan dengan sebuah tendangan, serangannya sulit ditebak apalagi gerakan tekniknya yang rumit membuat Liu Yanyi langsung diposisi bertahan.
"Kau... Bagaimana bisa..."
Meily tidak menjawab keterkejutan Yanyi melainkan terus menyerang lebih cepat, memukul mundur Liu Yanyi terus menerus hingga mendekati batas arena.
Bukan hanya lawannya para penonton yang melihatnya juga terkejut terutama ayah Meily, Niu Zen. Sepengetahuannya ia belum pernah mengajarkan anaknya teknik demikian, hal ini membuatnya terkejut sampai sulit berkata-kata.
Satu-satunya yang bereaksi dengan senyuman tipis adalah Jian Chen. Dengan sekali lihat saja ia langsung mengetahui teknik yang digunakan Meily, Tidak salah lagi kalau itu adalah tekniknya sendiri ketika berada di air terjun.
'Kemampuan Meily dalam belajar memang terlalu mengerikan, apapun yang terlihat oleh matanya dapat ditiru dan dipraktekkan dengan demikian persisnya... '
Meski berkali-kali Jian Chen menyaksikan kemampuan Meily, ia masih belum terbiasa dengan bakat gadis itu yang menurutnya di luar nalar. Andai Jian Chen tidak menjalani kehidupan kedua ini mungkin ia tak bisa disandingkan dengan kejeniusan Meily.