
Jian Chen batuk pelan, sepertinya ia tidak harus sembunyi-sembunyi untuk melakukan transaksi perbudakan jika di sana bukanlah sesuatu yang asing.
"Mereka adalah pedagang budak bukan? Apa budak-budak itu akan dijual di kota juga?" Jian Chen melirik ke pedagang yang membawa antrian budak tak jauh darinya berdiri.
Petugas itu menghela nafas lantas mengangguk takzim, "Hari ini sudah keempat kalinya ada pedagang budak yang masuk ke kota, jauh lebih banyak dibandingkan hari-hari kemarin, aku turut prihatin melihat mereka jadi seperti ini..."
Meski petugas itu diam saja saat melihat warga setempatnya menjadi budak tetapi ia juga merasa iba ketika melihatnya, tapi apalah daya, ia tak bisa melakukan apapun mengenai perbudakan tersebut apalagi melarangnya.
Jian Chen melihat reaksi keberatan dari petugas itu dan itu adalah hal bagus untuknya.
"Aku akan terus terang saja, aku adalah pendekar yang dikirim pemerintahan Kekaisaran untuk pergi kesini, aku mempunyai misi untuk menghentikan perbudakan..."
Mata petugas itu melebar, "Bisakah kau tunjukkan identitasmu?"
"Bukankah kartu emas itu sudah cukup, hanya beberapa orang yang memilikinya, kartu itu diberi Kaisar Naga dan segelintir orang saja yang memilikinya."
Petugas itu terdiam sebelum mengangguk pelan.
Jian Chen kemudian bertanya alasan kenapa pemerintah tidak melarang perbudakan di tempat ini, biarpun tidak terikat langsung oleh pemerintahan Kekaisaran, seharusnya pemerintah kota sepakat untuk melarang perbudakan.
"Sebenarnya ini adalah hal yang rahasia tapi karena kau berasal pemerintahan aku akan memberitahukanmu..."
Petugas itu kemudian merendahkan suaranya, takut terdengar oleh petugas lain sebelum memulai ceritanya.
Dari petugas tersebut Jian Chen mengetahui bahwa sejak awal walikota tidak mengizinkan adanya perbudakan bahkan melarang keras di kota ini.
Sejak ada istana gurun tak jauh dari Ibukota berada, ibukota sudah tidak seperti dulu yang damai dan sejahtera apalagi saat para pendekar serta pedagang dari kekaisaran lain berdatangan kesini.
Dampak kedatangan mereka cenderung memiliki dampak negatif, selain tingkat kriminal menjadi tinggi, kasus perbudakan menjadi bermunculan disini.
Walikota tentu saja tidak tinggal diam, ia begitu keras untuk melarang perdagangan asing menjual budak bahkan mengancamnya akan dijebloskan ke dalam penjara namun larangan tersebut justru berakibat buruk untuknya.
"Aku tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Walikota tapi yang pasti dirinya sudah tak terlihat lagi sejak lama alias menghilang. Aku yakin terjadi sesuatu padanya, entah diculik atau dibunuh..."
Menghilangnya walikota berdampak lebih buruk pada kotanya, perbudakan semakin meraja lela hingga akhirnya menjadi sesuatu yang biasa seperti sekarang ini.
Tentu saja ada beberapa pendekar yang berniat baik untuk menghentikan perbudakan tersebut namun mereka cenderung berakhir mengenaskan.
Para budak itu mempunyai pendekar-pendekar kuat untuk melindunginya, apalagi sekarang ada pembunuh bayaran di kota ini yang siap bergerak jika diberikan upah.
"Aku mengerti niatmu baik tetapi aku sarankan kau jangan kesini apalagi sampai membawa kekasihmu... Kau akan dalam bahaya."
"Hei, siapa yang bilang aku kekasihnya, dia justru adalah budakku-!" Lily berujar protes sambil menunjuk Jian Chen.
Petugas membuka tutup mulutnya lalu menoleh pada Jian Chen, memastikan apakah perkataan gadis cantik itu benar.
"Dia bukan kekasihku, tidak ada yang mau laki-laki berpasangan dengan wanita galak sepertinya, singa saja bisa kena omel olehnya..." Jian Chen mendengus kesal, sedikit tersinggung di sebut budak oleh Lily.
"Tidak usah mengkhawatirkan diriku, aku mempunyai kekuatan yang cukup untuk melindungiku sendiri." Jian Chen kemudian bertanya tentang lokasi pemerintahan ibukota.
"Apa yang akan kau lakukan pergi ke sana, pemerintahan sudah tidak sama lagi dengan yang dulu, penjagaannya lebih ketat. Aku tidak yakin tapi mereka sepertinya adalah para kriminal."
"Aku mempunyai alasan genting untuk ke sana, mereka tidak akan bisa menolak tamu sepertiku." Jian Chen tersenyum tipis.
Petugas itu kebingungan tetapi pada akhirnya menyampaikan lokasinya.
Setelah urusannya selesai, Jian Chen kemudian berpamitan pada petugas itu sebelum melanjutkan langkah masuk kedalam ibukota.
Meski sudah mendengar dari Manajer He mengenai situasi ibukota namun melihatnya secara langsung jelas terasa berbeda.
Situasi kota sangat padat oleh banyaknya penduduk, yang menarik perhatian Jian Chen adalah perdagangan yang sedang terjadi di bahu jalan.
Perdagangan mereka tidak selalu soal barang atau makanan, Jian Chen bahkan melihat ada perdagangan budak disisi jalan secara terang-terangan.
Budak itu di rantai oleh rantai besi, mereka tampak dekil seperti yang ada di gerbang kota sebelumnya sementara si pedagang berteriak-teriak menyebutkan harga setiap budak untuk menarik pembeli.
Mayoritas penduduk pribumi di ibukota yang tidak menjadi budak juga tidak dalam kondisi yang baik, mereka bekerja pada pedagang asing untuk mendapatkan upah, dari wajah-wajah mereka yang sedang bekerja di pedagang tersebut mereka tampak lesu dan tidak bersemangat, menunjukkan mereka di gajih dengan nominal yang kecil atau bahkan tidak mencukupi.
"Harus kuakui, kota ini lebih parah dari dugaanku..." Lily berdecak berulang-ulang melihat situasi tersebut.
Meski kesibukkan sedang terjadi dimana-mana, nyatanya pesona Lily tetap memancing perhatian yang lain terutama laki-laki.
Para pemuda langsung tertuju pada gadis itu, beberapa mereka langsung jatuh hati padanya sementara sebagian lainnya bernafsu untuk memiliki Lily.
Jian Chen berdecak kesal lalu melirik Lily di sampingnya. "Tidak bisakah kau memakai sebuah topeng atau sesuatu yang menutup wajahmu?"
"Hm, apa maksudmu, aku tidak suka wajahku tertutupi sesuatu apalagi topeng, sepanjang hidup Tuan putri ini, aku tidak akan mau memakainya." Lily melipat tangannya di dada, mendengus dingin.
Jian Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sebaiknya harus terbiasa dengan sikap Lily yang sok berkuasa tersebut.
Keduanya melangkah terus memasuki kedalaman kota hingga Jian Chen dan Lily akhirnya berhenti di tempat kediaman walikota yang terkesan besar bahkan seperti istana.
"Aku tahu rencanamu, kau berniat menyusup ke sana dan mencari keberadaan walikota bukan?"
Jian Chen mengangguk, tidak menutupi sebagian rencananya.
Ada empat penjaga yang menjaga di pintu gerbang kediaman walikota, tidak sulit bagi Jian Chen menyusup ke sana sekarang tetapi ia juga tidak buru-buru dalam rencananya, Jian Chen akhirnya memutuskan untuk menunggu malam hari.
"Apa rencanamu setelah masuk dan menyelamatkan walikota, membunuh semua yang ada di kediaman itu?"
"Tidak, tapi kurang lebih akan seperti itu, jika walikota masih hidup, aku mempunyai alasan yang jelas untuk menghabisi para pedagang budak dan membunuh kriminal yang ada disini..." Jian Chen berkata dingin sambil menatap cahaya langit yang perlahan meredup. "Kita akan pergi sekarang..."