Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 236 — Lun Zhi


"Apa kau ingin membawa ini lebih jauh, jika kau melakukannya, aku tidak keberatan ikut campur dalam pertarungan melawanmu..." Jian Chen berkata dingin.


Wu Yi tertawa. "Kau sepertinya memiliki kekuatan yang cukup untuk melawanku dilihat dari kepercayaan dirimu?"


"Kau boleh mencobanya dan kuyakin nyawamu adalah taruhannya."


Wu Yi mengepalkan tangannya keras, ia bisa merasakan Jian Chen memprovokasinya tetapi Wu Yi berusaha tetap tenang. "Ah, pertarungan kita sedikit ada gangguan hari ini, Lun Zhi. Apa kau tidak keberatan bertarung lain waktu?"


Lun Zhi mendengus kesal, dari awal ia tidak mau bertarung dengan Wu Yi tetapi situasinya memaksanya melakukan demikian.


Lun Zhi bukan takut pada Wu Yi melainkan ia tidak bisa bertarung di tengah keramaian seperti ini.


Wu Yi kemudian menyarungkan pedangnya sebelum berbalik dan hendak pergi, namun baru beberapa langkah kakinya bergerak suara Jian Chen kembali terdengar. "Kau mau pergi, bagaimana dengan kerusakan restoran yang kau buat?"


Wu Yi menghentikan langkahnya sebelum menoleh ke area sekitar restoran, terdapat banyak sekali benda rusak meliputi dinding atau meja.


"Aku tidak peduli!"


"Kau harus menggantinya, itu adalah tanggung jawabmu merusak fasilitas restoran."


"Dan bagaimana kalau aku menolak?" Wu Yi menatap Jian Chen sinis.


Jian Chen tertawa kecil sebelum melompat tinggi dari mejanya dan mendarat di depan pintu masuk restoran, menghalangi Lun Zhi keluar.


"Kau akan berurusan denganku!" Jian Chen menyeringai lebar.


Dahi Wu Yi mengerut, "Apa kau ingin membawa hal ini pada kekerasan lagi?"


"Aku tidak mengajakmu demikian, aku hanya ingin kau ganti rugi pada restoran ini."


Semua pelanggan yang menonton sejak tadi menjadi tegang bahkan sedikit takut, mereka khawatir pertarungan akan terjadi kembali sementara Lun Zhi tidak berbicara lebih jauh, ia memusatkan berdiri di depan para pelanggan untuk memastikan keselamatan mereka dari serangan Wu Yi yang bisa tiba-tiba.


"Tentu saja kau boleh menolaknya jika tidak punya uang, kau bisa menjual dengan pusakamu itu." Jian Chen tersenyum mengejek.


Wu Yi hampir kehilangan kendali dan sedikit emosi namun ia berusaha tidak menyerang Jian Chen.


Wu Yi tidak cukup bodoh untuk menyadari situasinya sekarang, andai Jian Chen bergerak dengan Lun Zhi secara bersamaan maka Wu Yi tidak mempunyai kesempatan untuk mengimbangi mereka bahkan bisa jadi akan kalah.


"Sudah cukup lama ada seseorang yang membuatku diposisi tidak berdaya seperti ini..." Wu Yi tertawa lantang sambil menggelengkan kepala.


Dia kemudian mengeluarkan kantong uang di cincin ruangnya lalu melemparkan pada salah satu pelayan restoran. Uang itu berisi koin emas, lebih dari cukup untuk memperbaiki kerusakan bahkan membuat bangunan restoran kembali.


Wu Yi melanjutkan langkahnya meninggalkan restoran dan ketika langkah kakinya ada di samping Jian Chen, ia berbisik pelan. "Berharap lah agar kau tidak bertemu lagi denganku"


Jian Chen tersenyum sinis menjawabnya. "Berharap lah semoga kau tidak terbunuh di pertemuan kita selanjutnya."


Wu Yi mengepalkan tangannya tetapi tidak menjawab lebih jauh melainkan tertawa sembari melanjutkan langkahnya, murid-murid di belakangnya mengikutinya kemudian.


Suasana restoran mendadak canggung, tidak ada suara yang keluar sampai Lun Zhi membungkuk hormat pada Jian Chen. "Terimakasih pendekar telah membantuku di situasi yang sulit serta mengusirnya."


"Tidak perlu sungkan Senior Lun, sebuah kehormatan juga bisa bertemu dengan anda." Jian Chen memberikan hormatnya juga.


Jian Chen mengenal Lun Zhi dan mungkin hampir semua orang Kekaisaran mengetahui namanya, pendekar yang sering disebut sebagai pendekar Tongkat Emas itu adalah salah satu jagoan yang termasuk dari sepuluh pendekar terkuat di Kekaisaran.


Lun Zhi merasa Jian Chen adalah pria yang berusia seumurannya mengecualikan wajahnya yang begitu muda, Lun Zhi berpikir Jian Chen menggunakan teknik tertentu agar dirinya lebih muda dari usianya.


"Ehm! Apa pendekar juga kesini karena niat yang sama, mencari kitab itu?" Lun Zhi membuka topik percakapan.


"Sebenernya aku hanya kebetulan ada disini karena suatu perjalanan, tentang kitab langit itu aku baru mengetahuinya yaitu saat di restoran tadi."


"Apa pendekar juga mengincarnya?"


Jian Chen mengerutkan dahi, sedikit tidak mengerti. "Apakah itu sesuatu yang dilarang Senior?"


Lun Zhi menghela nafas panjang sembari mengusap wajahnya yang terlihat lelah, "Sebenarnya kitab itu adalah harta berharga milik Walikota, aku kesini tidak memiliki niat yang sama melainkan untuk menjaga kitab itu..."


Secara terang-terangan Lun Zhi menjelaskan bahwa ia baru saja kesini beberapa jam lalu sebelum ke restoran tadi, alasan ia ke Kota Anshan karena Walikota mengirimkan surat kepadanya.


Dalam surat tersebut Walikota menyampaikan bahwa Kota Anshan sedang dalam bahaya, ada seseorang yang berani menerobos ke kawasan walikota secara terang-terangan dua hari lalu, orang itu mengatakan bahwa kota akan di serang tidak lama lagi.


Sampai sekarang masih jadi tanda tanya bagaimana kitab rahasia yang dimiliki Walikota bisa bocor ke dunia luar.


Masalahnya kitab itu dapat membawa petaka jika diketahui banyak orang.


"Penyerangan Kota di Provinsi Kekaisaran, siapa yang cukup gila melakukan itu?" Jian Chen terkejut ketika Lun Zhi menjelaskan demikian.


Seorang kriminal akan berpikir dua kali mencari masalah di wilayah Provinsi Naga Api, semakin dekat dengan daerah Kekaisaran seharusnya kejahatan semakin menurun.


"Pendekar, aku setuju apa yang anda katakan dan aku berpikir hanya ada satu organisasi yang bisa semena-mena pada pemerintahan Kekaisaran. Aku yakin mereka adalah Organisasi 12 Shio Pemburu."


Jian Chen mengerutkan dahinya, jika dipikir kembali memang benar apa yang dikatakan Lun Zhi.


Bisa dibilang Organisasi Shio Pemburu tidak mengenal takut pada pemerintah, mereka hanya fokus pada tujuan, apapun itu yang menghalangi jalan mereka akan menyingkirkannya termasuk menghancurkan satu kota sekalipun.


Lun Zhi kemudian mengajak Jian Chen ke tempat kediaman Walikota jika ingin mencari tahu masalah lebih detilnya. Ia bisa melihat Jian Chen bukan orang jahat.


Lebih lagi Jian Chen memancarkan aura yang kuat di tubuhnya, meski tidak terlalu yakin namun Lun Zhi merasa bahwa Jian Chen dapat mengalahkannya jika keduanya bertarung.


"Sepertinya kau akan ikut campur dengan masalah mereka bukan?" Lily bertanya di dalam pikiran Jian Chen.


"Lily?! Kau sudah terbangun!" Jian Chen terkejut antusias.


Lily mengangguk pelan, alasan ia baru berbicara dengan Jian Chen lagi karena beberapa hari lalu dirinya harus tertidur sesudah menyerap kultivasi Xin Tian dan Yun Luo.


Kenapa demikian karena sekarang Lily sudah mencapai ranah Alam Langit, setidaknya itu yang ia ceritakan pada Jian Chen.


"Jika aku mengabaikan masalah ini maka ada ratusan ribu orang yang tinggal di kota ini kena dampaknya dari serangan musuh." Jian Chen mengutarakan bahwa di masa depan kota Anshan sudah menjadi kota mati akibat serangan ini.


"Aku bukan mau menghentikanmu atau sebagainya, bisa dibilang aku tidak peduli." Lily mengangkat bahunya.


Jian Chen tersenyum canggung, ia pikir Lily khawatir dengan keselamatannya seperti biasanya, namun sepertinya ia salah menduga.


Pada akhirnya Jian Chen setuju untuk pergi ke tempat kediaman Walikota bersama Lun Zhi, Jian Chen ingin memastikan sesuatu yang membuatnya penasaran, dan hal itu ia ingin coba lakukan di kehidupan kedua ini.