
"Biarpun aku sudah mendengarnya tetapi melihatnya secara langsung jelas berbeda..." Jian Chen berdecak kagum saat di kejauhan ia melihat Istana yang seluruhnya terbuat dari emas.
Istana emas itu tampak terlihat jelas di luasnya padang pasir, ketika cahaya matahari menyinari, istananya jadi tampak silau ke berbagai arah.
Jian Chen melihat tidak jauh dari istana itu, ada sebuah rombongan pendekar yang sedang menuju ke istana gurun. Mereka sepertinya akan berkunjung ke istana tersebut untuk mencari harta atau barang berharga seperti yang dikatakan rumor.
Jian Chen dan Lily kemudian melayang tak jauh dari rombongan itu, ia memastikan mereka tidak bisa melihat keberadaannya.
"Kenapa tidak langsung masuk ke istana itu saja?" Tanya Lily sedikit menggerutu. "Disini banyak debu, wajahku bisa kotor nanti..."
"Kita tidak sedang buru-buru dan tidak ada alasan untuk kita mempercepat perjalanan." Jian Chen menyipitkan matanya. "Lagi pula, kau tetap cantik di kondisi bagaimanapun..."
"Hmph!"
Lily mendengus sambil membuang wajahnya, meski sedikit menolak tetapi ia tetap menuruti Jian Chen.
Setelah berada di dalam rombongan itu, Jian Chen mengetahui bahwa mereka pendekar yang berasal dari kekaisaran Qilin yang ingin mencoba masuk ke dalam istana gurun.
Rata-rata kekuatan mereka berada Alam Bumi ke atas, hanya sedikit dari mereka yang telah mencapai Alam Langit.
"Senior Luan, kudengar pendekar puncak langit juga ada yang terbunuh di sana, apa kita yakin mau masuk ke istana itu?"
Salah satu orang dari rombongan tersebut tampak paling takut ingin masuk ke dalam istana, ia sedang berusaha membujuk pemimpin rombongan untuk mengurungkan niat tersebut.
"Kau terlalu berlebihan mendengar omongan orang lain Junior Zhi, mereka hanya sekedar menakuti kita agar tidak masuk ke istana. Buktinya tetap saja masih banyak orang yang ke sini..." Jawab pemimpin rombongan itu, ia tampak lebih berumur di banding pendekar yang bertanya.
"Tapi Senior Luan, kenyataan bahwa Istana itu berbahaya sudah tak bisa terbantah lagi..."
"Aku tahu tapi tetap saja berita itu berlebihan, siapa tahu istana itu bekerja seperti keberuntungan. Boleh jadi tamu keseratus kalinya dapat memasuki Istana tersebut dengan mudah."
Penjelasan itu cukup membuat orang yang bertanya berkeringat dingin. Mereka jelas tidak yakin akan bekerja seperti itu.
Lima menit kemudian, mereka tiba di pintu besar gerbang istana yang tinggi dan megah, terlihat berkilauan dengan ukiran emas yang ada di setiap incinya.
Rombongan itu terus berjalan mendekati gerbang, ketika jaraknya sudah tak jauh lagi secara tiba-tiba pintu gerbang istana terbuka dengan sendirinya.
Ekspresi rombongan itu seketika pucat, dari arah dalam, aura pembunuh yang pekat segera merembes keluar istana, membuat siapapun yang merasakannya akan merasakan ketakutan hebat.
"Senior Luan, sebaiknya kita tidak masuk ke dalam. Instingku mengatakan kita akan mati jika terus mencoba masuk..."
"Senior Luan, aku tidak mau ke dalam sana, bahkan jika diberi satu juta koin emas, aku tidak akan mau!"
Nyatanya, sosok yang di sebut Senior Luan juga bereaksi serupa. Ketika aura pembunuh itu dirasakan tubuhnya, bulu kuduknya merinding hebat.
Apalagi ada aroma bau busuk yang tercium ketika gerbang istana itu dibuka, membuat siapapun yang berencana ke dalam tidak akan betah dengan baunya.
Meski berat hati, pada akhirnya rombongan itu tidak jadi masuk, mereka memilih mengurungkan niatnya dari pada mati konyol di dalam.
"Dasar, rombongan penakut..." Lily mendengus sambil memandang rombongan itu dengan tatapan sinis. "Jadi apa yang kita lakukan sekarang, langsung masuk?" Lily menoleh ke arah Jian Chen.
Jian Chen tidak dulu menjawab, ia melihat ke arah istana gerbang itu. Aura pembunuh yang dilepaskan istana tersebut jelas membuatnya terkejut.
"Sepertinya sudah ratusan bahkan ribuan nyawa yang telah terbunuh disini, membuat istana itu jadi mengeluarkan aura pembunuh..." Lily berdecak berulang kali sambil menggeleng pelan. "Kadang manusia lupa, harta tidak akan berharga jika mereka mati..."
Jian Chen kemudian melirik gadis itu. "Menurutmu, apakah aku harus ke dalam?"
Jian Chen nyengir lebar, ia tidak menjawab pertanyaan gadis itu melainkan langsung mendarat di tanah, berjalan mendekati gerbang istana sementara Lily hanya memutar bola matanya dengan malas, jelas sekali pemuda itu tidak akan mendengar perkataannya.
Jian Chen dan Lily mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang istana, aura pembunuh yang dikeluarkan istana itu tidak akan berpengaruh pada Jian Chen.
Lorong istana tampak luas, seperti istana besar pada umumnya, yang membedakan adalah Istana ini terbuat dari emas secara keseluruhan.
"Ini benar-benar emas asli, tidak mengherankan orang-orang akan terpikat kesini..." Jian Chen mengetuk-ngetuk dinding istana yang memang terbuat dari emas.
Semakin keduanya maju, lorong istana semakin kotor dan berdebu, nyatanya Istana itu tidak terawat dari dalam, tampak jelas ada banyak jaring laba-laba yang terbentuk di sudut-sudut lorong.
Aroma bau busuk tambah kental menyengat hidung, Jian Chen mengerti sudah saatnya ia mendekati lokasi jasad-jasad pendekar yang telah gugur di dalam istana ini.
"Apakah ada sesuatu?" Tanya Jian Chen pada Lily, gadis itu tampak khawatir pada lingkungan di sekelilingnya.
"Tidak ada, aku hanya tidak terbiasa dengan Istana yang terbuat dari emas ini."
Jian Chen menyipitkan matanya, ia merasa Lily seperti sedang ketakutan tetapi pada akhirnya ia tidak membahas itu lebih jauh.
Jian Chen dan Lily akhirnya tiba di ruangan pertama, sebuah ruangan yang besar dan megah dengan arsitektur layaknya istana sungguhan.
Sebenarnya Jian Chen akan takjub dengan kemegahan Istana tersebut tetapi perhatiannya sedang tidak tertuju ke sana melainkan pada jasad-jasad yang tergeletak di lantai istana.
Hampir ribuan jasad sudah tergeletak di mana-mana, Jian Chen memahami mereka semua terbunuh di ruangan ini dan itu membuatnya jadi semakin waspada.
Benar saja, tak lama kemudian, suara desisan hewan terdengar memenuhi langit-langit istana. Tidak hanya satu tetapi berjumlah banyak.
Jian Chen membelalakan matanya saat belasan portal ungu tiba-tiba terbentuk di depannya, portal itu hampir sama dengan yang gurunya ciptakan waktu dia berpisah.
Dari dalam portal muncullah belasan laba-laba yang sukuran kereta besar. laba-laba itu berwarna hijau, tampak menyeramkan dengan taring-taring tajam di mulutnya.
Melihat keberadaan yang menyusup istana, laba-laba itu mendesis marah ke arah Jian Chen dan menganggapnya sebagai ancaman.
"Mereka adalah penjaga istana ini..." Jian Chen mengaktifkan mata langitnya, sekejap ia langsung mengetahui kekuatan siluman itu. "Siluman yang berusia hampir seribu tahun, kekuatannya menyamai mereka yang berada di Alam Langit..."
Jian Chen berdecak kesal, ia kini memahami kenapa banyak jasad di sekelilingnya.
Laba-laba itu terus bermunculan di dalam portal, setidaknya jumlah mereka sekarang sudah hampir lima puluh lebih.
Jian Chen menciptakan pedang es di tangannya, bersiap melakukan pertarungan. "Lily, bantu aku dari jauh, kita bisa-..."
Belum sempat Jian Chen menyelesaikan kalimatnya saat Lily tiba-tiba bersembunyi di balik punggungnya.
"Apa yang kau lakukan?" Jian Chen menaikan alisnya.
Lily batuk pelan. "Ehm, Kau tau, semua wanita itu takut laba-laba..."
Jian Chen mengerutkan dahi. "Kau takut laba-laba?"
"Aku tidak takut, hanya sedikit geli..." Lily tiba-tiba merinding hebat saat melihat laba-laba itu mendesis kembali, ia buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik punggung Jian Chen. "Kau laki-laki, atasi mereka sendiri. Aku tidak bisa melawan mereka!"
Jian Chen menepuk jidat, tidak menyangka wanita ras peri itu akan takut dengan seekor laba-laba yang bahkan lebih lemah darinya.
Sekejap Lily seperti gadis pada umumnya, wajahnya memerah malu saat ia harus mengakui kelemahannya di depan Jian Chen.