Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 319 — Kemampuan Jian Chen


Jian Chen menyemburkan api dengan cukup besar di mulutnya, dalam waktu seketika ia berhasil menciptakan sebuah lautan api yang cukup luas.


Api yang Jian Chen semburkan bergerak cepat ke arah pasukan Kekaisaran bagai sebuah ombak api yang menerjang.


Kaisar Qilin dan lainnya sampai terkejut melihat badai api tersebut, tidak menyangka seorang pendekar bisa menyemburkan api demikian besarnya.


Setidaknya dibutuhkan tenaga dalam yang sangat besar untuk mengeluarkan api sebanyak itu.


Kaisar Qilin kemudian memerintahkan para pendekar yang memiliki elemen air untuk memadamkan apinya, sekitar seribu orang kemudian berjejer rapih sebelum menyemburkan air di mulutnya untuk menghentikan laju api Jian Chen.


Lautan api Jian Chen beradu dengan lautan air lawannya, dalam waktu seketika api yang Jian Chen keluarkan berhasil mereka padamkan.


Asap uap yang dikeluarkan segera memenuhi udara sekitarnya selama beberapa saat akibat api dan air bertemu, pasukan Kekaisaran Qilin serempak menghentikan langkahnya untuk bergerak maju karena merasakan uap panas dari asap tersebut.


Sesudah asap uap menghilang, barulah Kaisar Qilin melihat sosok Jian Chen lagi, ia tidak menyangka kekuatan Jian Chen berhasil membuat puluhan ribu pasukannya harus menghentikan langkah.


"Pendekar, kalau aku boleh tau, siapa anda dan alasan apa hingga anda bertindak demikian?" Kaisar Qilin berkata lantang, ia memasukkan tenaga dalam agar suaranya menjangkau Jian Chen dan seluruh pasukan.


Kaisar Qilin tidak akan berkomunikasi jika itu orang lain yang tiba-tiba menyerang pasukannya, mungkin ia akan menghabisinya dengan cepat namun Jian Chen adalah perkara berbeda setelah melihat kekuatannya langsung.


"Kudengar kalian akan menyerang Kekaisaran Naga, apakah berita itu benar?" Jian Chen juga berkata tak kalah lantang.


"Benar pendekar, apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan."


"Kalau begitu pergilah dari sini jika pasukanmu tidak mau dibantai, ini adalah peringatan keras bagi kalian sebelum aku melakukan sesuatu yang lebih jauh."


Mendengar hal tersebut sontak para pasukan Kekaisaran Qilin menjadi marah, dan menganggap ucapan Jian Chen adalah penghinaan bagi mereka.


"Apa yang kau lakukan jika kami terus menyerang, apakah kau akan menghalangi kami?" Berbeda dengan pasukannya, Kaisar Qilin tertawa mendengar omongan Jian Chen.


"Jika kalian terus maju maka jangan salahkan aku yang harus bertindak menggunakan kekerasan."


"Pendekar, apakah kau rabun atau buta, kau ingin menghadapi puluhan ribu pasukan kami seorang diri. Kuakui kau memang kuat tetapi kekuatanmu tidak cukup untuk melawan kami semua." Kaisar Qilin mulai mengangkat tangannya.


Jian Chen menghela nafas, meski menyadari berdiskusi tidak akan membantu situasinya namun tetap saja di hati kecilnya ia berharap mereka menyerah dan mundur dari Kekaisaran Naga.


"Jika itu yang ingin kalian lakukan maka kita tidak perlu berdiskusi lagi, mari kita gunakan cara sebagai seorang pendekar..."


Usai Jian Chen berkata demikian ia langsung berlari ke arah pasukan Kekaisaran Qilin seorang diri.


Kaisar Qilin hendak memerintahkan pasukannya untuk menyerang Jian Chen juga namun salah satu Tetuanya tiba-tiba mengingatkan.


"Yang Mulia, kita harus fokus pada tujuan kita, jangan membuat hanya satu orang langkah kita harus berhenti."


"Tetua Lin, aku mengerti maksudmu tapi selama pendekar itu masih ada, pasukan kita akan kesulitan menyerang Kekaisaran Naga..." Kaisar Qilin mengabaikan peringatan Tetuanya sebelum meniup sebuah terompet besar.


Terompet itu memberikan sinyal pada pasukannya untuk bersiap menyerang, dalam waktu seketika, semua pasukannya mulai bergerak dan menyerbu Jian Chen.


Jian Chen mulai memainkan pedangnya dengan lincah dan tajam, para pendekar yang berada di Alam Kehidupan sampai Alam Hampa tak bisa mengikuti gerakan pedangnya sehingga Jian Chen bisa menghabisi mereka dalam sekali serangan.


Tidak peduli mereka memakai baju pelindung atau pusaka kuat, pedang asura di pegangnya tidak bisa dihentikan.


Dalam kurun waktu cukup singkat Jian Chen berhasil menghabisi puluhan dari mereka, Jian Chen sedikit menahan nafasnya saat menyadari ia sudah di kepung seperti semut yang dikerumuni gula.


Jian Chen tidak takut melainkan terus bergerak maju, dengan sebilah pedang di tangan tidak ada yang bisa menghadangnya.


Jian Chen bagai dewa kematian yang turun dari langit, pasukan Kekaisaran Qilin begitu tidak berdaya berhadapan dengan Jian Chen dan dalam waktu seketika, pemuda itu sudah membuat sungai darah di area sekitarnya.


"Kau pikir bisa bertindak sesukamu!"


Lima pendekar Alam Langit menghadang Jian Chen yang terus membunuh pasukannya tanpa pandang bulu. Jika dibiarkan terus Jian Chen bisa-bisa menghabisi rekannya lebih banyak lagi.


Lima pendekar itu bekerja sama menyerang Jian Chen dari berbagai sisi, nyatanya serangan mereka tidak cukup membuat langkah Jian Chen terhenti.


"Kerjasama kalian sangat kompak namun tidak cukup untuk melukaiku!"


Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya lalu mengayunkannya dengan cepat, pisau udara yang tajam segera tercipta.


Lima pendekar Alam Langit itu menahan serangan pedang Jian Chen dengan pusaka mereka.


Pusaka kelimanya cukup bagus sehingga mereka berhasil menahan pisau angin Jian Chen tetapi tetap saja, tubuh mereka terdorong cukup jauh dengan pusakanya yang mulai di penuhi retakan halus.


Jian Chen tidak punya waktu untuk menangani mereka, ia memfokuskan menghabisi pendekar sekitarnya kembali. Siapapun yang berada dalam jangkauannya akan terhabisi dengan cepat.


Menyadari lima Alam Langit tidak cukup, empat alam Langit datang dan ikut bergabung menyerang Jian Chen.


Lima Alam Langit sebelumnya juga kembali bertarung sehingga kini Jian Chen melawan sembilan Alam Langit sekaligus.


Koordinasi mereka jadi lebih melengkapi satu sama lain, sembilan Alam Langit terus menyerang Jian Chen tanpa celah sedikitpun, tidak membiarkan pemuda itu mengambil nafas atau menyerang balik.


Biarpun Jian Chen sedang melawan kesembilan lawannya kenyatannya situasinya tidak demikian, Jian Chen harus membagi perhatiannya pada pasukan yang berada di dekatnya, walaupun mereka berada di Alam Hampa kebawah namun pasukan itu siap menyerangnya jika menemukan celah.


"Kalian lebih merepotkan dari yang aku kira tetapi bagaimana dengan ini..." Jian Chen mengubah permainan pedangnya yang kini telah dipadukan dengan ilmu tendangan.


Kepungan sembilan Alam Langit itu segera mulai mengendur, Jian Chen memutar balik situasinya dan kini diposisi mengungguli.


"Dia? Bagaimana bisa menggunakan teknik serumit ini?"


"Tidak mungkin, kekuatannya benar-benar jauh dari jangkauan kita!"


Jian Chen tidak peduli dengan komentar lawannya, ia mengayunkan pedangnya lebih cepat lagi kini tiga dari sembilan Alam Langit itu tak bisa menghindarinya alhasil mereka terbunuh dalam satu ayunan pedang.


"Panggil pendekar tingkat tinggi lainnya kesini, kemampuannya terlalu tinggi untuk dilawan pendekar Alam Langit!" Seru salah satu dari mereka.