
Wilayah klan Wuming berada di sebelah selatan Ibukota, sedikit terpencil dengan daerah kawasan klan lain, itu karena mereka menginginkan letaknya yang terpisah agar terlihat menonjol di Ibukota.
Klan Wuming sendiri merupakan klan besar sehingga memiliki wilayah yang cukup luas.
Jian Chen melangkah pelan ke sana, mendekati pusat pemerintahan klan Wuming di setiap langkahnya. Baru beberapa detik kakinya melangkah ia sudah di hadang oleh beberapa pendekar klan Wuming.
Jian Chen tidak banyak berbicara dengan mereka, dengan sekali kedipan mata ia sudah berada di depan salah satu pendekar tersebut dan memberikan pukulan yang dahsyat.
Pukulan itu membuat pendekar itu terpental kuat dan langsung tak sadarkan diri. Sebelum pendekar yang lain bereaksi Jian Chen sudah memberikan serangan susulan.
Kekuatan pukulan atau tendangan Jian Chen sengaja di turunkan karena ia tidak bisa membunuh mereka seenaknya, sebagian pendekar klan Wuming juga tidak bisa disalahkan karena memang ada yang tidak mengetahuinya.
Serangan yang sama agar membuat mereka langsung tak sadarkan diri.
Kedatangan Jian Chen segera di ketahui lebih banyak penduduk klan Wuming, belasan pendekar dari mereka kini sudah berdiri dan menyibukkan Jian Chen.
Jian Chen sama sekali tidak gentar melawan lebih banyak lagi, langkahnya terus bergerak sambil melumpuhkan pendekar klan Wuming satu persatu.
Keberadaan Jian Chen berhasil membuat kericuhan pada klan Wuming, tidak membutuhkan waktu yang lama hingga salah satu Tetua mereka datang dan menyerang Jian Chen.
"Kau pikir bisa bertindak sesukamu di wilayah klan Wuming?!" Tetua itu melompat dan memberikan serangan tapak kuat pada Jian Chen. Ia berada di puncak Alam Hampa.
Jian Chen mengayunkan tapaknya kembali hingga kedua serangan saling beradu dan menimbulkan gelombang kejut yang lumayan.
Tetua itu terpental beberapa langkah usai beradu kekuatan sementara Jian Chen masih tetap berdiri di tempatnya semula.
Tetua itu berekspresi buruk setelah melihat kekuatan Jian Chen secara langsung, ia kemudian memberi isyarat pada bawahannya untuk mengeroyok Jian Chen
Tetua itu yakin bisa menang melawannya jika dibantu dengan jumlah.
"Hm, kupikir kau akan sedikit bermain-main denganku..." Jian Chen menggelengkan kepalanya pelan.
Jian Chen menyambut semua serangan dari kepungan itu sambil sesekali menyerang balik, dengan kecepatan pukulan dan tendangannya tidak sulit baginya mengungguli pertarungan.
Tetua klan Wuming terlempar hingga belasan meter setelah serangan tapak Jian Chen mengenai dadanya, darah mulai keluar dari sudut bibir Tetua itu.
"Panggil semua Tetua yang ada, biar aku yang menahan dia disini!" Ucap Tetua itu pada pendekar klan Wuming yang lain.
"Hm, aku ingin bertanya karena penasaran, seberapa kuat klan kalian untuk bisa menghadapi sosok sepertiku?" Jian Chen bertanya pada Tetua itu.
"Hmph! Cukup membuatmu mati sampai seratus kali..."
"Oh, itu menarik..." Jian Chen mengangguk pelan lalu melakukan perubahan jenis pada tangannya.
Salah satu tapak Jian Chen kini diselimuti api yang membara sementara tapak yang lain diselimuti elemen es.
Jian Chen tidak menunggu lagi dan langsung mendekati Tetua itu.
Tetua tersebut tampak terkejut dengan kecepatan yang Jian Chen tunjukkan sekarang, ia berusaha menahannya dengan tameng tenaga dalam namun tapak Jian Chen dapat dengan mudah menembusnya dan membuat ia terpental belasan meter.
Tapak Jian Chen barusan memberikan rasa sakit pada tulangnya apalagi kini kulitnya merasakan panas dan dingin secara bersamaan.
Tertua itu memuntahkan darahnya, serangan tapak Jian Chen juga jadi memperparah kondisinya karena Jian Chen menyerang di tempat yang sama.
Jian Chen tertawa kecil. "Kau bisa menyebutku sebagai pendekar yang kebetulan lewat..."
Jian Chen hendak mengangkat tangannya untuk menyerang Tetua itu tetapi sebelum terjadi ada belasan pisau terbang sudah mengarah padanya.
Ia tidak menghindari pisau itu melainkan langsung bergerak mundur dan mengambil jarak, ia kemudian melihat ada 7 Tetua lain yang datang dan semuanya berada di ranah Alam Hampa puncak dengan 2 diantaranya sudah berada Alam Langit awal.
"Apa kau baik-baik saja?"
Ketujuh Tetua itu tampak terkejut melihat kondisi Tetua yang pertama datang sudah terluka parah saat mereka sampai.
Tetua terluka mengangguk, ia menelan beberapa pil untuk meringankan luka dalamnya. "Dia terlalu kuat untuk dihadapi sendiri, kita harus menyerangnya bersamaan?"
Tujuh Tetua itu saling pandang sesaat ketika melihat Jian Chen. Mereka tidak terlalu yakin harus mengeroyok seorang pemuda yang terlihat belasan tahun.
Tujuh Tetua itu sudah mendengar laporan bahwa ada seseorang yang mengacaukan klan Wuming namun masih tidak menyangka hanya satu orang yang melakukannya.
Tetua yang terluka berdecak kesal, merasa tersinggung karena respon mereka. "Dengar, aku tahu dia terlihat muda tetapi kekuatannya cukup membuatku terluka tanpa perlawan..."
"Tetua ketiga, apa kau yakin atau karena meremehkannya hingga terluka seperti ini?"
Tetua yang terluka hampir murka, ia ingin sekali menampar Tetua itu tetapi situasinya tidak tepat.
Jian Chen yang menyaksikan percakapan mereka tertawa kecil. "Sebaiknya kau dengar perkataan rekanmu, terkadang penampilan bisa menipu seseorang."
Jian Chen tidak menunggu kedelapan Tetua itu berdiskusi, dengan kedua tapak api dan esnya ia bergerak menyerang mereka lebih dulu.
Salah satu Tetua yang berada di Alam Langit tahap pertama mencoba melihat kekuatan Jian Chen dengan menyerangnya seorang.
Keduanya bertukar beberapa jurus, Jian Chen tersenyum sinis ketika lawannya masih meremehkan kekuatannya sehingga dalam waktu sepuluh detik saja Tetua itu langsung terlempar dan muntah darah.
Tetua yang terluka sebelumnya tersenyum puas karena rekannya itu tidak mendengar peringatannya.
Melihat secara langsung kekuatan Jian Chen akhirnya Tetua yang lain mulai waspada dan siap menggunakan seluruh kekuatannya.
Jian Chen kembali maju dan melawan delapan Tetua itu sekaligus, kedelapan lawannya bekerjasama menyerang Jian Chen dari berbagai sisi dan tidak membiarkan Jian Chen mengambil nafas dengan tenang.
Biarpun lima detik pertama bisa mengimbangi Jian Chen yang di kepung namun secara perlahan mereka mulai di tekan Jian Chen.
"Apa, bagaimana bisa?!"
Kedelapan Tetua itu sudah merangkapkan serangannya tanpa memiliki jeda sedikitpun tetapi bukan hanya Jian Chen dapat menahan serangan mereka namun ia juga memberikan serangan balik yang sulit dihindari.
Jian Chen seperti membaca semua serangan lawannya, tak peduli para Tetua itu mengkombinasikan gerakan Jian Chen dapat mudah menghindarinya.
Satu hal yang membuat para Tetua itu bertanya-tanya adalah ketika pusaka tajam mereka berhasil mengenai tubuh Jian Chen, senjatanya seperti bertemu dengan baja yang keras.
Jian Chen tersenyum lebar melihat raut wajah lawannya, ia kemudian mengalirkan lebih banyak tenaga dalam pada serangannya yang membuatnya lebih kuat dan cepat.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga serangan Jian Chen berhasil membuat salah satu Tetua muntah darah dan jatuh pingsan.
Menyusul Tetua itu, tiga Tetua lain yang sedang didekatnya langsung menerima pukulan yang sama, membuat tubuh mereka terpental belasan meter sebelum tak sadarkan diri.