
"Aku menitipkan kudaku pada kalian selama aku pergi..."
Keesokan harinya Jian Chen dan lima gadis kembar bersiap mendaki Gunung Langit tersebut, mereka menaruh kuda-kudanya di penginapan asosiasi.
"Tenang saja Tuan muda, kami akan memberikan makan di minumnya disini. Kalau boleh tahu Tuan muda akan pergi kemana?" Tanya Pengurus penginapan itu.
Jian Chen tersenyum tipis, ia tidak memberitahu mereka karena bisa membuat mereka khawatir mengingat gunung Langit selalu di anggap tempat terkutuk bagi warga setempat.
Jian Chen hanya mengatakan ingin pergi ke suatu tempat bersama kelima gadisnya.
Dengan begitu ia kemudian berpisah dan meninggalkan kota menuju kaki gunung langit berada.
Walaupun disebut mendaki kenyataannya ada sebuah tangga untuk menaiki gunung langit yang terbuat dari bebatuan yang tersusun.
Tangga itu sangat panjang dan lurus, di sebutkan bahwa jumlah anak tangga di gunung langit memiliki sekitar seribu lebih anak tangga.
Setiap 5 anak tangga ada semacam gerbang Tori yang berwarna merah dengan di atasnya ada sebuah tulisan yang tidak dimengerti.
Seseorang yang melihat gerbang Tori itu akan merasakan kengerian dan peringatan untuk mereka yang ingin melewatinya apalagi melihat kusamnya kayu tori tersebut.
Suasana terlihat hening ketika rombongan Jian Chen tiba karena memang letak Gunung Langit berada di tengah hutan, tidak ada seseorang baik warga lokal atau pendatang baru yang berniat mendatangi tempat terkutuk ini.
Jian Chen menoleh ke atas tangga itu dan menyipitkan matanya, ia tidak bisa melihat ujung anak tangga tersebut walau menggunakan mata langit. Kabut atau awan putih menutupi tangganya di ketinggian tertentu.
"Dari sini kita akan berjalan pelan dan merapat..."
Lima Lan bersaudara mengangguk, rombongan mereka akhirnya mulai menaiki anak tangga satu persatu. Baik Jian Chen ataupun yang lainnya menatap sekelilingnya dengan waspada.
Beberapa langkah kemudian rombongan Jian Chen memasuki daerah kabut tersebut, Jian Chen menarik nafas yang dalam sebelum meneruskan langkah kakinya.
Suasana hening memenuhi sekitar rombongan Jian Chen, tidak ada suara yang terdengar di dalam sana, hewan kecil atau serangga yang biasanya hidup di hutan tidak tampak atau terdengar seolah semua suara akan lenyap di kabut putih itu.
Jian Chen melirik kelima gadis kembarnya, mereka tampak awas mengawasi sekitar meski di sekeliling hanya kabut putih yang menghalangi jarak pandang.
"Jian Chen, dengarkan perintahku!" Lily tiba-tiba berbicara di kepala Jian Chen, gadis itu tampak serius dari nada suaranya. "Apapun yang terdengar oleh telingamu, siapapun yang memanggilmu, entah kau mengenalnya atau tidak. Jangan menoleh kebelakang!"
Jian Chen menaikan alisnya. "Tapi aku tidak mendengar apapun?"
"Bukan waktunya untuk bertanya, peringatkan lima gadis itu sebelum terlambat!"
Jian Chen meneguk ludah sebelum mengangguk pelan, ia kemudian memberitahu lima gadis di sampingnya agar menuruti apa yang Lily barusan katakan.
"Eh, tapi aku tidak mendengar apapun Saudara Jian?" Lan Qiaoqiao tidak mengerti.
"Pokoknya kalian jangan menoleh ke belakang jika mau selamat, hanya itu syarat jika ingin mendaki gunung ini!"
Lan Qiaoqiao mengangguk, melihat Jian Chen mengucapkannya dengan serius menandakan peringatannya pada situasinya sekarang.
Langkah mereka terus berlanjut sampai suara seseorang memanggil nama Lan Qiaoqiao.
"Qiou'er, Nak, itu kamu sayang..."
Bukan hanya Lan Qiaoqiao saja, keempat saudarinya juga mendengar suara yang sama dari ibu mereka masing-masing, Jian Chen tidak lepas dari panggilan suara itu.
Jian Chen cukup mengenali suara seseorang yang memanggil namanya di belakang punggungnya.
"Kak Jian, kenapa anda tidak menoleh ke arahku, apakah pengorbananku tidak berarti sampai kau tidak mau melihat wajahku..."
Jian Chen mengepalkan tangannya keras ketika mendengar itu semua, tidak pernah ia bayangkan suara itu menyerupai seseorang yang di cintainya, dia adalah kekasih Jian Chen.
"Kak Jian, kita sudah hidup sangat lama, apakah kau tidak ingin melihat wajahku walau hanya sedetik saja..." Suara itu kembali terdengar dan nadanya seperti ingin menangis.
Jian Chen menghela nafas, suara lembut dan hangat itu memang berasal dari kekasihnya karena Jian Chen tidak pernah melupakan suara itu seumur hidupnya.
"Jian Chen!"
Suara teriakan Lily segera menyadarkan Jian Chen dari lamunannya, gadis itu takut Jian Chen akan tergoda untuk menoleh ke belakang. Bukan hanya suara panggilan itu menyerupai orang-orang yang mereka kenal, suara yang sama juga mengandung hipnotis.
Jian Chen segera menyadarkan kelima gadis yang bersamanya, mereka sedang mengalami godaan yang sama.
"Itu adalah suara ilusi, mereka tidak pernah benar-benar ada di belakang kalian..."
Jian Chen menyuruh mereka saling berpegangan tangan dan meneruskan langkah sementara Jian Chen akan berjalan di belakang mereka.
Beberapa jam berlalu mereka terus menaiki gunung, tidak terlihat dari luar apakah hari sudah siang ataupun sore karena cahaya matahari tidak tembus ke kabut itu.
Suara-suara yang lain semakin terdengar ketika mereka terus menaiki anak tangga, Jian Chen sudah mendengar bebagai suara di telinganya dimulai dari panggilan orang tuannya sampai suara guru Jian Chen sekalipun.
Jian Chen akhirnya menemukan secercah cahaya di ujung tangga itu, ketika tiba di sana ia langsung melihat sesuatu yang membuat matanya terbuka lebar sekaligus terpana.
Rombongan Jian Chen memang telah berhasil sampai di puncak Gunung Langit, ketika di atas sana seperti berada di atas langit sungguhan.
Tampak di sekitar gunung itu hanya menemukan daratan awan terhampar sepanjang mata memandang, seumur hidup ia baru melihat pemandangan menakjubkan seperti ini.
Jian Chen tersenyum lalu perhatiannya tertuju ke tempat sebuah kolam kecil yang terbentuk dari bebatuan alami serta di tengah-tengahnya ada sebuah pohon yang bertengger dan berdaun emas.
Di pohon itu terdapat ada sesuatu yang menggantung seperti buahnya yang berbentuk apel emas.
"Ini tidak salah lagi... Buah itu adalah Apel emas yang melegenda!" Lan Qiaoqiao menarik nafasnya tertahan, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Sekitar ada dua belas apel emas yang menggantung di pohon tersebut.
Jian Chen tersenyum tipis, ia tentu mengenal apel emas itu dan pernah memakannya di kehidupan pertama setelah diberi oleh gurunya.
Apel emas memiliki khasiat tinggi bagi pendekar yang memakannya, buah itu bisa menyembuhkan luka dalam paling serius sekalipun bahkan mempunyai manfaat untuk pembentukan tenaga dalam hingga seratus lingkaran.
Biarpun warna buah itu mengkilap seperti emas sungguhan namun jika di makan langsung buah itu tidak jauh berbeda dengan apel biasa.
Apel emas merupakan buah yang langka, saking langkanya, buah itu di sebut mitos karena tidak pernah ada yang melihatnya kecuali hanya segelintir orang dari jutaan orang.
Jian Chen tidak menyangka akan menemukan buah melegenda itu disini, sepertinya memang benar ada harta karun yang tersembunyi dari Gunung Langit.