Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 258 — Ibukota Kekaisaran


"Kita bisa saja sampai sekarang tetapi langit sudah hampir gelap, sebaiknya besok saja kita melanjutkan perjalanan menuju Ibukota..."


Beberapa hari berlalu, Jian Chen sudah dekat dengan tujuannya, mungkin tinggal setengah hari lagi hingga mereka bisa sampai ke ibukota Kekaisaran.


Jian Chen memberhentikan kudanya ketika waktu telah menjelang malam, seperti biasanya ia akan membuat api unggun.


Meski jarak tujuannya sudah dekat tetapi Jian Chen melihat kedua gadisnya tampak tidak terlalu bahagia. Jian Chen mencoba menanyakan alasannya.


"Itu..." Ziyun mengigit bibirnya saat Jian Chen menyadari perasaannya. "Saudara Jian, bagaimana jika pendekar-pendekar yang mengejarku datang kembali..."


Jian Chen jadi teringat tentang hal tersebut ketika Ziyun menyinggungnya, ia sempat mengintrogasi orang-orang yang mengejar Ziyun saat di penginapan dulu.


Berdasarkan informasi dari mulut mereka, orang-orang yang mengejar kedua gadisnya berasal dari klan Wuming.


Jian Chen sendiri memang mengetahui klan tersebut namun hanya informasi sekilas saja, salah satu yang terkenal di klan Wuming yaitu tentang teknik mata mereka.


Jian Chen mengusap lembut pipi Ziyun, "Aku sudah berjanji akan melindungi kalian, percayalah padaku..."


Ziyun sebenarnya tidak peduli dengan keselamatannya tetapi ia lebih memikirkan Meily dan Jian Chen. Ia tidak mau keduanya terlibat dalam masalahnya.


Ziyun menatap mata Jian Chen sesaat sebelum mengangguk pelan sementara Meily tidak banyak bicara tetapi wajahnya juga diikuti kecemasan.


Jian Chen kemudian meminta Ziyun menyerahkan Pedang Dewa Es padanya selama beberapa waktu.


"Mereka hanya mengincar pedang ini jadi jika mereka menginginkannya maka harus merebutnya dariku..." Jian Chen kemudian mengatakan bahwa ia punya rencana sendiri perihal masalah Ziyun dan klan Wuming ini.


Keesokan harinya keduanya melanjutkan perjalanan dan tepat ketika matahari berada di puncak, ketiganya sudah bisa melihat Ibukota Kekaisaran.


Ibukota Kekaisaran adalah kota terbesar di Kekaisaran Naga, kota yang menampung belasan klan serta keluarga bangsawan.


Ibukota Kekaisaran adalah kota yang padat, memiliki jutaan penduduknya, menurut catatan bahwa hampir empat puluh persen populasi jumlah penduduk Provinsi Naga Api berada di ibukota.


"Ternyata tidak ada yang berubah meski berada di 8 tahun yang lalu..." Jian Chen yang melihat Ibukota itu tersenyum dengan tipis.


Ia bisa dibilang pernah mengunjungi Ibukota di kehidupan pertama setelah selesai latihan dari gurunya, waktu itu usianya sudah dua puluh enam tahun.


Ibukota Kekaisaran bernama Kota Shandong di kota inilah istana Yang Mulia Kaisar berada, tepatnya di pusat Kota Shandong.


Jian Chen memacu kudanya hingga ia tiba di gerbang pintu masuk kota, Kota Shandong memiliki benteng yang kokoh dan sangat tinggi. Jian Chen harus mengangkat kepalanya untuk melihat ujung benteng tersebut.


"Tunggu sebentar, kami akan memeriksa kalian!"


Tiga petugas gerbang menghentikan kereta Jian Chen saat hendak melewati gerbang, selain mereka meminta identitas untuk ditunjukkan, mereka juga memeriksa isi dalam kereta Jian Chen.


Tiga petugas itu tampak bereaksi saat melihat kartu emas tanda pengenal Jian Chen, ia memandang pemuda di depannya sekali lagi lalu melirik kedua gadis di sampingnya, wajah mereka sedikit terkejut saat melihat Ziyun dan Meily.


"Apakah ada sesuatu?"


Jian Chen bertanya dengan nada dingin saat melihat tatapan tiga penjaga itu pada dua gadisnya.


Jian Chen bukan cemburu tetapi reaksi mereka jelas tidak wajar, setahu Jian Chen dengan pengalamannya, ketiga penjaga itu tampak mengenal Ziyun dan Meily.


"Ah tidak, maaf karena telah menghambat perjalanan kalian, sekarang kau boleh memasuki kota..."


Jian Chen menyipitkan matanya pada ketiga penjaga itu yang membuat mereka berkeringat dingin serta sedikit salah tingkah. Jian Chen mendengus dan mengayunkan tali pelananya, melangkah memasuki Ibukota.


'Lebih ramai dari yang kuingat...'


"Saudara Jian, apa ada sesuatu dengan petugas itu?" Ziyun bertanya setelah keretanya telah menjauh dari tiga petugas sebelumnya.


Ziyun dan Meily sekarang sedang duduk di sisi samping Jian Chen.


"Aku tidak terlalu yakin tetapi mereka sepertinya mengenal kalian?"


"Apa itu karena pedangku?"


Jian Chen tidak dulu menjawabnya, ada kemungkinan memang benar tetapi ia tidak langsung menjawab karena akan membuat Ziyun khawatir.


"Aku tidak tahu tapi yang pasti setelah kalian berada disini, setidaknya kalian telah aman..." Jian Chen mengelus pucuk kepala gadis itu.


"Saudara Jian..." Meily dari samping yang lain memanggil namanya sambil memainkan jarinya dengan malu-malu.


Jian Chen terkekeh, ia mengelus pucuk kepala Meily juga, sepertinya gadis itu cemburu karena tidak dielus juga.


Jian Chen kemudian mengatakan bahwa keduanya sebaiknya tidak langsung ke akademi, sederhana saja karena kalau sekarang Ziyun dan Meily ke sana, pendekar klan Wuming sudah menunggunya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Ziyun bertanya cemas.


"Tidak ada, setelah aku mengantar kalian berdua ke penginapan, kalian berisitirahat di sana terlebih dulu, besoknya baru kita akan pergi ke Akademi."


Meily dan Ziyun tampak kebingungan tetapi ia tidak membantah perkataan Jian Chen, keduanya yakin ada alasan kuat Jian Chen berkata demikian.


Jian Chen akhirnya menemukan sebuah penginapan yang sederhana di barisan bangunan kota, sebenarnya ada banyak penginapan di sana tetapi Jian memilih yang sederhana.


Usai memesan tiga kamar, Meily dan Ziyun langsung membersihkan dirinya, Jian Chen juga tak ketinggalan, ada kolam berendam di penginapan tersebut.


Ketika malam saat Jian Chen sedang berlatih di kamarnya, ia tiba-tiba menyadari ada seseorang yang memantaunya di luar penginapan.


Orang itu sengaja menyembunyikan keberadaannya tetapi di hadapan kemampuan Jian Chen, mereka tetap terdeteksi.


Jian Chen langsung melompat keluar jendela untuk melihat orang-orang tersebut, suaranya yang pelan tidak akan disadari orang-orang itu.


Ia kemudian mendapati ada tujuh orang yang berada di atas genteng bangunan yang memantau penginapan yang ia tempati.


Mereka sedang berbisik-bisik dengan penglihatan tertuju ke kamar Ziyun dan Meily. Jian Chen memantau mereka sejenak sebelum mendengar dari bisikan itu bahwa mereka adalah pendekar dari klan Wuming.


Tanpa basa-basi lagi, Jian Chen muncul di belakang mereka, dengan satu ayunan tangan, ia dengan cepat memukul tengkuk leher mereka yang membuatnya langsung pingsan.


Orang-orang itu terlambat menyadari kedatangan Jian Chen, barulah ketika tersisa hanya 3 orang lagi mereka sadar rekan-rekannya telah tak sadarkan diri.


Jian Chen tersenyum dingin sebelum muncul di belakang mereka dan memukul tengkuk lehernya kembali. Ia hanya menyisakan satu orang untuk diinterogasi.


Saat Jian Chen hendak mengintrogasinya, ada sebuah suara dari arah belakangnya.


"Anak muda, kau sepertinya mempunyai kemampuan yang cukup untuk berurusan dengan klan kami..."


Jian Chen mengerutkan dahi ketika melihat orang itu adalah dua pria yang sudah sepuh, yang membuat Jian Chen sedikit heran karena kekuatan mereka yang merupakan pendekar Alam Langit.


"Ah, jadi begitu, kalian adalah bagian dari klan Wuming yang menginginkan pedang pusaka seseorang, apakah tebakanku benar?" Jian Chen tersenyum lebar.


Pertanyaan Jian Chen membuat dua pria sepuh itu terkejut sekaligus waspada, Jian Chen bisa mengenal asal klan mereka bukanlah hal mengherankan tetapi mengetahui tujuannya adalah cerita lain.