
"Apa hanya segini kemampuanmu?" Wu Yi tertawa mengejek melihat Lun Zhi sudah terpojok dengan nafas terengah-engah.
Tubuh Lun Zhi dipenuhi goresan luka pedang saat melawan Wu Yi, masalahnya pendekar yang sudah pensiun itu di bantu oleh 6 pendekar Alam Hampa untuk melawannya.
"Kalian para kriminal memang tidak tahu malu, ya? Bukankah kau mengatakan ingin bertarung satu lawan satu..." Lun Zhi meludahkan darah yang keluar dari mulutnya sambil tersenyum mengejek.
Wu Yi mendengus dingin, dia tidak menjawabnya melainkan mengayunkan pedangnya yang menciptakan gelombang pedang.
Gelombang pedang itu dipenuhi tenaga dalam yang besar, Lun Zhi harus menahan sekuat tenaganya menahan serangan itu, Biarpun berhasil di tahan dengan tongkatnya ia tetap terdorong beberapa langkah.
Nafas Lun Zhi sudah terputus-putus sementara ia belum menemukan cara bisa memenangkan pertarungan atau lolos dari lawannya.
Di sisi lain ia juga memikirkan kondisi pasukannya yang semakin terpojok. Akibat banyaknya jumlah lawan, pasukan Kekaisaran dipukul mundur hingga berdekatan dengan benteng kota.
Jika kondisi ini terus berlanjut maka hanya soal waktu pasukan Kekaisaran dikalahkan dan pasukan organisasi menyusup ke dalam kota.
"Apa hidupku hanya bisa sampai disini..."
Lun Zhi tersenyum pahit mengingat kondisinya sekarang. Sisa tenaga dalamnya sudah digunakan untuk menghentikan pendarahan di tubuhnya. Ia hanya bisa bertahan dan tidak bisa lagi menyerang balik.
Saat keputusasaan mulai melanda hatinya, di saat semua harapan telah sirna, sebuah energi pedang berbentuk api merah, menghantam pasukan organisasi dan meledak kuat.
Ledakan itu terdengar keras, membunuh setidaknya belasan pasukan organisasi yang berdempetan.
Belum selesai mereka mengetahui ledakan itu, energi pedang yang lain datang dari arah belakang dan membunuh belasan pasukan yang lain.
Ekspresi Wu Yi memburuk, tangannya mengepal keras dan emosinya memuncak. Ia ingin mengumpat pada orang yang menyerang dari arah belakang tersebut namun kata-katanya tersangkut di tenggorokan saat melihat pelakunya.
"Tidak mungkin?! Bagaimana kau bisa ada disini?" Wu Yi tampaknya tidak memperdulikan lagi Lun Zhi yang terluka dan bisa dihabisi kapan saja, wajah pria tua itu dipenuhi ketakutan saat melihat Jian Chen.
Disisi lain Lun Zhi sama terkejutnya ketika melihat Jian Chen, ia pikir pemuda itu tidak akan membantunya dan memilih pergi.
"Kenapa? Tentu saja aku akan mengatasi kalian dan kali ini akan kupastikan kau tidak akan lolos lagi..." Jian Chen menghunuskan pedang Asuranya, mengarahkan pada Pendekar Kematian tersebut.
Wu Yi menelan ludah serta berkeringat dingin, ia sudah berhadapan dengan Jian Chen satu kali dan ia yakin berhadapan dengan kembali bukanlah hal yang bijak.
Wu Yi memberi instruksi pada enam pendekar Alam Hampa untuk maju dan menyibukkan Jian Chen.
Enam pendekar Alam Hampa itu belum mengetahui kekuatan Jian Chen sementara mereka juga tidak bisa meraba kultivasinya. Keenamnya maju dan saat itu Wu Yi langsung berbalik badan dan berniat pergi.
Jian Chen tersenyum sinis, satu yang diluar perhitungan Wu Yi, Jian Chen tidak memperdulikan keenam pendekar yang menghampirinya. Ia dengan cepat mengejar Wu Yi sebelum pria tua itu bergerak cukup jauh.
Wu Yi bukanlah pendekar yang mempunyai kecepatan tinggi, di tambah ia sudah bertarung berat malam ini sehingga dalam beberapa kedipan mata Jian Chen sudah menyusulnya.
Jian Chen berdiri di hadapan Wu Yi sambil tersenyum lebar. "Sudah kubilang, kau tidak akan bisa lari kali ini..."
Wu Yi merapatkan giginya. "Kau pikir aku tidak bisa melawanmu?"
Jian Chen mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedang asura, pedang yang berwarna merah itu kini telah bersinar menjadi ungu kehitaman akibat dialiri tenaga dalam Lily.
Tanpa menunggu lagi Jian Chen terlebih dulu maju, Wu Yi mengigit bibirnya, meski ragu ia tidak punya pilihan lain selain melawan. Wu Yi memegang pedangnya lebih erat dan beradu jurus dengan Jian Chen.
Keahlian pedang pendekar pensiun itu sangat berbeda jauh dengan Jian Chen di tambah lawannya menggunakan pedang asura, tidak membutuhkan waktu lama ia terpental dan memuntahkan darah.
"Tunggu dulu, jangan bunuh aku! Jika kau meminta sesuatu aku akan memberikanmu apapun yang kau inginkan, tolong jangan bunuh aku..." Pria sepuh itu menjerit, seumur hidupnya baru pertama kali ia dekat dengan kematian seperti ini.
Jian Chen yang sedang menghampirinya menghentikan langkahnya. Ia berpikir beberapa saat sebelum menggeleng pelan. "Sayang sekali, aku sekarang lagi tidak membutuhkan apapun..."
"A-aku punya uang besar di perguruanku, kekuasaan dari beberapa desa dan aku juga bisa menjadi bawahanmu. Kumohon..."
Jian Chen tersenyum mengejek, ia tidak menjawab dan terus melanjutkan langkahnya yang membuat pria sepuh itu berkeringat dingin.
"Berhenti-! Jika kau membunuhku maka dua Shio akan datang dan membuat perhitungan atas kematianku. Kau tidak akan bisa lari dari mereka bahkan jika bersembunyi di ujung dunia sekalipun..."
Merasa tawarannya tidak bekerja, Wu Yi malah berbalik dan mengancam Jian Chen, hanya saja berapapun pria tua itu berbicara Jian Chen terlihat tidak peduli.
Jian Chen akhirnya sudah berdiri di dekatnya. "Apa ada kata-kata terakhir lagi?"
"T-tunggu, kau tidak boleh membunuhku. Aku akan-..."
Jian Chen tersenyum dingin, dalam secepat kilat pedangnya sudah terlepas dari sarungnya dan memisahkan leher Wu Yi dari tempatnya.
Pendekar kematian itu bahkan tidak sempat melihat pedang Jian Chen saat tahu-tahu kepalanya sudah menggelinding ke tanah.
Lun Zhi melihat itu menjadi gemetar dan sedikit ketakutan, ia bisa melihat Jian Chen amat tersenyum puas atas kematian Wu Yi yang mati mengenaskan.
Umumnya para pendekar kriminal pun sering merasa ragu dalam mengambil nyawa, hanya segelintir pembunuh yang amat menikmati akan pembunuhan dan Jian Chen bukan salah satu di antara keduanya.
Sulit mengatakan Jian Chen berada di pihaknya tetapi Lun Zhi hanya bisa menerima kenyataan kalau Jian Chen saat ini sedang membantu menyelamatkan kota.
"Pendekar Jian, terimakasih karena telah membantuku..." Lun Zhi kini membungkukkan badannya dengan penuh hormat, menyembunyikan ketakutan dari ekspresi wajahnya.
"Pendekar Lun, kita tunda dulu bicaranya, peperangan ini masih jauh dari kata berakhir..." Jian Chen menunjuk pasukan organisasi serta enam pendekar Alam Hampa didekatnya.
Jian Chen memberikan botol pil pada Lun Zhi agar menyembuhkan luka yang terukir di tubuhnya. Tanpa menunggu lagi, Jian Chen bergerak ke 6 pendekar Alam Hampa yang sempat akan lari.
Enam pendekar itu jelas mengetahui situasinya, setelah Jian Chen dapat membunuh pendekar kematian hanya hitungan detik maka membunuh mereka bukanlah perkara yang sulit.
Keenamnya hendak berlari namun kecepatan Jian Chen yang terbang bisa menyusulnya dengan singkat.
Jian Chen melepaskan hawa dinginnya yang membuat keenamnya tidak bisa bergerak dan mematung di tempatnya berdiri, ia kemudian mengayunkan pedang Asura dengan kuat, membelah tubuh pendekar Alam Hampa malang itu satu persatu.
Jian Chen tersenyum lebar setelah membunuh keenamnya, pedang asura secara spontan langsung memberikan sensasi gairah setelah membunuh mereka.