Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 167 — Serangan Kota


Ketika keluar penginapan, Jian Chen menemukan banyak orang bertopeng yang sudah bermunculan di kota, sebagian dari mereka sedang bertarung dengan beberapa petugas kota dan sisanya menyerang para penduduk.


Para pendekar bertopeng terus berdatangan melewati gerbang, jumlahnya yang awalnya hanya beberapa berubah menjadi belasan hingga terus sampai jadi puluhan orang.


Petugas-petugas kota tak lama kemudian juga bermunculan dan menghadapi pendekar bertopeng itu namun karena jumlah lawannya terlalu banyak sehingga sebagian mereka lolos masuk ke pemukiman penduduk.


Para pendekar kota Shui tak tinggal diam ketika pendekar bertopeng itu mulai menyerang warga tak bersalah, mereka ikut membantu petugas kota menghadapinya.


Situasi kota jadi tampak kacau oleh banyaknya pertarungan, warga setempat mulai berlarian untuk mencari tempat aman.


Lan Qiaoqiao sampai sulit berkata apa-apa melihat situasi tersebut. "Saudara Jian, bukankah topeng itu..."


Jian Chen mengepalkan tangannya keras. "Mereka berasal dari organisasi Menara Iblis!"


Jian Chen tidak menyangka organisasi yang di bahasnya barusan akan menyerang kota seperti ini. Ia mengeluarkan pedang Asuranya, "Aku akan melawan mereka, aku tak akan biarkan mereka lolos dari sini."


"Saudara Jian, kami juga akan membantumu!"


Jian Chen mengangguk lalu mulai bergerak ke salah satu pendekar bertopeng sementara kelima gadis itu berpencar ke berbagai arah, kelimanya mengeluarkan senjata berupa pisau yang tajam.


Pasukan bertopeng yang menyerang kota rata-rata berada di ranah Alam Jiwa Tahap 8, sedikit dari mereka memiliki kultivasi Alam Kehidupan tahap 2 atau 3.


Jian Chen bergerak cepat lalu mengayunkan pedangnya pada salah satu pendekar bertopeng yang sedang bertarung, pendekar itu tidak siap ketika tiba-tiba Jian Chen menghampirinya, dalam sekali tebasan, Jian Chen langsung membunuhnya.


Jian Chen kembali bergerak ke pertarungan yang lain, membantu para petugas kota.


Setiap tebasan yang Jian Chen ayunkan dapat membunuh musuhnya dalam sekali serangan, walaupun ia tidak menggunakan tenaga dalam namun Pedang Asura memiliki ketajaman yang tinggi.


Pedang itu semakin bersinar merah setiap kali Jian Chen berhasil mencabut nyawa, dalam waktu relatif singkat ia sudah membunuh belasan dari mereka.


Aksi tersebut segera tersadari oleh pihak pendekar bertopeng, mereka menghentikan pertarungan dengan petugas kota dan langsung bergerak ke arah Jian Chen yang tengah menebas leher rekan-rekannya.


Para pendekar bertopeng cukup yakin Jian Chen adalah orang yang Tetua inginkan untuk dibunuh, sejak awal tujuan mereka menyerang kota adalah untuk mencari Jian Chen sementara mereka menyerang warga setempat hanya untuk kepuasan pembunuh semata.


Jian Chen tersenyum tipis melihat puluhan pendekar topeng bergerak ke arahnya, sebelum mereka mengepung dirinya Jian Chen tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.


"Hah, menghilang kemana dia?"


"Apa dia kabur?"


Tiga puluh pendekar bertopeng yang hendak menyerbu Jian Chen jadi kebingungan ketika Jian Chen hilang dari penglihatan mereka begitu saja.


"Kau lihat kemana, aku ada disini..."


Jian Chen muncul kembali tetapi berada di posisi belakang mereka, sebelum para pendekar bertopeng bereaksi Jian Chen sudah melepaskan hawa yang sangat dingin.


Tubuh para pendekar bertopeng seketika menggigil hebat, mereka berusaha bergerak namun rasa dingin itu membuat tubuh mereka mati rasa.


Semua mencoba mengalirkan tenaga dalam untuk menghangatkan tubuh tetapi Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi, pedang Asura sudah terayun ke leher mereka satu persatu.


Tebasan demi tebasan Jian Chen ayunkan hingga separuh dari yang hendak mengepungnya terbunuh, saat Jian Chen ingin membunuh lebih banyak lagi ada belasan pisau terbang mengarah padanya.


Jian Chen menggunakan pedangnya untuk menangkis pisau-pisau tersebut, ia kemudian menyadari para pendekar bertopeng itu mulai melemparkan pisau-pisau rahasia di balik jubah mereka.


"Hm, sebuah pisau yang di balut oleh racun... Menarik."


Jian Chen mengenali jenis racun yang ada di pisau itu ketika berusaha menangkis pisau-pisau tersebut, racun itu tidak mematikan bagi seorang pendekar namun andai mengenainya ia akan mengalami lumpuh sementara.


Jian Chen memainkan pedangnya dengan cepat untuk menangkis pisau-pisau itu sambil bergerak mundur, para pendekar topeng yang lain mulai melemparkan pisaunya melihat Jian Chen berhasil disibukkan.


Dalam waktu singkat Jian Chen berhasil menangkis ratusan pisau, para pendekar bertopeng yakin Jian Chen akan semakin terpojok dan hanya soal waktu pisau itu menggores kulitnya.


Jian Chen tersenyum sinis, tentu saja ia menyadari rencana pendekar bertopeng itu. Jian Chen kemudian mengaktifkan mata langitnya membuat sebelah matanya bersinar keperakan.


Pisau yang sebelumnya bergerak cepat kini terlihat jauh lebih lambat di mata Jian Chen.


Sembari menangkis senjata lawannya Jian Chen mulai menangkap pisau-pisau itu dengan tangan satunya lalu melemparkannya balik.


Pisau yang Jian Chen lepaskan di selimuti tenaga dalam, selain bergerak lebih cepat pisau itu juga mengarah pada bagian vital musuhnya.


Para pendekar bertopeng terkejut bukan main saat Jian Chen melakukan demikian, mereka tidak menduga Jian Chen menggunakan pisau-pisau organisasinya untuk melukai rekan mereka sendiri.


Mereka langsung berhenti melempari pisau namun bukan berarti Jian Chen berhenti menyerang.


Ketika serangan pisau itu mulai berhenti Jian Chen langsung bergerak cepat mendekati mereka dengan sekejap mata.


Kecepatan Jian Chen sekarang menggunakan elemen cahaya sehingga terlihat seperti berteleportasi di mata lawannya.


Jian Chen melepaskan hawa dingin kembali membuat tubuh lawannya tidak bisa bergerak, Jian Chen mengayunkan pedangnya dengan cepat dan membunuh setiap pendekar yang ada dalam jangkauan serangannya.


Aksi tersebut berubah menjadi sebuah pembantaian, membuat para pendekar bertopeng atau prajurit kota meneguk ludah ketika melihatnya.


Mereka bisa menyaksikan bagaimana Jian Chen terlihat menikmati pembunuhan tersebut, apalagi pedangnya yang semakin bersinar ketika Jian Chen usai membunuh.


"Elemental Api - Hembusan Bola Api!"


Sebuah bola api yang besar tiba-tiba muncul dan mengarah pada Jian Chen dengan cepat.


Jian Chen tidak berusaha menghindarinya, ia mengalirkan tenaga dalam pada pedang Asura lalu membelah bola api tersebut menjadi dua. Barulah setelah api itu hilang Jian Chen menemukan ada satu pendekar bertopeng yang lebih kuat dari lainnya, ia berada di ranah Alam Bumi.


Penampilan pendekar bertopeng itu juga berbeda, Jian Chen menebak bahwa ia memiliki jabatan tak biasa di organisasi dan itu memang benar karena dia adalah Tetua dari Menara Iblis.


"Oh Jadi begitu, sepertinya kau adalah orang yang membunuh adikku?" Tetua Menara Iblis menatap Jian Chen tajam.


"Hm, aku tidak tahu siapa adikmu, kalian memakai topeng jadi aku tidak mengetahui siapa dia, lagian aku juga tidak mengenalnya... " Jian Chen mengangkat bahunya.


Tetua Menara Iblis mengepalkan tangannya penuh kebencian, ia memberi isyarat pada bawahan yang lain untuk ikut bergerak.


Para pendekar topeng tampak ragu tetapi ia tak bisa membantah, mereka berharap dengan bantuan Tetuanya sekarang, mereka bisa membunuh Jian Chen dengan mudah.


"Bersiaplah karena jika kau tertangkap, aku akan menyiksamu sampai rasa sakit terkecil yang tak pernah kau bayangkan..." Tetua Menara Iblis mengeluarkan dua pedang pendek berwarna hitam. pedang itu telah di olesi racun yang sama. "Dan setelah itu, aku akan membunuhmu secara perlahan, memakan setiap daging di tubuhmu sampai kau-...."


Belum selesai Tetua Menara Iblis berbicara tiba-tiba ada angin yang berhembus kencang, seketika kepala Tetua itu jatuh dari asalnya dan menggelinding di tanah. Disisi yang sama Jian Chen sudah berada di dekatnya.