Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 77 — Zhou Mei


“Apa tidak masalah memberi rumah seperti ini? Menurutku ini terasa berlebihan?” Jian Chen menggaruk kepala yang tidak gatal sambil memandang rumah besar di depannya.


“Tuan Muda Jian, hanya ini yang kami punya…” Miou Lin tertawa kecil melihat Jian Chen yang terlihat terpana.


Miou Lin ternyata memberikan kediaman yang luas untuk Jian Chen tinggal, mempunyai halaman besar dengan bangunan cukup bagus. Miou Lin bahkan sudah memperkejakan gadis muda untuk melayani Jian Chen.


“Dia namanya Zhou Mei, pelayan terbaikku dan sekarang aku menugaskannya menjadi pelayan Tuan Muda Jian.”


Jian Chen menatap Zhou Mei dari atas ke bawah, usia gadis tersebut sekitar 22 tahunan, memiliki tubuh ramping dan kulit putih, wajahnya manis sebagaimana gadis muda pada umumnya.


“Selamat datang Tuan Muda…”


Zhou Mei mengangguk, memperkenalkan namanya dengan hormat. Walau dia tersenyum kenyataannya Zhou Mei merasa gugup dipandang Jian Chen seperti itu.


Setelah Miou Lin menjelaskan kalau Jian Chen adalah pemilik saham dari Asosiasi klan Miou tentu saja membuat gadis itu terkejut, baginya ia tidak pantas untuk melayani orang besar seperti Jian Chen.


Miou Lin langsung pergi sesudah urusannya selesai, ia harus pergi ke klan Miou untuk memberi informasi apa yang telah terjadi di klan Niu sebelumnya.


Di rumah itu kini tinggal Jian Chen dan Zhou Mei yang duduk berhadapan dengan meja di tengah keduanya, Zhou Mei terlihat gugup ketika berduaan dengan Jian Chen apalagi tidak ada percakapan diantara keduanya.


Jian Chen tak banyak berbicara, ia meminta Zhou Mei untuk menyiapkan makanan malam sedangkan ia akan beristirahat di kamarnya sebentar.


Sembari menunggu makanan datang Jian Chen membaringkan tubuhnya di tempat tidur, pikiran serta badannya terasa lelah setelah mengalami banyak kejadian terutama dirinya yang telah membunuh banyak orang diusianya yang masih belasan.


‘Kuharap mental dan akal sehatku tidak terganggu dengan hal ini…’


Satu hal yang Jian Chen khawatirkan ketika sering banyak membunuh adalah ketika dia menjadi terbiasa akan pembunuhan tersebut.


Di kehidupan sebelumnya, Jian Chen memang membunuh ribuan orang di tangannya saat dia memberantas organisasi-organisasi jahat.


Ketika itu perasaan kemanusiaannya sudah berbeda, bukan hanya tidak peduli untuk mencabut nyawa orang lain lagi bahkan dirinya mulai menyukai akan pembunuhan itu.


Pembantaian dan pembantaian terus ia lakukan, semakin banyak ia membunuh, sedikit demi sedikit ekspresinya menunjukkan ketertarikan untuk membunuh orang lain.


Di kehidupan kedua ini sebisa mungkin Jian Chen menghindari hal tersebut, walau pada akhirnya kelak dia tetap membunuh seseorang setidaknya dia tidak mau menjadi manusia yang haus darah.


Suara ketukan pintu terdengar, memecahkan lamunan Jian Chen, ternyata Zhou Mei sudah datang dengan membawa napan makan.


“Kau tidak ikut makan denganku, makanan ini terlihat sangat enak. Kau boleh makan bersama jika kau mau?”


“Terimakasih Tuan Muda, tapi maap aku sudah makan sebelumnya.”


Jian Chen mengangguk, tidak menawarkan lagi, ia mulai menyantap makanannya sedangkan Zhou Mei berdiri disampingnya sambil menunduk gugup.


“Makananmu sungguh enak, ini persis seperti buatan koki ternama. Dengan masakanmu seharusnya kau bisa membuat sebuah restoran?” Jian Chen tak bisa berhenti untuk melahap masakan Zhou Mei.


Zhou Mei mengucapkan terimakasihnya, ia senang kalau majikannya menyukai masakannya. Alasan Zhou Mei dikatakan sebagai pelayan terbaik karena setiap masakan yang ia buat hampir sama dengan masakan restoran kelas tinggi.


“Sebenarnya memasak adalah hobiku, Nona Miou Lin juga pernah mengatakan demikian bahkan menawari kalau dia akan memodaliku jika aku ingin membuat kedai makan. Aku menolaknya beralaskan hanya ingin bekerja menjadi pelayan Nona Miou Lin.”


“Kenapa begitu, bukankah kau mengharapkan hidup yang lebih baik, banyak uang, membeli rumah mewah, mempunyai keluarga bahagia. Meski bukan salah satunya tetapi uang bisa mewujudkan itu semua.”


Zhou Mei kemudian menjelaskan bahwa ini bukan soal uang, dulu kehidupan keluarganya sangat miskin, ayahnya bekerja serabutan sedangkan ibunya berbaring sakit-sakitan. Makan sehari sekali saja adalah kenikmatan bagi keluarganya waktu itu.


Ketika Zhou Mei bertemu dengan Miou Lin, dia tawari kerja olehnya sebagai pelayan apalagi ketika melihat ia hebat dalam memasak Miou Lin langsung mengangkatnya sebagai koki pribadinya.


Kehidupan Zhou Mei berubah drastis setelahnya, dia senang bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, ayahnya tidak harus susah-susah lagi cari uang dan untuk kesehatan ibunya ia perlahan-lahan bisa membeli obat. Meski masih sakit tetapi setidaknya kondisi ibunya agak baikan sekarang.


Atas dasar itu dia menolak untuk keluar dari pekerjaannya, singkatnya Zhou Mei ingin mengabdi pada Miou Lin sebagai bentuk terimakasihnya.


“Ah, maap, aku terlalu banyak bercerita. Tuan muda pasti terganggu…” Zhou Mei baru menyadari bahwa dirinya tak berhenti berbicara sampai makanan Jian Chen habis.


“Tidak apa, aku juga tertarik dengan kisahmu.” Jian Chen melambaikan tangan, mengatakan itu bukan masalah besar. Dia mengeluarkan sesuatu dari cincin ruangnya berupa sebuah kantong kulit. “Ini ada beberapa uang, kau bisa mengambilnya untuk kesehatan ibumu atau keperluan keluargamu yang lain.”


Zhou Mei menerima kantong kulit itu, matanya terbuka lebar ketika melihat isi didalamnya. Ada beberapa koin emas yang menyilaukan.


“Tuan Muda! Ini!” Zhou Mei terbata-bata, dia menutup mulutnya saking terkejut melihat koin emas.


“Aku hanya terharu melihat kondisi keluargamu, kau bekerja agar ayahmu yang sepuh bisa beristirahat di masa tuanya, kau juga merawat ibumu yang terbaring, bahkan untuk makan kau harus menyuapinya setiap hari. “Jian Chen menunjuk kantong kulit di tangan Zhou Mei. “Anggap saja ini adalah buah dari kesabaranmu…”


Jian Chen tersenyum melihat Zhou Mei yang memandang koin itu tanpa berkedip, sepertinya gajih dia disini tidak sampai satu koin emas.


“Kau tau…” Jian Chen menambahkan. “Adanya orangtuamu sekarang adalah sebuah rezeki yang paling besar. Mereka adalah tempat dimana kau merasakan arti pulang sesungguhnya.”


Jian Chen menatap ke arah jendela, tepat ke arah langit. “Hakikat pulang adalah ketika ada yang merindukanmu untuk kembali, itulah keluarga. Kita bisa beli rumah yang bagus tetapi tidak untuk kebersamaanya.”


Hening sesaat, Zhou Mei yang ingin mengucapkan rasa terimakasihnya terdiam melihat mata emas Jian Chen yang bersinar. Sorot matanya seolah menunjukkan kesedihan mendalam.


Jian Chen kemudian meminta waktu untuk sendiri, Zhou Mei tanpa disuruh dua kali langsung pergi sesudah membereskan napan makanannya.


Kisah yang dilontarkan Zhou Mei mengingatkan dirinya pada kehidupan pertama ketika ia pulang ke klan dengan kekuatan di ranah alam tertinggi, waktu itu klannya sudah menjadi desa yang kosong.


Jian Chen yang selalu bermimpi pada orang tuanya ingin menjadi pendekar terkuat akhirnya terwujud, dia berharap bisa melihat orang tuanya bahagia atas keberhasilan dirinya namun semua itu sudah terlambat, mereka sudah tiada.


Jian Chen memejamkan matanya ketika kenangan-kenangan itu bermunculan dipikirannya, bagaimanapun, mimpi paling burukpun tak sekejam itu baginya.