Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 55 — Membunuh Pembunuh


Jian Chen mengamati sebentar 7 bawahan dari pemimpin berjubah hitam itu, tidak ada yang lebih kuat darinya, rata-rata dari mereka hanya memiliki kultivasi di alam Jiwa Tahap 5 kebawah.


Jika di akademi orang yang berada di Alam Jiwa selalu disegani maka kenyataannya didunia persilatan terutama orang dewasa, Alam Jiwa adalah hal biasa bahkan tidak berlebihan disebut sebagai kultivasi dasar.


Jian Chen mengalihkan pandangannya kembali ke arah pemimpin berjubah hitam yang kini masih berlutut memegang dadanya. Jian Chen tersenyum dingin sebelum mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya.


“Teknik Pedang Bulan Separuh… Gerakan Pertama…” Jian Chen mengambil kuda-kuda, tepi bibirnya sudah muncul uap putih. “Dentingan Kegelapan Malam!”


Jian Chen bergerak cepat saat tiba-tiba berada dibelakang lawannya. Sebelum semua yang melihat mencerna situasinya kepala dari Pemimpin berjubah hitam itu sudah terlepas dari lehernya dan menggelinding di tanah.


Bawahan berjubah hitam tampak mematung karena mereka masih tidak mengerti situasinya, namun saat matanya melihat pedang Jian Chen, mereka menemukan darah yang menetes di pedang itu. Jian Chen telah memenggal pemimpin mereka.


Lutut ketujuh jubah hitam segera menjadi lemas saat tahu incaran mereka bukan anak muda biasa, disisi lain Jian Chen yang sudah membunuh pemimpin mereka tidak langsung bergerak melainkan memejamkan matanya beberapa saat.


Sensasi membunuh manusia berbeda jauh dengan membunuh siluman, jantung Jian Chen berdetak beberapa saat sebelum dia menghembuskan nafasnya pelan.


‘Ah, aku hampir lupa merasakan sensasi ini, perasaan ini, detak jantung ini… Sudah lama sekali aku tidak membunuh manusia…” Jian Chen membuka matanya dan tatapannya masih dingin ketika melihat jasad tanpa kepala dibelakangnya jatuh tergeletak.


Sekilas mata emasnya bercahaya beberapa detik sebelum meredup kembali. Meski terlihat indah namun dipandangan 7 orang lawannya hal itu terlihat mengerikan.


“Dia… Dia… Dia seorang pembunuh alami…”


Tujuh orang berjubah hitam itu gemetar ketakutan ketika Jian Chen berekspresi datar dan tidak memunculkan rasa bersalah setelah membunuh.


Namun yang membuat jantung mereka berdetak lebih kencang ketika tatapan Jian Chen mengarah pada mereka semua. Meski bertujuh melawan satu, mereka tidak berani bergerak maju, sebaliknya mereka langsung mundur dan melarikan diri.


“Hm, kalian sudah disini, jangan harap akan kembali!” Jian Chen berkata datar sebelum bergerak cepat mengejar semuanya.


Kecepatan Jian Chen berada diatas lawannya sehingga dengan mudah membunuh mereka satu persatu, apalagi Jian Chen seperti berteleportasi saat tiba-tiba muncul dihadapan musuhnya dan memenggal kepala lawannya.


Dalam kurun beberapa detik saja semuanya terbunuh kecuali satu orang.


Jian Chen menyisakan satu dari mereka untuk mengintrogasinya, orang terakhir itu begitu ketakutan dengan air mata yang menetes.


“Jelaskan sekarang, siapa kalian dan bagaimana kalian tahu aku adalah orang berada?” Jian Chen bertanya dengan nada dingin.


“Ka-kami hanyalah pembunuh bayaran, kami ditugaskan oleh atasan kami untuk membunuhmu setelah tahu kau adalah orang kaya.”


“Bagaimana kalian tahu bahwa aku menyimpan ratusan ribu keping emas?”


“Itu…”


Alis Jian Chen terangkat mendengar penjelasan orang itu dan sedikit tidak menyangka siapa yang menyuruh untuk membunuhnya namun disisi lain ia jadi mengerti semuanya.


“Tuan, tolong maapkan aku…” Orang berjubah hitam tiba-tiba berlutut memegangi kaki Jian Chen sambil meminta belas kasihnya. Namun sebelum dia berbicara lebih banyak, pedang Jian Chen sudah terayun dan membunuhnya.


“Aku tak bisa memaapkan kalian, andai aku orang lemah mungkin kalian sudah membunuhku sekarang!” Jian Chen mendengus dingin, tak merasa bersalah sedikitpun setelah membunuhnya.


Menurut Jian Chen mereka sudah membunuh banyak orang dan itu sudah tak termaapkan olehnya pikirnya. Jian Chen memiliki prinsip untuk membalas apa yang mereka telah perbuat.


Pertarungan itu berakhir singkat jadi saat Jian Chen kembali ke api unggun Ziyun dan Meily belum terbangun. Pertarungannya juga sangat jauh sehingga dua wanita itu tidak bisa mendengarnya.


Jian Chen kemudian membangunkan Meily, gadis manis itu menggeliat sambil mengucek matanya. Dia sedikit salah tingkah saat menyadari wajah Jian Chen begitu dekat dengannya.


“Ehm, Saudara Jian, apakah ini waktunya aku berjaga?” Meily menjaga sikapnya agar selalu tenang.


“Sebenarnya masih belum namun sekarang aku harus pergi dulu,” Jian Chen menggaruk kepalanya. “Nona Meily bisakah aku meminjam kartu pengenalmu sebelumnya. Aku akan pergi ke kota sebentar dan nanti akan kembali sebelum matahari terbit.”


“Sepertinya ada sesuatu yang mendesak?”


“Sebenarnya ada hal lupa yang harus kulakukan disana, tenang saja, aku akan kesini kembali. ”


Meily mengangguk, memberikan kartu pengenal yang berwarna emas itu. “Kartu ini adalah kartu khusus dari Kepala Provinsi Naga Petir, kemanapun kamu pergi tidak ada yang menghalangimu selama kau membawa kartu emas ini.”


Alasan Meily mempunyai kartu emas ini meskipun bukan keluarga dari Kepala Provinsi adalah karena kedekatan klan Niu dengan klan Chu. Ayah Meily memberikan kartu langka ini pada puteri kesayangannya.


Saat Jian Chen akan mengambil tanda pengenalnya, secara tak sengaja kulit mereka bersentuhan. Gadis itu buru-buru menarik tangannya, kedua pipinya tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus.


Disisi lain Jian Chen justru tidak memperhatikan itu, perhatiannya tertuju pada tanda pengenal emas ditangannya. Jujur saja ia baru mengetahui ada sebuah tanda pengenal yang begitu luar biasa kegunaanya.


Jian Chen mengucapkan terimakasih namun sebelum dirinya pergi ia berpesan harus berhati-hati pada Meily karena mereka berada di hutan. Keduanya harus saling berjaga dan tak boleh dua-duanya ketiduran.


Jian Chen kemudian melesat pergi meninggalkan Meily, gerakan Jian Chen sangat cepat sampai sulit dilihat oleh mata telanjang. Jika sebelumnya mereka harus menempuh hampir 4 jam untuk pergi namun ketika Jian Chen kembali memerlukan waktu 2 jam hingga bisa ke kota lagi.


Para petugas sif malam tak bisa menginterogasi Jian Chen saat melihat tanda pengenal emas yang dikeluarkannya, sama dengan sebelumnya, Jian Chen diperlakukan dengan hormat.


‘Hm… Kartu ini sangat berguna, sayang sekali kalau aku tidak memilikinya.” Melihat begitu ajaibnya sebuah kartu dapat merubah sikap seseorang, Jian Chen tertarik untuk mendapatkannya.


Sesudah di kota tidak membutuhkan waktu lama Jian Chen sampai ditempat tujuan. Meski malam sudah larut namun di pusat kota Qianshan masihlah hidup, setidaknya ada beberapa penduduk yang masih terjaga.


Jian Chen berhenti disebuah rumah megah berwarna perak yang mempunyai tiga lantai, pedangnya sudah keluar dari Cincin Ruang, pedang taring putih yang sudah dibersihkan hingga terlihat mengkilap itu tak lama lagi akan ternoda oleh banyaknya darah.


Alasan Jian Chen pergi ke rumah megah tersebut karena tempat ini merupakan markas dari orang-orang pembunuh tadi.