Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 197 — Hamparan Bunga


Jian Chen membuka matanya dengan kepala yang terasa sakit, yang terakhir ia ingat sebelum tak sadarkan diri adalah melihat ayahnya terluka parah.


"Dimana aku?"


Jian Chen melihat sekitarnya namun menemukan ia berada di tempat asing, Jian Chen mencoba bangkit dengan kepala yang masih terasa sakit dan memahami situasi dimana tempatnya sekarang.


Jian Chen bisa dibilang ada di daratan yang di penuhi bunga, ia melihat sekelilingnya dan hanya menemukan hamparan bunga sejauh mata memandang.


Tidak apapun di sekitar Jian Chen, tempat yang sama sebenarnya sangat indah namun saat ini bukan waktunya untuk menikmati pemandangan bunga tersebut.


Saat Jian Chen mencoba berjalan ke arah barat atau matahari terbenam ia baru menyadari bahwa tidak ada matahari di langit.


"Hah? Dimana ini? Apakah aku sudah mati?"


Jian Chen jadi cemas karena berpikir ia berada di dunia lain, tentu setiap siang pasti ada matahari namun kini fenomena itu tidak terjadi di tempat hamparan bunga ini.


Pemuda itu mencoba berkomunikasi dengan Lily untuk mencari tahu situasinya namun gadis itu tidak menjawabnya, ketika ia mencoba ke Alam dantian Jian Chen tidak bisa ke sana walau sudah berkosentrasi penuh.


Jian Chen menggaruk kepala yang tidak gatal sebelum mulai berjalan ke sembarang arah karena ia juga tidak tahu mana utara atau selatan karena semuanya terlihat sama.


Beberapa langkah ia bergerak lurus Jian Chen akhirnya menemukan sebuah pohon yang berdiri sendirian.


Pohon itu terlihat mencolok di kejauhan karena berada di hamparan daratan bunga, Jian Chen akhirnya memutuskan untuk pergi ke sana.


Ketika sudah di dekat pohon itu Jian Chen kemudian mendengar suara merdu yang sepertinya berasal dari alat musik.


Alunan suara itu sangat indah dan menyayat hati bagi yang mendengarnya, Jian Chen bahkan sampai memejamkan mata untuk mendengar suara alunan musik tersebut.


Sambil menikmati Jian Chen terus melangkah, baru ketika ia sampai di pohon itu Jian Chen menemukan ada seseorang yang duduk di bawah pohon itu.


Di lihat dari segi fisik, orang itu adalah perempuan, terlihat dari rambut panjangnya yang sepinggang serta memiliki tubuh yang ramping. Perempuan itu jugalah yang membuat suara merdu tadi, saat ini ia sedang meniup seruling di tangannya.


Jian Chen menggaruk kepala, tidak ada cara lain ia harus bertanya pada perempuan itu.


Jian Chen melangkah mendekat dan di saat itu ia akhirnya melihat paras sang perempuan.


Menurut Jian Chen, perempuan itu terlihat berusia tiga puluh tahunan. Ia memiliki kecantikan yang sulit dimiliki oleh gadis pada umumnya, mungkin hampir sama dengan tingkat kecantikan Meily.


Jian Chen sedikit terperanjat ketika pandangannya jatuh pada mata perempuan itu. Ia tidak menyangka orang di depannya memiliki warna mata emas seperti dirinya.


"Permisi, apakah anda tahu dimana ini?" Tanya Jian Chen dengan sedikit canggung.


Perempuan itu tidak menjawab, ia menatap Jian Chen sesaat sebelum berpaling dan terus memainkan melodi serulingnya. Barulah setelah selesai ia menatap Jian Chen kembali dengan warna mata emasnya yang indah.


Disaat itu juga Jian Chen menyadari betapa bagusnya mata emas dirinya yang mungkin sama dengan perempuan itu, tidak mengherankan Meily dan Jian Ya selalu terpaku menatapnya.


"Kau bisa bermain seruling?" Perempuan itu menyodorkan serulingnya pada Jian Chen.


Jian Chen menggaruk kepalanya sebelum menggeleng pelan, ia tidak pernah bermain seruling di kehidupan pertama atau keduanya.


Perempuan itu tersenyum hangat membuat Jian Chen jadi sedikit salah tingkah, Jian Chen tidak mengenal perempuan itu namun anehnya ia terasa mempunyai ikatan dekat antara ia dan dirinya.


"Ehm, Bibi, apakah anda tahu dimana ini?" Jian Chen kembali bertanya ke pertanyaan sebelumnya yang belum perempuan itu jawab.


Perempuan itu sedikit menahan tawa namun diganti dengan senyuman tipis. Jian Chen tidak terlalu yakin namun ia melihat perempuan itu sedikit tidak senang di sebut demikian.


"Tidak perlu buru-buru, kau akan pergi dari tempat ini jika waktunya sudah tiba..." Ucap perempuan itu setelahnya sebelum menempelkan bibirnya ke seruling lagi, membuat alunan musik yang merdu.


Jian Chen menggaruk kepalanya, ia tidak terlalu mengerti maksud perempuan itu namun intinya ia tidak bisa disini terus. Jian Chen harus menyelamatkan klannya.


"Klanmu sekarang sudah aman, begitu juga ayahmu, mereka semua selamat..." Seolah atau memang bisa membaca pikiran Jian Chen, perempuan itu menjawab sebelum Jian Chen bertanya.


Jian Chen terkejut, ia mundur dua langkah dengan wajah pucat, jelas sekali perempuan itu membaca pikirannya.


Perempuan itu tertawa kecil melihat reaksi Jian Chen tetapi ia tidak mempermasalahkan itu lebih jauh.


"Bukankah namamu Jian Chen?"


Jian Chen menggaruk hidungnya, ia merasa perempuan itu bertanya sesuatu yang diketahuinya tetapi pada akhirnya Jian Chen mengangguk saja. "Benar Bibi."


Perempuan itu tersenyum, "Chen'er, makanan apa yang paling kamu sukai?"


"Eh?" Jian Chen tidak menyangka akan ditanya demikian. "Aku... Aku menyukai makanan laut, makanan yang manis juga."


"Oh? Menarik..." Perempuan itu terlihat bahagia mendengar jawaban Jian Chen, ia tersenyum hangat. "Lalu, apalagi yang kau suka, hobi, apa hobimu?"


Jian Chen menggaruk kepalanya. "Mm... Memasak."


"Memasak? Kau bisa melakukannya." Perempuan itu sedikit tidak senang namun tidak terlalu menunjukkannya. "Lalu?"


"Aku..." Jian Chen memutar otaknya. "Aku menyukai suasana laut, langit malam serta kedamaian didalamnya..."


"Waw, kau menyukainya, aku juga demikian..." Perempuan itu tersenyum mengangguk sebelum menempelkan seruling pada bibirnya membuat melodi indah lainnya.


Jian Chen sebenarnya ingin bertanya lagi namun melihat perempuan itu sepertinya tidak mau di ganggu, ia terus memainkan serulingnya sementara Jian Chen menunggu ia selesai.


"Chen'er, kau punya seseorang yang kau sukai sebagai seorang gadis?"


Jian Chen batuk pelan, tidak menyangka perempuan itu langsung bertanya demikian. Setelah berpikir terlebih dulu ia akhirnya mengangguk.


"Oh, mengejutkan, siapa namanya?" Perempuan itu sedikit antusias.


Jian Chen tentu saja tidak mau berbicara, itu bersifat privasi, lagian ia terlalu malu untuk mengatakannya. Kalaupun di sebut ia yakin perempuan itu tidak akan mengenal gadis yang Jian Chen sukai.


Seolah atau memang bisa membaca pikiran Jian Chen, perempuan itu berbicara kembali. "Jika kamu mau keluar dari sini, Chen'er, kau harus menjawab setiap pertanyaanku, hanya itu satu-satunya agar kamu bisa keluar dari sini atau terperangkap selamanya."


Jian Chen tidak yakin dengan peringatan perempuan itu tetapi ia juga tidak mau ambil resiko, pada akhirnya ia mengatakannya secara langsung.


Dahi perempuan itu berkerut setelah mendengar jawaban Jian Chen sebelum digantikan dengan tawa pelan sementara Jian Chen menundukkan kepala, sedikit malu.


"Chen'er, jangan malu, untuk wajah serta bakatmu tidak masalah menyukai lebih dari satu gadis. Asalkan kau harus ingat, jangan permainkan perasaan perempuan..."


Saran perempuan itu memang bagus tetapi tidak membuat Jian Chen lebih baik, justru pemuda itu semakin malu.