Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 201 — Latih Tanding


Jian Chen melakukan latih tanding tak jauh dari kediaman gubuknya, ketika gurunya memerintahkan untuk menggunakan pedang Jian Chen mengeluarkan pedang cadangannya.


"Hm, Chen'er, bukankah kau punya pusaka yang berwarna merah itu?"


Jian Chen mengangguk, ia mengerti yang dimaksud gurunya adalah pedang Dewa Asura. Saat ini pedang itu ada di cincinnya.


"Kalau begitu keluarkan, gunakan pedang itu!"


Jian Chen menggaruk kepalanya, ia sedikit ragu melakukannya karena pedang Dewa Asura terlalu kuat untuk dijadikan latihan. Selama ini tidak ada yang bisa menahan ayunan pedang itu selain mengalami cedera.


"Tenang saja, kau jangan meremehkan gurumu Chen'er..." Guru Jian Chen tertawa kecil.


Meski ragu pada akhirnya Jian Chen melakukannya, sebuh pedang yang memiliki mata berwarna merah semerah darah.


"Pedang yang bagus, sekarang kau serang aku dengan seluruh kemampuanmu..."


"Eh, tapi guru, itu..." Jian Chen menunggu gurunya mengeluarkan senjata atau apapun yang bisa menahan pedangnya, kenyataannya Guru Jian Chen justru hanya menggunakan tangan kosong.


"Aku bisa menahannya, kalau pun tidak aku akan menghindar. Chen'er, jangan banyak tanya lagi. Lakukan!"


Jian Chen menggenggam pedangnya lebih erat sebelum menggunakan teknik pernafasan yang berasal dari klan Niu.


"Teknik Pedang Bulan Separuh — Dentingan Kegelapan Malam!"


Jian Chen bergerak sangat cepat sebelum tiba-tiba berada di dekat gurunya dan mengayunkannya dengan kuat. Berpikir gurunya akan menghindar namun justru dapat ditahan hanya dengan dua jari.


"Tidak buruk, lagi Chen'er..." Guru Jian Chen melepaskan pedangnya dan membiarkan muridnya itu mengambil jarak dan menggunakan pedang rembulan lainnya.


"Dua Bintang Cahaya!"


Jian Chen kembali menggunakan teknik pedang rembulan, kecepatan ayunan pedangnya seketika bergerak beberapa kali lebih cepat dalam lima belas kali tebasan pertama. Kecepatannya sulit di ikuti mata tetapi Guru Jian Chen justru dapat menghindarinya dengan mudah.


Jian Chen mengerutkan dahinya, ia mengetahui kemampuan gurunya sangat kuat sampai tak bisa dibayangkan tetapi tetap saja melihatnya secara langsung terasa berbeda.


Tubuh jian Chen kemudian terpecah menjadi 5 cerminan diri sebelum menyerang gurunya dari berbagai arah. Hasilnya semuanya masih dihindari.


"Tidak buruk Chen'er, kau dapat melakukannya dengan sempurna. Sekarang gunakan semua kekuatanmu, anggap Guru adalah lawan yang harus kubunuh."


Meski agak ragu Jian Chen tidak membantah dan melakukan perintah gurunya.


Jian Chen mengambil jarak lalu mengalirkan tenaga dalam pada pedangnya yang merubahnya menjadi sebuah energi, kini pedang Jian Chen terselimuti oleh elemen angin.


"Elemental Cahaya — Langkah Cahaya!"


Jian Chen bergerak sangat cepat seperti berteleportasi saat tiba-tiba ada di belakang gurunya.


Dengan elemen angin Jian Chen yakin gurunya harus berpikir dua kali untuk menangkap pedangnya. Di saat pedangnya hendak menyentuh, Jian Chen dikejutkan dengan pedangnya yang tiba-tiba berhenti di udara tanpa sebab.


"Apa? Bagaimana bisa?"


Jian Chen tidak melihat ada sesuatu yang menghalangi pedangnya namun pedang itu seperti tertahan sesuatu.


"Bagus Chen'er, kau bisa menggunakan gabungan elemen dalam menyerang..."


Jian Chen meringis, gelombang itu terlalu tiba-tiba dan bergerak cepat sehingga membuatnya tidak sempat melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam.


"Sepertinya guru bisa mengalahkanku dengan mudah..." Jian Chen tersenyum pahit sebelum bangkit berdiri, entah karena pedang Asura yang membuat tubuhnya panas serta bergairah atau karena ia merasa tertantang sebagai seorang pendekar. "Guru aku akan menggunakan kemampuan terbaikku!"


Jian Chen menancapkan pedangnya ke tanah seketika ada energi biru yang keluar dari pedang itu. Jian Chen menggunakan elemen esnya.


"Elemental Es — Neraka Es Abadi!"


Dalam waktu satu kedipan mata, arena pertarungan Jian Chen seketika berubah menjadi ruang es yang mengkilap, tanah yang di pijak pun menjadi seperti kaca yang mengkilap.


Jian Chen bergerak maju sambil memainkan pedangnya, sekarang ia tidak menggunakan teknik pedang rembulan yang memang di ajarkan gurunya melainkan teknik pedang es milik Ziyun.


Setiap serangan Jian Chen mengeluarkan banyak tenaga dalam tetapi disisi lain pedangnya juga mengeluarkan hawa dingin. Tidak cukup sampai di sana Jian Chen juga memadukannya dengan sebuah teknik tendangan.


"Oh, kombinasi yang bagus Chen'er, sepertinya kau telah berbakat dalam menggabungkan beberapa teknik berbeda menjadi teknik yang baru..." Guru Jian Chen kali ini berdecak kagum.


Berbeda dengan teknik pedang rembulan yang semuanya sudah tahu gerakan serta arah tujuan serangannya, teknik Jian Chen ini harus membuat gurunya sedikit lebih berusaha untuk menghindar.


Meskipun begitu tetap saja tidak ada serangan yang mengenainya, gerakan pedang Jian Chen yang cepat dan sulit di tebak itu dapat dengan mudah dihindari gurunya bahkan jika harus memejamkan mata.


Merasa kurang cukup Jian Chen akhirnya menggunakan Teknik Pedang Rembulan bentuk kelima yaitu teknik pedang Gerhana Bulan.


"Teknik Gerhana Bulan — Peri Penakluk Iblis!"


Bentuk kelima dari teknik pedang rembulan memfokuskan serangan pada peningkatan daya rusak yang lebih besar, bentuk kelima ini juga bisa dibilang teknik pembunuh tingkat tinggi.


Bentuk terkuat dari keempat bentuk pedang rembulan ini mempunyai efek samping sebagai balasannya namun menggunakannya mempunyai kerusakan yang sangat besar.


Alasan Jian Chen tidak menggunakannya karena teknik ini belum cukup untuk tubuhnya, bisa jadi ia akan terluka di kultivasinya yang sekarang.


Perlahan-lahan gerakan ayunan pedang Jian Chen meningkat setiap kali terayun, setiap ia mengayunkan lagi maka kecepatannya akan meningkat dua kali lipat.


Kondisi ini terus menerus meningkat seiring berjalannya waktu, kecepatan pedang Jian Chen kini sudah di titik tidak terlihat.


Guru Jian Chen akhirnya mengangkat tangannya untuk menangkis serangan Jian Chen, masalahnya pedang yang di tangkis oleh punggung gurunya tidak mengalami luka sedikitpun.


Pedang Asura yang dapat memotong tubuh lawannya seperti tahu itu kini tidak dapat menggores luka sedikitpun padahal Jian Chen sudah mengalirkan tenaga dalam yang besar pada pedangnya.


Jian Chen terus meningkatkan ayunan pedangnya hingga tubuhnya perlahan-lahan tergores luka sayatan udara. Saking cepatnya gerakan Jian Chen ia harus bertabrakan dengan udara yang membuat tubuhnya terkena goresan.


Disisi lain ia juga sedang menahan nafasnya sejak tadi, di ayunan yang telah mencapai seribu lebih Jian Chen akhirnya tak bisa lagi menahan nafasnya.


Seketika itu juga Jian Chen mengalami efek samping dari teknik pedang tersebut, dadanya terasa nyeri berdenyut.


Guru Jian Chen terlambat menyadari muridnya sedang mengalami efek samping dari teknik pedangnya hingga sampai berguling-guling.


Ia membantu Jian Chen yang kesulitan bernafas sambil memegang dadanya, dengan mengalirkan tenaga dalam yang cukup Jian Chen bisa cepat sembuh seketika termasuk goresan luka yang memenuhi tubuhnya.


Jian Chen bernafas lega, harus ia akui efek samping Teknik pedang rembulan bentuk kelima itu lebih parah yang ia ingat terakhir kali.