
“Nyonya, Nona, teruslah berlari kedepan, kami akan mengulur waktu untuk menghadapi mereka...” Orang yang mengawal Meily dan ibunya tak bisa terus melanjutkan berlari ketika pasukan bertopeng sedang mengejarnya.
Meily ingin mencegah itu namun kata-katanya tidak keluar ketika pasukan bertopeng muncul dan menghadang langkahnya.
“Sial mereka terlalu banyak!” Enam pengawal sebelumnya berdecak kesal ketika melihat jumlah lawannya, ia menoleh ke arah Meily dan Niu Yuan. “Nyonya, kami akan memberi jalan pada kalian setelah itu berlarilah secepat yang anda bisa.”
“Bagaimana denganmu, apakah kalian akan ikut?” Niu Yuan berkata cemas.
“Nyonya, keselamatan anda adalah yang terpenting sekarang, semenjak kami jadi pengawal, keselamatan anda lebih penting dari nyawa kami…”
Orang-orang bertopeng tertawa melihat percakapan dramatis tersebut, salah seorang diantaranya berkata dengan nada mengejek. “Percuma kalian saling mengorbankan disini jika pada akhirnya semuanya mati, apakah kalian pikir akan dibiarkan saja atas kudeta yang terjadi, yang benar saja…”
Pasukan bertopeng bermunculan lagi, jika jumlahnya awalnya masih ditolerir namun sekarang sulit untuk menemukan celah.
“Kami sudah ditugaskan dari awal untuk membunuh keluarga Ketua klan saat sedang kudeta.” Orang bertopeng itu tertawa, “sejak awal kalian sudah menjadi incaran kami!”
Enam pengawal itu mulai cemas harus bertindak seperti apa, mereka memposisikan untuk melindungi Meily dan Niu Yuan sekuat tenaga.
Meily mengigit bibirnya, suasana ini terlalu cepat berubah untuknya. Sebelumnya dia sangat senang karena ibunya bakal sembuh seperti sediakala namun belum seminggu kebahagiaan itu datang, dia harus diposisi yang membahayakan yang mencakup semua keluarga dan klannya.
Meily menarik pedang di pinggangnya, bersiap untuk bertarung sekuat yang ia bisa. Berbeda dengan anaknya yang bisa beladiri, ibunya, Niu Yuan bukanlah orang yang berada didunia persilatan.
“Ibu, aku akan membantu memberi jalan keluar agar ibu bisa kabur!” Meily memutuskan untuk tidak tinggal diam saja.
Meski terdengar percaya diri tetapi didalam hatinya Meily sangat ketakutan bertarung hidup dan mati, belum lagi dia tidak yakin untuk mengalahkan satu orang diantara mereka.
Niu Yuan menggeleng pelan, dia tidak akan bisa melakukan itu untuk lari dan mengorbankan puterinya. Kalaupun dia berhasil hidup, kehidupannya tidak lagi berarti jika kehilangan puteri dan suaminya.
Itu tidak lebih dari kedamaian yang didapat oleh kekalahan.
“Maapkan ibu yang tak bisa melindungi, Mei’er.” Niu Yuan memeluk tubuh anaknya, air matanya tak bisa ditahan lagi. “Maapkan ayah dan ibu yang tak dapat menjagamu, memberikan kehidupan yang seharusnya…”
“Ibu…” Meily langsung menangis melihat ibunya menangis, ia ikut memeluk ibunya.
Keenam pengawal didepannya terharu mendengar itu, mereka memang telah merasa gagal melindungi keduanya ketika melihat pasukan bertopeng yang berjumlah banyak.
Ketika keputusasaan melanda hati rombongan itu, ketika mereka memutuskan untuk melawan sampai akhir, tiba-tiba dari atas genteng rumah turun seseorang yang mendarat diantara mereka.
Disusul orang itu mendarat, turun lagi 5 orang lainnya yang muncul.
Pasukan bertopeng yang menghadang, mundur beberapa langkah saat ada pendekar bantuan yang datang. Mulanya mereka waspada namun setelah melihat seseorang diantaranya berusia remaja membuat kewaspadaan itu merasa tidak diperlukan.
Jian Chen sedikit bernafas lega mengetahui rombongan Meily ternyata belum diserang, dia sudah berlari sekuat tenaga takut pasukan bertopeng itu sudah bergerak dan menyerangnya.
“Kalian lindungilah Meily dan Nyonya Yuan, biar aku sendiri yang menghadapi semua orang ini.” Titah Jian Chen pada 5 pendekar yang bersamanya.
“Sauadara Jian!”
Meily langsung tersadar saat mendengar suara Jian Chen. Dia kemudian menemukan pemuda itu sudah berada didepan rombongannya.
“Hei anak muda, aku tahu kau semuran dengan gadis cantik itu, tetapi bertingkah sok pahlawan di situasi seperti ini tidak berbeda jauh dengan sebuah bualan belaka.” Orang bertopeng tertawa mengejek diikuti yang lainnya. “Kau seharusnya lari dan jangan kesi~”
Sebelum ucapan orang itu selesai, Jian Chen sudah mengayunkan pedangnya dan memotong lehernya.
Pedang Jian Chen sudah memancarkan cahaya keemasan yang bersuhu tinggi, membuat pedangnya dapat memenggal leher orang tersebut seperti memotong tahu.
Pasukan bertopeng hampir lupa berkedip menyaksikan pemenggalan itu, bahkan Meily, pengawal dan pendekar yang bersama Jian Chen sebelumnya begitu terkejut aksi sadis Jian Chen.
“Teknik Pedang Bulan Separuh ~ Cerminan Tetesan Hujan!”
Jian Chen menggunakan teknik pedang pernafasan, dengan teknik tersebut dia bergerak sangat cepat sehingga tubuhnya seperti terbagi menjadi 3 orang diri.
Setiap diri Jian Chen menyerang ke arah yang berbeda sambil mengayunkan pedangnya, dalam waktu singkat belasan orang bertopeng langsung terbunuh dalam sekali teknik tersebut.
“Dia, dia bukanlah manusia!” Seru pasukan bertopeng histeris.
Mereka yang baru melihat teknik ini akan beranggapan bahwa Jian Chen seperti membelah dirinya namun kenyataanya tidak seperti itu.
“Nona Meily, Nyonya Yuan, pergilah sekarang, aku akan menahan mereka semua untukmu…”
Jian Chen menyuruh robongan Meily pergi ke celah yang baru Jian Chen buat.
“Saudara Jian, bagaimana denganmu?”
“Nona Meily, Tuan Muda Jian sebelumnya berpesan agar anda pergi dan meminta bantuan pada Ketua Qisha…” Jelas pendekar yang bersama Jian Chen sebelumnya.
“Kakek? Tapi bagaimana keadaan Saudara Jian jika ditinggal sendiri?”
“Nona, apa yang dikatakan dia benar, jika kita terus disini dan menontonnya bertarung justru akan membuat perhatiannya terbagi.” Ucap pengawal Meily.
Para pengawal yang melindungi Meily sebenarnya ingin melihat bagaimana Jian Chen dapat menggunakan teknik pedang klannya dengan sangat sempurna.
Dia ingin mempertanyakan itu semua tetapi kondisi sekarang tidak memungkinkan. Sekarang yang terpenting adalah pergi dari kepungan musunya.
“Ibu?” tanya Meily menunggu pendapat ibunya.
Niu Yuan mengangguk, walau dirinya terkejut dengan kemampuan Jian Chen yang tinggi, perkataan pengawalnya ada benarnya untuk meninggalkan lokasi ini.
Jian Chen melihat rombongan Meily dan lainnya sudah bergerak di belakangnya, dia menoleh kembali ke pasukan bertopeng sambil tersenyum lebar. “Baik, mari kita lanjutkan lagi!”
Pasukan bertopeng meneguk ludah, namun ada sebagian lainnya yang masih percara diri untuk melawan Jian Chen asalkan itu dengan jumlah.
“Nak, aku tau kau mempunyai kemampuan yang hebat tetapi andai kami semua bergerak maju. Kau akan terbunuh disini… Kami akan menutup mata meski kau telah membunuh orang-orang kami selama kau pergi sekarang dan tak menghadang lagi.”
Jian Chen tersenyum sinis, “kalau begitu aku lebih baik membunuh kalian semua disini agar identitasku sekarang tidak tersebar oleh kalangan kalian.”
Jian Chen tak menunggu lagi mereka berbicara saat salah satu diantaranya ada yang meminta bantuan pada yang lain. Disisi yang sama, pasukan bertopeng juga langsung bergerak bersamaan mengepung Jian Chen dari berbagai sisi.
Pasukan bertopeng tak membiarkan jeda Jian Chen menggunakan Teknik Pedang Rembulannya namun ternyata Jian Chen menggunakan teknik yang baru untuk mengalahkan pasukan mereka.
Setelah memegang pedang hampir 3 tahun ini, Jian Chen menemukan bahwa teknik pedang bisa dikombinasikan dengan teknik tendangan secara bersamaan.
Dengan gabungan teknik tersebut Jian Chen secara perlahan bisa sepadan dengan lawannya yang sedang mengepungnya.
Gerakan pedang Jian Chen sangat lincah dan kejam sedangkan ilmu tendanganya sangat kuat dan sulit ditebak.
Tak membutuhkan waktu lama dirinya mengungguli lawannya, meski 1 melawan belasan orang, Jian Chen membuat lawan-lawannya diposisi terdesak.
\[**Yang Belum Like dan Votenya, Jangan Lupa, ya? Mau Dua Episode lebih perhari bisa kok asal beri dukungan kalian juga… gapapa dalam bentuk Like atau Komentar juga, itu sudah membuat saya bahagia**! :)