
"Apakah kalian memerlukan sesuatu?"
Jian Chen merasa orang-orang yang baru naik ke atas kapal itu terus menatapnya dengan pandangan tidak bersahabat, hal ini membuatnya memberhentikan aksi makannya.
Awalnya perhatian ketiga puluh penumpang itu tertuju pada lima Lan bersaudara, mereka tampak terbius melihat kecantikan kelimanya belum lagi wajah mereka yang seiras.
Namun ketika pandangannya menoleh pada Jian Chen, tatapan mereka jadi berbeda. Jian Chen merasakan ada niat membunuh dari mereka saat menatap dirinya padahal ia merasa tidak mempunyai masalah dengan rombongan itu.
Rombongan itu tidak menjawab pertanyaan Jian Chen, salah satu dari mereka yang paling tua memberi instruksi pada yang lain untuk duduk di meja masing-masing.
Jian Chen mengerutkan dahinya tetapi tidak memikirkan itu lebih jauh, andai rombongan itu berniat jahat padanya kekuatan mereka tidak cukup untuk mengalahkannya apalagi membunuhnya.
Rata-rata dari tiga puluh orang itu semua masih remaja, usianya mungkin 18-19 tahunan. Hanya satu dari mereka yang memiliki umur 40 tahun.
Sementara untuk kekuatan mereka hanya berada di Alam Jiwa Tahap 4 sampai 7 sementara yang paling tua berada di Alam Kehidupan.
Jian Chen menebak mereka hanya seorang murid dari akademi ataupun sekte sementara yang berusia 40 tahun itu adalah guru atau mungkin pembimbingnya.
Jian Chen melanjutkan makannya yang tertunda sampai piring-piring di mejanya habis, ia kemudian pergi ke geladak kapal sementara kelima gadis kembar itu masih sibuk makan kecuali Lan Qiaoqiao.
"Sepertinya perjalananmu masih panjang, mungkin satu sampai dua bulan lagi baru kau bisa sampai?"
Lily berkomentar saat Jian Chen berdiri di geladak kapal sambil menikmati angin yang menerpa tubuhnya.
Jian Chen membuka matanya, "Tidak juga, meski daratan provinsi ini luas tapi selama aku mendapatkan kendaraan yang kubutuhkan mungkin aku bisa sampai seminggu hingga pergi ke sana..."
"Aku tahu, maksudku pergerakanmu dalam perjalanan cukup lambat karena kau terus mengurusi urusan yang bukan urusanmu. Aku tahu kau telah melenyapkan sebuah kelompok pembunuh atas permintaan dari salah satu kota, seharusnya kau bisa lebih cepat jika menghiraukannya."
Jian Chen tentu mengerti maksud Lily, ia bisa saja bergerak lebih cepat andai tidak membantu urusan yang bukan masalahnya.
Masalahnya Jian Chen selalu peduli pada mereka yang membutuhkan pertolongannya sehingga membuat perjalanan jadi sering tertunda.
"Aku tak bisa membiarkan kelompok pembunuh itu begitu saja, mereka akan menimbulkan banyak korban kedepannya."
Lily ingin berkata-kata lagi tetapi Jian Chen kedatangan seseorang.
Jian Chen menoleh ke belakang dan mendapati rombongan yang sebelumnya menatapnya sudah berbaris dan menghadang Jian Chen kabur.
"Pendekar, sepertinya matamu itu sungguhan berwarna emas bukan?" Pemimpin rombongan yang usianya 40-an berseru lantang pada Jian Chen.
"Apakah itu sebuah masalah?" Jian Chen menaikan satu alisnya.
"Kau mengakuinya berarti kau adalah orang yang sama yang telah mencelakai pangeran Yun?"
Jian Chen mengerutkan dahinya, sedikit terkejut karena mereka bisa langsung mengetahui berita itu. 'Hm, sepertinya kabar tentang penyerangan pangeran itu sudah tersebar keseluruh provinsi, lebih cepat yang kukira...'
"Tidak menjawab berarti memang benar, sebuah anugerah bisa menjumpaimu, maaf tapi ini perintah kami harus membunuhmu?"
Jian Chen tersenyum tipis "Kalian ingin membunuhku disini? Di atas sungai dengan kemampuan kalian semua?"
"Hmph! Kami tidak peduli, selama kau mati maka semua ini bakal sebanding."
Jian Chen menggeleng kepala pelan, merasa orang itu tidak terlalu pintar dalam menilai situasi sementara remaja-remaja di belakangnya hanya mengikuti arahannya saja.
Mendengar akan ada terjadi pertarungan, pemilik kapal serta pengurusnya tampak tegang dan sedikit ketakutan, mereka bukanlah seorang pendekar dan takut imbas pertarungan bisa melukai dan membunuhnya.
Apalagi mereka berada di tengah-tengah perairan seperti ini jadi tidak bisa kabur mana-mana
"Maaf tapi aku tak bisa membiarkan itu terjadi?"
"Nona, aku tidak mempunyai masalah dengan kalian, jangan halangi kami!"
"Sekarang ini masalahku jika kau mencelakai Saudara Jian!" Ucap Lan Qiaoqiao dingin.
"Nona, aku akan peringatkan pertama dan terakhir kali, jangan ikut campur masalahku dengannya."
"Sejak kapan ini menjadi sebuah masalah, aku lihat kau lah yang membuat gara-gara disini..." Lan Qiaoqiao berkata dengan nada mengejek.
Pemimpin rombongan itu mengepalkan tangannya keras, walau berkata kasar ia tidak cukup berani untuk melukai seorang gadis cantik seperti mereka.
Namun karena dirinya berada di hadapan murid-muridnya ia tak bisa lembut begitu saja, ia kemudian memerintahkan yng lainnya untuk menyerang Lan Qiaoqiao dan saudarinya. Tentu dengan niat tidak membunuh.
"Saudara Jian, biar kami yang urus soal mereka..." Lan Qiaoqiao berkata sebelum Jian Chen hendak bergerak.
Jian Chen menggaruk kepalanya lalu menghela nafas pelan, "Baik tapi pastikan kalian tidak membunuh mereka."
Kelima gadis itu menggunakan ilmu tangan kosong untuk melawan rombongan tersebut, meski lawannya menggunakan senjata namun kelimanya tetap mendominasi pertarungan.
Lima Lan bersaudara ternyata memiliki keahlian dalam menggunakan ilmu tangan kosong dan teknik-teknik yang dikeluarkannya merupakan teknik yang tinggi.
"Gadis-gadis ini?!"
Pemimpin rombongan itu mengumpat berulang kali, ia tidak menyangka kekuatan serta rombongannya terlalu jauh melawan lima gadis di depannya.
Pemimpin rombongan mulai menyesali telah membuat masalah dengan kelima gadis itu yang mungkin bisa berbuntut panjang dan membahayakan nyawa murid-muridnya.
Satu dari lima gadis itu saja bahkan sudah cukup mengalahkan tiga puluh murid-muridnya.
Dalam waktu singkat lima Lan saudara berhasil mengungguli pertarungan, setiap pukulan dan tendangan cukup membuat yang mengenainya bertekuk lutut.
Beberapa detik kemudian separuhnya telah kalah, pemimpin rombongan mengangkat tangannya sekaligus menjatuhkan senjatanya.
"Kami menyerah, kami salah, tolong ampuni aku dan murid-muridku..." Pemimpin rombongan itu langsung berlutut dan meminta pengampunan.
Jian Chen kemudian melangkah pelan lalu berhenti di depannya, "Bagus jika kau cepat mempelajari situasinya sebelum semua ini menjadi lebih rumit dari yang kau pikirkan..."
Sejak awal Jian Chen tidak berniat membunuh mereka seandainya bertarung terutama beberapa dari rombongan itu terlihat masih remaja dan hanya mengikuti perintah.
Disisi lain ia ingin menghabisi pemimpin rombongan itu namun situasinya saat ini tidak tepat.
Jian Chen kemudian bertanya pada mereka mengenai cara bagaimana bisa mengetahui perbuatannya pada Yun Longxia.
Jawaban dari pemimpin rombongan itu membuat Jian Chen mengerutkan dahinya, "Jadi pemerintah provinsi telah menganggapku sebagai buronan di seluruh daratan provinsi Naga Angin?"
"Benar pendekar, mereka menggunakan selembaran untuk mencarimu, siapapun yang memberitahu lokasi atau bahkan bisa membunuhmu akan di beri hadiah dengan kekayaan yang cukup melimpah."
Jian Chen menghela nafas, meski ia sudah tahu bakal terjadi seperti ini namun mendengarnya secara langsung jelas terasa berbeda.
Tidak pernah dipikirkan di kehidupan keduanya ini ia akan menjadi seorang buronan, andai orang tuanya mengetahuinya mungkin mereka akan jatuh pingsan.
Meski begitu Jian Chen tidak takut dengan pemerintahan tersebut karena ia tidak bersalah di dalamnya, jelas-jelas Yun Longxia yang memulai pertarungan itu.
Jian Chen kemudian melepaskan rombongan mereka asal tidak cari gara-gara dengannya atau situasi ini tidak akan terulang lagi.
Pemimpin rombongan itu bernafas lega, dia pikir Jian Chen adalah orang yang kejam mengingat ia telah menjadi buronan namun pemuda itu tidak seburuk di lihatnya.
Satu hal yang pemimpin rombongan itu tidak mengerti, usia Jian Chen terlihat lebih muda darinya bahkan seperti seumuran dengan murid-muridnya. Tidak mungkin seorang remaja bisa menggemparkan suatu provinsi dengan ulahnya.