Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 89 — Kembali ke Hutan


Permintaan Hong Gao terlihat sederhana tetapi bagi ketiga pemimpin itu terlihat sulit terutama Gu Bu yang memiliki banyak anggota di dalam organisasinya.


“Baik, aku menyetujui permintaanmu.” Dong Xu yang pertama kali buka suara setelah berpikir beberapa saat.


Yue Xia memasang wajah cemberut mendengar itu, ia menoleh pada Hong Gao. “Kakak Gao, tidak bisakah syaratnya lebih mudah…”


“Nona Xia, jika aku mengerahkan semua pasukanku sendiri untuk melawan klan Jian bukankah itu tidak adil, meski bisa menang mungkin aku akan memiliki banyak kerugian.”


“Baiklah, baiklah aku mengerti, aku akan menyetujuinya.” Yue Xia mengembungkan pipinya sebal.


Pandangan kini terarah pada Gu Bu, pria gemuk itu lebih lama menimang permintaan Hong Gao sebelum akhirnya menghela nafas. “Sepertinya sulit bagiku menolak, baiklah aku menyetujuinya…”


Hong Gao mengangguk puas, jika demikian maka tidak keberatan ia membagi penghasilan tambang emas itu secara rata.


Penyerangan pada klan Jian sudah mereka rencanakan dari diskusi dulu, mereka berniat menyerang secara terbuka, menyerbu klan Jian secara langsung tanpa menyusup diam-diam atau sebagainya.


Sebenarnya mereka tidak peduli dengan klan Jian dan penduduknya, tujuan mereka ke klan Jian karena tembang emas itu. Hong Gao yakin klan Jian tidak akan sukarela memberi tambang emasnya pada orang lain apalagi organisasi jahat sepertinya.


Mereka lebih baik melawan sampai mati dari pada menyerahkan secara suka rela, sedangkan bekerja sama dengan organisasi jahat dalam kelangsungan hidup mereka adalah sebuah kemustahilan, organisasi jahat jelas tidak akan menyukainya.


Kekuatan klan Jian sendiri sudah mereka selidiki secara terperinci termasuk jagoan-jagoan terkuatnya.


Yang mereka takuti bukan pemimpin klan Jian melainkan kakek dari Jian Ya yaitu Jian Mo yang berada di ranah Alam Hampa.


Dikatan Jian Mo lebih kuat dari Hong Gao sekalipun sebab itulah ia membentuk aliansi ini.


Jian Fengxa juga patut diperhitungkan sebagai ayah dari Jian Ya atau Ketua klan Jian sebelumnya, kekuatannya berada di puncak Alam Bumi dan para Tetua Merpati Merah jelas tidak ada yang bisa mengalahkannya.


Kini aliansi yang dibentuk Hong Gao berencana untuk melakukan penyerangan ini tiga bulan lagi, bagaimanapun mereka membutuhkan persiapan sebelum berperang.


***


Jian Chen terkejut setelah mendengar cerita dari Zhou Mei yang melihat naga besar saat penerobosannya tadi.


Jian Chen tidak mengerti karena setahunya di kehidupan pertama dia tak merasakan fenomena itu ketika menerobos ke Alam Dewa Cahaya selanjutnya. Jian Chen memang sudah curiga dari awal ada yang aneh dari Kultivasi Dewa Cahaya di kehidupan kedua ini.


“Tuan Muda, kira-kira pelatihan apa yang tadi anda lakukan?” Zhou Mei sudah mulai tenang sekarang, dia kini lebih penasaran dengan apa yang majikannya lakukan sebelumnya.


“Itu adalah salah satu teknik kultivasiku, kuharap kau menjaga ini dari orang lain…”


Zhou Mei mengangguk, sebenarnya ia tidak terlalu mengerti tentang beladiri karena Zhou Mei bukan berasal dari dunia persilatan.


Jian Chen kemudian memerintahkan Zhou Mei untuk menyewa jasa agar bisa memperbaiki kerusakan rumahnya sementara ia akan pergi terlebih dahulu.


“Tuan muda, apakah anda akan ke Akademi?”


Perkataan Zhou Mei membuat langkah Jian Chen terhenti, kalau dipikir-pikir ia sudah lama tidak kesana.


Jian Chen sekarang bisa dibilang masih murid akademi meski dirinya tidak pernah masuk. Akademi adalah tempat bebas dimana muridnya bisa belajar terlepas mereka masuk ataupun tidak selama mengikuti kegiatan belajar.


Pada dasarnya selain Jian Chen, sudah banyak murid-murid yang jarang masuk. Biasanya mereka melakukan demikian karena dua hal, pertama berlatih teknik dan kedua karena berkultivasi seperti Jian Chen ini.


Akademi sendiri tidak mewajibkan muridnya harus ikut dalam pembelanjaran terus menerus, karena tujuan utama di akademi seseorang harus berkembang secara individual.


Tugas para pengurus akademi hanya membimbing, membantu dan menambah potensi setiap murid sebelum masuk dunia persilatan sesungguhnya.


Seharusnya anak seusia Jian Chen memang menghabiskan waktunya untuk belajar di akademi tetapi karena disana tidak ada yang harus dipelajari, Jian Chen memutuskan untuk bertambah kuat sendiri.


Andai pun dia disana mungkin Jian Chen adalah murid terkuat sekarang bahkan Liu Yanxi yang merupakan murid jenius nomor satu bisa dikalahkan dengan satu jurus kalau serius.


Jian Chen meminta Zhou Mei untuk membuat perbekalan terlebih dahulu untuknya disana.


Zhou Mei tidak bertanya lebih jauh, ia langsung menuruti majikannya dan mulai memasak. Zhou Mei memerlukan beberapa jam hingga selesai karena porsinya besar jadi ia agak lama.


Jian Chen memasukan perbekalan yang sudah disiapkan ke dalam cincin ruang. Dia juga memberikan kantong kulit berisi ratusan koin perak pada Zhou Mei karena kasihan melihat gadis itu yang terlihat lelah dan berpeluh.


“Tuan ini adalah kewajibanku, anda tidak harus membayarnya…”


“Tidak apa, kau telah bekerja keras untuk memasak semua ini. Anggap saja ini pemberian dariku.”


Zhou Mei menerima kantong kulit itu dengan senang hati, ia ingin memberikan uang tambahan ini pada kedua orang tuanya.


“Tuan muda, aku sungguh berhutang budi padamu…”


Zhou Mei membungkuk penuh rasa hormat, bisa dibilang semenjak ia bekerja untuk Jian Chen, selama itu juga majikannya selalu baik padanya. Jian Chen tak pernah menyulitkannya sedikitpun.


Jian Chen mengangguk, ia kemudian berpamitan dan pergi ke tujuannya yaitu Hutan Sunyi.


***


Sudah satu setengah jam berlalu Jian Chen memasuki kedalaman hutan tersebut, beberapa kali dirinya di hadang oleh berbagai siluman.


Jian Chen menyambutnya semua itu dengan senang hati karena salah satu tujuannya kesini adalah untuk berburu permata siluman yang telah habis.


Jian Chen terus bergerak melompati dahan-dahan pohon, sekali-kali ia melihat sekelilingnya takut ada siluman ratusan tahun yang terlewati. Jian Chen terus maju sampai tiba-tiba jauh didepannya ia mendengar suara saut menyahut.


“Hm, sepertinya suara ini familiar bagiku?” Jian Chen berhenti melangkah, ia memilih menunggu siluman itu menghampirinya.


Sekawanan gorila tak lama kemudian datang, berbulu putih dan taring tajam serta memiliki otot keras.


“Ah, sudah lama sekali aku tidak melihat kalian…”


Jian Chen tersenyum lebar dan mulai ingat sekarang, dulu saat berkompetisi di akademi dirinya pernah melawan kelompok gorila karena telah masuk ke kawasan mereka.


Waktu itu ia harus menguras seluruh tenaga dalamnya untuk melawan belasan gorila itu yang rata-rata silumannya berumur 50 tahunan ke atas.


Sekarang jumlah mereka sama bahkan boleh jadi lebih banyak dan kuat, tapi kekuatan Jian Chen sekarang juga sangat jauh dengan kekuatan setahun yang lalu.


“Baiklah, mungkin ini waktu yang tepat untuk mencoba kekuatanku yang sekarang.” Jian Chen memperhatikan puluhan gorila didepannya sambil mencabut pedang taring putih.


Tak lama pedangnya bercahaya keemasan, Jian Chen memilih terlebih dahulu menyerang.


“Elemental Cahaya ~ Langkah Cahaya!”


Jian Chen menghilang secara tiba-tiba dan muncul di tengah gorila itu sambil mengayunkan pedangnya, pedang yang dialiri elemen cahaya itu begitu mudah memotong tubuh gorila tersebut bagai memotong tahu.


Kelompok gorila itu membutuhkan waktu untuk menyadari lawannya sudah ada ditengah mereka, setelah melihat bangsanya sendiri tewas, gorila itu meraung keras sambil memukul-mukul dadanya.


“Baik kita sudah permanasan singkatnya...” Jian Chen tersenyum tipis. “Teknik Pedang Bulan Separuh ~ Cerminan Tetesan Hujan!”


Gorila-gorila yang hendak menyerang Jian Chen melotot melihat tubuh Jian Chen tiba-tiba terbagi menjadi tiga.


Setiap bayangan dari dirinya bergerak ke arah berbeda sambil membunuh gorila didekatnya. Tidak satu pun dari ketiganya yang merupakan sebuah ilusi.


Dalam waktu relatif cepat gorila itu sudah terbunuh setengahnya, apalagi Jian Chen menggunakan elemen cahaya membuat serangannya jauh lebih mematikan.


Gorila-gorila tersebut merasakan insting bahaya melihat Jian Chen yang sudah banyak membunuh kawanannya, akhirnya secara ketakutan mereka melarikan diri untuk menyelamatkan diri tetapi sayangnya Jian Chen tak membiarkan itu.