
"Apa jalannya benar-benar kesini?" Jian Ya bertanya heran pada Jian Chen saat keduanya masih terbang diudara.
"Aku masih ingat lokasi mereka, jika dugaanku tidak salah markas organisasi Kuil Hitam ada disini." Jian Chen mengangguk pelan sebelum pandangannya tertuju pada satu arah. "Ah, itu dia..."
Lokasi organisasi Kuil Hitam berada di lembah dekat sebuah pegunungan, jika seseorang melihatnya diudara akan cukup sulit menemukannya karena ada kabut disekitarnya kecuali mereka datang dengan melewati jalur darat.
Jian Ya menyipitkan matanya, ia sama sekali tidak bisa melihat markas tersebut tetapi Jian Chen dapat dengan mudah menemukannya.
Biarpun didirikan di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk, Markas Kuil Hitam membangun markasnya di bawah tanah. Alasan yang paling sederhana karena di dekat mereka ada banyak hewan buas yang berkeliaran.
Pendekar Alam Kehidupan saja akan kesulitan untuk pergi ke markas Kuil Hitam, sebab itu anggota mereka menggunakan semacam wewangian yang membuat hewan di sekitarnya menjauh dari bau tersebut.
Jian Chen dan Jian Ya akhirnya mendarat di tanah, tidak ada penjaga di mulut gerbang markas Kuil Hitam.
Jian Chen berpikir beberapa saat, akan lebih mudah baginya jika langsung menghabisi organisasi Kuil Hitam dengan menghancurkan markasnya langsung.
Tentu saja Jian Chen tidak bisa bertindak demikian karena takut di bawah markas tersebut terdapat banyak tawanan yang mereka culik.
Berbeda dengan Jian Chen yang masih terlihat santai di dekat markas pembunuh, Jian Ya sedikit tegang ketika sampai di sana.
Jian Ya tentu masih ingat dengan organisasi Kuil hitam karena organisasi inilah yang membuat klan Jian di serang empat tahun lalu.
Organisasi Kuil Hitam merupakan salah satu satu dari empat organisasi berbahaya di Provinsi Naga Petir yang menyamai Organisasi Merpati Merah, wajar bagi Jian Ya merasakan sedikit ketakutan saat berada di dekat markas tersebut.
"Tenang saja, apapun yang terjadi aku akan selalu berada disisimu..."
Jian Chen menggenggam tangan Jian Ya dengan lembut, menenangkan gadis itu. Jian Ya menjawabnya dengan anggukan pelan sembari berusaha tersenyum.
Jian Chen bisa saja menyuruh Jian Ya untuk tidak masuk ke sana mengingat organisasi yang keduanya serang bukan organisasi sembarangan.
Apalagi setelah empat tahun berlalu organisasi Kuil Hitam pasti mengalami pertumbuhan dari segi kekuatan dan jumlahnya.
Jian Chen berjalan beberapa langkah mendekati mulut pintu markas yang terlihat menurun ke bawah, setelah dipikir-pikir akan lebih merepotkan jika ia harus bertarung di dalam tanah.
Sebelum beraksi, Jian Chen memberi isyarat pada kekasihnya itu untuk bersembunyi dan bersiap akan pertarungan, Jian Ya langsung mengeluarkan pedang pusakanya.
"Baiklah, untuk para semut keluarlah dari sarangmu..." Jian Chen mengepalkan tangannya dengan keras sebelum meninju tanah dengan kuat. "Elemental Bumi — Gelombang Penghancur Bumi!"
Usai Jian Chen berkata demikian, markas Kuil Hitam tiba-tiba bergetar hebat seperti mengalami gempa kecil.
Jian Chen memukulkan tangannya berkali-kali membuat goncangan tanah itu semakin terasa, Jian Chen pastikan markas tersebut tidak runtuh sehingga tidak membunuh tawanan di dalamnya.
Tidak lama kemudian para anggota Kuil Hitam berlarian keluar markas untuk menyelamatkan diri karena berpikir ada gempa yang datang.
Biarpun mereka seorang pendekar yang lebih kuat dari manusia biasa, tetap saja dikubur di bawah tanah akan membuat mereka terbunuh. Jian Chen tersenyum tipis saat melihat jumlah mereka yang semakin bertambah seiring waktu.
Gempa tak lama kemudian berhenti, Jian Chen keluar dari kabut dan melangkah menuju mereka, munculnya Jian Chen segera cepat tersadari karena suara langkah kakinya.
"Hm? Apa tidak ada lagi orang yang di dalam, hanya segini saja jumlah kalian?"
Jian Chen mengerutkan dahi, biarpun lawan didepannya memiliki jumlah dua ratus orang lebih namun untuk seukuran organisasi besar seperti Kuil Hitam jumlah tersebut sangat sedikit.
Seharusnya organisasi mereka memiliki jumlah ribuan lebih.
Salah satu anggota Kuil Hitam yang menjabat sebagai Tetua menunjuk Jian Chen dengan ekspresi buruk, ia sama sekali tidak bisa mengukur kekuatan Jian Chen.
"Tidak usah mengetahui identitasku, sederhana saja aku kesini ingin menghancurkan organisasi Kuil Hitam..." Jian Chen menghunuskan pedangnya pada mereka.
Tetua Kuil Hitam mendengus, ia tidak mengenal Jian Chen namun menganggap pemuda itu sebagai ancamannya.
Tetua Kuil Hitam memberi instruksi pada yang lain untuk menyerang Jian Chen dalam bentuk formasi, sebelum anggotanya melakukan demikian, sebuah bola api tiba-tiba menembak di tengah-tengah mereka.
Bola itu meledak saat menghantam tanah, formasi yang hendak dilakukan mereka seketika tercerai berai.
"Siapa yang cukup berani melakukan hal pengecut seperti ini?!" Tetua Kuil Hitam mengumpat keras.
Tetua Kuil Hitam hendak melanjutkan umpatan lainnya namun kata-katanya tidak keluar ketika melihat seorang gadis cantik yang seperti Dewi muncul di samping Jian Chen.
Bola api itu adalah serangan dari Jian Ya, gadis itu memanfaatkan kabut di sekelilingnya untuk menyembunyikan serangan apinya.
Melihat kecantikan Jian Ya membuat anggota Kuil Hitam terpana sekaligus takjub.
Jian Chen tersenyum tipis, harus ia akui kecantikan Jian Ya sangat menarik perhatian orang lain terutama para laki-laki. Jian Chen tidak menunggu lama lagi, ia memilih menyerang mereka terlebih dulu.
Jian Chen memainkan pedangnya dengan gesit sementara lawannya tidak tinggal diam saja dan mulai menyerang Jian Chen bersama-sama.
Anggota kuil hitam terlambat menyadari Jian Chen bukan pendekar biasa saat pusaka mereka terpotong dengan mudah oleh senjata Jian Chen.
Ketika pusaka mereka terbelah maka ayunan pedang Jian Chen selanjutnya mengakhiri nyawanya, Jian Chen terus menghabisi anggota Kuil Hitam tanpa henti.
Disisi lain Jian Ya melawan Tetua Kuil Hitam satu lawan satu, kebetulan Tetua itu berada di ranah Alam Hampa juga.
Tetua Kuil Hitam jelas tertarik dengan Jian Ya dan ingin memiliki gadis itu bagaimanapun caranya, ia tidak menyadari di balik wajah Jian Ya yang masih muda kekuatannya terlalu beda jauh dengan Tetua itu.
Jian Ya menggunakan perubahan jenis elemen api ke pedangnya yang membuat setiap serangannya menjadi kuat.
Dalam beberapa kali serangan saja Jian Ya menorehkan banyak luka pada lawannya, Tetua itu mengumpat saat menyadari ada jarak signifikan antara kekuatannya dan gadis cantik tersebut.
Jian Ya memainkan pedang apinya lebih cepat lagi, ia berniat mengakhiri Tetua itu dengan serangan terakhirnya namun sebelum melakukannya ada sebuah gelombang angin yang melesat cepat ke arah gadis itu.
Jian Ya tidak sempat untuk menangkis apalagi menghindarinya, namun sebelum gelombang angin tersebut mengenainya Jian Chen sudah ada di dekatnya dan dengan mudah menangkis serangan tersebut.
"Kau tidak apa-apa?"
Jian Ya mengangguk pelan, gadis itu tampak malu-malu di situasi seperti ini karena secara tidak sengaja Jian Chen langsung memeluknya ketika muncul didekatnya.
Jian Chen kemudian menoleh ke arah Tetua sebelumnya yang kini sudah mengambil jarak, disisi lain pandangan Jian Chen tertuju ke satu arah dimana ada seseorang di sana.
"Apa kau harus bersembunyi lagi setelah menyerang orang lain diam-diam? Aku bisa melihatmu, lupakan dengan teknik persembunyianmu itu." Jian Chen berkata dengan nada mengejek.
Orang itu kemudian muncul di balik kabut, seorang pendekar Alam Langit Tahap 2 yang bisa menyembunyikan hawa keberadaannya sampai dititik seperti hilang di telan udara.
Ketika pendekar Alam Langit itu muncul, anggota-anggota di dekatnya langsung memberikan hormat pada pria sepuh itu yang menunjukkan statusnya di organisasi Kuil Hitam sangat tinggi.
Jian Chen tersenyum tipis, ia bisa merasakan senyuman percaya diri pria sepuh tersebut bahkan memandangnya remeh, tanpa tahu apa yang dilakukan Jian Chen di detik selanjutnya.