
"Saudara Jian, Kak Ziyun..." Meily sudah lepas dari gendongan Jian Chen dan baru menyadari sahabatnya tidak bersamanya.
Jian Chen mengerti kekhawatiran Meily tapi ia tak bisa menjelaskan lebih banyak, untungnya Lily segera memberitahu apa yang terjadi pada Ziyun sebenarnya.
"Jangan khawatir, gadis itu baik-baik saja, saat ini ia sedang menerima kekuatan yang hebat ke dalam tubuhnya."
"Lily, sebenarnya apa yang terjadi pada Ziyun?"
"Lily? Kau..." Lily ingin mengumpat karena Jian Chen masih menyebut namanya demikian tetapi urung setelah melihat wajah serius pemuda itu. "Hm, sulit menjelaskannya tetapi singkatnya saat ini pedang yang telah kau berikan sedang mengakui gadis itu adalah tuannya."
Jian Chen masih tidak mengerti, Lily menghela nafas dengan malas sebelum menjelaskan maksudnya.
"Umumnya senjata atau pusaka bisa dipegang oleh siapapun selama ia memilikinya namun di kasus tertentu ada sebuah pusaka yang memiliki persyaratan khusus agar bisa digunakan, salah satu contohnya pusaka pedang es yang kau berikan..." Lily kemudian melanjutkan. "Pedang yang memiliki syarat-syarat tersebut biasanya bukanlah pusaka biasa melainkan pusaka tinggi yang kuat. Lebih jelasnya, pusaka-pusaka itu berada di atas pusaka lagenda atau pusaka kuno."
Mengingat dulu Ye Ao pernah mengatakan pedang Dewa Es adalah pusaka kuno maka tidak menutup kemungkinan saat ini pedang itu merupakan pusaka yang amat hebat.
"Pedang itu ingin Ziyun menjadi tuannya karena merasa ia telah cocok. Kondisi tersebut kami biasanya menyebut Pemilik Mutlak..."
Lily mengatakan bahwa Pemilik Mutlak disematkan pada sebuah pusaka yang mencari tuannya, pusaka itu akan menyatu pada diri seseorang dan bahkan bisa memberikan kekuatan pada tuannya seperti sebuah teknik tertentu atau menaikan kultivasi.
Pusaka yang telah menjadi Pemilik Mutlak tak dapat digunakan atau dicuri oleh orang lain kecuali atas kehendak si pemiliknya.
"Jadi setelah ini hanya Ziyun saja yang bisa menggunakan pedang itu?" Tanya Jian Chen.
Lily mengangguk, "Begitulah, tapi yang membuatku tertarik disini adalah kondisi pusaka yang telah menjadi Pemilik Mutlak sebenarnya sangat langka di berbagai dunia sekalipun. Bahkan di duniaku saja hanya beberapa orang yang memiliki pusaka Pemilik Mutlak ini."
Jian Chen menggaruk kepalanya, sebenarnya ia tidak peduli dengan itu. "Jadi, bagaimana sekarang, apakah kita harus membiarkan Ziyun seperti ini?"
"Ketika pusaka Pemilik Mutlak bertemu dengan tuannya maka akan terjadi fenomena yang hebat, meski tidak berbahaya tapi itu cukup membuat kerusakan tertentu disekelilingnya..."
Benar saja, terpaan angin tadi hanyalah fenomena awal karena setelah angin itu mereda tiba-tiba dari atas langit, awan sudah mendung pekat.
Siapapun yang melihat ke atas akan melihat kengerian melihat awan hitam tersebut apalagi secara perlahan awan itu bergerak berputar-putar hingga menjadi pusaran awan.
Angin kembali berhembus kencang namun kali ini berbeda arus, angin itu menuju Ziyun sebagai pusat dan mengeliling tubuhnya hingga terjadi Turnado besar yang menerbangkan sekelilingnya.
Meily dari samping mencekal ujung jubah Jian Chen, gadis itu terlihat ketakutan bercampur rasa khawatir, takut apa yang dilihatnya dan khawatir pada kondisi sahabatnya.
Jian Chen terlihat tenang meski kekhawatiran mulai menyelimuti hatinya, ia tidak menyangka bahwa sebuah pedang bisa mengakibatkan seperti ini layaknya akan terjadi kiamat.
Tornado itu tersambung pada awan diatasnya seolah langit sedang diaduk-aduk. Meski mereka berada di tengah hutan, Jian Chen yakin semua orang di kota melihat fenomena ini.
Untungnya fenomena itu tidak bertahan lama, segera beberapa menit kemudian Tornado itu perlahan mengecil disusul dengan kondisi awan yang normal kembali. Awan-awan pun perlahan menghilang diikuti hembusan angin yang kembali normal.
Jian Chen menggerakkan tangannya membuat es yang mengelilinginya mencair, ketika Jian Chen melihat sekeliling hutan seketika nafasnya tertahan.
Gara-gara angin tornado sebelumnya hutan telah rusak parah, pohon banyak yang tumbang dan bergeser miring, beberapa bahkan ada yang tercabut sampai ke akar-akarnya hingga terbawa angin.
"Ini lebih buruk yang kuduga..." Jian Chen mengatur nafasnya, andai saja ia tidak menggunakan pelindung es untuk dirinya dan Meily mungkin keduanya sudah terbawa oleh angin tersebut atau terhisap oleh turnado besar tadi.
Perlahan-lahan pandangan sekeliling mulai terlihat, debu-debu yang sebelumnya memenuhi udara kini mulai perlahan menghilang.
Meily menutup mulutnya dengan tangan sedangkan mata Jian Chen melebar, keduanya sama-sama terkejut ketika di punggung Ziyun tercipta Dua sayap es.
Meski hanya sekilas sayap itu terlihat tetapi itu tetap mengesankan, sayap itu perlahan memudar hingga akhirnya menghilang menyatu dengan udara. Tubuh Ziyun sedikit demi sedikit mulai turun dan mendarat di tanah.
Gadis itu langsung tak sadarkan diri, pedang Dewa Es yang sebelumnya sudah menghilang di tangan Ziyun bersama sarungnya. Jian Chen maupun Meily langsung menghampiri secepatnya.
"Tidak usah khawatir, kondisi gadis itu sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya, ia hanya pingsan karena memurnikan pedang itu ke tubuhnya..." Lily memberitahu ketika Jian Chen sudah berprasangka buruk tentang kondisi Ziyun.
"Apakah pedang itu tidak berbahaya untuknya?"
"Sebelum kau bertanya itu sebaiknya lihatlah kultivasi gadis ini, kau akan menyadarinya apakah itu hal baik atau buruk."
Jian Chen mengerutkan dahi lalu mencoba melihat kultivasi Ziyun, nafasnya tertahan saat kini Ziyun sudah berada di Alam Kehidupan padahal sebelumnya ia berada di Alam Jiwa Tahap 8.
Yang mengejutkan lagi, kekuatan Ziyun terus meningkat dan hanya soal waktu ia menerobos lagi ke tahap selanjutnya.
"Ini... bagaimana bisa sebuah pedang menaikkan kultivasi seseorang?!"
Lily melipat tangannya sambil tersenyum sinis. "Dunia itu luas, pusaka yang ada di gadis ini hanya salah satu dari ratusan pusaka Pemilik Mutlak, banyak keunikan pada setiap pusaka bahkan aku pernah mendengar ada sebuah pedang pusaka yang bisa menyembuhkan seseorang."
Alis Jian Chen tertarik, sejak kapan pedang yang seharusnya melukai dapat memiliki fungsi kebalikan, tetapi Jian Chen tidak membantah perkataan Lily.
Jian Chen menyentuh nadi Ziyun untuk melihat kondisinya, tubuh gadis itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya walau perlahan-lahan mulai kembali normal.
Tak lama kemudian Ziyun membuka mata dengan lemas, Jian Chen membantu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Apa yang terjadi?" Ziyun memegang kepalanya yang terasa sakit, ingatannya yang terakhir kali adalah saat mencabut pedang Dewa Es sebelum dirinya tiba-tiba tak sadarkan diri.
Meily langsung memeluk sahabatnya dengan isakan kecil, ia sudah khawatir dari tadi dan tidak berhenti memikirkan kondisi Ziyun.
"Mei'er, aku baik-baik saja, kau terlalu berlebihan mengkhawatirkanku..." Ziyun tersenyum lembut, mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Keduanya sudah dekat sejak mereka masih kecil, Meily sudah menganggap Ziyun sebagai saudara kandungnya jadi tidak mengherankan ikatan keduanya sangat erat.
Jian Chen membiarkan keduanya beberapa waktu dulu sementara dirinya melihat situasi pada tubuh Ziyun.
"Apa kau yakin Ziyun baik-baik saja?"
"Apa aku harus mengatakan ini seratus kali!" Lily berdecak kesal.
Jian Chen tersenyum canggung. "Kau tahu, aku hanya masih tidak percaya melihat sebuah pusaka bisa melakukan seperti ini... Andai saja didalam tubuhku ini bukan gadis menyebalkan melainkan pedang itu mungkin aku bisa lebih kuat dengan cepat."
Telinga Lily bergetar, "Hei, apa tadi kau bilang, gadis menyebalkan? Kau menyindirku?!"
Jian Chen tersadar dengan kesalahannya, "Eh, maap..."
"Kau... Berani menghina Tuan Puteri ini, akan kubunuh kau..."
Jian Chen menggaruk kepala, di kepalanya kini Lily menghujaninya dengan umpatan dan marah-marah sampai telinganya terasa sakit. Harus Jian Chen akui, Lily memang gadis menyebalkan.