
Jian Chen segera di serang oleh belasan pendekar Alam Langit yang mengepungnya, tindakan tersebut membuat Jian Chen jadi di posisi bertahan.
Belasan pendekar Alam Langit keheranan sekaligus takjub ketika Jian Chen berhasil menahan atau menghindar serangan mereka, masalahnya Jian Chen melakukan itu dengan cukup tenang dan tidak terlihat kerepotan.
Permainan pedangnya bagai sebuah pelindung bagi tubuhnya, tidak peduli serangan dari arah mana pedang Jian Chen akan dengan cepat menahan serangan mereka.
Yang paling mengganggu para pendekar Kekaisaran Qilin adalah kualitas pedang yang Jian Chen pakai, mereka yakin sudah menggenapkan kekuatan mereka saat mengayunkan senjatanya tetapi pedang itu terlihat sangat kuat dan kokoh.
Bukan hanya pedang berwarna merah itu tidak mengalami kerusakan saat berbenturan dengan belasan pusaka sekaligus tetapi juga membuat lawannya merasakan kengerian ketika terus beradu dengan pedang Jian Chen.
"Benar-benar sebuah pusaka..."
Salah satu dari mereka berdecak kagum, pendekar tersebut membawa sebuah gada yang berat namun pedang Jian Chen dapat dengan kuat menahan serangannya tanpa bergeming sedikitpun.
"Terus serang dia, aku yakin dia tidak bisa bertahan melawan kita semua sekaligus!"
"Benar, dia sudah bertarung lama sebelumnya, tenaga dalamnya pasti sudah menipis..."
"Aku yakin dia tak akan sanggup bertahan lebih lama lagi!"
Ketika lawan-lawannya menyerang Jian Chen dengan bertubi-tubi, Jian Chen masih tenang sambil memikirkan cara untuk memenangkan pertarungan tersebut.
Alasan ia masih tenang dalam situasi di kepung tersebut karena lawannya belum menggunakan seluruh kekuatannya, Jian Chen sadar mereka mencoba menguras semua tenaga dalamnya namun jika itu yang ingin mereka lakukan, Jian Chen bisa melakukan pertarungan ini selama yang mereka mau.
Saat pertarungan terus berlanjut, Jian Chen tiba-tiba merasakan ada aura yang hebat dari salah satu arah.
Jian Chen mengerutkan dahinya, ia mengambil jarak dengan lawannya beberapa saat sebelum menoleh ke arah yang di maksud. Jian Chen mendapati ada tiga pendekar Alam Raja yang tengah menontonnya dari jauh.
"Pantas saja klan Miou dapat dengan mudah di kalahkan, aku tidak menyangka mereka akan mengarahkan pendekar setinggi ini hanya untuk menguasai sebuah klan..."
Jian Chen menghela nafas, ia menyadari bahwa merebut klan Miou kembali bukanlah perkara yang mudah namun Jian Chen tidak menduga harus ada pendekar Alam Raja di sana.
Jian Chen kemudian melihat belasan pendekar Alam Langit yang ingin menghampirinya lagi, sepertinya ia harus menunjukkan kekuatannya yang lebih dari sekarang agar ketiga Alam Raja itu ikut turun tangan.
Jian Chen menarik nafas yang dalam sebelum maju dan mulai menyerang mereka balik.
"Teknik Pedang Gerhana — Tarian Dewi Rembulan!"
Jian Chen menggunakan teknik pedangnya yang di padukan dengan tarian yang indah, ketika ia hendak dikepung lagi oleh lawannya teknik itu dapat dengan mudah mematahkan serangan mereka.
Pedang Jian Chen langsung terselimuti api putih, selain dipadukan dengan tarian, nyatanya teknik yang sama juga membuat pedang penggunanya menghasilkan sebuah api yang panas akibat gesekan udara.
Gerakan Jian Chen jadi lebih cepat serta diiringi gerakan yang rumit, belasan pendekar yang awalnya sudah di atas angin langsung terpojok dengan teknik Jian Chen.
Dengan teknik dan pusakanya, Jian Chen memotong pusaka di tangan mereka satu persatu.
"Ini... Bagaimana bisa?"
"Tidak mungkin, dia ternyata sekuat ini?"
Jian Chen nyatanya tidak peduli dengan keterkejutan mereka, ia mulai mencoba melukai lawan-lawannya termasuk menghancurkan pusaka yang mereka miliki.
Menyadari situasinya, belasan pendekar Alam Langit mulai sadar Jian Chen adalah ancaman yang membahayakan nyawa mereka jika terus bermain-main.
Mereka langsung mengeluarkan pusaka rahasia atau senjata andalannya masing-masing. Jian Chen tersenyum sinis, harus ia akui pendekar Kekaisaran Qilin memang menganggap remeh para pendekar Kekaisaran Naga.
Jian Chen kembali menyerang, permainan pedangnya yang lincah segera menekan belasan lawannya. Jian Chen berhasil membuat goresan pada lawannya sementara belasan pendekar Alam Langit itu tidak berhasil melukai Jian Chen.
Ketika pedang asura berbenturan dengan senjata lawannya, akan ada bunyi keras yang memekakkan telinga.
Benturan tersebut menunjukkan kekuatan ayunan Jian Chen yang sangat kuat, membuat pusaka lawannya mengalami retakan halus setiap kali terbentur.
Para pendekar Alam Langit menelan ludah saat merasakan kekuatan ayunan Jian Chen, tangan mereka terasa nyeri setiap kali beradu serangan.
Mereka mencoba menghindari ayunan pedang Jian Chen dari pada menahan serangannya namun keputusan tersebut adalah hal yang keliru.
Jian Chen menggunakan teknik pedang gerhana lagi yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Tiga Alam Langit tidak bisa mengikuti kecepatan gerakan Jian Chen sehingga ayunan pedang asura selanjutnya segera membunuh ketiganya dalam satu kali serangan.
Pendekar yang tersisa langsung berekspresi pucat saat melihatnya, mereka kini memandang Jian Chen penuh ketakutan.
Berbeda dengan reaksi lawannya, Jian Chen justru amat menikmati pembunuhan tersebut, lagi-lagi pedang asura akan membuatnya merasa bergairah setiap kali ia membunuh.
Jian Chen melihat ke arah tiga Alam Raja tersebut, mereka tampak terkejut dengan apa yang ia lakukan tetapi ketiganya masih belum bergerak.
'Hm, apa mereka menunggu kelelahan, kalau begitu bawahan mereka tidak akan selamat jika tidak segera membantu...' Jian Chen bergumam pelan sebelum tersenyum lebar pada lawan-lawannya.
Jian Chen menarik nafas yang dalam lalu melakukan perubahan jenis di mulutnya.
"Elemental Api — Hembusan Nafas Bola Api!"
Jian Chen tiba-tiba menyemburkan bola api raksasa di mulutnya yang melesat cepat ke arah lawannya.
Para pendekar Alam Langit melotot menyaksikan hal tersebut, bola api Jian Chen sangat besar, cukup membuat mereka terpanggang ke dalamnya.
Salah satu pendekar Alam Langit dari mereka segera menghentikan bola api raksasa Jian Chen dengan elemen air, tetapi ketika air yang dikeluarkannya mendekati bola api Jian Chen, air itu segera menguap begitu saja.
Bola api yang dikeluarkan Jian Chen selain besar juga memiliki suhu yang sangat panas, menyadari tidak berhasil dengan satu orang saja, tiga pendekar lain yang memiliki elemen yang sama langsung menyemburkan air bersama-sama sehingga menghasilkan kubah air yang cukup besar.
Semburan air itu berhasil menahan laju api Jian Chen tetapi disisi lain ketika air dan api bertemu, uap dengan asap tebal segera memenuhi area sekitarnya yang menghalangi jarak pandang.
Asap tersebut membuat mereka tidak bisa melihat ke sekelilingnya, Jian Chen memanfaatkan kondisi tersebut dengan menyerang mereka dari arah belakang.
Dia bergerak cepat ke arah lawannya dan segera menghabisi mereka dalam sekali serangan. Asap dari uap itu tidak bisa bertahan lama sehingga Jian Chen hanya menyisakan empat pendekar Alam Langit lagi.
Pendekar Kekaisaran Qilin yang menonton di bawah sampai sulit berkata-kata ketika melihat rekan mereka satu persatu mulai berjatuhan dari langit.
Jian Chen ingin menyerang empat pendekar Alam Langit yang tersisa namun tiba-tiba dari jarak yang jauh, satu dari tiga Alam Raja yang menonton pertarungan akhirnya mulai bergerak ke arahnya.
Jian Chen tersenyum tipis, ia berpikir sudah membuat mereka bertiga langsung turun tangan setelah menunjukkan kekuatannya namun sepertinya ia masih di pandang remeh oleh mereka.