
Lima pendekar Alam Bumi membuka mulutnya dengan pandangan tidak percaya saat Jian Chen tiba-tiba terpecah jadi lima
Belum kelimanya pulih dari keterkejutannya lima cerminan tubuh Jian Chen menyerang bersamaan.
Kelimanya berpikir salah satu dari kembaran Jian Chen adalah ilusi namun setelah mereka bertukar serangan beberapa detik wajah kelimanya menjadi pucat.
Keterkejutan bercampur ketakutan memenuhi ekspresi mereka membuat Jian Chen dapat dengan mudah menorehkan luka pada kelimanya.
Bagi mereka yang baru melihat teknik Jian Chen, reaksi mereka adalah wajar karena teknik yang sering di pakainya ini merupakan teknik sulit diantara Teknik pedang rembulan lainnya.
Hanya beberapa dari orang di klan Niu yang bisa menggunakan 'Cerminan Tetesan Hujan' dan setahu Jian Chen mereka merupakan petinggi klan seperti Niu Qisha atau Niu Zhen, Niu Meily juga adalah salah satunya.
Jian Chen memainkan pedangnya lebih cepat lagi sebelum akhirnya kelima pendekar Alam Bumi itu menjaga jarak dengan Jian Chen.
"Dia terlalu kuat! Setidaknya kekuatannya berada di permulaan Alam Hampa!"
"Apa, tidak mungkin! Usia dia masih remaja, meski ia menggunakan teknik tertentu agar terlihat lebih muda tetapi tidak akan sampai wajahnya seperti orang belasan tahun."
Kelima pendekar Alam Bumi menjadi bimbang sekaligus dilema, Jian Chen bisa mengungguli kelimanya sudah mengejutkan namun kali pemuda itu bahkan hampir melukai mereka.
Kelimanya yakin Jian Chen dapat membunuh mereka kalau pertarungan ini terus berlanjut.
Di saat mereka masih berpikir Jian Chen tidak menunggu kelimanya dan langsung menyerang lagi.
Jian Chen mengalirkan tenaga dalam lebih besar pada pedang Asura, membuat ketajaman pedang itu lebih kuat serta daya hancurnya meningkat.
Alhasil salah satu pusaka dari mereka yang mencoba menahan serangan pedang Jian Chen jadi hancur berkeping-keping.
Orang itu kaget dengan tangannya masih gemetar karena merasakan rasa sakit akibat menahan serangan Jian Chen, sebelum ia mengambil jarak Jian Chen mengayunkan pedangnya sekali lagi namun kali ini ke arah lehernya.
Pendekar Alam Bumi itu seketika tewas di tempat membuat keempat pendekar yang tersisa buru-buru mengambil jarak dengan wajah pucat.
Jian Chen tidak memberikan waktu untuk keempatnya menenangkan diri, ia yakin langkah selanjutnya yang di ambil mereka adalah melarikan diri sehingga Jian Chen harus terus berdekatan dengan lawannya.
Keempat pendekar Alam Bumi menahan serangan Jian Chen, posisi mereka kini terbalik dan di desak.
Meski keempatnya di posisi bertahan tetapi situasi mereka sangat buruk, setiap kali pedang merah Jian Chen terayun dan mereka menahan dengan pusakanya, rasa sakit di tangan mereka semakin menjadi, apalagi ayunan Jian Chen selalu lebih kuat dari ayunan sebelumnya.
Tidak membutuhkan waktu lama Jian Chen kembali menghancurkan dua pusaka lawannya, ketika pusaka itu hancur mereka tidak bisa lagi menahan pedang Asura yang terayun pada tubuhnya.
Tersisa kini dua pendekar lagi setelah tiga pendekar Alam Bumi telah tewas, menyadari bukan lawan Jian Chen mereka berniat melarikan diri.
Jian Chen mendengus. "Ingin lari! Tidak semudah itu!"
Jian Chen menghentakkan kakinya ke tanah, menciptakan debu biru yang bergerak cepat ke dua pendekar itu, sebuah bongkahan es tiba-tiba muncul dan menjerat kaki keduanya agar tidak lari.
Dengan pedangnya, Jian Chen segera cepat menghampiri mereka, dalam sekali tebasan itu ia membunuh dua lawannya sekaligus.
Tiga pendekar Alam Hampa yang sempat melihatnya terkejut bukan main karena mereka tidak dapat melakukan demikian, melawan lima pendekar Alam Bumi jelas bukan hal mudah menurut mereka apalagi bisa membunuhnya.
Kini ketiganya mulai yakin Jian Chen lebih kuat dari mereka duga karena mereka tidak bisa melihat batas kekuatan Jian Chen.
Melawan Jian Mo saja mereka sedikit sulit untuk melukainya apalagi jika Jian Chen bergabung, meski hanya dugaan saja tetapi ketiganya yakin mereka tidak akan di posisi diuntungkan melawan Jian Chen dan Jian Mo bersamaan.
"Ketua Mo! Anda tidak apa-apa?" Jian Chen buru-buru menghampiri Jian Mo, pria sepuh itu kini mengalami beberapa tebasan yang muncul dari lukanya.
"Aku baik-baik saja, terimakasih..." Nafas Jian Mo terputus-putus, tenaga dalamnya hampir terkuras habis karena sudah bertarung lama sebelumnya.
Jian Mo awalnya berusaha menarik semua perhatian pasukan klan Liu, sebagai bayarannya ia di kepung puluhan musuh dan melawan mereka semua.
Dengan kekuatannya tidak sulit bagi Jian Mo keluar dari kepungan itu serta membunuh sebagian mereka, sampai akhirnya 3 pendekar Alam Hampa di kerahkan untuk menghentikannya, karena masih di posisi yang tidak diuntungkan, lima pendekar Alam Bumi datang lalu membantu untuk membunuh Jian Mo.
Hasilnya tenaga dalam Jian Mo terkuras banyak akibat pertarungan berat sebelah itu, Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada punggung pria sepuh itu untuk membantunya memulihkan luka.
"Terimakasih pendekar, sepertinya anda adalah bantuan dari klan Niu?"
"Aku..." Jian Chen menggaruk kepalanya sebelum akhirnya mengangguk saja.
"Aku sekarang baik-baik saja, kondisiku sudah membaik dan hanya membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaga dalam. Anda bisa pergi untuk membantu yang lain."
Jian Chen tersenyum tipis sebelum melihat sekitarnya, ia bisa melihat meski ada banyak pasukan klan Liu namun mereka tidak berani melawan Jian Mo setelah melihat kekuatannya.
Jian Chen akhirnya memutuskan kembali ke arah rumahnya berada, Jian Chen berharap dengan kediaman yang terbilang terpisah dari pemukiman yang lain tidak ada pasukan klan Liu yang menyerang.
Setidaknya itu yang Jian Chen pikirkan saat ketika tiba di rumahnya ia tiba-tiba mematung di ikuti emosinya yang mulai naik tak terkendali.
Semua itu terjadi karena ia melihat apa yang di lihat depannya.
***
Jian Wu sedang bertarung melawan 5 kelompok pembunuh sementara istrinya dan Jian Ya berada di titik lain.
Jian Ya tampak kesulitan melawan tiga pendekar yang di lawannya karena perhatiannya harus terbagi pada Jian Ran.
Tiga pembunuh itu menyadari tidak bisa mengalahkan Jian Ya dengan kekuatannya akhirnya mereka mengincar Jian Ran tak jauh dari mereka, alhasil cara itu membuat Jian Ya berhasil di desak.
"Pengecut, apa serendah ini kalian bertarung hanya untuk menang!"
Ketiga orang yang di lawannya tertawa mengejek, "Dalam urusan hidup dan mati, segala cara bisa dilakukan untuk menang!"
Jian Ya semakin geram tetapi ia tidak gegabah terpancing emosi, ia masih memprioritaskan situasinya.
Berbeda dengan Jian Ya, kondisi Jian Wu semakin buruk, ia hanya berada di Alam Kehidupan, melawan 5 pendekar yang memiliki kultivasi yang sama sekaligus bukanlah perkara mudah.
Goresan demi goresan terus melukai tubuh Jian Wu, darah mulai mengucur di tubuhnya membuat pandangannya jadi kabur karena kehilangan banyak darah
Jian Wu sudah mencapai batas, tenaga dalamnya sudah hampir habis namun tidak ada tanda-tanda baginya bisa menang apalagi selamat.
Tidak membutuhkan waktu lama salah serangan musuhnya menusuk tubuhnya, membuat Jian Wu muntah darah sebelum tumbang ke tanah.
Jian Ran melihat itu tidak peduli lagi pada bahaya di sekitarnya, sambil menggendong bayi ia langsung buru-buru menghampiri sang suami.
Kelompok pembunuh itu tertawa dan bersiap mengangkat senjatanya untuk mengakhiri Jian Ran juga.
Senyuman menghiasi bibir kelompok pembunuh itu saat tiba-tiba dari arah belakang, ada suara teriakan yang menggema di ikuti dengan munculnya pilar cahaya yang menembus ke ata langit.