
Jian Chen tiba di depan Liu Zhi yang tak bisa bergerak, mata Liu Zhi terarah pada wajah Jian Chen, hatinya di selimuti oleh ketakutan, perasaan yang sudah lama ia lupakan.
Menjadi pendekar Alam Langit bisa di bilang adalah puncak dari dunia persilatan Kekaisaran Naga, walaupun hanya Alam Langit Tahap 1 mereka bisa dibilang sudah di hormati atau terkenal.
Selama ini, tidak ada orang yang bisa membunuh Pendekar Alam Langit seperti yang Jian Chen lakukan, apalagi sampai membunuhnya dengan mudah.
Liu Zhi bisa di bilang adalah Tetua yang paling di hormati di klan Jian setelah Ketua klan, kekuatannya sekarang bisa di bilang termasuk 10 pendekar terkuat di provinsi Naga Petir.
Liu Zhi menatap Jian Chen di balik topengnya, meski mata pemuda itu berwarna emas yang indah namun sorot matanya terlihat dingin dan seperti terselimuti kegelapan yang dalam.
Jian Chen tidak berbicara atau mengeluarkan sepatah kata pun, ia tiba-tiba meletakkan telapak tangannya di kening Liu Zhi sebelum menggunakan elemen waktu.
Jian Chen mengambil masa depan pria sepuh itu lalu menariknya ke masa kini, masa depan yang di maksud adalah usia Liu Zhi saat sedang sekarat nanti.
Perlahan-lahan kulit Liu Zhi yang sudah berkerut kini semakin bertambah dan menyusut hingga akhirnya hanya menyisakan tulang berbalut kulit.
Belum cukup di sana, Jian Chen mengambil masa depannya lagi, perlahan kulit Liu Zhi menghilang hingga akhirnya tersisa tulang belulang.
Liu Zhi salah satu pilar dari klan Liu dan merupakan orang nomor 2 dari klan Liu telah gugur di klan yang menurutnya lemah. Apalagi sampai akhir hayatnya ia tidak terima kematian tragis yang menimpanya.
Jian Chen menjatuhkan tulang Liu Zhi sebelum memandang ke klan Jian yang kini sudah jauh, ia kemudian bergerak cepat ke sana.
***
Kematian dua pendekar Alam Langit di pihak pasukan klan Liu membuat sebagian pasukannya menjadi ragu untuk terus bergerak maju.
Ketika sosok bertopeng misterius itu sudah pergi dan mengejar Liu Zhi perasaan mereka tetap cemas, mereka bingung harus terus berperang atau mundur.
Sebenarnya pihak klan Liu masih mendominasi peperangan ini namun mereka takut sosok misterius yang memiliki sayap itu akan kembali.
Kekhawatiran mereka akhirnya terjadi ketika Jian Chen secara tiba-tiba muncul di atas mereka semua dan melayang dengan enam sayapnya, matanya menelusuri setiap peperangan yang terjadi di bawahnya.
Peperangan memang terhenti karena semua pandangan sedang tertuju pada Jian Chen, pasukan klan Liu terutama ingin memastikan apakah Jian Chen akan menyerang mereka atau tidak.
Jian Chen mengalirkan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya sebelum di satukan. Ia mengeluarkan teknik elemen waktu kemudian bergumam pelan.
"Elemental Waktu — Dimensi Ruang dan Waktu!"
Usai Jian Chen berkata demikian, sebuah pecahan kaca yang robek muncul dari ruang kosong, robekan tersebut bukan robekan ruang tetapi robekan dari sebuah dimensi.
Robekan dimensi itu bukan berjumlah satu melainkan terus bertambah dari puluhan sampai ratusan hingga akhirnya berhenti ketika mencapai seribu robekan dimensi.
Di balik robekan dimensi kemudian ada yang keluar dari sana, seseorang yang memiliki mata emas dan juga bersayap enam, itu adalah Jian Chen itu sendiri.
Lily sampai tersedak nafasnya sendiri ketika melihatnya, perempuan itu sudah tak bisa lagi mempertahankan ketenangannya melihat yang demikian.
Setiap cerminan tubuh Jian Chen yang keluar dari robekan dimensi adalah bayangan Jian Chen dari masa lalu, dengan elemen waktu, Jian Chen dapat menarik tubuhnya ke masa sekarang.
Di sebut bayangan Jian Chen sebenarnya tidak terlalu tepat karena semua pasukan Jian Chen itu adalah dirinya sendiri. Sehingga kekuatan dari cerminan diri Jian Chen memiliki kekuatan yang sama.
Setiap diri Jian Chen memegang pedang Asura, pedang yang terbilang sangat langka itu bisa di kloning dengan mudah saat menggunakan elemen waktu. Tentu semuanya adalah pusaka Dewa Asura asli.
Jian Chen mengayunkan tangannya seketika pasukan dirinya langsung bergerak turun dan menyerang pasukan klan Liu.
Jika satu Jian Chen saja memiliki kekuatan membunuh tiga Alam Langit apalagi seribu dirinya. Apalagi setiap diri Jian Chen memakai pedang Asura.
Satu persatu setiap cerminan Jian Chen mulai menghabisi pasukan klan Liu dalam setiap ayunan pedang.
Pendekar Klan Jian yang sempat khawatir kini bernafas lega ketika Jian Chen hanya membunuh pasukan klan Liu saja.
"Sial! Apa-apaan semua ini, apakah semua ini ilusi?"
"Tidak, aku bisa melihat yang terbunuh olehnya benar-benar kehilangan nyawa?"
"Apa? Jangan bilang semua ini adalah tubuhnya yang asli?"
Pasukan klan Liu tidak lagi berniat untuk bertarung, ia bisa melihat dalam waktu beberapa detik saja cerminan Jian Chen sudah membunuh seperempat pasukan klan Liu.
Mereka yang mencoba menyerah apalagi melawan tetap akan di bunuh, cerminan Jian Chen akan langsung mengayunkan pedangnya tanpa peduli ia laki-laki atau perempuan selama mereka di pihak musuh.
Pasukan klan Liu yang hendak kabur tidak semudah itu melarikan diri, mereka harus melewati cerminan Jian Chen yang sudah mengelilingi setiap pembatas klan Jian.
Merasa sudah terkurung mereka mencoba bersembunyi, hanya saja di mata Jian Chen tidak ada yang luput dari penglihatannya.
Lagian mereka tidak bisa bersembunyi di peperangan terbuka seperti ini apalagi ada banyak pendekar klan Jian yang tidak akan tinggal diam jika mereka ada yang meloloskan diri.
Pada akhirnya semua pasukan klan Liu di bantai habis, tak peduli mereka di kultivasi Alam Jiwa atau Alam Hampa semuanya terbunuh di klan Jian tanpa ada yang tersisa sedikitpun.
Kini di segala titik klan Jian di penuhi ribuan jasad yang tergelak dimana-mana, klan Jian pasti membutuhkan waktu seharian untuk membersihkan semua mayatnya.
Para pendekar klan Jian membungkuk hormat pada cerminan Jian Chen yang berada di sekitar mereka karena telah menyelamatkan klannya.
Bukan hanya klan Jian berhasil bertahan tetapi mereka juga telah memenangkan peperangan ini dengan cara yang mereka tidak sangka, bukan hanya jumlah jasad di pihaknya lebih sedikit peperangan sekarang juga berlangsung lebih singkat.
Jian Chen yang asli atau Jian Chen yang berada di masa sekarang berada di atas langit, setelah klan Jian bersih dari musuh-musuhnya ia kemudian menjentikkan jarinya.
Seribu cerminan diri Jian Chen kemudian masuk ke robekan dimensi seperti semula, menyisakan hanya dirinya di atas langit.
Semua pandangan kemudian menoleh ke arah Jian Chen yang asli, berpikir pemuda itu akan singgah atau mendarat tetapi justru sebaiknya. Jian Chen melesat cepat terbang lebih tinggi sebelum meninggalkan klan Jian.
Hilangnya jejaknya Jian Chen masih dilihat meski tubuh pemuda itu sudah tidak ada.
Mereka tidak mengetahui siapa yang telah menolong klannya namun mereka menyebut Jian Chen sebagai pahlawan bertopeng misterius.
Berita ini pasti akan mengguncangkan dunia persilatan, bukan hanya provinsi Naga Petir boleh jadi akan sampai ke Kekaisaran Naga. Apalagi Jian Chen tidak terlihat seperti manusia dengan sepasang tiga sayap indah di punggungnya, bahkan dari kabar ini tidak sedikit ada yang menyebut Jian Chen sebagai Dewa yang telah menolong klan Jian.