Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 325 — Ibukota Provinsi


"Jadi berapa lama aku tak bisa bergerak seperti ini?" Jian Chen bertanya usai Lily menjelaskan panjang lebar.


"Tidak akan lama, mungkin beberapa jam saja..." Gadis itu mengangkat bahunya.


Setidaknya Jian Chen bisa bergerak ketika pagi hari tiba, ia akui tidak menyangka akan menjadi seperti orang yang lumpuh. Jian Chen hanya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau buah surgawi itu bereaksi ketika saat sedang bertarung.


Jian Chen kemudian bertemu kembali dengan Manajer He sesudah mengisi beberapa tenaga dalamnya, Jian Chen berniat akan pergi ke ibukota Provinsi Naga Pasir.


"Tuan muda, aku menyarankan sebaiknya anda jangan ke sana. Ibukota sedang tidak baik-baik saja belakangan ini..."


Jian Chen mengerutkan dahi, ia bisa melihat keseriusan Manajer He dalam ucapannya barusan. "Bisa kau jelaskan yang dimaksud tidak baik-baik saja..."


"Tuan muda, pasti sudah mendengar tentang banyak orang asing yang berdatangan ke provinsi ini usai adanya kasus Istana gurun tersebut? Ibukota adalah yang berdampak negatif dari semua kota yang lain..."


Manajer He mengatakan bahwa Ibukota provinsi yang letaknya tak jauh dari istana gurun menjadi tempat sarangnya orang kriminal di sana karena memang mereka yang mengincar istana tersebut rata-rata bukanlah orang baik.


Masalahnya adalah para kriminal itu bukan dari kekaisaran Naga saja tetapi dari kekaisaran Qilin serta kekaisaran Foeniks. Ibukota yang dulunya tempat yang sejahtera dan damai telah berubah menjadi nerakanya provinsi Naga Pasir.


Warga pribumi rata-rata akan dipekerjakan oleh orang asing bahkan diperbudak, kesenjangan sosial di sana akan terlihat jelas walau Jian Chen baru memasuki gerbang kota.


"Dari yang aku dengar, semua masalah di tempat ini berasal dari istana gurun tersebut, bukan?"


Manajer He mengangguk. "Aku juga beranggapan demikian, Tuan muda, dulu sekali provinsi ini sangat harmonis meski dilingkupi keterbatasan air dan makanan, penduduknya sangat cinta damai tetapi semua berubah semenjak sebuah karavan menemukan istana gurun itu."


Jian Chen mengelus dagunya, ia sepertinya harus melakukan sesuatu pada istana tersebut. Jian Chen bertanya beberapa pertanyaan lagi sebelum menyudahi pertemuannya dengan Manajer He sekaligus berpamitan padanya.


"Apa tujuanmu selanjutnya hari ini, mencari petunjuk tentang Shio itu?" Lily bertanya dari samping, keduanya sedang berjalan meninggalkan kota Yanghai.


"Kita terlebih dulu ke ibukota sebelum ke istana gurun, ada hal yang harus aku lakukan pada tempat itu." Jian Chen kemudian mulai melayangkan tubuhnya.


"Kau berniat mencari harta karun atau sejenisnya?"


Jian Chen menggeleng pelan, "Aku tidak sama dengan mereka yang mencari harta benda, aku berniat menghancurkan istana itu."


Lily mencibir, "Kau pasti berniat menolong warga sekitar sini, biasanya kau selalu ikut campur dalam setiap masalah orang lain."


Jian Chen tidak menjawab, ia memang berniat untuk mengubah provinsi ini menjadi lebih baik lagi atau setidaknya situasinya kembali seperti semula. Jian Chen mungkin tidak mempunyai hubungan dengan provinsi Naga Pasir tetapi ia tak bisa membiarkan kejahatan disini meraja lela.


Lagi pula, mendengar kata perbudakan Jian Chen sudah berambisi untuk menyelesaikan masalah ini, ia khawatirkan perbudakan semakin meluas bahkan sampai ke tempat tinggalnya.


Jian Chen dan Lily kemudian melanjutkan perjalanannya dengan terbang menuju Ibukota.


***


Lily bisa saja terbang lebih cepat bagai kilat tetapi ia tidak busa melakukan hal tersebut karena Jian Chen tidak mungkin bisa mengejarnya.


"Jika perhitunganku tidak salah, kita akan sampai tak lama lagi..." Dari ujung cakrawala, samar-samar Jian Chen kemudian melihat kota lain yang tak bukan adalah Ibukota provinsi. "Itu dia, kita sudah sampai."


Jian Chen dan Lily mendarat tak jauh dari gerbang perbatasan, ia melihat banyak sekali antrian orang-orang yang sedang masuk ke dalam kota.


Sesaat Jian Chen menyadari ada yang janggal dari orang-orang yang mengantri tersebut terutama penampilan mereka.


Rata-rata dari mereka memiliki penampilan dekil, pakaian lusuh serta kotor, yang paling menarik perhatian Jian Chen adalah sepasang rantai yang diikat di tangan, leher, dan kaki mereka.


Dari sekilas saja Jian Chen menyadari bahwa mereka adalah para budak, sementara di barisan paling depan ia melihat ada pedagang yang memegang rantai tersebut.


"Bukankah perbudakan di larang di kekaisaranmu ini? Kenapa mereka justru melakukannya dengan terang-terangan?" Lily bergumam pelan sambil berdecak berulang kali.


"Menyaksikan mereka melanggar hukum di depan petugas kota menunjukkan situasi kota lebih parah dari yang kita duga." Jian Chen menghela nafas, harus ia akui situasinya lebih parah yang di ceritakan Manajer He.


Para budak tersebut tidak dalam kondisi yang baik, entah itu budak perempuan dan budak laki-laki semuanya dalam posisi memprihatinkan dengan tubuh mereka yang terlihat kurus.


Bukan itu saja, di beberapa budak yang lain terdapat luka lebam dan cambukkan, jelas sekali mereka telah mengalami penyiksaan. Para budak itu juga tidak meminta tolong pada orang-orang di sekitarnya, beberapa pasrah sementara yang lain takut meminta pertolongan.


Dari wajahnya yang khas, mereka adalah penduduk di gurun ini. Jian Chen hanya menyesalkan warga pribumi yang menjadi budak dari bangsa orang asing di tempat mereka tinggal.


Selain karena hutang yang dapat membuat seseorang menjadi budak, ada faktor yang membuat mereka di posisi demikian terutama penculikan atau kejahatan lainnya.


"Apa kau akan menolong mereka?" Tanya Lily saat melihat Jian Chen terus menatap para budak tersebut.


"Aku tidak tahu tapi aku akan merubah sesuatu di kota ini..." Jian Chen memalingkan wajahnya, memilih terus melanjutkan langkah memasuki perbatasan kota sementara Lily mengikutinya tak lama kemudian.


Para penjaga segera menghadang Jian Chen dan Lily untuk melihat identitasnya, mereka sepertinya akan memeriksa setiap orang yang masuk apalagi Jian Chen memakai pedang yang tersarung di pinggangnya.


Melihat kartu emas yang Jian Chen keluarkan membuat dua penjaga itu menjadi segan pada Jian Chen, disisi lain pandangan mereka jatuh ke gadis di samping pemuda itu yang membuat mereka terpana atas kecantikan Lily.


"Apa kalian tau tempat jual budak di sini ada dimana?" Jian Chen bertanya pada penjaga itu.


"Ah, apakah kau ingin membeli budak juga?" Salah satu penjaga itu bertanya balik sambil sesekali melirik Lily.


Jian Chen terdiam beberapa saat sebelum mengangguk pelan. "Kudengar kota ini adalah sumbernya, bila kutahu dimana mereka menjual budak."


"Kau bisa beli di Kedai Rajawali Malam, mereka akan buka saat malam hari tiba, budak-budak di sana jauh lebih bagus di banding kedai lain."


Jian Chen sulit menyembunyikan kerutan di dahinya, ia tidak menduga akan lebih umum dari yang ia kira.