Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 308 — Dunia Yang Luas (Arc 3. End)


"Aku sepertinya masih meremehkanmu, apa kau punya kekuatan lain yang masih kau sembunyikan?" Gadis itu memiringkan kepalanya, ia kini sudah tidak terkejut lagi kalau-kalau Jian Chen menggunakan teknik lainnya.


"Apa kau ingin membawa ini ke jalur saling membunuh, sudah aku bilang semua ini adalah kesalahpahaman." Jian Chen menyipitkan matanya.


"Apa yang membuatmu berpikir aku akan membiarkanmu lolos?"


"Aku tidak ingin membunuhmu, sebab itu aku mencoba berkomunikasi."


"Jadi maksudmu kau bisa membunuhku kapan saja, kau benar-benar arogan!"


Gadis itu tampak tersinggung dengan perkataan Jian Chen, tanpa menunggu lagi ia maju dan menyerang dengan kedua pedangnya.


Keduanya kembali bertukar serangan dengan Jian Chen yang masih mendominasi pertarungan.


Gadis itu berdecak kesal, harus ia akui pemahaman pedang Jian Chen berada di atasnya. Gadis itu menarik nafas yang dalam sebelum mengeluarkannya dari mulut, ia menggunakan teknik pedang pernafasan lainnya.


"Teknik Pedang Bunga — Sendu Anggrek Malam!"


Jian Chen mengerutkan dahi saat tubuh gadis itu berpecah menjadi lima, Jian Chen tidak mengetahui apakah semuanya bayangan tubuh gadis itu betulan atau sekedar ilusi.


Jian Chen menghirup nafasnya lalu mengalirkan tenaga dalam pada mulutnya sebelum di ubah jadi energi, seketika Jian Chen menyemburkan air berjumlah besar di mulutnya.


"Elemental Air — Hembusan Nafas Air!"


Gadis itu terkejut dengan serangan Jian Chen yang tiba-tiba, lima tubuhnya terdorong saat tekanan air menghantam tubuhnya, bahkan pedang api yang di pegang gadis itu menjadi padam beberapa saat.


Jian Chen berhasil meninggalkan jarak lebar antara keduanya, meski tidak melukai tapi hantaman air tersebut membuat gaun gadis itu basah kuyup.


Gadis itu mendengus kesal, tanpa peduli kondisi dan rambutnya yang basah ia langsung mengalirkan tenaga dalam lebih besar lagi pada pedangnya sebelum melepaskan gelombang api dan es dari jarak jauh.


Menanggapi hal tersebut Jian Chen masih tenang, ia menangkis semua serangan lawannya dengan pedang aturan, gelombang energi itu segera terserap pada pedang Jian Chen.


Keterkejutan terpampang dari gadis itu, sebelumnya ia diburu emosi namun kali ini ia melihatnya dengan jelas bahwa pedang Jian Chen menyerap energi atau jurus yang ia gunakan.


Alasan yang sama membuat ia jadi mengerti kenapa tenaga dalamnya berkurang secara tidak wajar.


"Kau, jangan bilang pusaka itu..."


"Oh, kau lebih cepat menyadarinya ternyata..." Jian Chen mendengus dingin.


Wajah gadis itu menegang, ia belum pernah mendengar sebuah pusaka bisa melakukan yang demikian.


Jian Chen tiba-tiba mempersempit jarak antara keduanya, ia menggunakan teknik pedang gerhana dan muncul di belakang gadis itu.


Gerakan Jian Chen yang cepat hampir sulit diikuti oleh mata gadis itu namun untungnya ia cepat menyadarinya lewat instingnya yang tajam.


Ayunan pedang Jian Chen segera terayun pada gadis itu yang segera cepat di tahan oleh kedua pedangnya. Gadis itu tiba-tiba merasakan tangannya terasa sakit usai menahan serangan Jian Chen.


Belum gadis itu bersiap Jian Chen sudah mengayunkan pedang lainnya, kali ini Jian Chen berinisiatif untuk menyerang terlebih dulu.


Kecepatan dan pemahaman pedang Jian Chen membuat gadis itu tak berkutik sehingga berada di posisi bertahan, belum lagi ia merasakan tenaga dalamnya berkurang setiap kali pedang keduanya berbenturan.


Salah satu ayunan Jian Chen terarah ke leher lawannya namun ketika berjarak sesenti lagi Jian Chen menghentikan ayunan pedang tersebut.


Aksi Jian Chen yang menghentikan serangan membuat gadis itu memiliki kesempatan untuk mengambil jarak dengannya sekaligus mengambil nafas.


"Kenapa kau tidak membunuhku?" Gadis itu masih mengatur nafasnya yang belum teratur.


"Sudah aku katakan, ini adalah kesalahpahaman." Jian Chen menghela nafas panjang. "Sampai berapa kali aku katakan demikian hingga kau bisa percaya padaku-!"


"Kau sudah melihat tubuhku, sengaja atau bukan tidak menutupi kau telah melihatnya." Gadis itu masih bersikeras Jian Chen lah yang bersalah disini.


Jian Chen tersenyum tipis, ia tidak mengelak atau membantahnya karena ia sedikit melihat lekuk tubuh gadis itu. "Jadi apa yang kau mau sebagai gantinya supaya aku bisa menembus semua kesalahanku?"


Gadis itu menyipitkan matanya, memperhatikan Jian Chen dari atas sampai bawah tubuhnya.


"Hm, untuk seorang pria kau memiliki paras yang lumayan meski bukan seleraku, tapi itu tidak masalah jika kau mempunyai kemampuan yang tinggi..." Tatapan gadis itu kembali menatap mata Jian Chen, ia membuka ikat rambutnya hingga rambut gadis itu terurai panjang sampai sepinggang.


"Menikah lah denganku!" Ucap gadis itu setelahnya.


Jian Chen tersedak nafasnya sendiri, Lily dari dalam juga terbatuk-batuk mendengarnya, Keduanya sama-sama tidak menduga gadis itu akan berbicara demikian.


"Hm, apa yang kau katakan tadi? Aku tidak mendengarnya?"


Jian Chen batuk pelan, "Kau sudah gila?!"


"Berani menyebutku gila!" Gadis itu mendengus kesal. "Jangan salah paham, aku mengatakan itu tidak bersungguh-sungguh apalagi sampai betulan menikah denganmu, seperti yang aku bilang, aku ingin kau menikahiku namun hanya pura-pura saja."


"Aku tidak mau," Jian Chen melemparkan kantong kulit pada gadis itu sebelum mulai berbalik badan dan hendak pergi. "Aku tidak punya waktu untuk berbicara omong kosong, di kantong kulit itu ada batu roh, kau bisa memilikinya sebagai penebus kesalahanku."


Gadis itu hendak berbicara lagi dan bahkan lebih emosi namun tiba-tiba sebuah kekuatan yang dikenalnya muncul.


Jian Chen yang hendak terbang tiba-tiba mematung di tempat, ia berbalik pada gadis itu sebelum menoleh ke atasnya, tampak ada dua yang melayang di atas langit sambil menatapnya dengan tajam.


Insting Jian Chen mendadak memberikan sinyal bahaya melihat kedua orang itu, sebelum ia bereaksi tiba-tiba pundaknya terasa berat seperti ada batu besar yang diletakan, Jian Chen bahkan jatuh ke posisi berlutut dan kesadarannya hampir memudar.


"Ini... Apa yang terjadi..." Jian Chen menoleh ke dua orang itu, menyadari keduanya lah yang membuatnya jadi di posisi demikian.


Dua orang itu kemudian turun dari langit dan mendarat di dekat gadis itu, Jian Chen kini bisa melihat jelas dua orang yang bersama gadis itu adalah seorang pria paruh baya yang sudah berjanggut panjang.


Kedua pria itu kemudian membungkukkan hormat pada sang gadis, "Tuan putri, apa yang harus aku lakukan padanya, membunuhnya?"


"Paman, apa yang kamu lakukan pada dia, cepat lepaskan pemuda itu!"


"Tuan putri, dia sudah lancang berani mengintipmu saat mandi, dia juga telah melukai pundakmu dan sebelumnya, dia telah memperlakukanmu dengan cara tidak sopan. Aku tak bisa membiarkan dia hidup disini."


Gadis itu buru-buru membantahnya. "Paman, ini adalah urusanku dengan dia, paman tidak perlu ikut campur."


Jian Chen mendengar obrolan gadis itu dari jauh, sedikit terkejut, tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya sekarang melainkan kekuatan yang dikeluarkan pria sepuh tersebut benar-benar membuatnya tidak berdaya.


Sudah lama sekali semenjak ia bertemu gurunya ada seseorang yang membuatnya kecil dan tak berdaya.


"Kekuatannya benar-benar di luar jangkauanmu, bahkan dengan kekuatanku yang sekarang belum tentu aku bisa mengalahkannya." Lily berkata dari dalam, nadanya terlihat was-was.


"Apa dia berada di Alam Dewa?" Jian Chen merapatkan giginya, ia tidak menduga akan diposisi seperti ini.


Lily menggeleng pelan. "Tidak, kekuatannya lebih kuat dari itu. Melawannya adalah tindakan bodoh, bersiaplah, aku akan meminjam tubuhmu jika situasi menjadi semakin rumit..."


Ketika Jian Chen berkomunikasi dengan Lily, gadis itu masih berbicara pada dua orang sepuh tersebut.


"Tuan putri, ini sudah jadi peraturan, dia telah melampaui batas kesalahannya padamu, dia pantas di hukum mati."


"Paman, sudah kubilang ini adalah urusanku pribadi..." Gadis itu sedikit kesal.


"Tetua Riu, biarkan ini menjadi masalah Tuan putri, jika Tuan putri menginginkannya maka itu adalah perintah mutlak bagi kita." Pria sepuh di sampingnya menegur pria sepuh yang menolak perintah gadis itu.


Pria sepuh yang menolak akhirnya mengalah, ia menghela nafas sebelum menarik kekuatannya sehingga tekanan di pundak Jian Chen menghilang.


Gadis itu melirik Jian Chen terakhir kali. "Kita lanjutkan pertarungan ini lain kali, ketika aku bertemu denganmu, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri..."


Selepas berbicara demikian gadis itu mulai melayang pergi sementara kedua pria sepuh itu mengikutinya dari belakang tanpa peduli pada Jian Chen lagi.


"Tuan putri, apakah kita akan pergi ke benua daratan tengah kembali?"


"Apa yang membuat paman berpikir aku akan ke sana, kita harus mencari pusaka itu terlebih dulu."


"Tapi Tuan putri, kita sudah tiga bulan di benua ini, Yang Mulia pasti mengkhawatirkanmu..."


"Ayah tidak akan memikirkanku, dia hanya sibuk pada pekerjaannya." Gadis itu mendengus kesal.


Pria sepuh itu menggaruk kepalanya frustasi, ia tidak membantah dan terus mengikutinya terbang.


Setelah gadis itu dan dua orangnya menghilang, tubuh Jian Chen seketika roboh dan terbaring di tanah.


"Kupikir aku akan mati barusan..." Jian Chen mengatur nafasnya yang kini kembali terasa normal, selain pundaknya terasa berat, ia juga kesulitan untuk bernafas.


Jian Chen mengubah posisinya menjadi terlentang lalu melihat ke atas langit yang cerah tak berawan, tampak di atas sana begitu banyak bintang yang berkelap-kelip dengan indah.


Kekuatan yang ditunjukkan pria itu membuat Jian Chen sadar begitu kecilnya kekuatannya di hadapan mereka yang lebih kuat, padahal selama ini ia cukup percaya diri dengan kemampuan yang ia miliki karena telah melampaui kekuatan dirinya di masa lalu.


"Dunia ini benar-benar begitu luas..." Jian Chen menghela nafas pelan, nadanya sedikit bergetar beberapa saat.


Jian Chen tidak mengetahui apakah gadis itu musuhnya atau bukan namun yang pasti ia harus menjadi lebih kuat lagi untuk melindungi semua yang ia sayangi.


*Arc. 3 ~ Kultivasi Dewa Cahaya ~ Terbenamnya Bulan dan Terbitnya Matahari.