Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 254 — Pemulihan Kota


Pada akhirnya, para pendekar kekaisaran menurut perintah Jian Chen, beberapa pasukan organisasi yang menyerah di habisi di tempat itu sekaligus.


Menyaksikannya, pasukan organisasi tidak punya pilihan lain selain bertarung sampai akhir tetapi tetap saja di hadapan dua aura Jian Chen mereka hanya bisa menggunakan tiga puluh persen kekuatannya.


Pendekar Kekaisaran terus menyerang hingga jumlah pasukan organisasi perlahan mulai menyusut.


Jian Chen adalah yang paling menonjol diantara pendekar yang mengurangi jumlah pasukan lawan, setiap ayunan pedangnya dapat menghabisi beberapa pendekar, tak peduli dengan baju pelindung atau perisai tenaga dalam lawannya, pedang Jian Chen dapat dengan mudah menembus mereka.


Jian Chen seperti monster yang melahap segala sesuatu. Yang paling mengganggu mereka yang melihat adalah senyuman yang terukir di wajah pemuda itu, senyuman yang menunjukkan kenikmatan dalam membunuh.


Butuh beberapa menit pasukan organisasi bisa di atasi, karena jumlah mereka yang terlalu banyak sehingga ada sebagian kecil yang memisahkan diri dan hendak lari.


Jian Chen berdiri di hadapan mereka yang mencoba kabur, ia tidak membiarkan salah satu dari mereka berhasil lolos dari Kota Anshan.


Kedatangannya membawa kengerian bagi pasukan organisasi, mereka mencoba peruntungan melawan Jian Chen tetapi pemuda itu dengan mudah menghabisinya.


Jian Chen akhirnya menghembuskan nafasnya lega setelah melihat pasukan organisasi tinggal puluhan orang lagi.


Dia tidak membantu yang tersisa karena menyadari para pendekar kekaisaran dapat mengatasinya. Merasa peperangan sudah berakhir, ia menyarungkan kembali pedang Asura pada sarungnya.


Tenaga dalam yang diberikan Lily sudah habis beberapa menit lalu sehingga Jian Chen harus menggunakan tenaga dalamnya.


Biarpun dibantu Lily tenaga dalam Jian Chen tetap terkuras banyak, apalagi malam ini ia telah melakukan banyak sekali pertarungan yang menguras banyak tenaga.


Saat Jian Chen hendak terbang, Lun Zhi mendatanginya.


"Ah, Pendekar Lun, maaf terlambat menyadarimu?" Jian Chen memberikan rasa hormatnya.


Lun Zhi sedikit terkejut karena perubahan Jian Chen, ketika laki-laki itu sudah menyarungkan kembali pusakanya, Jian Chen terlihat seperti semula lagi mereka bertemu.


Wajah kekejaman serta haus darah yang dilukiskan Jian Chen saat membasmi lawan-lawannya telah hilang seperti asap.


Kini paras pemuda itu terlihat berbeda, ada kharisma saat melihat wajahnya, terlebih lagi pemuda itu juga tampan dan terlihat muda.


"Pendekar Jian, aku hanya khawatir melihat dirimu yang bersimpah darah, Apa kau terluka?"


Jian Chen tersenyum canggung, ia menyadari ada banyak noda darah di pakaiannya bahkan jubahnya hampir berwarna merah secara keseluruhan.


Meski begitu darah yang menempel bukan dari darahnya sendiri, dalam penyerangan ini Jian Chen bisa dibilang tidak mengalami luka sedikitpun.


"Ini baik-baik saja, cuma ada beberapa luka sayatan di tubuhku tetapi itu bisa disembuhkan dengan tenaga dalam..." Jian Chen mengangguk pelan, sedikit berbohong untuk merendah.


Selepas peperangan telah berakhir, Jian Chen sedikit mengobrol dengan Lun Zhi sebentar, pendekar tongkat emas itu sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang penting.


***


Jian Chen kembali ke tempat asosiasi dimana Ziyun dan Meily tinggal, ia sudah berganti pakaian jadi ketika wajahnya terekspos di depan dua gadis itu, Jian Chen tidak keberatan di peluk keduanya.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja..." Jian Chen tersenyum hangat, mengelus pucuk kepala kedua gadisnya.


Meski keduanya berada di posisi yang aman, Ziyun ataupun Meily tidak merasa tenang saat pikiran mereka masih mengkhawatirkan keselamatan Jian Chen.


Dalam peperangan, tidak ada sesuatu yang pasti termasuk nyawa seseorang. Segala hal bisa terjadi karena itu perasaan khawatir adalah tindakan yang wajar meski Ziyun dan Meily mengetahui Jian Chen sangat kuat.


"Saudara Jian, apa peperangan diluar sudah berakhir?" Ziyun bertanya untuk memecahkan kecanggungan atas pelukannya.


"Sudah, kota telah aman sekarang walau mengalami beberapa kehancuran tetapi setidaknya tidak banyak korban jiwa di pihak kita..."


Jian Chen tidak tahu pasti jumlah korban akibat penyerangan ini namun yang pasti pihak pasukan organisasi mengalami banyak kerugian serta jumlah korban hampir secara keseluruhan.


Setelah bercakap sedikit, Jian Chen memilih memasuki kamar yang disediakan asosiasi untuknya. Ketika Jian Chen berada di kamar sendirian, tubuhnya langsung ambruk ke tempat tidur.


Jian Chen tidak hanya lelah karena ia menghabiskan banyak sekali tenaga tetapi mentalnya juga ikut merasakan demikian.


Satu hal yang pasti, membunuh banyak orang tidak membuat seseorang menjadi lebih baik, ada sisi lain sifat kemanusiaan pada diri Jian Chen dan itu adalah yang menjaganya agar tetap menjadi manusia.


Jian Chen bisa dibilang mempunyai pikiran jernih meski membunuh orang namun dihadapan dengan ribuan para pendekar organisasi yang ia bunuh, mentalnya tetap saja goyah.


Pedang Asura memang meningkatkan gairah serta kenikmatan dalam membunuh tetapi setelah itu Jian Chen akan dihadapkan masalahnya yang sama.


Pada akhirnya tidak ada seseorang yang benar-benar terbiasa akan pembunuhan.


Jian Chen berusaha menenangkan kelelahan mentalnya dengan mencoba tidur tetapi kesadarannya tetap saja terjaga dengan perasaan cemas tanpa sebab.


Kondisi itu terus berlanjut hingga dua jam kemudian, Jian Chen menghela nafas saat pikirannya kacau dan dadanya terasa hampa.


Di saat masih mencoba tidur, suara ketukan pintu terdengar, Jian Chen mengerutkan dahi karena ini masih malam tetapi ia tetap membuka pintu kamarnya.


Yang mengetuk itu adalah Meily, Jian Chen sedikit terkejut karena tidak seperti biasanya gadis itu berani menghampirinya, secara Meily terkesan pemalu dan pendiam di depan Jian Chen.


"Saudara Jian apakah aku boleh masuk?" Meily ragu-ragu memasuki kamar Jian Chen.


Jian Chen mengangguk pelan, ketika gadis itu merapatkan pintu kembali tiba-tiba Meily langsung memeluk Jian Chen.


"Apakah ada sesuatu?" Jian Chen terkejut dengan sikap Meily yang berbeda.


"Tidak ada, aku hanya merasa dirimu tidak baik-baik saja sekarang, sebab itu aku datang kesini?"


Jian Chen tersenyum lembut sambil mengelus rambut gadis itu, sepertinya meski ia menutupi kelelahan psikisnya, insting Meily tetap dapat merasakannya.


"Kau bisa cerita padaku, Saudara Jian, mungkin aku punya solusi atau setidaknya bisa mendengarkan keluh kesahmu..."


Jian Chen selalu membantu dan menolongnya sejak di hari pertama keduanya bertemu, di mulai dari menolong klan Niu dan keluarganya serta mengajarkan banyaknya ilmu pedang. Sampai sekarang Meily berharap bisa membalas budi walau tindakan kecil sekalipun.


"Sebenarnya aku sedikit lelah karena penyerangan ini namun sekarang sudah baik-baik saja setelah kau datang..."


Wajah Meily memerah, ia tidak menduga Jian Chen akan berkata demikian. Meski sangat senang sampai ingin menjerit tetapi ia tetap beraksi dengan tersipu malu.


Meily sedikit mengangkat wajahnya di dalam dekapan dada Jian Chen, dengan wajah yang masih memerah ia mencium pipi pemuda itu.


Jian Chen mematung sejenak, sedikit terkejut dan tidak menduga sementara gadis itu semakin tersipu dibuatnya setelah melakukan hal tersebut.


Meily melepaskan pelukannya dan dengan malu-malu keluar dari kamar Jian Chen.


Setelah bayangan gadis itu menghilang Jian Chen hanya tersenyum ringan, meski ia tidak selalu mengekspresikan langsung tetapi ia memang mempunyai perasaan pada Meily dan Ziyun.