
Sebuah jaring menembak ke arah Jian Chen dari salah satu laba-laba di dekatnya, Jian Chen mengayunkan pedang esnya dan merobek jaring tersebut.
Jaring laba-laba itu terlihat lentur dan lengket, akan sulit di potong oleh pedang biasa.
Jian Chen bergerak cepat dengan elemen cahayanya dan tiba-tiba sudah muncul di atas laba-laba itu. Dengan pedang di tangan, ia menghujam kuat kepala siluman tersebut yang membuatnya mendesis keras sebelum akhirnya mati seketika.
Kematian salah satu laba-laba membuat laba-laba yang lain langsung menargetkan Jian Chen sebagai ancaman yang membahayakan mereka.
Tanpa menunggu lagi, laba-laba itu menyerang Jian Chen dari berbagai arah. Jian Chen berdecak kesal, ia melompat tinggi-tinggi dan mulai melepaskan energi pedang dari jarak jauh.
Jian Chen melayang di tengah ruangan sembari melepaskan energi pedang yang kuat.
Setiap serangan yang ia lepaskan cukup membuat laba-laba itu terpotong dengan mudah, energi pedang yang Jian Chen keluarkan membutuhkan tenaga dalam yang besar jadi tidak heran siluman yang hampir seribu tahun itu langsung mati ketika energi pedang melewati tubuhnya.
Laba-laba itu mendesis semakin marah, mereka mencoba mendekati Jian Chen dengan lompatan yang begitu tinggi dan hampir bisa meraihnya.
Tapi sebelum mereka mengenai tubuh Jian Chen, pemuda itu segera mengayunkan kakinya dengan kuat, menendang laba-laba itu yang membuat mereka terpelanting ke bawah dan akhirnya tak lagi bergerak.
Karena posisinya tidak menguntungkan, Jian Chen mulai menggunakan serangan fisik pada laba-laba itu, menggores kulit mereka dengan pedang esnya.
Tebasan demi tebasan Jian Chen lakukan pada laba-laba itu, kulit laba-laba tersebut sangat keras, pusaka biasa tidak akan mudah menerobosnya.
Pedang es Jian Chen perlahan-lahan mengalami retak setiap kali pedangnya menyentuh kulit laba-laba, tidak membutuhkan waktu lama di ayunan selanjutnya pedang itu rusak.
TRANG!
Pedang es Jian Chen patah, ia menggenggam pedang yang kini hanya tersisa gagangnya saja.
Jian Chen melepaskan genggamannya, pedang es itu perlahan menjadi butiran biru yang indah, dalam sekejap, gagang pedang itu menghilang menyatu dengan udara.
"Ini akan membutuhkan waktu yang lama..." Jian Chen menggeleng pelan, segera ia menciptakan pedang es lainnya.
Jian Chen terus menghabisi laba-laba itu dari jauh, untungnya, ruang istana itu sangat besar, akan sulit melawan mereka jika luas ruangannya terbatas.
Entah berapa kali pedang es Jian Chen patah setelah menghabisi laba-laba itu secara terus-menerus. Kulitnya yang keras membuat pedang es Jian Chen tidak bertahan lama setelah sepuluh kali benturan.
Laba-laba yang merasa kesal karena tidak bisa meraih tubuh Jian Chen yang melayang tinggi di tengah-tengah ruangan akhirnya mulai melepaskan jaring mereka.
"Jaring ini bukan hanya tebal tetapi juga sangat lengket, benar-benar berbahaya..." Jian Chen memilih menghindari setiap jaring yang menuju ke arahnya dari pada menebasnya.
Jaring-jaring itu segera menempel di dinding-dinding istana, andai Jian Chen mengenainya akan sulit bagi ia untuk melepaskan diri dari jaring-jaring itu.
"Elemental Api — Hembusan Nafas Api!"
Jian Chen menyemburkan api di mulutnya yang diarahkan pada jaring-jaring tersebut, api yang Jian Chen lepaskan sangat panas membuatnya mudah membakar jaring-jaring tersebut di udara.
Menyaksikan Jian Chen bisa menyemburkan api membuat laba-laba itu sedikit ketakutan. Jian Chen kemudian mendarat di lantai, ia melepaskan hawa dingin di kedua tangannya.
"Elemental Es — Dunia Es Abadi!"
Dalam waktu sekejap, istana berubah menjadi ruangan es yang bersalju seperti di musim salju.
Laba-laba itu tampak tidak terbiasa dalam suhu rendah membuat mereka tidak bisa bergerak kemana-mana.
Jian Chen memanfaatkan kondisi tersebut untuk menghabisi mereka satu persatu, dalam waktu beberapa menit akhirnya ia bisa menghabisi mereka semua.
"Ini benar-benar panen yang memuaskan..." Jian Chen mengambil salah satu permata siluman yang ada di tubuh laba-laba itu. Ukurannya jauh lebih besar.
"Kau lama sekali..." Lily berujar protes, ia sedang melayang di atas ruangan. Meski semua laba-laba sudah mati, Lily enggan turun ke bawah.
Semenjak tadi Lily menghilang entah kemana. Jian Chen tidak bisa mendeteksi hawa keberadaannya sebelum gadis itu membuka suara.
"Bukankah kata yang tepat adalah terimakasih?"
Jian Chen tersenyum sinis sambil menoleh ke arah gadis itu. Lily tersenyum lebar, ia memalingkan wajah sambil berpura-pura bersiul.
Jian Chen mulai mengambil permata-permata yang ada di setiap jasad laba-laba yang ia bunuh. Kebetulan sekali saat ini ia kekurangan permata siluman, laba-laba ini bisa membantunya dalam memulihkan tenaga dalam dengan cepat sekaligus menambahkan lingkaran kapasitasnya.
Ketika Jian Chen sedang memungut permata itu satu persatu, sebuah portal kembali muncul.
Jian Chen meningkatkan kewaspadaannya, kali ini portal berwarna ungu itu jauh lebih besar daripada sebelumnya dan benar saja, seekor laba-laba yang ukurannya tak jauh lebih besar keluar dari portal tersebut.
Laba-laba itu tetap berwarna sama, yang berbeda dari laba-laba sebelumnya selain ukuran yang lebih besar, kulit laba-laba itu mengkilap keemasan.
Jian Chen menyipitkan matanya, kekuatan siluman itu sangat kuat, setidaknya ia berada di Alam Raja puncak dan hampir menyamai mereka yang berada di Alam Dewa.
"Dia ratu siluman..." Jian Chen menciptakan pedang es kembali.
Laba-laba itu menatap Jian Chen, mendesis marah karena semua rekannya telah mati, ia kemudian menembakkan jaring laba-laba berwarna emas yang lebih tebal dan kuat.
Jian Chen mendengus, ia menghilang dari pandangan laba-laba itu dan muncul di atas kepalanya, sekali lagi, ia menghujamkan pedang esnya ke kepala laba-laba itu namun di luar perkiraannya, kulit emas laba-laba itu lebih keras dari dugaannya.
Pedang es Jian Chen seketika patah menjadi dua, ia ingin menciptakan pedang es kembali namun laba-laba itu tiba-tiba berguling.
Jian Chen berdecak kesal, ia tidak mempunyai pilihan lain selain harus bergerak menjauhi laba-laba tersebut.
"Elemental Api — Hembusan Bola Api!"
Dari mulutnya, Jian Chen melepaskan bola api yang besar ke arah laba-laba tersebut. Siluman itu tak bisa menghindar karena ukurannya yang sangat besar di tambah istana terlalu kecil untuk seukuran tubuhnya membuat bola api Jian Chen telak mengenainya.
Api itu menghantam hebat laba-laba tersebut dan membakarnya dengan garang, Jian Chen pikir itu cukup untuk melumpuhkan laba-labanya namun ternyata laba-laba itu tidak berpengaruh terhadap api yang Jian Chen lepaskan.
"Jangan menggunakan teknik yang melibatkan energi, dia tidak akan mempan di lawan seperti itu. Gunakan serangan fisik oleh pusaka merahmu..." Seru Lily dari jauh.
Jian Chen menghela nafas, ia sebenarnya tidak berencana menggunakan pedang asura karena tidak mau bergantung pada pedang tersebut namun sepertinya ia tidak punya pilihan lain.
Jian Chen mencabut pedang asura, sensasi panas yang bergairah seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Jian Chen akui, pedang ini benar-benar membuatnya ketagihan untuk terus digunakan.