
[Yang Belum Baca Eps. 118, itu sudah diperbaiki sekarang menjadi episode sesungguhnya, bukan episode ganda lagi!!]
Jian Chen menghela nafas panjang sebelum akhirnya menuruti permintaan gadis tersebut, "Baik, jadi apa yang harus kulakukan untuk membantumu?"
Mendengar itu ekspresi Lily berubah yang awalnya cemberut menjadi senyuman lebar. Ia kemudian menjelaskan cara yang dimaksud.
"Hanya itu?" Tanya Jian Chen heran setelah mendengar penjelasan Lily.
"Ya, dan pastikan kau mengarahkan telapak tanganmu pada target, setelah itu biar aku yang urus."
Jian Chen menggaruk kepala lalu menuruti cara yang dimaksud Lily, mengarahkan telapak tangannya yang terbuka pada mayat di depannya.
Sebuah kabut biru muncul ketika tangan Jian Chen terulur, kabut itu datang di setiap pori-pori sang mayat sebelum akhirnya berkumpul dan menjadi kepulan kabut yang lebih tebal. Jian Chen mengerutkan alisnya ketika kepulan kabut tersebut terhisap ke dalam telapak tangannya dengan sendirinya.
Kabut itu mengecil dan menghilang setelah beberapa menit kemudian, tanpa Jian Chen sadari kultivasi Lily telah meningkatkan menjadi Alam Roh Tahap 4.
"Ah, seperti biasa, selalu menyenangkan ketika melakukannya... " Lily menjilat bibirnya sambil mengelus perutnya yang ramping, gadis itu terlihat bahagia.
"Apa sudah selesai?"
Lily mengangguk, "Sudah, sekarang coba mayat yang lain... "
"Kau tidak menjelaskan tentang kabut biru itu?" Jian Chen mengangkat satu alisnya.
"Hm... Aku bingung menjelaskannya tetapi yang kau maksud kabut biru tersebut adalah bentuk kultivasi seseorang ketika meninggal. Intinya, Aku menghisap 8 meridiannya secara paksa sebelum masuk kedalam dantianku, kini orang itu tidak memiliki kultivasi dan bukan seorang pendekar lagi."
"Apakah kultivasi Ras Peri seperti ini, selalu menghisap kultivasi orang lain untuk menjadi kuat?" tanya Jian Chen penasaran.
"Tentu saja tidak, kami para Ras Peri memiliki kultivasi yang sama dengan kalian para manusia tetapi aku adalah pengecualian karena memiliki fisik khusus dibanding Peri yang lain. Contoh sederhananya seperti kultivasi pada dirimu, kau menyerap cahaya untuk memperkuat kekuatanmu sedangkan aku menghisap kultivasi orang lain agar kekuatanku juga meningkat."
"Bukankah itu berarti kau orang jahat?"
"Aku tidak membantah kalau kau berbicara demikian tetapi satu hal, aku tidak bisa menghisap kultivasi seseorang selama nyawa mereka masih ada didalam dirinya, tepatnya jika orang itu masih dalam keadaan baik-baik saja."
"Apa maksudmu baik-baik saja, itu berarti kau bisa menghisap kultivasi seseorang ketika mereka hidup?"
Lily mengangkat bahu, "Aku tak bisa menutupi itu darimu."
Jian Chen menggaruk kepala, kewaspadaannya pada gadis itu memang tetap harus ada tetapi disisi yang lain Jian Chen lega karena Lily tidak menutupi hal tersebut.
Jian Chen akhirnya menghisap ke 12 mayat yang dibunuhnya sebelum di kubur ke tanah, es-es yang menutupi hutan atas ulah Jian Chen perlahan menghilang seiring berjalannya waktu.
Usai menguburkan semuanya, Jian Chen tidak langsung pergi melainkan bertapa di salah satu dahan pohon sebelum memasuki alam dantian.
Hal yang pertama Jian Chen lihat ketika disana dia melihat seorang bidadari yang cantik, menyambutnya dengan senyuman manis.
Lily tetap sama dengan ia temui terakhir kalinya, gaun merahnya terlihat mempesona dengan kulitnya yang putih bagai salju. Bibirnya tipis dan merah menggoda, mata Lily juga tak kalah indahnya yang seperti permata ruby.
Jian Chen menatapnya tanpa berkedip, membuat senyuman gadis itu memudar beralih decakan kesal.
Jian Chen menyeringai lebar, ia harus akui Lily punya daya tarik yang kuat pada laki-laki, bisa membuat setiap pria yang memandangnya seperti melihat eksistensi yang indah di Alam semesta.
Ia tidak menanggapi kekesalan Lily, Jian Chen ke alam dantian hanya ingin melihat kultivasi wanita tersebut.
Usai menghisap 12 orang tadi, kultivasi Lily telah meningkat ke Alam Kehidupan Tahap 7 dalam waktu yang relatif singkat dan andai pembunuh tadi berjumlah lebih banyak maka bisa saja Lily mempunyai kultivasi yang sama dengan Jian Chen.
"Bagaimana, hebat bukan Tuan Puteri ini?" Lily tersenyum penuh kebanggaan atas reaksi Jian Chen.
Jian Chen tersenyum tipis, entah apakah ia harus bahagia atau tidak dengan perkembangan gadis tersebut. Jian Chen langsung kembali ke alam sadarnya setelah itu dan pergi meninggalkan lokasi.
***
Tanpa Jian Chen sadari, pertempurannya melawan 12 Taring Pembunuh sudah disaksikan oleh seseorang dari jauh.
Orang itu adalah pimpinan yang memakai jubah sebelumnya, tanpa ada yang tahu atau menduganya dia adalah Niu Zuan, kakak kandung dari Niu Zen sekaligus dalang dari kudeta klan Niu sebelumnya.
Niu Zuan kini bergabung dengan klan Liu seutuhnya, bahkan marganya sudah diganti menjadi Liu Zuan.
Di klan Liu, Niu Zuan diberi jabatan tinggi oleh kepala klan, meski rencana kudetanya telah gagal tetapi klan Liu masih menghormati lelaki tersebut dengan jabatan dan tugas khusus untuknya.
Niu Zuan mengikuti perintah klan Liu dengan senang hati, ia telah mengetahui rencana besar klan Liu di masa depan yang akan meruntuhkan kekuasaan klan Chu dan memimpin Provinsi Naga Petir dalam satu komandonya.
Bukan hanya itu, kelak andai klan Liu telah menang, Niu Zuan akan diberi hadiah yaitu mendapatkan klan Niu kembali.
Sebab itulah sekarang Niu Zuan tidak mengambil hati tentang kekalahan kudetanya atau berbalas dendam. Niu Zuan hanya menunggu klan Liu untuk merencanakan siasatnya.
Niu Zuan kemudian diberi perintah dengan kelompok pembunuh, 12 Taring Pembunuh untuk membunuh murid-murid Akademi di kota Qianshan ketika turnamen dilaksanakan.
Tentu saja Niu Zuan menerimanya karena misi tersebut terbilang sangat mudah, apalagi dia bersama 12 Taring Pembunuh, yang merupakan kelompok rahasia kebanggaan klan Liu.
Tak pernah Niu Zuan sangka misi yang dikiranya mudah itu bukan hanya gagal melainkan membuat 12 Taring Pembunuh menjadi sirna di muka bumi ini.
Niu Zuan tidak menyangka ketika ia balik lagi dari markas untuk menemui kelompoknya ia dikejutkan dengan 12 Taring Pembunuh sedang melawan seseorang di hutan.
Awalnya Niu Zuan hendak membantu namun ketika melihat kekuatan orang yang menghadang kelompoknya sangat kuat, ia memilih untuk menonton.
Niu Zuan hanya berkeringat dingin sambil memperhatikan satu persatu 12 Taring Pembunuh tumbang ke tanah. Dia juga melihat orang tersebut menginterogasi Ketua pembunuhnya sebelum akhirnya di habisi juga dengan cara sadis.
Niu Zuan meneguk ludah dengan tubuh yang gemetar, ia tidak melihat wajah pendekar tersebut karena terlalu jauh dan gelapnya malam namun yang pasti pendekar itu bukanlah orang biasa mengingat begitu kejamnya pembunuhan yang dilakukannya.
Para pembunuh pun tak sekejam itu saat melakukan pembunuhannya, Niu Zuan yakin bahwa Jian Chen merupakan tipe orang yang haus darah dan amat menikmati akan pembunuhan.
Dengan terbunuhnya 12 Taring Pembunuh sudah cukup memberikan pukulan keras pada pria tersebut. Niu Zuan akan kesulitan menjelaskan semua ini pada Ketua klan Liu dan ia yakin hal ini akan berdampak buruk pada posisinya di sana.
Niu Zuan tidak meneruskan misi pembunuhan murid-murid akademi ini melainkan langsung pergi ke klan Liu. Niu Zuan tidak cukup gila untuk melawan sosok seperti Jian Chen, orang seperti itu tidak boleh disinggung oleh siapapun.