
Jian Wu maupun Jian Ran sebenarnya sudah kenal sejak mereka kecil dulu, tepatnya hubungan kedua orang tua mereka sangat dekat.
Perasaan cinta tumbuh diantara mereka ketika memasuki usia remaja, dimana Jian Wu melihat Jian Ran telah tumbuh menjadi wanita yang cantik, manis, serta anggun.
Disisi yang lain Jian Ran juga merasakan hal sama, baginya Jian Wu adalah sosok yang gagah, membuat hatinya nyaman dan aman, perlahan-lahan Jian Ran mulai mengagumi Jian Wu dihatinya.
Meski sudah berkenalan sejak kecil, nyatanya perasaan mereka ditutupi dalam-dalam, tidak ada yang mau mengatakan secara langsung perasaan masing-masing.
Hingga di suatu ketika saat mereka menjalankan misi yang sama serta berbahaya, ada kondisi dimana mereka bertarung hidup dan mati.
Jian Wu ingin mengorbankan nyawanya untuk membiarkan Jian Ran kabur dari gerombolan siluman singa, di detik itu juga Jian Wu menyatakan perasaanya karena menganggap dia akan mati disana.
Jian Ran tentu menggeleng, dia tak akan membiarkan orang yang dicintainya mati apalagi Jian Wu ternyata memiliki perasaan yang sama padanya. Jian Ran lebih memilih mati bersama dengan Jian Wu.
Mereka bertarung mati-matian dan ketika keduanya sudah tersudut, ada bala bantuan yang menyelamatkannya, memukul mundur siluman-siluman singa itu.
Jian Wu dan Jian Ran akhirnya selamat, dan setelah misi itu selesai hubungan mereka berubah menjadi sepasang kekasih.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga keduanya menikah mengingat ternyata Jian Wu ataupun Jian Ran sudah saling menyukai sejak dulu.
“Chen’er, karena hari ini kepulanganmu, Ibu sudah membuat masakan laut yang kamu suka…” Jian Ran meletakan piring di atas meja makan.
Kini dikediaman rumahnya, Jian Chen bersama orang tuanya hendak makan malam, di meja makan sudah banyak sekali hidangan bertema makanan laut.
“Aku sangat merindukan masakan Ibu…” Jian Chen tersenyum lebar sebelum mengambil salah satu hidangan udang dan menyantapnya.
Jian Ran tersenyum lalu ikut duduk bersama anak dan suaminya yang sudah dahulu makan.
“Ini makanan paling enak didunia, tentu saja kamu akan merindukannya Chen’er, sebab itulah ayah betah makan di rumah. Betulkan Sayang?” Jian Wu tertawa renyah disela makannya, menggoda istrinya.
“Ayah keliru,” Jian Chen menambahkan langsung, “Makanan ibu adalah makan paling enak di alam semesta ini…”
Sepasang ayah dan anak itu tertawa sambil memperhatikan wajah Jian Ran yang kian memerah.
“Kalian ini! berhentilah menggoda ibu!”
Jian Ran melipat tangannya di dada lalu membuang wajah, dia berpura-pura marah namun didalam hatinya ia sangat senang dengan pujian itu apalagi ucapan itu dilontarkan oleh anak dan suaminya.
Makan malam berangsur hangat, karena sudah lama mereka tidak berkumpul lagi kebanyakan di meja makan itu dipenuhi obrolan terutama membahas tentang Jian Chen di akademi.
Jian Chen menjawab hal yang umumnya saja seperti belajar bela diri baru atau lainnya, dia tak menceritakan tentang dirinya yang mengikuti kudeta klan Niu atau markas perampok di gua.
“Chen’er, Ibu mau kamu jujur, seberapa besar kekuatanmu sekarang?” Jian Ran menatap Jian Chen dengan dalam.
Pertanyaan itu begitu mendadak dan Jian Chen belum siap menjawabnya, ketika dia menoleh ke ayahnya ternyata reaksinya sama. Sepertinya orang tuanya sudah merencanakan ini dan penasaran dengan kekuatan asli Jian Chen.
Memang wajar karena kultivasi Jian Chen tak bisa diraba, sebagai orang tua mereka ingin tahu perkembangan anaknya.
Jian Chen tidak mau berbohong pada orang tuanya sehingga akan jujur namun baru ia membuka suara, Jian Ran tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berlari ke belakang.
Tak lama kemudian Jian Ran kembali sambil memijat keningnya, tubuhnya terasa lemas dan kurang baik.
“Ran’er, kamu kenapa?” Jian Wu buru-buru memapahnya melihat langkah Jian Ran yang sempoyongan.
“Aku baik-baik saja, Suamiku, hanya belakangan ini aku sering mual dan pusing.” Jian Ran mendudukkan tubuhnya di kursi, Jian Chen ikut berdiri di samping ibunya.
Jian Chen mengangguk, wajahnya khawatir dengan kondisi ibunya.
Beberapa menit kemudian tabib yang dipanggil Jian Wu datang dan memeriksa keadaan Jian Ran, setelah diperiksa senyuman terukir dari Sang Tabib kontras dengan keluarganya yang cemas.
“Ran tidak sedang sakit Saudara Wu.” ucap tabib itu tersenyum.
“Tidak sakit, tapi dia mual dan pusing.”
“Ya, namun itu hanya gejala kehamilan, saat ini Nona Ran tengah mengandung…”
Hening sesaat, Jian Ran, Jian Wu ataupun Jian Chen masih mencerna kalimat yang paling sederhana itu. Hamil? Mengandung? Apakah itu bahasa asing?
“Maksudmu istriku sedang mengandung bayi?!” nafas Jian Wu memburu, jantung berdetak lebih cepat.
Tabib itu tidak membalasnya melainkan dengan anggukan serta senyuman.
Raut wajah Jian Wu berubah drastis seketika, ia langsung memeluk istrinya sementara Jian Ran menangis mendengar kabar bahagia itu.
“Selamat Ibu…” Jian Chen menyeka air matanya yang keluar dengan perasaan haru. Ia memeluk ibunya setelahnya.
***
Beberapa hari mendengar kabar kebahagiaan itu, Jian Wu memprioritaskan segalanya untuk menjaga istrinya, selama beberapa bulan kedepan dia tidak akan mengambil pekerjaan terlebih dahulu.
Di kehamilan pertamanya tentu membuat Jian Wu menjadi siaga sebagai seorang suami, apalagi ini adalah pertama kalinya Jian Ran hamil setelah belasan tahu menikah.
Jian Chen juga demikian, dia menghabiskan waktunya untuk bersama ibunya. Dia tidak mau ibunya kenapa-napa.
“Chen’er, kamu menginginkan adik laki-laki atau wanita?”
Jian Ran tersenyum melihat Jian Chen sepanjang hari menjaganya, setiap pekerjaan rumah sekarang di kerjakan oleh anaknya agar dirinya tidak lelah padahal perutnya saja belum buncit dan masih terlihat langsing.
“Laki-laki atau wanita aku tetap menyukainya, Ibu.” Jian Chen menanggapinya dengan tersenyum lebar.
Keduanya sedang berada di beranda rumah, duduk sambil menikmati angin siang yang menyejukkan. Tak lama Jian Wu datang sambil membawa minuman.
“Suamiku, aku bisa mengambilnya…” Jian Ran sedikit merasa bersalah karena beberapa hari ini menyibukkan suaminya.
“Tidak apa, Ran’er, ini ada teh jahe yang kubuat, katanya baik untuk kehamilan sepertimu.”
Jian Ran menerima gelas teh itu, ia sangat senang suaminya sangat perhatian belakangan ini. Jian Ran mengecup pipi suaminya malu-malu sebagai rasa terimakasihnya.
“Ran’er, sikapmu masih tidak berubah saat waktu dulu…” Jian Wu terkekeh lalu mengecup balas pipi istrinya membuat pipi Jian Ran memerah dan tersipu malu.
Melihat aksi romantis orang tuanya Jian Chen tak henti-hentinya untuk mengukir senyuman, ia sedikit iri bagaimana hubungan orang tuanya yang selalu mesra.
Ingatan Jian Chen terlintas dengan seseorang yang dicintainya di kehidupan pertama, seorang gadis manis dengan senyuman ceria yang tak pernah ia lupakan. ‘Mungkin saat ini dia sedang menjalani kehidupannya…’
Jian Chen kemudian menepis pikiran tersebut, prioritasnya sekarang adalah menyelamatkan klan serta orang tuanya.
Dikala Jian Chen berpikir, ada seorang tamu yang hendak masuk ke halaman rumahnya.