Kultivasi Cahaya

Kultivasi Cahaya
Eps. 220 — Organisasi Pedang Darah III


"Cakram yang bagus..."


Untuk menangkap cakram tersebut Jian Chen harus mengeraskan tubuhnya dengan elemen besi. Ia bisa melihat cakram Petinggi Angin itu memiliki kualitas yang tinggi.


"Kau-! Kembalikan cakramku?"


"Hm, apa maksudmu?" Jian Chen melirik cakram tersebut sebelum memasukannya ke dalam cincin ruang. "Ini sudah di tanganku, tidak ada barang kembalian!"


Petinggi Angin hampir muntah darah, cakram yang Jian Chen ambil merupakan empat cakram paling berharga miliknya. Melihat Jian Chen tertarik dengan pusakanya membuat ia jadi gelap mata.


"Kau harus mati di tanganku!"


Petinggi Angin mengeluarkan cakram lebih banyak di cincin ruangnya, meski kualitasnya kalah dengan cakram yang diambil Jian Chen namun ia tetap memiliki ketajaman yang tak bisa diremehkan, Petinggi Angin kemudian melepaskan semua cakramnya lalu mengarahkan pada Jian Chen.


Jian Chen menghindari cakram-cakram itu dengan gerakan seminimal mungkin, sambil menghindar ia menangkis dengan tangan besinya sekaligus memasukan cakram itu ke dalam cincin ruangnya.


Melihat itu Petinggi Api tidak tinggal diam begitu saja, ia bergerak dan menyerang Jian Chen ketika ia masih disibukkan oleh cakram.


Jian Chen menyadari langkah Petinggi Api, ia mengambil cakram yang hendak dihindari sebelum melemparkannya ke Petinggi Api.


Petinggi Api yang sama sekali tidak siap dengan serangan tersebut tidak bisa menghindar, akibatnya ia mengalami luka goresan di pundaknya.


Petinggi Api mundur beberapa langkah sebelum mengobati lukanya, kini ia menjadi ragu menyerang Jian Chen namun ia tidak bisa membiarkan lawannya itu terus-menerus mengambil cakram.


Petinggi Api merasa Jian Chen akan mengambil senjata rekannya sampai habis namun saat ia menoleh ke atas, senyuman lebar terukir di wajahnya.


Saat Jian Chen sibuk menghindari cakram tersebut, tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah palu besar sudah terayun ke tubuhnya.


Jian Chen tidak bisa menghindari palu tersebut tetapi bukan berarti ia menerima serangan itu begitu saja. Jian Chen mengangkat tangannya sebelum menghentikan ayunan palu tersebut.


Saat itulah Jian Chen menemukan pria berbadan besar yang merupakan pengguna palu itu, pria itu membuka matanya lebar melihat Jian Chen bisa menahan serangannya dengan mudah.


Pria berbadan besar kemudian mengambil jarak dengan Jian Chen sebelum berdiri di samping Petinggi Api dan Petinggi Angin.


"Kurasa tidak perlu bersembunyi lagi, apa kau ingin melakukan serangan diam-diam seperti pria berbadan besar itu?" Jian Chen bertanya ke arah yang berbeda, seketika seorang perempuan muncul di ruang hampa.


"Kau menyadarinya?" Perempuan itu terkejut.


"Tentu saja, kau sudah berdiri sejak lama di sana, menungguku lengah dan memberikan serangan dadakan yang mematikan."


Perempuan itu mendengus sebelum melompat dan berdiri bersama 3 petinggi lainnya. Kini empat petinggi elemen telah berkumpul.


Petinggi membawa palu di sebut sebagai Petinggi Tanah sementara yang perempuan di sebut Petinggi Petir.


"Apa ada lagi sosok seperti kalian, aku tidak keberatan menunggu beberapa saat lagi?" Jian Chen menepuk pundaknya yang kotor oleh debu.


Empat petinggi itu semuanya berada di ranah Alam Hampa, kini Jian Chen menyadari betapa kuatnya Organisasi Pedang Darah, tidak mengherankan di masa depan mereka bisa menguasai sebuah provinsi.


Petinggi Tanah merapatkan giginya kesal, ia belum pernah melihat seseorang yang bertindak arogan seperti Jian Chen di tengah kepungan musuh.


"Petinggi Petir, kau bantu aku dari jarak jauh. Aku yang akan membuat dia menjadi gumpalan daging."


Tanpa persetujuan yang lain Petinggi Tanah maju sendiri, Petinggi Petir menghela nafas sebelum mengikutinya sementara Petinggi Api mengambil kesempatan itu untuk menyembuhkan luka bahunya lebih dalam.


Petinggi Angin mengambil cakram-cakram yang di tanah tetapi ia tidak gegabah lagi menyerang Jian Chen, ia akan melemparkannya jika mempunyai waktu yang tepat.


"Jarang sekali ada seorang pendekar yang menggunakan palu sebagai senjatanya, kau adalah salah satunya." Jian Chen menghindari palu itu tanpa kesulitan.


Setiap kali palu itu terayun dan menghantam tanah, maka akan terjadi retakan besar di tanah tersebut sekaligus menimbulkan gempa kecil.


Jika bukan karena Jian Chen memiliki keseimbangan yang sempurna maka dia akan kesulitan menghindari palu Petinggi Tanah itu.


"Apa kau masih akan berkata seperti itu setelah melihat ini..." Petinggi Petir kemudian melepaskan belasan cambuknya.


Cambuk yang dipakai Petinggi Petir bukanlah cambuk biasa melainkan cambuk yang terbuat dari besi yang tipis dan panjang.


Andai seseorang mengenai cambuknya ia akan terpotong seperti tebasan pedang, bukan hanya itu saja, cambuk yang di lepaskan Petinggi Petir melepaskan elemen petir.


Jian Chen tersenyum tipis, harus ia akui kemampuan para petinggi Organisasi Pedang Darah sangat kuat serta memiliki keterampilan unik, menyadari posisinya tidak akan menguntungkan ia kemudian mengumpulkan energi di mulutnya.


Jian Chen menarik nafas yang dalam sebelum melepaskan api yang besar di mulutnya.


"Elemental Api — Hembusan Nafas Api!"


Jian Chen melepaskan lautan api yang cukup besar di mulutnya, membakar sesuatu yang ada di sekitarnya.


Petinggi Tanah dan Petinggi Petir terkejut dan buru-buru mengambil jarak melihat itu, telat sedikit saja mereka akan hangus terbakar.


Aksi tersebut mengejutkan semua yang melihatnya, mereka baru pertama kali menyaksikan elemen api sebesar itu keluar keluar dari mulut seseorang, masalahnya melakukan seperti Jian Chen lakukan memerlukan tenaga dalam yang sangat besar.


"Harus kuakui, ini benar-benar mengagumkan..." Jian Chen mengusap mulutnya dengan tangan kanannya. Bukan lawannya saja yang terkejut bahkan Jian Chen yang melakukannya juga bereaksi sama.


Elemen api yang ia gunakan barusan adalah berasal dari Mutiara Elemen yang diberi Yue Lian sebelumnya.


Dengan pemahamannya yang tinggi dalam menguasai elemen cahaya tidak sulit mengeluarkan teknik dasar elemen api seperti yang Jian Chen lakukan.


Harus Jian Chen akui ia memang paling menyukai elemen api.


Kini Jian Chen dan lawannya terpisah cukup jauh, Empat Petinggi itu kini menatap Jian Chen dengan penuh kewaspadaan.


"Apa kalian akan tetap seperti ini, tidak memanggil pemimpin kalian?" Jian Chen tersenyum mengejek. "Kalau begitu mungkin kalian akan terbunuh sekarang."


"Jangan terlalu percaya diri, jika kami saling bekerjasama dan mengeluarkan semua jurus, apa kau yakin bisa hidup?" Petinggi Tanah merapatkan giginya kesal.


"Sejujurnya... Ya, aku yakin aku masih bisa bertahan, atau bahkan dapat membunuh kalian semua." Jian Chen tertawa kecil.


Petinggi Tanah kembali tersulut amarah dan hendak menyerang Jian Chen namun Petinggi Api menahannya.


"Jangan gegabah, hanya dengan bekerjasama lah kita dapat membunuhnya." Petinggi Api masih berpikir objektif, menurutnya melawan Jian Chen tidak cukup dengan asal menyerang saja.


"Kalian sedang melakukan rencana atau sesuatu, aku bisa mendengar dari sini..."


Tiga Petinggi semakin murka namun mereka berusaha menahan emosinya, mereka mengerti Jian Chen sengaja sedang memancing emosinya.


Jian Chen melirik ke arah yang lain, ia menemukan ada dua orang yang memiliki kekuatan besar sedang menuju kesini.


"Sepertinya sudah cukup main-mainnya, aku akan mulai serius sekarang..." Jian Chen mengeluarkan Pedang Dewa Asura dari cincin ruang sebelum menariknya keluar.


*Sudah bacanya like dulu... Hadehh masih aja banyak yang tidak like, hehe...