
Ekspresi Yanba Hua dan Shio Ular memburuk menyadari kekuatan Jian Chen yang benar-benar di atas mereka.
Biarpun keduanya telah menggunakan serangan gabungan, Jian Chen tetap membuat keduanya kewalahan. Yanba Hua sampai kesulitan berkata-kata menyaksikan serangan pedang yang ia banggakan selama ini jadi tidak berdaya melawan Jian Chen.
Sepanjang hidup mereka, keduanya sepakat baru pertama kali ini merasa kecil dihadapan musuhnya, padahal Shio Naga yang pernah bertarung dengan keduanya tidak membuat mereka di posisi kewalahan seperti ini.
Jian Chen memainkan pedangnya dengan lincah, dalam beberapa pertukaran jurus saja ia berhasil menorehkan beberapa luka pada lawannya.
"Siapa kau sebenarnya, bagaimana ada seseorang sepertimu di kekaisaran ini?!" Jerit Yanba Hua putus asa.
Jian Chen tertawa kecil. "Kuyakin kau sudah mendengar tentangku, bagaimana kondisi para Shio saat aku berhasil membunuh 3 diantara kalian?"
Yanba Hua berekspresi pucat, hanya para Shio Pemburu saja yang mengetahui kematian tiga Shio tersebut. Ucapan Jian Chen mengartikan langsung bahwa dialah yang membunuh ketiganya.
Yanba Hua menggigit bibirnya, ia sekarang yakin tidak ada peluang untuk menang melawan Jian Chen, "Aku tidak terlibat dalam penyerangan ini, kita tidak mempunyai masalah jadi tidak harus sampai saling membunuh seperti ini..."
Jian Chen tersenyum sinis. "Perkataanmu tidak berdasar, kau datang ke kota ini berarti mempunyai urusan dengan mereka, lagi pula aku sudah memutuskan untuk mengubur kalian disini, jadi tidak perlu alasan lagi untuk melarikan diri dariku."
Jian Chen kini menggabungkan teknik pedang dengan ilmu tangan kosongnya yang membuat gerakannya jadi lebih rumit dan sulit di tebak.
Shio Ular berdecak kesal, ia berusaha mengambil jarak dengan lawannya namun Jian Chen terus menempel pada mereka berdua.
Tidak ada cara lain, Shio Ular tiba-tiba melepaskan kabut hijau di mulutnya yang merupakan racun.
Jian Chen mengerutkan dahi sebelum buru-buru mengambil jarak, ia melihat sedikit bagian pakaiannya yang kini telah meleleh.
Bukan hanya pakaiannya saja tetapi pakaian dua Shio itu juga mengalami hal yang sama, Jian Chen tidak menduga bahwa salah satu Shio itu menguasai ahli racun yang juga mengandung asam korosif.
Jika saja kulitnya tidak diselimuti Sisik Naga Langit Jian Chen yakin kulitnya akan melepuh.
Disisi lain Shio Ular tampak terkejut karena serangannya tidak menimbulkan kerusakan yang berarti pada Jian Chen, padahal racun tersebut sangat kuat, besi pun akan meleleh dalam kabut racunnya.
"Dia bukan tandingan kita, sebaiknya kita bersiap-siap untuk kabur-!" Yanba Hua berbisik pelan pada Shio Ular.
Shio Ular mengumpat, baru pertama kali ini ia harus lari dari lawannya seperti seorang pengecut namun ia mengakui bahwa Jian Chen memiliki kekuatan di atas mereka.
"Kau ingin pergi, sebaiknya kau lupakan itu, aku tidak akan membiarkan kalian lolos dari sini..." Jian Chen mendengar bisikan mereka dengan pendengarannya yang tajam.
Jantung Yanba Hua dan Shio Ular sampai berhenti sesaat ketika Jian Chen menebak rencana mereka.
Jian Chen tersenyum sinis sebelum menghilang di pandangan keduanya dan muncul di depan Shio Ular dengan tiba-tiba.
Yanba Hua buru-buru mengambil jarak namun matanya tidak lepas dari pandangan Jian Chen, yang membuatnya heran, Shio Ular malah terdiam di dekat lawannya alih-alih lari dari Jian Chen.
Satu detik setelahnya mata Yanba Hua melebar ketika kepala Shio Ular sudah terpisah dari tempatnya sekaligus tubuhnya mulai jatuh ke bawah.
Yanba Hua tidak melihat kecepatan ataupun ayunan pedang Jian Chen saat rekannya tiba-tiba sudah terbunuh begitu saja. Tentu saja karena Jian Chen menggunakan pedang gerhana untuk melakukannya sehingga mata Yanba Hua tak bisa mengikuti gerakannya.
Jian Chen mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah yang menempel, ia kemudian menoleh ke arah Shio Babi yang tampak ketakutan bercampur rasa putus asa.
"Jangan memohon ampun padaku, sudah kubilang aku tidak akan membiarkan kalian hidup."
Jian Chen langsung bergerak ke arah Yanba Hua dan mulai memainkan pedangnya kembali. Keduanya bertukar jurus dengan Jian Chen yang mendominasi pertarungan.
Yanba Hua sudah cukup kesulitan melawan Jian Chen bersama Shio Ular apalagi ia harus melawannya sendiri-sendiri seperti ini, sulit bagi Yuan Hua memiliki semangat juang untuk bisa memenangkan pertarungan.
Benar saja dalam beberapa pertukaran jurus saja Yanba Hua sudah terpojok dengan luka pedang di seluruh tubuhnya. Darah mengalir di setiap luka yang membuat pandangannya perlahan mulai kabur.
Keseimbangan terbangnya sudah terganggu, Yanba Hua sadar ia tak bisa lagi mempertahankan nyawanya.
Yanba Hua ingin berkata sesuatu untuk terakhir kali mengenai nama pendekar yang membunuhnya namun Jian Chen tidak membiarkan itu terjadi.
Jian Chen menghujam jantung Yanba Hua dengan pedang asura, membuat pria itu menjerit untuk terakhir kali sebelum jasadnya mulai jatuh ke bawah.
Jian Chen tersenyum lebar, perasaan gairah membakar tubuhnya usai ia membunuh lawannya.
Tidak ada orang yang melihat pertarungan Jian Chen karena ketiganya bertarung di atas langit malam yang gelap.
Jian Chen melihat ke bawah, saat ia bertarung dengan dua Shio itu para pasukan klan lain mulai berdatangan dan membantu pasukan klan Chu.
Klan Niu, klan Ye serta klan yang ada di ibukota mulai bekerjasama menghadapi pasukan organisasi. Jian Chen yakin dengan campur tangannya barusan serta pasukan pihak klan Chu sebanyak ini maka sudah cukup memukul mundur pasukan musuh.
Perhatian Jian Chen beralih ke pertarungan yang ada di atas langit juga, terlihat ada satu pendekar yang melawan keempat lawannya sekaligus.
Jian Chen tersenyum lebar saat mengenali keempatnya sebagai ketua organisasi yang memimpin penyerangan ini, ia tidak menunggu lagi dan bergerak ke arah mereka.
***
Hong Gao, Yue Xia, Gu Bu dan Dong Xu sudah bekerjasama sama untuk mengalahkan Chu Di namun kekuatan pemimpin pemerintahan tersebut masih kuat mengimbangi keempatnya.
Hong Gao mengumpat kesal, ia sudah menunggu dua shionya datang untuk membantunya dalam menghadapi Chu Di namun setelah beberapa menit bertarung, kedua Shio itu belum menunjukkan batang hidungnya.
Melawan Chu Di bukanlah hal mudah bagi keempat ketua itu sekalipun, bahkan jika pertarungan terus berlanjut Chu Di akan di posisi diuntungkan.
Hong Gao hanya bisa berharap Shio Babi dan Shio Ular untuk segera datang namun yang diharapkannya justru berkebalikan ketika seorang pendekar tak di kenal melayang ke arah pertarungan mereka.
"Ketua Chu, aku ada di pihakmu, fokuskan menyerang dua lawan diantara mereka sementara dua sisanya lagi biar aku yang urus..."
Chu Di tidak menyadari kehadiran Jian Chen saat pemuda itu baru berbicara padanya, Chu Di awalnya menganggap Jian Chen adalah pihak musuh juga yang berpura-pura namun melihat pemuda itu langsung menyerang Yue Xia dan Gu Bu membuatnya percaya bahwa Jian Chen berada di pihaknya.
Chu Di kemudian melanjutkan menangani Hong Gao dan Dong Xu, pertarungan seketika berubah, keduanya mulai kesulitan menghadapi Chu Di yang melawan dengan kekuatan penuh.